
"Oma... " Roy memanggil neneknya setengah berteriak saat didapatinya sang nenek benar-benar hanya berbaring di tempat tidur.
Pemuda itu benar-benar sedih melihat kondisi sang nenek. Bahunya bergetar dan ia benar-benar menangis sambil memeluk dengan erat tubuh neneknya.
"Oma... Kenapa Oma gak ngabarin Clarence dari dulu? Kenapa Oma gak mau Clarence datang lebih awal? Lihat bagaimana kondisi Oma sekarang? " Roy menatap neneknya yang lemah dengan mata yang berair. Diusap nya wajah neneknya yang kini tersenyum dengan lembut ke arahnya.
"Clarence sayang... Jangan seperti itu. Oma tidak ingin kabar dari Oma mengganggu kuliah mu. Kamu harus berhasil dan membuat Oma bangga. Kamu harus membuktikan bahwa kamu bisa.Lagipula, banyak sekali yang merawat Oma disini. Lihatlah, disekeliling Oma banyak sekali orang, bukan?"
Roy mengedarkan pandangan nya ke sekeliling kamar neneknya yang berukuran sangat luas itu. Disana terdapat beberapa orang terdekat keluarganya dan juga orang-orang yang tidak ia kenal sama sekali.
"Kamu bahkan belum menyapa Mommy mu. Datangilah ia. Kamu tidak tau bagaimana dia sangat merindukanmu. "
Roy membuang nafasnya perlahan. Mencoba menenangkan diri dan pikiran nya. Kemudian ia berjalan menghampiri ibunya yang ia abaikan sejak ia datang.
Roy berdiri di hadapan ibunya dan menatap lekat wajah teduh ibunya."Mom, apa kabar? "
Wanita itu tersenyum dengan lembut dan mengusap kepala Roy. "Mommy sehat, sayang. Bagaimana kabarmu? "
"Aku baik-baik saja. Terima kasih karena Mommy telah merawat Oma. Maafkan Clarence yang bersikap egois, Mom. "
"Kamu tidak egois sama sekali, sayang. Kamu anak yang baik. " Wanita itu tersenyum sambil melihat ke arah mertuanya yang terbaring lemah diatas tempat tidur. "Kamu jangan berterima kasih. Sudah seharusnya Mommy menjaga Oma. Oma juga ibunya Mommy. Mommy akan berusaha menjaga nya sekuat tenaga Mommy."
"Ya. Tapi, terima kasih. "
Wanita itu faham bagaimana anaknya begitu menyayangi sang nenek, bahkan melebihi sayang terhadap dirinya. Karena neneknya lah yang menjaga Roy sejak pemuda itu masih kecil. Wanita itu harus bisa menerima keadaan itu.
"Clarence, bisakah kamu menyapa beberapa tamu kita? Mereka juga membantu Mommy untuk menjaga Oma. "
Roy berbalik dan menatap beberapa orang yang ia tidak kenal sama sekali. Pemuda itu tanpa ragu berjalan ke arah mereka. Roy menyapa dan menyalami mereka satu per satu. Berterima kasih kepada mereka karena telah membantu menjaga neneknya.
"Mom, Clarence minta waktunya boleh? Clarence ingin mengobrol dengan Oma. "
"Tentu saja boleh. "
"Maaf, bukan Clarence berniat mengusir kalian dari sini. "
"Mommy faham, sayang. Kamu pasti sangat merindukan Oma mu. " Roy mengangguk dan tak lama ada seorang pelayan mengetuk pintu kamar itu.
Ibunya Roy yang bernama Diana, segera menghampiri pelayan itu. "Ada apa? "
"Maaf, Nyonya. Tapi Nyonya Guzov dan putrinya sudah sampai. Mereka berada di ruang tamu saat ini. "
Diana tampak tersenyum bahagia mendengarkan kabar itu. "Baiklah. Kamu kembalilah ke depan. " Pelayan itu mengangguk dan berlalu pergi.
Diana segera menghampiri mertuanya dengan pancaran kebahagiaan yang tak bisa diukur.
"Ada apa, Diana? " tanya neneknya Roy dengan lemah tapi juga penasaran.
Diana melihat ke arah mertuanya dan perempuan yang seusia dengan ibu mertuanya secara bergantian."Sintya dan Angel sudah datang."
Kabar itu membuat perempuan yang duduk di samping neneknya Roy terlihat sangat senang. "Benarkah? Kalau begitu aku akan menemui mereka dulu. "
Perempuan lanjut usia itu bangkit perlahan dari tempat duduknya. Gerakan nya terlihat ringkih. Segera, orang yang duduk tak jauh dari nya pun membantunya berdiri dan memapahnya.
__ADS_1
"Ma, Diana mau antar Oma Claudy dulu ke depan. Lagipula, Clarence meminta waktu untuk berdua saja dengan Mama. "
Mertuanya tersenyum."Pergilah."
