Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Salah faham


__ADS_3

Roy yang mendengar namanya disebut, menoleh dengan ekspresi wajah yang gugup. Pemuda itu tampak lebih kacau lagi saat melihat ekspresi wajah Andara yang tidak baik-baik saja.


"Dara..." Roy tampak ingin menjelaskan sesuatu namun Andara sudah lebih dulu pergi dari sana sambil menangis.


Roy terjebak dengan seorang pemuda yang akan membuat siapa saja salah faham terhadap mereka. Kedua orang itu menempel seolah sedang saling memeluk.


Roy berusaha untuk melepaskan dirinya, sebenarnya bajunya, dari pemuda yang ada di depannya. Roy akhirnya menarik bajunya hingga membuat baju itu robek. Lalu Roy bergegas pergi meninggalkan karyawannya yang tampak kebingungan.


"Antarkan aku pulang!" Perintah nya tanpa menunjuk siapapun.


Salah satu karyawan nya merespon tanpa menjawab. Pemuda itu segera keluar menuju ke tempat di mana motornya berada. Namun karena gugup, pemuda itu lupa dengan kuncinya dan kebingungan mencari dimana benda itu berada.Roy tampak emosi dan akhirnya pergi sendiri dari sana sambil berlari.


"Bos tunggu!" Panggilan seseorang dari toko tidak didengarnya sama sekali. Roy tetap saja pergi tanpa menoleh lagi.


"Eh, itu tadi kenapa sih? Kenapa mereka seperti orang yang sedang bertengkar?" tanya seorang karyawan di sana yang bernama Dimas.


"Gak tau," jawab pemuda yang akan mengantarkan Roy tadi.


Tiba-tiba seorang pemuda datang dari dapur dengan raut wajah yang gugup. Pemuda yang bernama Dio itu menjelaskan apa yang terjadi di dapur tadi.


"Aku hanya membantu Roy karena dia terpeleset. Tapi karena kancing bajunya tersangkut di bajuku, kami jadi kesulitan untuk menjauh. Ketika itulah Dara datang dan dia menangis. Aku tidak tau kenapa tapi aku merasa bersalah. Sebenarnya mereka itu kenapa?"


Dimas terkejut dengan penjelasan Dio. Pemuda itu menghela nafas panjang. "Pantas saja mereka seperti itu."


"Memangnya kenapa?" Tanya Raka, teman mereka yang satunya.


"Aku tidak bisa menjelaskannya pada kalian. Tapi semoga saja mereka baik-baik saja setelah ini. Tapi aku sarankan pada kalian, jagalah jarak dengan Roy agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi."


Dio mengerutkan keningnya sambil mengingat beberapa kejadian yang terjadi di toko kue itu. "Apakah gosip yang beredar itu benar adanya? Tentang Roy yang... "

__ADS_1


"Kalau kamu sudah faham, diamlah dan bersikap seperti biasanya. Tapi harus kamu ingat, posisikan dirimu dengan baik di depan mereka agar tidak menambah masalah." Dio dan Raka mengangguk mengerti dengan ucapan Dimas.


"Kembalilah bekerja!" perintah Dimas pada kedua temannya dan ketiga pemuda itu pun kembali ke dalam toko. Melupakan bahwa saat ini Roy masih saja berlari menuju ke rumahnya.


Roy seolah tidak punya rasa lelah. Pemuda itu terus berlari walaupun jarak dari toko ke rumah kostnya sekitar seribu dua ratus meter. Roy merutuki dirinya sendiri karena menolak kendaraan pemberian orang tuanya.


Pikirnya karena jarak dari kost dan kampus tidak jauh,maka kendaraan itu tidak diperlukan. Roy juga cukup berjalan kaki beberapa puluh meter saja dari kampus ke tokonya. Bahkan ia tidak akan kelelahan karena berjalan pulang pergi ke sana.


Tapi keadaan seperti sekarang sungguh merepotkan. Dimana dirinya ingin segera sampai ke rumah, namun langkah kakinya tidak secepat benda beroda itu.


Roy sama sekali tidak terpikirkan untuk meminta bantuan orang-orang yang berpapasan dengannya.


Sementara itu di rumah, Andara sedang menenangkan diri dengan cara berendam di dalam bathtub. Gadis itu berpikir bahwa dengan berendam, hati dan pikirannya akan menjadi lebih tenang dan dia tidak akan terlalu memikirkan kejadian yang nyatanya membuat hatinya sakit.


