Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Bohong


__ADS_3

"Ayolah, Thanit. Katakan padaku, apa sebenarnya yang terjadi? Bukankah kita hanya berdua saja di sini? Aku sangat bingung karena seingat ku, aku masih berada di pestanya Andara semalam saat aku merasa pusing."


Karin terdiam sesaat setelah mengucapkan itu. Ia tersadar dengan kemungkinan yang membuatnya berada dalam satu ruangan yang sama dengan Thanit.


'Tapi kalau dia yang melakukan itu padaku, apa pula tujuannya? Kalau dia ingin berbuat sesuatu yang tidak-tidak padaku, kenapa juga tubuhnya malah terikat seperti itu? Aish! Kepalaku semakin pusing.'


Karin menghela nafas panjang dan duduk di samping Thanit. Mereka duduk berdampingan di lantai. Thanit masih terlihat kesal. Ia bahkan tidak melihat ke arah Karin sama sekali.


"Aku tidak tau apakah aku harus berterima kasih atau marah padamu. Kenyataan di depan mataku membuat ku bertambah pusing. " Karin terlihat jujur saat mengucapkan itu.


"Tapi ini benar-benar tempat tinggal mu kan? Aku melihat beberapa barang milikmu di sini."


Thanit melihat nya dengan cepat. "Kamu memperhatikan itu? "


Karin mengerjapkan matanya dengan bingung. "Maksudnya?"


"Tidak ada." Thanit terlihat kesal kembali.


"Ish! Dasar aneh!"


"Terserah."


"Apa kita tidak bisa berdamai satu hari saja? Apa kamu tidak merasa lelah terus bersaing dengan ku?"


Thanit menatapnya tanpa ekspresi. "Kamu pasti sudah tau jawabannya."


"Haah...Dasar aneh! Sekarang apa yang akan aku jelaskan pada teman-teman ku?" Karin tersadar dengan sesuatu.


"Kemana tasku?" tanyanya sambil melihat Thanit lalu meneliti sekeliling ruangan.


Karin melihat Thanit, meminta penjelasan. Thanit membuang nafas panjang dan berdiri. "Tunggulah dulu di sini, aku akan menjelaskan nya nanti." Lalu Thanit pergi meninggalkan Karin yang kebingungan.


Karin melihat ke luar jendela. Ia baru tau kalau mereka kini berada di lantai yang tinggi. Ia bisa melihat langit yang sudah mulai berubah warna karena jam juga sudah menunjukkan pukul empat pagi.


Karin berbalik ketika ia mendengar derap langkah kaki seseorang. Thanit berdiri mematung melihatnya di dekat pintu. Karin terlihat kebingungan melihat ekspresi wajah Thanit yang menurutnya tidak seperti biasanya.


"Apa sekarang aku bisa mendapatkan alasannya?"


"Ikut aku," ucap Thanit lalu berbalik pergi meninggalkan Karin. Walaupun kesal, tapi Karin tetap mengikuti kemana Thanit pergi.


Karin merengut kesal karena Thanit membawanya ke dapur untuk membuat menu sarapan. Gadis itu tampak uring-uringan dan menaruh benda-benda yang dipegangnya dengan keras.


Thanit diam-diam tersenyum melihat tingkah lakunya. Baginya membuat Karin kesal seperti itu terasa menyenangkan. Thanit masih bungkam, tidak peduli bagaimana ekspresi wajah Karin saat ini.


"Cepatlah katakan, aku sudah selesai memasak untukmu. Lagipula kenapa harus memasak sepagi ini?" Karin terlihat tidak sabar lagi dan akhirnya gadis itu duduk sambil cemberut di kursi.


Thanit membawakannya segelas minuman hangat. Ia menyodorkan minuman itu pada Karin dengan ramah. Tapi Karin malah terlihat heran karena mendapatkan perlakuan seperti itu dari Thanit.


"Apa ini? Ini bukan racun kan?" tanya gadis itu masih dengan wajah juteknya.


"Aku bukan pembunuh."

__ADS_1


"Kalau begitu, kamu harus meminumnya terlebih dahulu." Karin menyodorkan gelas itu pada Thanit dan pemuda itu meminumnya tanpa ragu.


"Lihatlah, ini tidak berbahaya."


Karin masih terlihat tidak percaya. Tapi gadis itu mulai meminumnya tanpa merasa risih dengan bekas bibir Thanit. Thanit melihat gadis itu dengan tatapan yang lekat.


"Haah... Ini enak, terima kasih. "


"Hem."


"Sekarang katakanlah padaku. Aku tidak sesabar yang kamu kira."


"Aku tidak pernah mengira bahwa kamu adalah gadis penyabar."


"Hiish! Cepatlah bilang!"


"Aku mau kamu bertanggung jawab," ucap Thanit tenang dengan ekspresi wajah yang datar.


Karin melongo mendengar pernyataan itu. "Hah? Tanggung jawab? Memangnya apa yang aku lakukan padamu?"