"Idina, aku pergi dulu. Nanti aku akan membawa mereka kemari untuk menemuimu. "
"Pergilah. Mereka pasti merindukan mu. Aku juga ingin mengobrol dulu dengan cucu tersayang ku ini. " Mereka saling tersenyum sebelum Diana mengantar perempuan itu keluar.
.
.
.
"Sintya..." Diana langsung memanggil perempuan yang sedang duduk bersama putrinya saat dia sampai ke ruang tamu.
Perempuan yang dipanggilnya menoleh dan tersenyum kepadanya. "Diana! "
Mereka pun saling memeluk seperti sepasang sahabat yang sudah lama tidak berjumpa. "Apa kabar? "
"Kabarku sangat baik. Kamu sendiri bagaimana?"
"Aku juga baik. Oh ya, apa ini Angel? " tanya Diana sambil melihat kearah seorang gadis yang masih setia duduk di tempatnya.
"Iya. Dara sayang, perkenalkan, ini Mommy nya Clarence, namanya Aunty Diana. "
Gadis yang tak lain adalah Andara itu segera berdiri dan menyalami Diana. "Halo Aunty, panggil saja aku Dara. Teman-teman ku biasa memanggilku seperti itu. Senang bertemu dengan Aunty."
"Wah... Anakmu manis sekali. Dia benar-benar cantik. Tapi tingginya benar-benar jauh melampaui ku. " Diana tertawa dan membuat ibu dan anak itu ikutan tertawa.
Seketika tawa Diana terhenti digantikan dengan wajah terkejutnya. "Ya ampun, aku lupa. "
"Kenapa? "
"Mereka masih di belakang. Aku kesini setengah berlari. "
"Ya ampun... Kamu masih saja sama. Nyonya macam apa dirimu ini? " Mereka hanya tertawa dan Diana segera ke belakang menjemput neneknya Andara.
"Mami.. " panggil Andara pada ibunya saat Diana sudah ke belakang.
"Iya? "
"Aunty Diana mirip sekali dengan tetangga ku. Tapi tetangga ku laki-laki. "
"Oh ya? "
" Iya. "
"Wah... Kebetulan sekali ya? " Sintya hanya tersenyum. Senyuman yang mengandung banyak arti.
.
.
__ADS_1
.
Andara terus saja menempeli neneknya sejak pertama mereka bertemu. Andara tidak peduli bagaimana orang-orang di sana melihat kearahnya. Dia sangat merindukan neneknya. Bahkan ibunya yang ingin memeluk pun tak ia izinkan.
"Anakmu ini lucu, ya? Dia sangat sayang pada Oma nya. Clarence juga begitu. "
"Dara memang selalu seperti itu kalau bertemu dengan Oma nya. Seperti Oma nya hanya untuk dirinya sendiri. Padahal dia ini sudah sangat besar. Tubuh Oma nya bahkan sampai tenggelam."
Andara memanyunkan bibirnya dan semakin memeluk neneknya dengan erat sambil sesekali mencium pipi neneknya yang sudah tidak mulus lagi.
"Apa Clarence tidak pulang? " tanya Sintya.
"Pulang, kok. Saat ini dia sedang bersama Oma nya. Dia juga baru datang hari ini. "
"Pasti dia sangat merindukan Oma nya. Kalau boleh, apa kami bisa menjenguk Oma Idina sekarang? "
"Tentu saja boleh. Lagipula, ini sudah waktunya makan malam. Clarence sepertinya belum makan dan belum istirahat sejak ia datang. Mari aku antar. " Mereka beranjak dari tempat duduk mereka menuju kamar berukuran luas itu lagi. Tentu saja dengan mendahulukan seorang wanita tua yang berjalannya tidak bisa cepat lagi.
"Clarence, bolehkah Mommy masuk? Ada yang ingin menjenguk Oma. " Teriak Diana dari luar karena takut mengganggu anknya jika ia langsung saja masuk.
"Boleh, Mom. Silahkan masuk. "
Mereka pun masuk satu per satu ke kamar itu. Clarence yang hanya menunduk, tidak memperhatikan siapa saja yang masuk ke dalam kamar neneknya.
"Ma, ini Sintya bersama anaknya. Mama masih ingat, kan? "
Oma Idina tersenyum menatap kedua tamunya itu. "Angel sudah besar.Apa kabarmu, nak? "
Andara tertegun sejenak melihat kondisi wanita lanjut usia itu. Hatinya benar-benar sedih melihat kondisinya. Walaupun dia sama sekali tidak dekat dengan wanita yang terlihat lemah itu.
Andara berjalan menghampirinya tanpa memperhatikan siapa orang yang sedang duduk di samping Oma Idina. Tangan Andara terulur untuk menggapai tangan wanita tua itu.
"Oma, apa kabar? "
Roy merasa familiar dengan suara itu. Kepalanya yang menunduk diangkatnya perlahan dan dengan bersamaan, Andara juga melihat ke arahnya.
"Loh? Roy? "
"Dara? "
.
.
.
bersambung...
.
.
.
__ADS_1
salam dari Yuya😘😘