
Roy mengangguk polos seperti anak kecil. "Iya, aku dengar. Aku akan menjaga dia dan membahagiakan nya. Aku akan menjadi suami yang baik untuknya. Aku akan selalu setia padanya. Aku akan-"
"Sshuttt!! Kamu cerewet juga," ucap Karin sambil menaruh jari telunjuk di depan bibirnya. Roy pun terdiam dan melihat Karin dengan tatapan yang malah membuat gadis itu jengkel.
'Apa tidak salah, laki-laki begini yang menjadi suaminya Andara? Ya Tuhan... Bagaimana pun Engkau maha adil. Aku malah prihatin pada Andara karena mendapatkan suami seperti dia.'
Karin menggelengkan kepalanya dan itu membuat mereka bingung. "Ada apa, Karin?" tanya Rika.
"Tidak ada. Ayo kita berkumpul bersama mereka. Lagipula masih banyak orang yang ingin memberi ucapan selamat pada kedua mempelai ini."
Karin dan Rika akhirnya meninggalkan mereka untuk bergabung bersama teman-temannya. Kedua gadis itu tak lupa menghampiri kedua orang tua Andara terlebih dahulu sebelum pergi.
Selepas mereka pergi, suasana di antara Roy dan Andara menjadi sangat canggung. Mereka hanya saling terdiam hingga beberapa tamu datang menghampiri mereka.
"Hei bungsu!" sapa Joko dengan bangganya saat ia menghampiri Roy dan Andara.
Pemuda itu menepuk-nepuk bahu Roy sampai tubuh Roy bergerak maju-mundur. "Eee... Anak bungsu ini benar-benar memberi kami kejutan. Hebat sekali kamu, paling kecil tapi malah menikah lebih dulu. Sudah begitu nikahnya sama primadona lagi. Ck ck ck... Hebat."
Roy tersenyum. Entah kenapa pemuda itu merasa sangat bangga. Ia merasakan kepuasan tersendiri. Entah karena Joko memujinya atau apa. Tapi yang jelas ia merasa bahagia saat ini.
"Terima kasih, Mas Ko. Mas Ko juga cepatlah menyusul ku."
"Kamu ini mengejek ya?"
"Mengejek bagaimana?" tanya Roy tidak mengerti.
"Primadona nya saja sekarang sudah menikah."
"Hah?" Roy bertambah tidak mengerti dan mencoba mencerna ucapan Joko. Namun pemuda itu malah melongo setelah menyadarinya.
"Aish... sudahlah, tidak usah dipikirkan. Yang pasti, selamat atas pernikahan mu. Semoga kebahagiaan selalu menyertai rumah tangga kalian. Jangan terburu-buru untuk memiliki momongan, kamu masih terlalu kecil," ucap Joko dengan santainya lalu tertawa dengan keras. Pemuda itu tidak peduli bagaimana orang-orang melihatnya saat ini.
Ryan menyikutnya agar ia berhenti tertawa. Joko pun menghentikan tawanya dan berbicara dengan normal. Ia melihat ke arah Andara dan tersenyum pada gadis itu.
"Selamat ya, cantik. Kamu sudah menikah sekarang dan tentunya tidak akan ada yang mengganggu mu lagi. Jadilah istri yang baik untuk suami kecilmu ini."
"Ish, Mas Ko. Aku tidak kecil."
__ADS_1
"Hahaha. Lihatlah, dia malah merajuk. Benar-benar seperti anak kecil."
Roy menatapnya datar sementara Andara tersenyum. "Iya, aku akan menjadi istri yang baik untuk nya. Terima kasih atas kedatangan mu dan juga doa baikmu itu."
"Sama-sama."
Ryan pun ikut menyelamati mereka. Mendoakan agar pasangan itu bahagia dan pernikahan mereka langgeng sampai mereka tua.
"Jangan lupakan kami. Sering-seringlah main ke kost walaupun kamu sudah menikah."
"Baik, Bang. Terima kasih. Aku akan selalu mengingat pesan Abang."
"Bungsu, kok kamu tidak menyuruh Ryan untuk cepat menyusulmu? Dia juga masih jomblo loh. Sudah begitu dia yang paling tua lagi diantara kita," ucap Joko seakan tidak terima.
Roy hanya tersenyum. Ryan tidak memperdulikan nya dan melanjutkan obrolannya dengan Roy dan Andara.
Tiba saat Thanit yang maju. Pemuda itu disambut dengan tatapan berbeda oleh Andara dan Roy. Andara sendiri tidak mengerti apa arti dari tatapan Roy untuk Thanit, yang pasti tatapan itu bukanlah sebuah tatapan penyesalan ataupun kesedihan.
