
"Apa maksud mu? Kamu mau pergi kemana?"
"Maafkan aku,Dara. Thanit mencoba untuk bunuh diri. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku harus segera datang dan menyadarkan dia."
Andara tidak menjawabnya. Gadis itu terlihat murung dan berusaha untuk menahan air matanya. Sejujurnya, hatinya merasa sangat sakit saat ini. Apalagi mengingat dengan sikap Roy yang malah seperti menjauhinya akhir-akhir ini.
"Dara, izinkanlah aku untuk pergi. Aku berjanji akan kembali."
Andara bingung harus menjawab apa. Melihat tatapan memohon nya Roy membuatnya tanpa sadar mengangguk. Roy tersenyum dan memeluknya sekilas sebelum akhirnya pergi.
'Apa benar kamu akan kembali? Lalu kalau kamu kembali, kamu akan kembali sebagai siapa? Aku sudah terlanjur mengharap pada pernikahan ini, Roy. Aku tidak siap menerima kekecewaan saat aku sudah ikhlas untuk berubah.'
Tak terasa, air mata mengalir di pipi gadis cantik itu. Melupakan bahwa ia berada dalam lingkungan keluarga nya saat ini. Melupakan bahwa ia bisa saja menjadi pusat perhatian keluarga nya.
.
.
.
Malam yang semakin larut, tidak membuat seorang pemuda mengurungkan niatnya untuk tetap berdiam diri di pinggir jembatan. Pemuda itu masih bertahan di posisi yang sama. Tidak terlihat lelah sedikit pun.
Hingga ia tersenyum saat mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Pemuda itu lantas berbalik untuk menatap orang yang memanggilnya.
"Aku tau kamu pasti datang. Aku tau kamu pasti tidak akan setega itu terhadap ku," ucap pemuda itu sambil tersenyum dengan penuh keyakinan. Namun yang ia dapatkan malah tatapan yang tidak diinginkannya.
"Aku memang datang. Aku sudah tau bahwa kamu tidak mungkin untuk melakukan hal demikian. Aku datang ke sini hanya untuk mengakhiri semuanya."
"Apa maksud mu, Roy?"
__ADS_1
"Thanit, sudah cukup kamu membuat orang lain merasa khawatir. Kamu bahkan tidak berpikir bagaimana mereka memikirkan mu. Kamu malah seenaknya mempermainkan perasaan mereka untuk memancingku. Kamu pikir apa yang kamu lakukan ini bisa mengubah pendirian ku?"
Thanit bertepuk tangan dengan senyuman yang sinis. "Wah wah wah. Rupanya Roy ku ini sudah benar-benar menjadi seorang lelaki. Aku tidak menyangka kamu bisa berkata sejantan ini padaku. Mana Roy yang gemulai yang selalu manja padaku?"
"Sikap gemulai ku sudah hilang termakan oleh rasa penyesalan ku. Kamu sudah memancingku untuk benar-benar jujur. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan semua ini. Aku pikir sudah cukup dengan berbicara baik-baik dengan mu tentang hubungan ini. Namun sikapmu memaksaku untuk mengatakan semuanya."
Kening Thanit mengkerut dan tatapan pemuda itu jelas memperlihatkan bahwa ia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Roy. "Kamu semakin berbelit-belit. Tidak cukup kah semua alasanmu selama ini?"
"Itu hanya alasan. Aku tidak ingin kamu merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Tapi sepertinya kamu membutuhkan semua penjelasan ini."
Tatapan Thanit berubah datar, seolah kini ia sedang berhadapan dengan musuhnya.
"Aku menyesal karena memiliki hubungan dengan mu. Aku menyesal karena hal itulah Oma ku meninggal. Kamu tidak tau bagaimana hancurnya perasaan ku saat Oma ku pergi untuk selamanya dengan dendam di hatinya. Kamu terlalu egois dan tidak memikirkan ku. Kamu tidak berpikir bahwa apa yang kamu lakukan bisa membuat semuanya hancur."
Thanit tetap diam dan menatap nya tidak mengerti.
Thanit masih saja terdiam, namun kali ini ia seperti sedang mengingat-ingat kejadian yang lalu. Kejadian yang sudah berminggu-minggu berlalu dan itu bertepatan dengan Roy yang tidak memberinya kabar.
