Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Misi menggoda suami, gagal


__ADS_3

Tubuh Roy seolah kaku dalam pelukan istrinya. Walaupun itu bukanlah pelukan pertama yang Andara berikan, namun efeknya sungguh membuat Roy kewalahan.


Tubuh pemuda itu terus meremang dan tentu saja detakkan jantungnya tidak bisa senormal biasanya. Roy benar-benar seolah kewalahan untuk mengendalikan dirinya sendiri. Pemuda itu benar-benar gelisah saat ini.


Roy memberanikan diri untuk menatap wajah Andara yang masih saja terpejam, tentu saja itu pura-pura dilakukan oleh gadis itu. Sebenarnya Andara merasa sangat malu sampai tubuhnya terasa panas. Tapi ia tetap menempeli suaminya.


Roy terpaku melihat keindahan di depan wajahnya. Tak dapat dipungkiri, memang istrinya itu sangatlah cantik. Tapi cantik pun tak akan berpengaruh bukan, kalau seseorang tidak memiliki perasaan untuk seseorang yang cantik itu?


Dan saat ini Roy merasakan pengaruhnya. Menyadari bahwa saat ini dirinya sudah benar-benar tertarik pada istrinya itu. Bukan hanya merasa kagum terhadap seseorang yang cantik saja.


Roy mengangkat tangannya dan mengusap pipi Andara dengan lembut. Pemuda itu tersenyum dan ia mulai bisa menormalkan detak jantungnya.


Roy memperbaiki posisi tidurnya Andara dan menyelimuti gadis itu. Andara tampak damai dengan mata terpejam nya. Roy mendekatinya dan mengecup dahi gadis itu sebentar.


"Selamat tidur. Kamu sukses mengacaukan sesuatu dalam diriku malam ini. Aku tidak tau kamu sengaja atau tidak melakukan ini. Tapi maaf, aku tidak ingin mengecewakan mu dengan memulai semua itu sekarang. "


Roy memeluk istrinya dan memejamkan matanya. Pemuda itu berusaha untuk membawa jiwanya berpindah ke alam mimpi.


.


.


.


.


Sepertinya godaan untuk Roy tidak selesai malam itu saja. Pagi harinya, apa yang dilakukan oleh Andara sungguh membuatnya malah lebih frustasi.


Saat Roy masuk ke dapur, pemuda itu langsung disuguhkan oleh pemandangan yang membuat tubuhnya memanas. Pemuda itu melihat Andara yang sedang memasak tapi dengan pakaian yang menggoda iman. Ditambah lagi dengan rambutnya yang sedikit basah dan polesan make up yang membuat Andara menjadi semakin cantik.


'Apa dia sengaja melakukan itu? Kenapa dari tadi malam sikapnya seperti itu?' tanya Roy dalam hati.


Andara yang sedang sibuk membuat omelette, menoleh ke arahnya dan tersenyum dengan manis. Senyumannya membuat Roy semakin terpesona.


"Selamat pagi. "


"E-pa-pagi."


"Duduklah. Aku akan membuatkan minuman untuk mu. Kamu mau apa? Kopi atau s*s*? "


"Kopi saja." Roy berusaha untuk bersikap seperti biasanya.

__ADS_1


"Baiklah. Tunggu sebentar ya. Sebentar lagi ini selesai."


Roy mengangguk dan memperhatikan Andara yang kembali pada kegiatannya tadi. Mata Roy seolah tidak bisa lepas dari memperhatikan Andara. Apalagi gadis itu melakukan gerakan-gerakan yang sebenarnya membuat alisnya mengkerut.


'Apakah harus memasak dengan gerakan seperti itu? Apa dia sekalian berolahraga juga?'


"Silahkan," ucap Andara sambil menyodorkan gelas berisi kopi pada Roy. Roy meminumnya sambil melirik Andara yang kembali pada kegiatannya.


"Ssshhh.." Roy meringis setelah menyeruput kopi itu.


"Kenapa?" tanya Andara dengan khawatir. Gadis itu segera menghampiri suaminya.


"Panas." Roy mengibaskan-ngibaskan tangan di depan mulutnya.


"Memang panas. Biasanya kamu tidak langsung meminumnya."


"Iya. Aku lupa," bohong Roy padahal sebenarnya dia tadi sedang tidak fokus.


Andara memberikan Roy segelas air putih dan Roy segera meneguknya hingga tandas.


"Euurrggg.."


"Lah, langsung kenyang?" tanya Andara sambil tertawa pelan. Roy hanya tersenyum malu.