Karin teringat dengan keadaan tubuh Thanit yang terikat tadi. "Apakah aku yang mengikatmu? Apakah aku melakukan kekerasan padamu?" tanyanya sedikit takut.


"Cih! Aku tidak selemah itu hingga tidak berdaya melawan mu."


"Lalu?"


Thanit berdiri dan pergi dari sana. Karin terdiam dengan heran namun Thanit segera kembali dengan sebuah jas di tangannya, membuat Karin bertanya-tanya melihatnya.


"Apa maksudnya ini?"


"Kamu butuh jawaban bukan? Inilah jawabannya."


"Aku tidak mengerti, Thanit."


Thanit membuang nafas panjang. "Semalam kamu mengotori pakaian ku dengan muntahan mu. Kamu harus mencucinya. Kalau tidak, kamu tidak akan keluar dari tempat ini."


Karin meringis mendengar penjelasan Thanit. Ia merasa malu. Gadis itu tidak bertanya banyak hal karena ia sempat tidak ingat apa-apa. Mungkin saat itulah ia mengotori pakaian Thanit, pikirnya.


"Haah... Baiklah. Aku akan bertanggung jawab. Maafkan aku."


"Hem."


"Eh! Tapi ngomong-ngomong, kenapa tubuhmu terikat seperti itu? Siapa yang melakukannya?"


"Aku sengaja mengikat diriku sendiri karena tidak ingin sampai tanganku menyentuh mu. "


"Ih! Sebegitu menjijikkan nya kah aku? Kenapa tidak menempatkan ku di kamar lain? "


"Hanya ada satu kamar di rumah ini."


"Seharusnya kamu tidak tidur seranjyang denganku."

__ADS_1


"Seharusnya kamu berterima kasih karena aku tidak meletakkan mu di lantai. Cepat minum dan bersihkan bajuku." Thanit pergi dengan wajah datarnya.


"Huh! Dasar aneh!" Karin minum sambil bersungut-sungut.


"Eh, tapi... Kenapa sikapnya terkesan aneh ya? Dia tidak seperti biasanya. Apa mungkin karena pernikahan Roy? " Karin tampak berpikir. "Ya, mungkin karena itu."


.


.


.


"Aku baik-baik saja. Maafkan aku karena membuat kalian khawatir. Tapi aku benar-benar baik-baik saja."


"Lalu kamu berada di mana sekarang?"


"Aku ada di Cafe. Aku meminjam ponsel karyawan ku. Aku benar-benar tidak ingin membuatmu kerepotan karena alergiku yang kambuh, jadi aku tidur di sini semalam. "


"Seharusnya kamu sudah tau kalau aku sama sekali tidak kerepotan, Karin."


"Sudahlah, Rika. Lagipula nanti siang aku akan pergi ke rumah sakit. Aku akan kembali ke kost setelah pulang dari sana saja."


"Haah... Baiklah. Tapi hati-hati,ya."


"Iya."


Mereka memutuskan sambungan telepon mereka. Karin tampak menghela nafas panjang karena telah membohongi Rika.


"Maafkan aku, Rika. Tapi sulit menjelaskan padamu tentang kejadian ini. "


Karin teringat pada Thanit. Sikap pemuda itu yang tidak seperti biasanya membuat Karin merasa iba. Gadis itu mencoba untuk menghibur Thanit sebelum mereka berpisah tadi pagi.


"Aku tau bagaimana perasaanmu. Aku juga berada di posisi mu. Tapi aku mencoba untuk bangkit. Aku tidak ingin hidupku yang sudah berantakan menjadi lebih sia-sia. Aku yakin kamu juga bisa seperti itu. Walaupun aku tau semua perubahan itu akan terasa begitu sulit."


"Kamu tidak mengerti. Aku jauh lebih menderita darimu."


Untuk pertama kalinya Karin tersenyum tulus pada Thanit. "Bukankah kamu tau bagaimana kehidupanku? Bagaimana hubungan keluarga ku? Apakah bisa dikatakan bahwa kamu lebih menderita dari aku? Kamu punya keluarga yang sangat menyayangi mu. Jujur,aku merasa iri akan hal itu. "


Thanit menunduk masih dengan ekspresi yang sama.


"Aku bisa, aku yakin kamu juga bisa. Masih banyak orang yang mengharapkan mu. Jangan seperti ini. Ini bukanlah sikapmu yang aku kenal. Aku lebih menyukai sikapmu yang biasanya walaupun menjengkelkan, daripada sikapmu yang seperti ini tapi membuat ku takut. "


Thanit malah menatapnya datar. "Apa kamu pikir aku peduli kamu menyukai ku atau tidak?"


"Hish! Percuma aku bicara panjang lebar. Dasar bujang lapuk! Lebih baik aku pergi. Huh!"


Karin menghela nafas panjang mengingat kejadian itu. "Memang sulit. Aku tidak akan menyalahkan dia. Tapi jawabannya benar-benar membuat ku jengkel. Syalan."


.


.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2