
Karin menghembuskan nafas lega, merasa kekhawatirannya tidak terbukti. Tapi ia turut bersedih dengan kesedihan yang dirasakan oleh Andara. Walaupun ia tau, Andara tidak perlu sesedih itu.
"Jadi yang membuatmu murung adalah kesedihan Oma mu? "
"Bukan hanya itu. Oma ku sudah sangat tua. Aku terus menghawatirkan nya karena tidak ingin ia pergi seperti sahabatnya. Walaupun kematian manusia sudah pasti terjadi, tapi aku masih takut. Aku ingin bersamanya dan membuatnya bahagia. Aku rasanya tidak siap untuk kehilangan dia."
Karin mendekatinya dan mengusap rambutnya dengan lembut. "Bahagiakanlah Oma mu selagi kamu bisa, daripada kamu terus bersedih dan berpikir dia akan pergi meninggalkan mu. Walaupun hal itu pasti terjadi. Entah kamu atau Oma mu yang pergi terlebih dahulu, tapi lebih baik kamu memanfaatkan waktu mu untuk membuktikan bahwa kamu bisa membahagiakan nya. Kesedihanmu hanya akan menyiksamu, Dara. Cobalah untuk melakukan hal yang membuat Oma mu bahagia. Apapun itu, aku akan berusaha untuk mendukungnya. "
Andara menatap lekat wajah Karin. Ia melihat kesungguhan di mata itu. Senyumannya yang tulus tidak terlihat seperti hanya ingin menghibur. Karin sudah berkata yang sesungguhnya.
"Apa kamu bersungguh-sungguh dengan ucapanmu?"
Karin tampak bingung. "Ucapanku? Ya, aku bersungguh-sungguh. Bukankah aku sudah memberikan saran yang baik untukmu?"
"Tidak, bukan itu. Tapi, tentang kamu yang akan mendukung apapun untuk kebahagiaan Oma ku."
"Iya... Asalkan itu hal yang baik." Karin tampak ragu-ragu saat mengucapkannya.
Andara tersenyum dan memeluknya. "Kalau begitu, terima kasih. Kamu memang yang terbaik."
Karin walaupun awalnya bingung, tapi ia berusaha tersenyum untuk menutupinya. Yang penting saat ini Dara-nya sudah kembali tersenyum. Ia sudah sangat senang dengan hal itu.
Mereka mengurai pelukannya dan Karin mengajak Andara untuk masuk. "Ini sudah malam. Ayo kita masuk."
Tepat saat mereka masuk dan sudah menutup pintu, sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang kost Putra. Menurunkan seseorang yang sudah ditunggu oleh dua orang yang memiliki hubungan dengannya.
.
.
.
__ADS_1
Roy berdiam diri di depan gerbang, bahkan setelah mobil yang ditumpanginya sudah pergi menjauh. Pemuda itu tampak enggan untuk memasuki kost Putra tempatnya tinggal. Tatapannya seolah memendam kebencian namun juga perasaan rindu yang tertahan. Ia tersiksa dengan perasaannya sendiri.
Roy menghembuskan nafas panjang, mencoba meyakinkan diri untuk maju memasuki tempat tinggalnya saat ini. Ia berusaha menarik langkahnya yang terasa begitu berat.
"Aku harus bisa," ucapnya meyakinkan diri sambil berjalan memasuki area kost Putra.
Roy melangkah dengan pasti, ia berusaha untuk menyingkirkan keraguan dan perasaan yang membuatnya lemah. Tatapan orang-orang yang ia lewati tidak membuatnya goyah, walaupun jelas terlihat bagaimana tatapan orang-orang itu. Benar-benar orang-orang bermuka dua.
Roy berdiam diri ketika ia sudah sampai di depan kamar kostnya. Pemuda itu menunduk dengan pikiran yang berkecamuk.
Apakah bisa aku untuk melakukan ini dan mengendalikan perasaan ku? batinnya sedikit goyah.
Tok tok tok
Pintu di depannya ia ketuk perlahan. Jantung nya berdegup kencang dan tubuhnya sedikit gemetaran. Tatapannya ia buat senormal mungkin.
Ceklek
Seseorang membuka pintu dan kebetulan sekali, orang yang membuka pintu itu adalah orang yang membuat batin Roy tersiksa. Roy terdiam menatapnya yang terlihat terkejut.
