
Hari sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun Roy belum juga kembali. Andara dan keluarganya sangat mengkhawatirkan pemuda itu, apalagi ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi.
Orang tua Roy yang memang berada di rumah Andara pun sangat mengkhawatirkan anaknya. Mereka juga merasa tak enak hati pada keluarga Andara. Tapi mereka tidak bisa melakukan apapun karena tidak ada yang tau Roy berada di mana saat ini.
Andara masih saja berada di posisi nya, seperti saat Roy baru pergi. Gadis itu tampak tidak lelah menunggu Roy di teras rumah. Orang tuanya menyarankannya untuk masuk karena udara di luar cukup dingin. Namun gadis itu enggan untuk pergi dari sana.
Beberapa saat kemudian, orang yang mereka tunggu akhirnya datang. Dengan langkah gontai, Roy berjalan masuk ke dalam rumah itu. Ia menunduk dan tidak menyadari bahwa Andara sedang menunggunya. Pemuda itu terus saja berjalan melewati Andara.Andara semakin sedih. Ia dengan lemas berjalan masuk mengikuti suaminya.
Roy segera dihampiri oleh kedua orang tuanya. Kedua orang tua Roy menatap anaknya yang tampak sedih dengan wajahnya yang sembab.
"Apa yang terjadi, Nak?" tanya Tuan Scott.
Roy menatap lekat wajah kedua orang tuanya."Dad, Mom, maafkan aku karena membuat kalian kecewa," ucap Roy lirih namun masih bisa didengar oleh Andara yang berada tidak jauh dari sana.
Andara tertegun dengan pikiran yang sudah tidak menentu. Gadis itu semakin yakin bahwa Roy kembali pada Thanit. Andara menangis, ia tidak ingin mendengar apapun lagi dan memutuskan untuk pergi dari sana.
Kedua orang tua Andara yang sejak tadi berada di sana, menunggu apa yang akan diucapkan oleh menantu mereka. Kedua orang itu membiarkan Roy saling bicara dulu dengan kedua orang tuanya dan mereka sama sekali tidak tau bahwa putri mereka sedang menangis saat ini.
"Apa maksud mu? " tanya Diana dengan tatapan yang was-was.
Roy tersenyum dan memeluk mereka. "Maafkan aku karena selama ini telah mengecewakan kalian. Aku tau sebenarnya kalian sangat menyayangiku. Tapi aku terlalu egois sehingga menganggap kalian tidak pernah memperhatikan ku. Mulai sekarang, aku akan berusaha menjadi anak laki-laki kebanggaan kalian. Aku akan dengan tulus menuruti keinginan kalian."
Tuan Scott dan istrinya merasa terharu dengan ucapan Roy. Mereka menangis dan semakin mengeratkan pelukannya pada Roy. Kedua orang tua Andara pun ikut terharu menyaksikan itu. Mereka saling merangkul dan tersenyum menyadari bahwa Roy telah dengan tulus menerima hal itu.
"Terima kasih atas semua pengertian mu. Kami sangat bersyukur dengan pernyataan mu ini."
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka saling mengurai pelukan. Kedua orang tua Roy bersikap setenang mungkin tanpa ingin menyinggung tentang kepergian Roy tadi. Karena apapun itu, yang pasti saat ini anak mereka sudah sadar.
Mereka berbincang-bincang sebentar sampai Diana mengingatkan bahwa Roy seharusnya menemui Andara. Mereka pun akhirnya tersadar bahwa gadis itu tidak berada di sekeliling mereka.
"Temui lah dia. Istrimu menunggu mu pulang sejak kepergian mu tadi. Pasti dia sangat khawatir."
Roy mengerutkan keningnya. "Benarkah? Tapi aku sama sekali tidak melihatnya. "
"Sudahlah. Cepatlah susul dia di kamarnya."
__ADS_1
Roy menuruti perintah kedua orang tuanya dan bergegas menuju kamar Andara. Ia tersenyum saat berpapasan dengan kedua mertuanya.
Roy masuk ke kamar yang ternyata sudah gelap itu. Ia menghela nafas panjang karena melihat Andara ternyata sudah terlelap. Roy merasa bahwa kedua orang tuanya hanya menghibur nya saja.
"Apa benar kamu menunggu ku?" tanyanya setengah berbisik. Ia masih berdiri di samping ranjyang besar itu.
Lalu Roy duduk dan membelakangi Andara. Pemuda itu mengingat kejadian saat hari wisuda Andara. Kejadian yang membuat sikapnya berubah. Ia tidak bisa tetap bersikap seperti dulu pada Andara, karena merasa bahwa Andara terpaksa mempertahankan pernikahan mereka.
