
Jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Dua orang manusia masih bergelung di balik selimut yang sama. Mereka masih terbaring dengan nyaman di tempat tidur. Kedua orang itu seolah enggan untuk membuka mata karena tidur nyenyak mereka.
Beberapa saat kemudian, tidur nyenyak salah satu orang itu mulai terusik. Seorang pemuda yang mengira bahwa ia tidur sendirian, merasa sedikit bingung dengan sesuatu yang mengganjal kepalanya.
Sesuatu yang mengganjal itu terasa hangat dan juga bergerak. Ia mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya. Ia mendengar suara detak jantung dari sesuatu yang mengganjal itu.
'Bukankah aku hanya tinggal sendirian di sini? Lalu siapa yang sedang menempel padaku sekarang?' batin pemuda itu masih dengan matanya yang terpejam.
Ia membuka matanya dengan lebar. Jantungnya mendadak berdetak dengan kencang saat ia melihat seorang gadis di hadapannya.
"Ka-" ia menahan suaranya agar tidak berteriak.
"Karin?"
Pemuda itu mengerutkan keningnya dan mengingat-ingat kejadian apakah yang sudah terjadi hingga membuat mereka tidur seranjyang.
"Astaga..." Pemuda itu menghela nafas panjang dan baru tersadar, ternyata kedua tangan dan kakinya masih terikat.
"Apakah dia yang menarikku untuk masuk ke dalam selimut?" monolog nya dengan lirih.
Ekspresi wajah pemuda itu terlihat aneh. Wajahnya memerah dan tubuhnya mendadak terasa panas. Apalagi saat menyadari dengan sesuatu yang mengganjal kepalanya tadi.
'Enyahkan pikiran mu itu, Thanit. Atau kamu dia akan semakin membenci mu dan kamu akan bertambah membenci perasaan ini,' batinnya.
Thanit mencoba untuk bangkit dari posisi tidurnya, namun ia sedikit kesulitan dengan tangannya yang masih terikat. Apalagi kepalanya mendadak pusing saat ia duduk.
"Haish...Aku kira tidur bisa membuatku sembuh. "
Thanit melihat Karin yang masih terlelap. "Apakah dia juga akan seperti ini?"
Tiba-tiba ia jadi merasa bersalah. Keegoisan menguasai nya dan membuatnya bisa tega berbuat apapun pada gadis di hadapannya itu.
Thanit mendekati Karin. Ia melihat wajah cantik gadis itu yang terlihat damai. 'Sejujurnya aku tidak ingin seperti ini, tapi kejadian sepuluh tahun yang lalu terus terngiang-ngiang di kepalaku dan membuat ku selalu emosi. Aku hanya tidak ingin membuat kemarahanku berdampak buruk padamu. Permusuhan ini hanyalah kedok untuk menutupi semua perasaan ku padamu, perasaan yang sayangnya tidak terbalas.' batinnya lagi.
Thanit semakin mendekatinya. "Aku sangat marah, Karin. Apakah kamu tidak pernah sadar akan hal itu? Aku membencimu karena perasaanku padamu membuatku seperti ini. "
Thanit berhenti tepat di depan wajah Karin. Pemuda itu mengeratkan tulang pipinya untuk menahan emosinya. Ia menghela nafas panjang dan mengaturnya beberapa saat.
__ADS_1
"Cukup, Thanit. Jangan berlebihan atau kamu akan menyesal. Sampai kapanpun, sepertinya keadaan ini tidak akan pernah bisa untuk berubah. Dia tetap pada pendiriannya dan kamu tetap pada keegoisan mu. "
Tapi Thanit seolah enggan untuk menjauh dari Karin. Ia terus saja diam di sana dengan tatapan yang tertuju pada Karin.
"Tapi kamu manis. Kapan lagi aku bisa melihat mu dengan leluasa seperti ini? Aku tidak menyangka kejadian nya akan seperti ini. Walaupun aku tidak tau bagaimana keadaannya nanti, tapi saat ini aku ingin menyambut perasaan senang ku. Kejadian ini belum tentu bisa terulang,kan?"
Thanit tersenyum, merasa bahwa dirinya sudah benar. "Untuk sesaat, aku mohon perbolehkan kenormalan ku untuk bertindak. "
"Hai gadis cantik, aku sebenarnya sangat merindukan mu. Aku berusaha menahan perasaan ku sampai membuat ku menjadi laki-laki yang tidak normal. Tapi perasaan ku tetap tidak bisa berubah. Kamu tetap berada di hatiku walau bagaimanapun aku mengelak."
