Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Karena... I Love You


__ADS_3

Roy mengeringkan rambutnya dengan handuk setelah ia selesai mengenakan celana jeans panjangnya. Laki-laki itu terlihat lebih segar dan tampan saja dengan celana hitam itu. Apalagi rambutnya yang masih sedikit basah membuatnya terlihat lebih menggoda.


Ia tersenyum melihat seorang wanita yang sedang tertidur di bawah selimut. Pikirannya kembali berkelana pada kejadian saat sebelum ia membersihkan diri.


'Ahh...Aku seakan tidak percaya hal ini bisa terjadi. Ternyata aku perkasa juga hingga membuat istriku terkapar seperti itu.' Roy mengulum senyumnya dan berjalan menghampiri Andara yang tertidur di atas ranjyang.


Laki-laki berparas manis itu duduk dan memandangi istrinya yang berada di bawah selimut. Ia kemudian tersenyum lagi saat melihat wajah istrinya yang kelelahan.


"Dara, aku akan pergi ke toko sebentar, " ucapnya dengan lirih.Andara hanya melenguh tanpa menjawab apalagi mengubah posisi tidurnya.


Roy tersenyum lagi. Sebenarnya pemuda itu tidak ingin mengganggu tidur istrinya, namun ia juga tak mungkin pergi tanpa pamit pada istrinya. Roy tidak ingat untuk pamit pada Andara saat wanita itu masih terjaga.


"Sayang, kalau aku tidak datang, mereka pasti kebingungan karena kunci toko aku yang bawa. Lagipula ponselku juga masih ada di sana."


Kedua mata Andara tampak bergerak sebelum ia membukanya dengan perlahan. Andara memandangi wajah laki-laki di hadapannya itu, kemudian perempuan itu tampak tersipu malu, membuat Roy sedikit bingung dengan sikapnya.


"Ada apa?" tanya Roy penasaran sambil tersenyum.


Andara malah menyembunyikan wajahnya di balik selimut, membuat Roy bertambah gemas melihatnya.


"Hei, kenapa malah sembunyi?"


"Kenapa kamu tidak pakai baju?" tanya Andara di dalam sana.


Roy rasanya ingin tertawa saja melihat tingkah Andara. "Kenapa memangnya? Apa kamu malu melihat ku seperti ini? Bukankah kamu sudah melihat semuanya tadi?"


Andara merengek di bawah sana karena godaan suaminya. Tubuhnya kian erat saja dengan selimut yang membungkus tubuhnya. Membuat Roy semakin bertambah gemas saja dan ingin menjailinya.


"Biarkan aku masuk kalau kamu tidak ingin keluar. Aku ingin melihat pipi merah mu," ucap Roy sambil mencoba untuk menarik selimut itu.


"Aaaa...Roy, jangan. Aku malu."


'Malu? Tadi dia bahkan menggodaku dengan tubuh mulusnya. Kenapa sekarang dia bilang malu? Haish... Membayangkan dia seperti itu membuat ku tegang saja.'


Roy menggelitik tubuh Andara dan membuat wanita itu tertawa sambil menggeliat di bawah sana. Akhirnya Andara menampakkan wajahnya karena sudah tidak tahan lagi dengan gangguan Roy.


"Kamu nakal," rengeknya manja setelah menampakkan dirinya.


Roy tertawa pelan lalu ikut berbaring di samping Andara. "Kamu lebih nakal," ucap Roy sambil menoel hidung mancung istrinya.


Andara menatapinya dan Roy juga sama. Laki-laki itu terdiam membiarkan istrinya puas memandangi wajahnya. Lalu Andara tampak tersipu malu lagi. Wanita itu menyembunyikan wajahnya di dada suaminya, membuat Roy menegang seketika.


'Ahh...Dara, kenapa kamu senang sekali memancingku?'

__ADS_1


"Aku mau ke toko. Aku tidak ingin kamu terbangun saat aku pergi dan kebingungan mencari ku." Roy berusaha untuk mengalihkan perhatiannya dari pikiran panasnya.


Andara seketika menatapnya dan tampak tidak senang. Wanita itu seolah keberatan dengan apa yang akan dilakukan oleh Roy.


"Kenapa?" tanya Roy yang memang bingung.


"Jangan pergi."


Roy tersenyum sambil terus menatapnya. "Aku harus mengunci toko. Lagipula ini sudah waktunya mereka pulang."


Andara memalingkan wajahnya dari Roy. Terlihat sekali bahwa wanita itu tidak senang.


"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?"


"Aku ikut." Andara kembali melihat Roy.


Roy menaikan satu alisnya. "Kamu yakin? Apa kamu kuat?"


"Kalau aku tidak boleh ikut, maka kamu tidak boleh pergi."


"Bukannya tidak boleh,tapi apa kamu mampu untuk berjalan?"


