Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Semuanya membutuhkan proses


__ADS_3

Berhari-hari setelah pertemuannya dengan orang tua Thanit, Karin jadi merasa bimbang. Pikirannya saat ini tidak lagi tentang perpisahannya dengan Andara. Karin selalu terpikir dengan tatapan dan kata-kata orang tua Thanit. Seolah mereka adalah orang tuanya dan dia membuat mereka kecewa.


"Padahal mereka tidak tau bagaimana hubungan ku dengan Andara, tapi aku merasa kalau mereka juga kecewa padaku karena hal itu. Padahal mereka juga bukanlah siapa-siapa."


Karin teringat dengan masa-masa sekolahnya dahulu. Teringat dengan pertemuannya dengan ibunya Thanit. Karin sangat ingin memiliki ibu seperti itu. Karin sangat ingin mendapatkan perhatian dan kasih sayang seperti yang diberitakan oleh orang tua Thanit.


"Andaikan saja aku memiliki keluarga seperti mereka, aku pasti akan sangat bahagia dan tidak akan terjerumus ke jalan ini. Tapi sebenarnya ini juga bukanlah salah orang tuaku, hanya saja aku merasa kecewa pada mereka."


Karin tersenyum dan entah senyumannya itu adalah senyuman kebahagiaan atau kesedihan. Gadis itu memandangi langit malam yang bertaburan bintang. Menatap jauh ke atas sana dengan tatapan pedihnya.


"Aku juga ingin bahagia. Tapi bagaimana caranya? Mama, apakah Mama juga merasa kecewa padaku? Mama pasti tau kan bagaimana jalan hidup ku saat ini. Tapi Mama salah kalau kecewa padaku, karena Mama saja sama sekali tidak pernah memperhatikan ku."


.


.


.


Setelah urusannya di Bandung selesai, Karin memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta. Perasaan gadis itu saat ini sudah jauh lebih baik. Walaupun Karin tidak bisa memungkiri bahwa ia masih merasa sedih,tapi ia juga tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan itu.Apalagi mengingat curahan hati kedua orang tua Thanit. Ia semakin bertekad untuk lebih tegar lagi.


'Tidak masalah. Lagipula dari kecil aku sudah merasa keadilan tidak memihak ku. Aku tidak ingin kejadian ini mengubah segalanya dalam hidupku. Aku harus kuat seperti dulu. Walaupun aku memang merasa sangat sakit hati dan kecewa, tapi ini sudah sepantasnya aku dapatkan karena memilih hubungan seperti ini.'


Karin bertekad kembali ke Jakarta dengan semangat barunya. Mungkin bisa dikatakan ia ingin menutupi kekecewaannya dengan semua itu. Tapi tidak masalah kan? Tidak ada juga yang dirugikan dengan hal itu.


.


.


.


Karin sengaja mampir ke Cafe nya sebelum kembali ke kost. Ia ingin memantau Cafe miliknya setelah beberapa hari ia tinggalkan. Tapi ternyata para karyawannya bisa diandalkan. Kondisi Cafe tetap sama dan sama sekali tidak mengecewakan. Karin tersenyum bangga pada mereka.


Karin tak segan-segan untuk membagikan oleh-oleh pada para karyawannya. Ia juga memberikan sejumlah bonus pada mereka yang sangat membuat mereka tersenyum senang.


Para karyawannya sangat senang karena memiliki bos seperti Karin. Walaupun gadis itu terlihat cuek dan pendiam, namun sebenarnya dia adalah orang yang ramah.

__ADS_1


"Hari ini Cafe ditutup agak sore aja. Kalian silahkan beristirahat. Aku juga ingin beristirahat dan mungkin besok tidak akan datang ke sini. Aku ada keperluan."


"Bos ada acara?" tanya salah satu karyawannya.


"Mmm...Bisa dibilang begitu."


"Apa kami boleh hadir?" tanyanya lagi tanpa segan sedikitpun. Temannya menyikut lengannya karena merasa pertanyaannya kurang pantas diucapkan.


"Hehe...Maaf, tidak bisa. Ini adalah acara pribadi." Orang itu pun mengangguk tanpa merasa bersalah.


Karin kembali ke kost setelah hari sudah gelap dan semua karyawannya juga sudah pulang. Gadis itu menyemangati dirinya sendiri agar ia bisa menghadapi semuanya.


.


.


.


.


Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mencari keberadaan dua sahabatnya. Namun ia hanya menemukan Rika yang sedang duduk di atas sajadahnya di ruangan khusus untuk ibadah.