Perlahan demi perlahan, Thanit semakin mendekatinya. Mengikis jarak diantara mereka, membiarkan dirinya menjadi egois untuk kali ini saja.
"Bib*rmu masih terlihat semanis dulu. Apakah rasanya masih sama? Dan apakah aku akan mengambilnya seperti dulu juga? Tidak masalah kan?" Thanit tersenyum senang.
"Ssshhh"
Karin meringis masih dengan matanya yang terpejam. Ia merasakan sakit di bagian lengannya saat Thanit tidak sengaja menindihnya.
Gadis itu mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya dan membuka matanya dengan perlahan. Sebuah pemandangan yang belum pernah ia alami membuatnya membulatkan matanya dengan sempurna.
Gadis itu terkejut, antara merasa ini hanyalah sebuah mimpi atau kenyataan buruk yang menimpa nya.
Ekspresi wajah Karin semakin terlihat tidak baik-baik saja. Gadis itu menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum berteriak dengan kencang.
"Aaaaaaa!!!!"
"Aaaaaa!!!!"
Thanit ikut berteriak tak kalah kencang. Ia refleks melakukan itu karena rasa gugupnya.
Karin duduk dengan cepat, namun kepalanya terasa pening. Gadis itu tidak bisa menyeimbangkan diri dan ambruk di atas Thanit.
"Aaaaaa!!!!"
Karin kembali berteriak. Thanit pun ikut berteriak karena terkejut.
"Huek. Kamar mandi mana? Kamar mandi manaaa? Mulut lu bau njim." Karin panik karena rasa mual di perutnya.
__ADS_1
Ia berdiri dengan tidak sabaran dan pergerakannya membuatnya tersandung selimut, membuat kedua orang itu jatuh bersamaan ke lantai.
"Mana kamar mandi?" tanya Karin masih dengan ekspresi yang sama.
Thanit menunjuk ke arah kamar mandi dengan kedua tangannya yang masih terikat. Karin berniat berlari namun ia malah tersandung selimut, lagi. Tapi ia tidak memperdulikan rasa sakit nya dan bergegas menuju kamar mandi. Thanit terdiam di sana dengan tatapan yang kosong.
"Hoek...Hoek..."
Karin mengeluarkan isi perutnya dan membuat nya menjadi lemas. "Aduh... Ini kenapa sih? Pagi-pagi kok udah muntah-muntah begini?"
Ia mencuci wajahnya dan melihat pantulan nya di cermin. Ia tersadar dengan penampilan nya saat ini. Pakaian yang sama dengan yang ia pakai semalam. Baju itu terlihat kusut. Ditambah lagi dengan rambutnya yang acak-acakan.
Karin meneliti penampilannya sendiri sambil meraba-raba pakaiannya. "Hah?! Jangan-jangan gue udah...."
Karin seketika panik, namun sepertinya tidak ada sesuatu yang buruk terjadi padanya. Ia bernafas lega karena sepertinya pikirannya salah besar.
"Tapi kenapa gue bisa tidur sama-sama dia? Mencurigakan bukan?" Karin mengerutkan keningnya dan terdiam di sana beberapa saat.
Karin keluar dari kamar mandi dan menuju tempat di mana Thanit berada. Pemuda itu masih terdiam di posisi dan tempat yang sama. Karin mengerutkan keningnya karena baru tersadar dengan keadaan Thanit.
Kedua tangan pemuda itu masih terikat. Thanit mencoba untuk melepaskan ikatan itu saat Karin menghampirinya.
"Biar aku lakukan untuk mu," ucap Karin dan langsung melepas ikatan itu tanpa menunggu persetujuan dari Thanit.
Thanit menatapnya dengan kesal, seperti biasanya. Namun kali ini karena ia tidak berhasil melakukan sesuatu yang ia inginkan.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Aku yakin ini adalah tempat tinggal mu. Tapi kenapa keadaan mu seperti ini? Tidak mungkin kan kalau kita diculik tapi ditempatkan di rumahmu."
Karin selesai melepaskan ikatan itu dan menunggu Thanit untuk menjawabnya. Namun bukan jawaban yang ia dengar, tapi sebuah tatapan permusuhan seperti biasanya yang ia dapatkan.
.
.
.
bersambung....
__ADS_1
(Walaupun mungkin membingungkan, tapi saya harap ini bisa sedikit demi sedikit menjawab tentang awal adanya masalah pada mereka)