Namun kegiatannya harus terganggu saat ia mendengar suara seseorang mengetuk pintu rumahnya. Andara segera menyelesaikan kegiatan mandinya dan bergegas menuju ke depan karena suara ketukan pintu itu terdengar tidak sabaran.


Andara hanya mengenakan handuk saat keluar dari kamar mandi. Ia berniat memakai baju lalu keluar tapi seseorang yang masuk membuatnya menghentikan niatnya. Apalagi saat melihat bagaimana keadaan orang itu.


Air mata dengan tiba-tiba mengalir lagi dari kedua matanya. Gadis itu sama sekali tidak bisa menahan dan melupakan kejadian tadi. Walaupun mungkin saja kejadiannya tidak seperti yang ia bayangkan, tapi sungguh hatinya merasa sedih dan sakit.


Sementara Roy tampak terlihat seperti orang yang sedang menahan marah. Pemuda itu tidak bisa untuk menutupi kemarahannya apalagi saat ia melihat bagaimana Andara saat ini.


"Sudah kukatakan, pakailah pakaian yang pantas! Kenapa kamu hanya memakai benda seperti itu?!"


Perkataan Roy kali ini sungguh membuat Andara sangat sakit hati. Rasanya gadis itu lebih tersakiti dengan ucapan Roy saat ini daripada kejadian yang ia lihat tadi.


Semua kejadian yang telah lalu dan perkataan orang-orang terhadap dirinya dan Roy, muncul kembali di kepalanya.


'Bahkan kamu bisa membentakku, sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan selama ini. Ditambah lagi, sikap dan kata-kata mu. Apakah kamu juga tidak menyadari bagaimana keadaan mu sekarang?' tanya Andara dalam hati.

__ADS_1


Sementara Roy berkata seperti itu karena terbawa emosi saat melihat Karin yang berjalan pergi dari depan rumahnya. Roy mengira bahwa Karin melihat Andara dengan keadaan seperti itu. Pikiran pemuda itu seolah tertutup dan tidak menerima kebenaran yang sebenarnya.


Andara menangis terisak dan tubuhnya terduduk ke lantai. Gadis itu mer***s handuk yang menempel di d*d*nya.


"Aku tau kamu tidak menganggap ku sebagai istrimu, tapi apakah kamu tidak bisa sedikit saja menghargai aku sebagai seorang istri dan perempuan? Apakah aku salah melakukan ini di rumahku saat tidak ada siapapun di sini?"


"Katakan, apakah aku salah melakukan ini dihadapan suamiku sendiri? Apakah aku salah mengharapkan perhatian dan suamiku? Katakan, Roy. Kalau aku salah, apakah yang benar itu sesuatu yang kamu lakukan dengan Dio tadi? "


Roy terpaku dengan perkataan Andara. Pemuda itu merasa terkejut dengan pengakuan istrinya.


"Maafkan aku yang mungkin saja terlalu mencampuri urusan mu, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku sakit,Roy. Aku terluka melihat mu bersama orang lain. Aku tidak ingin melihatmu seperti itu. Apakah salah kalau aku mengharapkan kamu memiliki perasaan untuk ku? "


Andara menunduk dan menangis. "Maafkan aku yang tidak bisa hanya menjadi temanmu. Maafkan aku yang sudah memiliki harapan dengan pernikahan ini. Aku tidak bisa menahan perasaan ku,Roy. Hatiku tetap tidak bisa menerima kalau aku hanya menjadi temanmu. Aku..."


Roy merasa tidak percaya tapi juga merasa bahagia. Pemuda bisa merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Andara saat ini. Hatinya merasa sakit melihat istrinya seperti itu.


Roy berjongkok di hadapan Andara dan memegang kedua bahu gadis itu. Matanya berkaca-kaca melihat bagaimana sedihnya Andara saat ini.


"Maafkan aku,Dara. Tapi kamu salah faham. Kejadian di toko tadi tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Terjadi sedikit kecelakaan disana sehingga membuat kami seperti apa yang kamu lihat tadi. Aku sungguh tidak melakukan apapun."


Andara mengangkat kepalanya dan menatap Roy dengan wajah sendunya. "Lalu kenapa kamu membentakku? Kenapa kamu malah marah saat datang ke rumah? Apakah diriku yang seperti ini sangat membuat mu terganggu? "


"Tidak. Bukan seperti itu,Dara."


"Lalu apa? " Andara menatap Roy dengan tatapan yang semakin kacau.


.


.

__ADS_1


.


bersambung...


__ADS_2