"Dara, kenapa kamu memakai baju seperti itu saat kamu masak? Kalau sampai kamu terkena cipratan minyak panas bagaimana?" tanya Roy setelah beberapa saat ia terdiam.


Andara yang hendak mengambil makanan pun menghentikan pergerakannya. "E-Itu..." Andara tampak kebingungan untuk menjawab.


"Pakailah pakaian yang semestinya dipakai untuk memasak, atau kamu akan terluka karena memakai baju yang terlalu terbuka seperti itu."


"Ah,iya." Andara tertawa dengan canggung.


'Haah... Sepertinya tidak akan semudah itu. Aku malah mempermalukan diriku sendiri. Bagaimana aku akan bertindak lebih jauh kalau reaksinya malah seperti ini? '


Andara membuang nafasnya panjang dan mulai memakan makanan yang ia ambil. Roy melihat bagaimana perubahan sikap Andara, Roy jadi merasa serba salah tapi ucapan itu sudah terlanjur keluar.


Hari-hari berikutnya berlalu seperti biasanya. Sikap Andara kembali seperti dulu. Gadis itu juga sepertinya tidak ingin lagi mencoba untuk menggoda suaminya. Karena ia merasa itu semua percuma.


Mungkin Roy masih belum bisa memposisikan dirinya sebagai seorang suami. Mungkin juga Roy masih terpaut pada perasaan dari masa lalunya.


Andara tidak ingin memaksakan diri, apalagi memberanikan diri untuk mendekati Roy lebih jauh. Kalau Roy sampai menolak tindakannya bagaimana? Akan sangat memalukan bukan? Seperti itulah pikiran Andara saat ini.

__ADS_1


Gadis itu berpikir, mungkin memang seharusnya bersabar untuk menghadapi suaminya yang menyimpang. Tidak mudah untuk mengubah semua itu. Semuanya membutuhkan proses. Walaupun dirinya sendiri juga seperti itu dahulu, tapi Andara merasa bahwa dirinya tidak separah Roy dalam hubungan terlarang itu sehingga membuatnya lebih cepat untuk berubah.


🍦🍦


Waktu pulang kerja telah tiba. Andara berniat untuk pulang dan seperti biasanya, gadis itu akan pulang sendiri mengendarai mobilnya.


Namun genggaman tangan seseorang membuat langkahnya terhenti. Andara melihat orang itu dengan dahi yang mengkerut.


"Ada apa, Jo?"


"Ehm...Aku ingin mengajakmu makan malam. Apa kamu bisa?" Tanya pemuda dengan postur tubuh atletis itu.


Andara semakin terlihat heran. Tidak biasanya juga orang di depannya itu mendekatinya, apalagi sampai mengajaknya makan malam.


"Aku ada waktu, tapi aku tidak bisa menerima ajakan mu. Maaf," jawab Andara tanpa ingin basa-basi.


Andara menarik tangannya perlahan karena pemuda itu tidak juga melepaskan genggaman tangannya.


"Oh." Reaksi dan ekspresi pemuda itu tidak membuat Andara terganggu.


"Aku mau pulang. Aku duluan ya,Jo."


Andara melangkah pergi meninggalkannya. Pemuda itu masih saja berdiam diri di sana dengan tatapan yang aneh.


Andara yang semula merasa aneh dengan sikap pemuda itu, memilih untuk tidak memperdulikannya dan tidak ingin juga terlalu memikirkannya. Lagipula siapa pemuda itu? Sebagai rekan kerja pun mereka tidak dekat. Kenapa pemuda itu berani mengajaknya makan malam?


Andara mengemudikan mobilnya menuju ke toko kue milik Roy. Gadis itu memang sering datang ke sana sepulang dari kerjanya. Andara berniat untuk mengajak Roy makan malam di luar. Ide itu didapatkannya karena ajakan pemuda tadi.


Andara turun dari mobilnya dan masuk ke toko dengan santai seperti biasanya. Gadis tidak menemukan keberadaan Roy di di depan. Akhirnya Andara mencari Roy di dapur, tempat biasanya Roy dan para karyawannya membuat kue.


Namun langkah gadis itu terhenti dan tubuhnya mematung di sana. Melihat pemandangan yang ada di hadapannya sungguh membuat tubuh dan hatinya terasa sakit.


Tanpa terasa air mata meluncur dari kedua matanya. Tubuhnya tetap bergeming di sana dengan tatapan yang hancur.


"Roy," panggilnya lirih.


.


.


..

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2