Sadar akan sikap diamnya Roy, pemuda itu melepaskan pelukannya dengan tatapan penuh tanya. "Apa kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi padamu sehingga tidak mengabari ku sampai selama ini? "
Roy bergeming, membuat pemuda yang sedang memegang kedua bahunya menjadi semakin bingung dan khawatir. Terlihat jelas sekali dari tatapannya bahwa pemuda itu sedikit tersiksa dengan sikap diamnya Roy.
"Kamu baik-baik saja,kan? Katakan padaku, apa yang membuatmu seperti ini?" Jelas sekali pemuda itu khawatir karena Roy tidak pernah mengabaikannya seperti ini.
Roy selalu membalas pelukannya apapun yang terjadi. Tapi apa yang terjadi sekarang? Apa yang membuat Roy terlihat seperti mayat hidup? batin pemuda itu dengan pikiran yang kalut.
Tiba-tiba, kedua teman sekamar mereka ikut keluar karena mendengar suara yang membuat mereka sedikit terganggu.
Kedua laki-laki itu terkejut namun juga senang saat melihat Roy. Tanpa diminta, salah satu dari mereka merangkul Roy di depan pemuda yang sedari tadi diabaikan oleh Roy.
__ADS_1
"Eh anak bungsu udah pulang. Kenapa gak ngabarin kalau mau datang? Padahal kan kami bisa siapkan masakan spesial untuk menyambut kedatangan mu. Iya gak, bang Ryan?" Yang ditanya hanya tersenyum dengan canggung.
"Kenapa bang Thanit mu gak ngajak masuk sih? Ayo masuk!"
Roy digiring oleh teman-temannya dan meninggalkan Thanit yang masih mematung di luar. Akhirnya Thanit ikut masuk ke dalam dengan langkah yang gontai dan tatapan sedihnya.
Roy yang terlihat diam saja tidak membuat Joko merasa canggung untuk terus mengoceh. Entah pemuda itu benar-benar tidak tau atau hanya ingin memecahkan suasana yang memang terlihat tidak nyaman di sana, tapi apa yang dilakukannya sedikit demi sedikit bisa membuat Roy ikut dalam obrolannya.
Thanit masih saja diam. Diam antara merasa kesal dan juga sedih. Ia menatap wajah Roy terus menerus. Kenapa ia diabaikan? Pikirannya terus saja seperti itu.
Roy sedikit tersenyum saat mendengar candaan yang dilakukan oleh Joko. Pemuda itu bernafas lega karena bisa menghindari Thanit untuk saat ini. Sebenarnya, perasaannya sungguh tersiksa. Merasa rindu namun juga marah pada orang yang sama dalam waktu yang bersamaan.
Walaupun ia sadar, tidak sepenuhnya benar kalau ia menyalahkan Thanit. Tapi mengingat kepergian neneknya membuat ia tidak bisa mengendalikan emosinya. Ia tau ia sendiri juga salah. Tapi seharusnya Thanit memberinya waktu untuk bersama dengan keluarganya.
Andaikan saja Thanit tidak melakukan hal itu dan membuat neneknya murka. Andai saja Thanit bisa memberinya waktu untuk bersama dengan neneknya. Andai saja...
Andai saja ia tidak memiliki hubungan seperti itu dengan Thanit, mungkin kejadian yang terjadi pada neneknya tidak akan seperti ini. Mungkin ia masih bisa bersama dengan neneknya. Mungkin.
Roy hanya bisa berandai-andai. Hanya bisa membayangkan semua kejadian itu saat ini. Ia tidak berdaya. Ia bahkan tidak memperhatikan apa yang dikatakan oleh teman-temannya.
Ia tidak bisa mengendalikan perasaan nya dan akhirnya berlari ke kamar mandi. Menangis sendirian di sana. Menangis tanpa suara. Menangis terisak dan berusaha untuk mengeluarkan rasa sesak yang ada di hatinya.
Apa yang dilakukan oleh Roy membuat ketiga pemuda yang sedang duduk di sofa menjadi bingung. Mereka saling melihat satu sama lain. Namun tidak ada satupun dari mereka yang bisa menjawab kebingungan yang mereka alami.
Thanit tampak semakin khawatir karena melihat sikap Roy yang tidak seperti biasanya. Pemuda itu berniat untuk menyusul Roy yang berada di dalam kamar mandi. Namun ia harus menerima kekecewaan saat Roy sepertinya menolak untuk menjelaskan semuanya padanya.
Roy mengunci diri di kamar mandi. Masih dengan tangisannya yang tanpa suara. Ia meremas dengan kuat ujung bajunya sambil duduk di lantai kamar mandi.
.
.
__ADS_1
.
bersambung...