Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Tidak mampu menahan


__ADS_3

Roy keluar dari kamar mandi setelah beberapa saat ia menangis di sana. Pemuda itu sudah bisa tenang dari tangisannya walaupun ia harus bersusah payah dalam mengendalikan perasaan nya.


Roy membuang nafas panjang dan meyakinkan diri bahwa dirinya bisa kuat saat menghadapi teman-temannya. Ya, teman-temannya. Karena mereka semua pasti banyak bertanya dengan apa yang ia lakukan barusan.


Roy mendapati ketiga teman sekamarnya masih berada di tempat yang sama. Mereka kini menatap Roy dengan penuh khawatir. Thanit tanpa merasa canggung langsung menghampiri Roy dengan tatapan khawatirnya. Roy berusaha untuk tersenyum sambil berjalan untuk duduk bersama mereka.


"Kamu kenapa?" Joko bertanya dengan tidak sabar karena ia juga benar-benar khawatir.


Roy tersenyum lalu menatap mereka secara bergantian. "Aku baik-baik saja."


Kali ini Thanit tak bisa menahan diri. "Apanya yang baik-baik saja? Sikapmu tidak biasanya seperti ini. Jelaskan lah pada kami, ada apa sebenarnya? Siapa yang membuatmu seperti ini?"


Seketika senyum di wajah Roy hilang. Walaupun ia sudah berusaha untuk menghadapi teman-temannya dengan tenang, namun mendengar pertanyaan dari Thanit membuatnya kembali teringat dengan neneknya.


"Yang membuatku seperti ini adalah..." Teman-temannya menunggu dan melihatnya dengan tidak sabaran.


"Oma ku."


Jawaban Roy membuat mereka bertiga bingung. Mereka saling melihat satu sama lain. Lalu menatap Roy untuk mendapatkan jawaban dari kebingungan mereka.


"Maksudmu apa? Kenapa Oma mu yang membuatmu seperti ini?" tanya Thanit yang memang tidak mengerti.


Tatapan Roy berubah datar. Ia seperti ingin menghancurkan sesuatu saat ini. Roy mengepalkan tangannya yang ia sembunyikan di sela-sela kakinya.

__ADS_1


"Oma ku meninggal."


Dan suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat hening. Hening seperti halnya tidak ada satupun kehidupan di sana. Mereka seolah terpaku. Mereka tampak terkejut, apalagi Thanit. Pemuda itu benar-benar syok dengan apa yang Roy katakan.


"Sudah lebih dari satu minggu Oma ku dimakamkan. Itu berarti aku hanya bersamanya dalam waktu yang singkat kemarin. Rasanya waktu yang tidak seberapa itu benar-benar tidak cukup dan membuatku menderita." Roy menangis. Ia tidak bisa menahan kesedihannya saat mengingat neneknya.


"Aku masih ingin bersamanya. Aku ingin saat aku kembali ke sini, Oma ku mengantarkan kepergian ku. Aku ingin Oma ku berdiri menungguku saat aku datang lagi kesana. Tapi tidak bisa. Sekarang semuanya tidak bisa seperti itu lagi. Dia sudah pergi. Dia meninggalkanku." Dan Roy sudah tidak mampu untuk bicara.


Thanit yang awalnya terpaku,kini pemuda itu memeluk Roy untuk memberikan kekuatan. Roy benar-benar menangis. Tak peduli jika teman-temannya menganggapnya bagaimana.


Joko dan Ryan pun ikut mendekati dan berusaha untuk menenangkan Roy. Ketiga pemuda itu seakan melindungi Roy dari segala arah. Mereka bahkan ikut menangis. Mendengar tangisan Roy yang memilukan membuat hati mereka seolah tersayat. Mereka tau bagaimana sedihnya Roy saat ini.


Malam yang dingin tidak membuat seorang pemuda yang tengah bersedih mengurungkan niatnya untuk berdiam diri diluar kamar kostnya. Matanya yang sembab tidak membuatnya terganggu untuk melihat jauh ke depan sana. Tatapan sedihnya tetap tidak bisa hilang dari wajahnya.