Roy cukup lama bertatapan dengan Thanit, hingga Roy bertanya pada Thanit dan membuat pemuda itu seakan tersadar dari apa yang dilakukan nya.
"Apa kabar?"
Keempat orang yang berada di dekat Thanit itu terdiam. Mereka seolah sedang mencerna setiap kata yang Thanit ucapkan.
"Iya, terima kasih," ucap Roy pada akhirnya setelah lama ia terdiam.
Kedua orang itu terlihat bingung dengan apa yang akan mereka ucapkan. Kemudian Thanit beralih pada Andara yang terpaku saat ia melihatnya.
Gadis itu nampak gugup dan juga takut, apalagi melihat bagaimana ekspresi wajah Thanit yang tampak marah padanya. Mereka terdiam saling menatap dengan waktu yang cukup lama.
Hingga Andara sangat terkejut saat Thanit menepuk bahunya. Gadis itu sampai melotot karena saking kagetnya. Ia mengira Thanit akan melakukan sesuatu yang membuat nya takut.
"Jadilah istri yang baik," ucap Thanit lalu tersenyum.
"Jangan pernah meremehkan dia bagaimana pun keadaannya. Jangan sampai kamu membuatnya kecewa. Ingat baik-baik, jangan sampai terjadi sesuatu yang membuat dia pergi. Kamu akan menyesal kalau sampai itu terjadi," ucap Thanit dengan tatapan datar dan tersenyum setelahnya, seolah ucapannya hanya sekedar kata-kata biasa.
Andara terpaku dan melihat Thanit yang tersenyum ke arahnya. Roy menautkan jemarinya pada jemari Andara. Menggenggamnya dengan erat untuk menguatkan gadis itu.
__ADS_1
Andara melihatnya sekilas lalu kembali melihat ke arah Thanit. Ia tersenyum pada pemuda itu. "Iya. Aku akan selalu mengingat pesanmu ini. Aku bukan hanya akan menjadi istri yang baik, tapi aku juga akan menjadi pasangan terbaiknya untuk selamanya."
Thanit melihat Andara dengan ekspresi sedingin es. Pemuda itu memalingkan wajahnya lalu tersenyum sinis. Ia bukannya tidak tau bagaimana perlakuan Roy pada Andara saat ini, tapi ia hanya mencoba untuk menutup mata.
"Baguslah kalau begitu."
Ketiga pemuda itu akhirnya pergi dari sana setelah beberapa saat berbincang. Ryan dan Joko menghela nafas lega seolah baru saja keluar dari area peperangan.
Ryan dan Joko sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi di antara ketiga orang itu, tapi mereka memilih untuk diam.
Thanit dengan ekspresi datarnya melihat sekeliling, mencari seseorang dari sekian banyaknya tamu yang datang.
Pemuda itu tersenyum sinis pada seorang gadis yang sedang melihat ke arah Andara. Gadis itu tersenyum namun ekspresi wajahnya terlihat sendu.
'Kamu bisa setenang ini? Aku juga bisa mengimbangimu, Karin. Aku pastikan bahwa aku tidak akan kalah darimu. '
Ketiga pemuda itu bergabung dengan tamu yang lainnya. Ryan dan Joko terbawa suasana saat mengobrol dengan para tamu lainnya sehingga tidak menyadari teman mereka sudah tidak berada di sana.
Thanit memilih untuk menjauh dari sana dan duduk menyendiri. Pemuda itu terus saja melihat ke arah Karin dengan tatapan yang aneh.
Karin sedang mengobrol dengan teman-temannya saat ia secara tidak sengaja melihat seseorang. Seseorang yang membuatnya terkejut dan terdiam sesaat sebelum akhirnya Karin mengejar orang itu.
Teman-temannya merasa heran dengan sikapnya. Mereka saling menatap dengan bingung. Rika berusaha untuk mengikuti Karin yang hampir tidak terlihat karena tertutupi oleh banyaknya tamu.
Ia tampak khawatir melihat bagaimana ekspresi wajah Karin saat ini. Namun belum juga Rika sampai padanya, Karin sudah melangkah lagi mencari orang itu.
Karin terlihat kebingungan. Mata gadis itu terus bergerak kesana-kemari, berharap matanya bisa menemukan sosok yang ia cari.
"Kemana perginya dia?" tanyanya pada dirinya sendiri.
.
.
__ADS_1
bersambung...