Thanit terpaku membayangkan bahwa mungkin saja pesan yang ia kirim pada Roy adalah penyebab semua ini. Ia terpaku membayangkan bahwa yang melihat semua pesan itu adalah neneknya Roy.
Roy melihat ekspresi wajah Thanit yang berubah. Pemuda itu berpikir bahwa Thanit sudah menyadari semuanya. Roy merasa sangat marah ketika mengingat kejadian dimana ia kehilangan neneknya. Tapi pemuda itu kembali berpikir dengan tenang.
Roy tidak ingin sepenuhnya menyalahkan Thanit, hanya saja dengan cara ini mungkin Thanit tidak akan lagi menolak apa yang ia putuskan.
"Apa kamu sudah ingat? Apakah sekarang aku salah kalau menyalahkanmu atas semua kejadian ini? Bisakah sekarang kamu menerima semuanya untuk mengganti kepergian Oma ku?" Thanit masih saja terpaku.
Roy membuang nafas panjang dan menatap ke arah jalan. Melihat jalanan yang mulai senggang karena hari sudah sangat malam.
"Mungkin ini adalah jalan untuk kita agar menyudahi hubungan ini. Walaupun jelas aku marah, tapi aku juga tidak ingin terus menyalahkanmu. Aku juga ikut andil dalam kejadian yang membuat Oma ku marah. Jadi aku ingin mengganti semua kesalahanku dengan cara ini walaupun mungkin semuanya sudah terlambat. Tapi aku sudah berjanji padanya bahwa aku akan berubah. "
__ADS_1
Kali ini Roy terisak. Pemuda itu tidak bisa menahan air matanya saat mengingat sang nenek yang ia sayangi. Thanit merasa sangat bersalah. Ia tidak menyangka bahwa kejadian nya akan seperti ini. Sekarang ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa.
'Aku sadar, aku memang egois. Aku tidak memberinya waktu saat itu. Tapi aku tidak menyangka akan seperti jadinya. Aku terlalu ceroboh.' Thanit hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri.Ia sangat menyesal karena sikap egoisnya malah membuat semuanya berantakan.
Beberapa saat mereka terdiam. Roy mengatur nafasnya agar ia bisa lebih tenang. Pemuda itu tidak ingin lagi terjebak dalam situasi itu lebih lama.
"Aku rasa penjelasan ku sudah cukup untuk menjawab semuanya. Aku harap kamu sekarang benar-benar bisa menerima dan menghargai keputusan ku. Aku sudah lelah. Aku tidak ingin lagi mengecewakan keluarga ku. Aku tidak ingin lagi kehilangan. Sudah cukup Oma yang pergi dengan cara seperti itu. Aku tidak ingin membuat penyesalan ku menjadi tidak berguna. Maka sekarang aku memohon padamu, lepaskan aku, Thanit."
Kedua pemuda itu kini saling bertatapan dengan ekspresi wajah yang sedih dan penuh penyesalan. Thanit dapat melihat bagaimana sedihnya Roy saat ini. Ia pun tidak bisa menahan lagi pemuda itu untuk tetap bersamanya.
"Maafkan aku, Roy."
.
.
.
Andara tidak bisa tenang. Gadis itu terus melihat ke arah jalan. Berharap ia bisa melihat seseorang yang ditunggunya datang. Perasaannya benar-benar kacau saat ini. Ia bahkan tidak bisa mengendalikan perasaannya di hadapan keluarga nya.
Orang tuanya sangat sedih dengan keadaan Andara. Tapi Andara sama sekali tidak menjelaskan apapun pada mereka. Gadis itu membiarkan mereka kebingungan dengan sikapnya.
'Apa aku harus merelakan lagi? Seharusnya aku tidak boleh terlalu berharap padanya hanya karena ia melakukan semua ini karena rasa bersalahnya. Aku bahkan tidak tau bagaimana perasaannya yang sesungguhnya. Kenapa cepat sekali aku menyimpulkan bahwa hubungan ini akan berjalan dengan lancar? Bukankah aku juga tau bagaimana sikapnya selama ini? Kenapa aku mudah sekali terpana dengan keadaan ini?'
.
.
bersambung...
__ADS_1