"Tapi aku sudah berjanji. Aku tetap harus melanjutkan semua ini. Maafkan aku kalau keputusan ku membuat mu terluka. Maafkan aku kalau keputusan ku membuatmu kecewa. Tapi aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi," ucap Roy lirih.
Tanpa ia ketahui, gadis yang berbaring di sampingnya mendengar semua yang ia ucapkan. Gadis itu semakin menangis, namun ia berusaha untuk menahannya agar suara tangisannya tidak didengar oleh Roy.
'Seharusnya aku sudah mengira hal seperti ini akan terjadi,tapi kenapa aku tidak bisa menerimanya? Apakah aku sudah menaruh hati padanya?' batin Andara lebih terluka daripada raganya.
Gadis itu mengatur nafasnya setenang mungkin. ' Walaupun ini sakit, tapi aku akan berusaha untuk menerimanya. Aku akan menjadi teman terbaiknya dan mendukung apapun keputusannya. Aku akan merelakan dia kalau memang dia ingin kembali pada Thanit. Aku tidak akan pernah menahan dia.'
Kedua orang itu berbaring saling memunggungi. Mereka terpejam namun pikiran mereka masih tetap terjaga. Kedua orang itu sama-sama berpikir keras dengan kejadian yang mereka lalui.
.
.
.
.
"Tentu saja," jawab seorang gadis dengan senyuman yang manis. Penampilan gadis itu sangat anggun sehingga membuat temannya seolah terpesona padanya.
"Lalu kenapa kamu tidak bersiap-siap? Apa kamu tidak ingin berlama-lama di acara pernikahan sahabat mu?"
"Bukannya begitu, tapi... Apa kamu yakin, Karin."
Gadis itu menatap wajah sahabat nya yang masih saja nampak tidak yakin. "Rika, ini adalah hari pernikahannya Andara. Mana mungkin aku tidak datang. Bagaimana pun, dia adalah sahabat kita." Rika terdiam dan masih saja terlihat bingung.
"Aku tidak akan mengacaukan pernikahannya. Kamu jangan takut. Aku masih punya akal dan juga aku sepenuhnya sadar. Marilah kita membuka lembaran baru. Aku juga tidak ingin terus-menerus terjebak dalam kenangan masa lalu."
__ADS_1
Rika terdiam beberapa saat dan akhirnya gadis itu mengangguk. "Aku akan menemanimu. Aku akan selalu menjadi sahabat mu."
"Terima kasih. " Karin tersenyum dan melihat penampilan Rika. "Cepatlah bersiap. Aku juga tidak ingin kita tertinggal rombongan."
Karin tertawa pelan dan dibalas senyuman oleh Rika.
.
.
.
Di sebuah apartemen, nampak seorang pemuda juga tengah bersiap. Pemuda itu meneliti penampilan nya di depan sebuah cermin yang besar. Tatapannya sesekali terlihat sendu, namun juga sesekali terlihat marah.
Pemuda itu berulang kali menarik nafas dan menghembuskannya. Ia belajar dan berusaha untuk menenangkan diri.
"Tenanglah, Thanit. Ini bukanlah akhir dari segalanya. Hidupmu masih akan terus berjalan walaupun tanpa dia. "
Lagi-lagi pemuda itu mengatur nafasnya. Tersenyum sambil menatap pantulan wajahnya di cermin. "Ya, seperti itu. Bukankah kamu tidak boleh kalah? Dia saja bisa merelakan, pasti kamu juga bisa. Apapun yang dilakukannya, pasti kamu bisa mengimbanginya."
"Semangat, Thanit."
Thanit berbicara sendiri di ruangan itu. Dia seperti mengajak bicara pantulannya di cermin. Pemuda itu mengingat lagi saat kejadian malam itu.
Ia dengan sangat menyesal nya meminta maaf pada Roy. Dengan air mata yang tidak bisa ia tahan, ia merelakan pemuda itu untuk pergi. Karena ia sadar tidak bisa mempertahankan lagi hubungan nya.
Roy juga tampak lega dan tidak mendendam pada Thanit. Kurang lebih, perpisahan mereka diakhiri dengan cara baik-baik. Mereka berpisah dengan keikhlasan di hati mereka. Mereka sama-sama tidak menyimpan rasa dendam.
Thanit sadar bahwa kesalahannya juga lah yang menyebabkan semua itu terjadi. Ia sangat menyesal telah membuat seorang wanita yang sangat menyayangi Roy, meninggal dalam kemarahan.
"Maafkan aku, Oma. Aku berjanji tidak akan mengganggu cucumu lagi. Maafkan aku yang tanpa sengaja melukai perasaan mu. Aku akan merelakan dia untuk membayar semua kesalahanku, walaupun aku tidak tau apakah itu sudah cukup."
.
.
__ADS_1
.
bersambung...