Andara mencebik lalu memalingkan wajahnya. "Jangan lama-lama. "


Roy tersenyum lalu mencium pipi Andara. "Iya, sayang. "


Andara mengangguk, wanita itu tidak bisa menutupi ketakutannya akan kejadian tadi sore. Walaupun jelas itu hanya salah faham, namun Andara masih saja takut.


"Katakan, ada masalah apa?"


"Apa kamu benar-benar mencintai ku?"


Roy mengerutkan keningnya sebelum menjawab, "Kenapa kamu menanyakan hal itu? Apa kamu masih belum yakin?"


"Aku hanya takut."


"Dara, kamu harus tau, aku tidak akan melakukan hal itu padamu jika aku tidak memiliki perasaan itu untuk mu. "


"Jadi kamu benar-benar mencintai ku?"


Roy tersenyum manis. "Tentu saja, aku mencintaimu dan aku yakin dengan perasaan ku. Aku sangat nyaman ketika bersama mu. Aku tidak pernah memiliki perasaan ini pada siapapun sebelumnya." Andara terdiam menatapnya, terlihat seperti kurang yakin.


"Ada lagi?" Andara masih saja terdiam.

__ADS_1


"Harus bagaimana aku meyakinkan mu?"


"Kamu sudah cukup meyakinkan ku, hanya saja aku masih merasa takut."


Roy memeluk Andara dengan erat dan mengusap lembut rambut wanita itu. "Aku mohon yakinlah dan jangan takut. Semua perubahan ini tidaklah mudah bagiku. Aku mohon jangan meruntuhkan semuanya dengan keraguan mu. Aku memiliki perasaan ini juga karena bantuan mu. Aku mohon jangan meragukan ku karena keraguan mu akan menjadi penghambat dalam hubungan kita. Percayalah padaku,Dara. Aku sudah berubah dan hanya akan selalu mencintaimu."


Andara menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan. Wanita itu mengangguk dan menatap lekat laki-laki yang kini mendekap nya. "Maafkan aku. Aku percaya kamu sudah berubah. Aku percaya kamu memang mencintai ku. Aku akan berusaha untuk menghilangkannya rasa takutku ini,tapi aku minta kamu juga membantuku agar aku terlepas dari perasaan takut ini."


"Tentu saja. Aku bisa mengerti bagaimana perasaan mu saat ini. Berada di posisi kita tidaklah mudah. Asalkan kamu tau, aku juga memiliki ketakutan yang sama dengan mu. Tapi mungkin kamu tidak merasakan itu. "


"Hah? Apa kamu benar-benar tau apa yang aku takutkan?"


"Tentu saja."


"Lalu..."


"Aku sangat cemburu pada Karin. Aku selalu saja merasa marah ketika dia di dekatmu. Aku sejujurnya tidak ingin kamu berhubungan dengan dia lagi. Aku sangat takut kalau kamu kembali lagi padanya. Karena itu juga aku mencoba untuk menghindari mu. Aku berpikir hatimu masih terpaut padanya. Aku tidak berani mengutarakan semuanya. Aku juga tidak mungkin menyentuhmu lebih jauh sementara masih ada dia di hatimu."


Andara terdiam dan terlihat terkejut dengan pengakuan suaminya. Ia tidak menyangka ternyata Roy juga memiliki pikiran yang sama dengannya.


"Tapi aku dan Karin sudah menyudahi hubungan kami sejak lama. Kami saat ini dekat hanya sebagai sahabat. "


Roy tersenyum. "Seperti itu juga aku. Aku tidak memiliki perasaan itu pada siapapun selain dirimu, apalagi pada karyawan baru itu. Sekarang seharusnya kamu sudah faham bagaimana perasaan ku karena kamu juga merasakan hal itu. Kita sama, Dara. Apa yang kamu rasakan,itu juga aku bisa rasakan. Jadi jangan takut lagi tentang hal itu. Bayangkan, aku adalah dirimu. "


Andara menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian wanita itu tersenyum. "Aku faham."


"Istri baik. Bagaimana perasaan mu sekarang, seperti itu jugalah perasaan ku."


Andara mengangguk dan tersenyum. "Jadi selama ini kamu cemburu pada Karin?"


Roy sebenarnya masih saja merasa kesal ketika mengingat Karin. "Tentu saja." Andara pun tersenyum malu.


"Lalu, kenapa kamu baru menanyakan hal ini sekarang? Setelah aku mengambil sesuatu yang berharga dari mu."


"Itu karena...."


"Apa hayo?" Roy tersenyum menggoda Andara.


"Karena...I love you." Andara mengecup bibir Roy setelah mengucapkan itu. Wanita itu menatap Roy dengan tatapan yang menantang. Membuat Roy menatapnya lapar.


"Aku ingin mendengar suara mu yang indah itu lagi, " ucap Roy lalu mereka kembali bekerja keras.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2