Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Berkunjung ke rumah mertua


__ADS_3

"Sikapmu jelas berbeda. Apakah ada hal yang menarik di kampusmu tadi?"


"Tidak ada. Sepertinya kegiatanku sama seperti biasanya."


Rika menatap Andara dengan ekspresi wajah tidak percaya. "Aku tidak salah. Sikapmu memang jelas berubah. Tapi ya sudahlah. Toh kamu juga berubah menjadi lebih ceria. Aku senang kamu kembali ceria lagi seperti saat kamu belum pergi. Apapun yang membuat kamu ceria lagi, aku sangat berterima kasih atas hal itu." Kemudian Rika pergi dengan tersenyum, meninggalkan Andara yang malah tertegun dengan kata-katanya.


'Apakah aku benar-benar seperti itu? Apakah kekhawatiran ku terhadap Roy telah mengubah sikapku? Tapi aku sama sekali tidak menyadarinya. Tapi aku rasa, siapapun yang benar-benar mengerti dengan keadaan Roy pasti khawatir terhadapnya. Aku rasa, yang aku rasakan adalah hal seperti itu. Roy adalah temanku. Wajar kan kalau aku merasa khawatir padanya? Ya, pasti seperti itu.' Andara tersenyum untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Namun senyuman gadis itu menghilang saat ia mengingat perkataan Rika sambil melihat temannya itu yang sedang sibuk dengan urusan dapur. 'Tidak ada yang tau Tuhan berencana apa atas diri kita.' Kata-kata itu terngiang-ngiang dan seolah berputar di kepala Andara.


Andara hanya tersenyum kecut saat mengingat hal itu. 'Apakah bisa semudah itu perasaanku berubah? Orang yang memiliki hubungan normal saja belum tentu bisa secepat itu berpindah hati, apalagi orang seperti ku.'


Andara terdiam seolah bergelut dengan pikirannya sendiri. Apalagi kata-kata Rika terus saja berputar di kepalanya, seolah mewakili sesuatu untuk melawannya.


.


.


.


Hari demi hari berlalu. Banyak waktu yang telah berlalu membuat kedekatan Andara dan Roy semakin terlihat. hubungan keduanya menjadi semakin dekat karena mereka selalu bersama setiap hari.


Roy selalu menemani Andara kemanapun selain di area kost. Mereka sering sekali jalan-jalan berdua. Roy sering datang ke kampus walaupun ia tidak memiliki kegiatan di sana. Itu ia lakukan untuk menemani Andara.


Ia yang sudah tidak pernah datang ke Dealer, membuat Thanit merasa curiga padanya.Apalagi sekarang sikap Roy sangat jauh berbeda dengan dulu. Tapi Roy beralasan bahwa dirinya memiliki kegiatan bersama teman-teman kampusnya. Thanit mencoba untuk percaya walaupun perasaannya tidak bisa membenarkan alasan itu.


Kedekatan Andara dan Roy belum sampai ke telinga Thanit dan Karin. Walaupun tidak sedikit dari penghuni dua tempat itu yang sekampus dengan Andara dan Roy. Mereka lebih sering membicarakan kedekatan dua orang itu dibelakang.


Sudah bukan menjadi berita hangat lagi tentang kedekatan kedua orang itu. Namun banyak dari orang-orang itu yang masih tampak tidak senang dengan kedekatan mereka. Orang-orang itu menilai Andara adalah gadis yang aneh. Tapi Andara tidak peduli akan semua itu.


"Pantesan aja dia gak pernah kelihatan pacaran, ternyata seleranya cowok modelan kayak begitu." Kurang lebih seperti itulah cibiran orang-orang terhadap mereka.


Tapi Andara hanya menganggap itu angin lalu. Ia menganggap, suatu hari mereka juga akan diam dengan sendirinya.


Roy yang merasa nyaman berteman dengan Andara, merasa heran juga dengan sikap gadis itu. Padahal, sudah pasti kabar tentang kedekatan mereka akan sampai pula ke telinga Karin. Namun tampaknya gadis itu tidak memikirkan tentang hal itu.


Sementara Roy sendiri memang sudah memiliki niat untuk mengakhiri hubungannya dengan Thanit. Hanya saja, dia juga butuh waktu. Jadi walaupun nantinya Thanit mengetahui tentang hubungannya dengan Andara, Roy tidak akan takut ataupun mundur.

