
Sebuah pesta pernikahan yang megah diselenggarakan di sebuah ballroom hotel. Pernikahan megah yang membuat para tamu undangan seakan syok melihatnya.
Bukan karena acaranya yang mewah, namun karena siapa yang menikah dengan siapa dan juga kenyataan tentang siapa sebenarnya mereka.
Dua orang insan yang tidak disangka oleh orang lain akan disatukan dalam ikatan pernikahan. Dua orang yang bahkan sama sekali tidak terpikirkan oleh orang lain akan memiliki hubungan.
Kebanyakan dari para tamu undangan malah seolah menggelengkan kepalanya karena saking tidak percayanya. Namun kenyataan di depan mata mereka itu bukanlah sebuah khayalan belaka.
Clarence Royz Hutcherson, putra dari seorang pengusaha yang ternyata baru mereka ketahui, orang itu adalah pengusaha besar yang memiliki beberapa perusahaan besar di dalam dan luar negeri.
Hanya saja, kenapa tidak banyak orang yang tau bahwa Roy adalah putranya? Karena kebanyakan dari orang-orang yang mengenal Roy, tidak ingin tau lebih jauh tentang siapa pemuda itu sebenarnya. Mereka bahkan lebih memilih untuk menjauhi pemuda itu, setelah melihat bagaimana pemuda itu bersikap.
Lalu, Sandara Angelina Guzov. Putri dari pengusaha yang sebenarnya orang-orang sudah tau tentang keluarga nya. Latar belakang keluarga Andara kurang lebih sudah diketahui oleh banyak orang. Jadi hal itu bukanlah suatu kejutan. (😁)
Kembali pada pernikahan kedua orang itu...
Andara yang masih merasa tidak percaya bahwa pernikahan mereka akan diresmikan, dianggap Roy seperti sebuah penolakan karena gadis itu terus saja terdiam.
Roy membuang nafas panjang membayangkan bahwa mungkin saja Andara sedang bersedih hati saat ini. Namun tanpa Roy ketahui, gadis itu sesekali meliriknya dengan tatapan yang bingung.
'Bukankah dia ingin kembali pada Thanit? Tapi kenapa kejadiannya malah seperti ini sekarang? Apakah sekarang aku boleh berbahagia? Aku sungguh tidak mengerti.'
Teman-teman dari kedua pengantin itu berdatangan silih berganti untuk memberikan ucapan selamat pada mereka. Orang-orang itu kadang terlihat tersenyum mengejek pada Andara. Namun juga tidak sedikit dari mereka yang memberikan ucapan selamat dengan tulus padanya.
Roy tampak sedih karena hanya sedikit saja teman-temannya yang datang, jumlah mereka bahkan bisa dihitung dengan jari. Ia mengedarkan pandangannya mencari dua teman kostnya, namun sepertinya mereka belum juga datang.
'Apakah mereka tidak akan datang?' pikirnya.
Namun tidak lama kemudian, datanglah beberapa orang yang membuat pemuda itu tersenyum ke arah mereka. Tapi senyumannya hilang saat orang-orang itu datang bersamaan dengan Karin.
Penampilan gadis itu yang tampak anggun, membuat Roy tidak tenang dan melihat ke arah Karin dan Andara. Roy melihat ekspresi wajah Andara, meneliti wajah nya untuk mengetahui bagaimana kah perasaan Andara kiranya saat ini.
Roy merasa lemas karena melihat Andara yang menatap lurus ke depan sana. Ekspresi wajah gadis itu juga membuatnya merasa bahwa dirinya tidak berarti apa-apa saat Karin ada di sana.
Namun sesungguhnya tatapan Andara tertuju pada seorang pemuda yang melangkah perlahan memasuki ruangan itu. Gadis itu melihat ke arah Roy yang sedari tadi sedang menatapnya.
"Dia datang," ucap Andara tapi disalahkan artikan oleh Roy.
__ADS_1
Roy melihat Karin yang berjalan mendekat ke arah nya beserta beberapa perempuan lainnya. "Iya, dia datang, " ucap Roy dengan wajah datar.
Andara menunduk dan tersenyum pilu. 'Bahkan kedatangannya bisa membuat mu seperti ini. Aku tidak yakin semuanya akan baik-baik saja sekarang.'
"Dara," panggil Karin dengan senyuman lembut, membuat Andara mengangkat kepalanya dan tertegun melihat kedatangan gadis itu.
"Karin?"
Karin tertawa pelan lalu mendekati Andara. "Apa yang kamu lakukan? Jangan murung di hari pernikahan mu, tersenyum lah."
Andara yang masih belum bisa menyesuaikan diri dari rasa terkejutnya, hanya merespon Karin dengan anggukan.