"Walaupun wajar kalau aku bersedih, tapi kesedihan ku yang seperti ini seharusnya sudah bisa aku kendalikan. Oma juga tidak akan senang melihatku seperti ini. Tapi kenyataannya semuanya tidak semudah itu. Padahal aku sudah bisa mengendalikan perasaan ku ketika Dara menemaniku. Aku kira, aku bisa melakukan itu tanpanya mengingat Oma sudah meninggalkanku beberapa hari yang lalu. Tapi sepertinya aku memang membutuhkan Dara. Salahkah kalau aku memang membutuhkan dia? Apa aku egois? "


Roy bergumam sendiri di sana. Tatapan sedihnya bercampur dengan perasaan yang ia tidak mengerti. Roy takut kalau dirinya terlalu berharap dan terlalu menggantungkan diri pada orang lain yang belum tentu bisa untuk ia harapkan, walaupun ia yakin bahwa orang itu adalah orang yang baik.


Penghuni kost Putra dan kost Putri satu-persatu meninggalkan tempat tinggal mereka. Begitupun dengan orang-orang yang memiliki keperluan seperti mereka. Orang-orang itu dengan semangatnya melangkah menuju tempat tujuan mereka. Hampir semua penghuni kost Putri dan kost Putra berjalan kaki menuju tempat tujuan.


Orang-orang itu sudah terbiasa untuk berjalan kaki, walaupun ada pula dari mereka yang harus menempuh jarak yang cukup jauh dari kost mereka. Tetapi sepertinya itu bukanlah suatu hambatan untuk mereka berjalan kaki bersama di pagi hari.


Suasana kebersamaan yang menyenangkan menjadi salah satu alasan untuk mereka pergi bersama-sama di pagi hari tanpa kendaraan. Mereka juga bisa sambil olahraga ketika berjalan menuju tempat tujuan.

__ADS_1


Tapi, ada alasan lainnya juga yang membuat orang lain menggelengkan kepala heran terhadap mereka.


Persaingan. Itulah salah satu alasannya. Persaingan untuk menunjukkan siapa yang terbaik di hadapan masyarakat. Penghuni kost Putri atau penghuni kost Putra? Mereka sangat menjaga sekali dengan hal itu. Mereka sama-sama tak ingin kalah saing di mata masyarakat.


Tapi tidak semua orang juga yang seperti itu. Ada pula yang merasa masa bodoh dengan hal semacam itu. Biasanya orang yang seperti itu adalah orang yang tidak terlalu bergaul dengan masyarakat. Contohnya adalah Thanit.


Thanit sebenarnya mau-mau saja berkumpul bersama masyarakat, hanya saja dia tidak seperti teman-temannya. Ia memang kuat dalam bersaing, tapi dia bersaing bukan untuk dipandang oleh orang lain. Thanit hanya bersaing dengan satu orang saja dan dengan tujuan menjatuhkan orang itu. Ia tidak ingin kalah tentang apapun itu dari saingannya.


Karin dan kedua teman sekamarnya keluar dari kost dan berjalan bersamaan walaupun tujuan mereka berbeda. Mereka berjalan sambil asyik mengobrol, walaupun yang lebih banyak bicara adalah Rika. Karin lebih memilih menjadi pendengar dan Andara... Gadis itu sepertinya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.


Mereka bertiga berjalan bersama dengan beberapa orang yang memiliki tujuan yang harus melewati jalan itu. Mereka bertiga tidak merasakan apapun, santai-santai saja seperti biasanya. Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh bunyi klakson mobil yang begitu mengganggu pendengaran mereka dan beberapa orang yang berjalan bersama mereka.


Karin dan Rika menatap dengan kesal mobil yang melaju pelan melewati mereka. Sementara Andara bersikap biasa saja walaupun ia sendiri juga merasa terkejut tadi. Ketiga gadis itu berhenti karena mobil yang tak berakhlak itu juga berhenti.


Mereka sebenarnya sudah tau siapa pemilik mobil itu, namun mereka heran, kenapa mobil itu berhenti?


"Jalan nih? Hahaha... Kayak gue dong, peke mobil," ucap si pemilik mobil dengan menyebalkannya saat ia membuka kaca mobilnya.


Karin terlihat sangat kesal dibuatnya, namun ia masih saja diam di tempatnya. Sepertinya si pemilik mobil tidak puas dengan reaksi Karin. Orang itu semakin memanas-manasi Karin dengan ocehannya yang menyebalkan.


"Percuma lu punya cafe sana sini tapi beli mobil aja gak mampu. Buat apa lu jadi bos kalo ngasih tumpangan aja gak bisa."


Karin mengerutkan keningnya dengan wajah merengutnya. Sementara si pemilik mobil terus saja mengoceh, bahkan sampai tubuhnya menghimpit seseorang yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2