Karin pun kembali ke ruang tamu dan duduk sambil meregangkan otot-ototnya.Tak lama Rika pun datang dengan senyuman yang cerah.


"Karin!!!" pekikkan Rika jelas membuat Karin yang sedang terpejam merasa terkejut.


Jantungnya sampai berdegup dengan kencang seolah ia habis berlari. "Rika! Ngagetin tau gak. "


Rika tersenyum tanpa dosa dan duduk dengan keras di samping Karin. "Hihi... Maaf. Habisnya aku senang banget karena kamu udah pulang. Aku kesepian tau di kost. Kalo malam suasananya berasa jadi horor."


Karin mengerutkan keningnya mendengar ucapan Rika. "Kesepian? Memangnya Andara kemana?"


"Andara ke rumah orang tuanya kemarin sore. Dia sih bilangnya kamu mau pulang kemarin, taunya baru pulang sekarang. Aku takut tau semalam sendiri. Akhirnya aku panggil aja tetangga kost buat nginep disini. Maaf ya aku gak bilang dulu." Rika nyengir karena takut kalau Karin akan marah.


"Eh! Tapi, kok kamu gak tau? Andara gak bilang ya sama kamu?" Tanya Rika yang baru tersadar dengan hal itu.

__ADS_1


Karin tidak meresponnya dan tatapannya terlihat sangat datar. Rika menjadi sedikit takut melihat ekspresi wajah Karin yang terlihat kurang bersahabat.


"Karin..."


Karin menoleh pada Rika yang tampak ketakutan. Karin membuang nafasnya panjang, mencoba untuk tenang. "Kalau aku tau,aku tidak mungkin bertanya."


Rika menunduk dengan sedih. Ia kembali memikirkan bagaimana hubungan Andara dan Karin setelah ini. Karin meneliti wajah Rika yang terlihat sedih. Gadis itu tau kalau Rika juga sedih dengan keadaan mereka saat ini.


"Jangan berpikiran buruk karena keadaan ini. Semua akan baik-baik saja, hanya saja semuanya membutuhkan proses."


Rika menatapnya dan sedikit bingung dengan ucapannya. Apakah Karin sudah bisa menerima semuanya dan bahkan sudah berubah? Pertanyaan itu bermunculan di kepala Rika.


Karin menatap lurus ke depan dan tersenyum menghibur dirinya sendiri. "Apakah kamu selalu mendoakan kami untuk bertaubat?" Rika semakin menatap bingung sahabatnya itu.


Karin menatapnya dengan senyuman yang malah membuat Rika takut. "Aku jadi teringat dengan kata-kata mu tentang Tuhan yang memiliki rencana untuk manusia. Mungkin kah ini juga adalah rencanaNya? Ataukah kamu selalu mendoakan kami untuk jauh dari hubungan itu?" Rika terdiam dan menunduk.


"Aku sama sekali tidak marah kalau kamu memang melakukan hal itu. Aku malah senang karena kamu begitu peduli pada kami. Kamu juga berusaha untuk menyadarkan tanpa ingin menyinggung kami. Terima kasih."


Rika terdiam mencerna ucapan Karin. Lalu gadis itu menatap wajah Karin dengan penuh pertanyaan. Rika senang kalau memang sahabatnya ini mau untuk berubah.


"Kalian adalah sahabat ku, tentu aku ingin sesuatu yang baik untuk kalian. Maafkan aku jika kamu merasa terganggu dengan hal ini."


Karin lagi-lagi tersenyum dan kali ini Rika tidak merasa takut dengan senyumannya. "Ada banyak hal baik yang malah tidak bisa untuk diterima saat seseorang berada dalam kegelapan. Anggap saja aku sudah keluar dari kegelapan itu hingga bisa menerima semuanya. Maafkan aku yang egois karena sempat tidak memperdulikan peringatan dari mu."


Rika senang dengan ucapan Karin yang mengartikan bahwa gadis itu telah menerima semuanya dan benar-benar berniat untuk berubah.


"Apa maksudmu,kamu..."


Karin tersenyum. "Aku ingin kembali dan mendapatkan kebahagiaan ku. Walaupun perasaan yang dulu belum bisa aku hilangkan sepenuhnya, tapi aku akan berusaha. Rasanya cukup bagiku untuk melampiaskan kemarahanku dengan cara ini. Toh keluarga ku tidak akan peduli walaupun aku terjebak di jalan itu selamanya sekalipun."


.


.


.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2