Kemudian beberapa teman kost Putri lainnya turut memberikan ucapan selamat pada Andara. Mereka terlihat tidak bisa menahan senyuman saat melihat bagaimana ekspresi wajah Andara.
"Gak nyangka banget,ya? Memang jodoh itu tidak ada yang tau," ucap salah satu tetangga nya.
Andara tersenyum dengan canggung menanggapi hal itu. Ia pun mengingat bagaimana sikapnya saat teman-temannya mengejeknya akan hubungan nya dengan Roy.
Rika tersenyum senang dan menatap Andara sambil memegangi kedua bahu gadis itu. "Selamat, ya. Gak nyangka banget kalau kamu akan mendahului kami. Sekarang kami terkesan seperti perawan tua. Hiks hiks... Tapi tak apa, cepat atau lambat, kami juga akan menyusul mu."
Teman-temannya tertawa cekikikan mendengar ucapan Rika, apalagi melihat bagaimana ekspresi wajah gadis itu yang dibuat terlihat memelas.
"Mbak Yuni Madam,"
"Nggak, Mbak Yuni itu embah."
"Eh bukan, Mbak Yuni itu veteran. "
Beberapa perempuan itu tertawa sampai membuat Yuni cemberut. Namun tidak lama perempuan itu pun ikut tertawa bersama mereka. Kelakuan mereka membuat suasana yang tegang diantara Roy, Andara dan Karin, menjadi sedikit cair.Mereka ikut tertawa melihat tingkah beberapa perempuan itu.
"Emang bocah kurang ajyar. Awas aja ya, aku bakalan dapet jodoh di sini. Kalian gak boleh iri."
"Silahkan, Mbak. Tapi aku juga ikut ah."
Mereka bercanda lagi dan saling mengejek. Hingga akhirnya mereka tersadar bahwa banyak tamu yang memperhatikan kelakuan absurd mereka.
"Eh udah ah! Malu tau diliatin. "
__ADS_1
Mereka memeluk Andara secara bergantian dan berpamitan untuk bergabung bersama para tamu yang lainnya.
"Madam mau cari jodoh dulu di sini ah... Doakan supaya Madam dapat jodoh yang guanteng ya," Yuni cekikikan sendiri dan tidak peduli bagaimana orang-orang melihatnya.
Teman-temannya ikut berpamitan pada Andara dan bergabung bersama tamu lainnya, meninggalkan Rika dan Karin yang masih berdiri di hadapan kedua pasangan itu.
Rika dan Karin banyak berpesan pada Andara. Mereka bertiga saling memeluk seolah akan berpisah. Andara tak kuasa menahan air matanya karena perasaan haru yang ia rasakan.
Roy hanya terdiam melihat interaksi ketiga sahabat itu. Ia terlihat tenang, sebenarnya mencoba untuk tenang.
"Jangan nangis,dong. Nanti makeup nya luntur loh. Nanti cantiknya hilang," ucap Karin disertai senyuman untuk menghibur Andara. Diusapnya air mata yang mengalir di pipi Andara.
Rika terdiam, merasa tak enak hati dengan apa yang dilakukan oleh Karin pada Andara. Dilihatnya juga ekspresi wajah Roy yang terlihat menegang saat ini.
"Ekhem!" Rika sengaja berdehem untuk menyadarkan kedua sahabatnya itu.
"Roy, selamat ya. Kamu sudah menjadi seorang suami. Tolong jaga sahabat kami dengan baik. Manjakan dia, karena sebenarnya dia itu sangat manja sekali," pesan Rika pada Roy diiringi dengan senyuman.
Roy mengangguk dan tersenyum. "Aku pasti akan menjaganya dengan baik. Terima kasih."
Rika tersenyum lagi. Lalu Karin mendekati Roy, melihat pemuda itu dari dekat dengan tatapan yang membuat Roy menjadi sedikit ciut.
'Kenapa dia terlihat menakutkan begitu? Apakah sebenarnya dia menyimpan dendam padaku?'
Pluk!
Tepukan tangan Karin di bahu Roy membuat pemuda itu terkejut bukan main. Pemuda itu sampai terlihat gugup karena merasa takut.Namun apa yang dilakukan oleh Karin setelah itu malah membuatnya bingung.
"Jagalah Andara dengan baik, walaupun kamu lebih muda darinya tapi saat ini status mu adalah pemimpin nya. Jangan membuat dia menangis atau aku akan sangat marah padamu. Pertahankan dia dengan sungguh-sungguh kalau kamu tidak ingin menyesal."
Karin tersenyum setelah mengucapkan itu. Berbeda dengan Roy yang terdiam gugup sampai menelan ludah pun rasanya tak sanggup.
"Kamu dengar?"
.
.
__ADS_1
.
bersambung...