__ADS_1


Walaupun Roy tau, Thanit pasti akan merasa sakit hati dengan apa yang dilakukannya. Namun hal ini sudah menjadi tekad dan janjinya pada sang nenek yang ia sayangi. Walaupun berat, ia akan tetap menjalaninya.


Karena itulah Roy sebisa mungkin untuk menghindari Thanit. Ia ingin sedikit demi sedikit bisa melupakan perasaannya pada pemuda itu.


.


.


.


"Roy..." Panggil Andara pada Roy saat mereka sedang makan di Cafe yang jauh dari kost.


Pemuda yang sedang menikmati makanannya itu mengangkat kepalanya dan menatap wajah Andara dengan penuh tanya. "Ada apa? Kenapa kelihatannya kamu gugup?"


"Ehm... Begini, orang tuaku memintaku untuk membawamu ke rumah ku besok. Mereka mengadakan acara kecil-kecilan. Kamu bisa tidak, datang bersamaku besok?"


Roy tersenyum. "Tentu saja bisa. Kenapa kamu gugup begitu? "


"Aku takut kalau kamu keberatan."


Andara mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aah... Begitu,ya. "


"Lagipula, mereka adalah mertuaku."


Uhuk!


Andara tersedak dan terbatuk dengan keras. Roy menjadi terlihat khawatir dan membantu Andara untuk menghilangkan batuknya itu.


"Pelan-pelan kalau makan," ucap Roy sambil menepuk-nepuk punggung Andara dengan pelan. Andara menganggukkan kepalanya sambil menunduk.


.


.


.


"Aku akan pergi selama dua hari ini. Aku akan menginap di rumah Daddy ku, karena dia datang ke rumah kami yang di Jakarta hari ini," pamit Roy pada Thanit saat pemuda itu akan pergi ke Dealer, sementara Joko dan Ryan tidak ada di kost saat itu. Keadaan yang membuat Roy gugup sebenarnya, namun ia harus berani.

__ADS_1


Thanit terlihat keberatan dan merasa kurang percaya pada Roy. Entah kenapa dia merasa Roy menutupi sesuatu darinya.


"Boleh,kan?" tanya Roy karena Thanit hanya diam saja.


Lama tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Roy memasukkan beberapa potong bajunya ke dalam tas. Pemuda itu sama sekali tidak menunggu persetujuan dari Thanit.


"Aku sangat jarang berkumpul bersama keluarga ku. Aku harap kamu tidak keberatan. Lagipula, aku sedang libur," ucap Roy seraya berdiri sambil menggendong tasnya.


"Ya, pergilah. Aku tidak bisa menahan mu. Walaupun sebenarnya aku merasa keberatan. Karena semenjak kepulangan mu dari Surabaya, sikapmu berubah padaku. Aku harap, kamu tidak menutupi sesuatu dariku."


Roy menatap datar pemuda yang menatapnya dengan datar pula. Mereka seolah sedang berdebat lewat tatapan mata mereka.


"Aku akan berusaha untuk jujur padamu. Bukankah aku juga sudah mengatakan bahwa kepergian Oma ku membuat pikiran ku tidak seperti dulu? Seharusnya kamu mengerti dengan hal itu."


Kemudian Roy pergi tanpa mengatakan apapun lagi ataupun mendengar jawaban Thanit. Thanit hanya terdiam dengan sikap yang ditunjukkan oleh Roy.


Sementara itu, Andara lebih bisa berpamitan pada teman-temannya dengan tenang. Andara terlihat biasa-biasa saja karena ia memang sudah sering pulang ke rumah nya disaat libur. Teman-temannya pun tampaknya tidak memiliki pikiran aneh terhadapnya.


.


.


.


Andara sampai di rumah nya dengan Roy yang berada di sampingnya. Kedua orang itu berangkat bersama walaupun dengan menaiki kendaraan yang berbeda.


Roy tampak tersenyum saat Andara mengajaknya masuk. Mereka berjalan bersama memasuki rumah yang baru pertama kali dimasuki oleh Roy.


Kedua orang itu disambut dengan hangat oleh keluarga Andara. Mereka tampak senang dengan kedatangan dua orang itu. Perasaan senang mereka bahkan tidak bisa diukur. Saking senangnya, mereka terus saja tersenyum saat melihat Roy dan Andara.


.


.


.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2