Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Kenyataan yang menyakitkan


__ADS_3

"Kak Yuki, apakah aku bisa bertahan dengan jalan ini? Bisakah aku direstui? " Karin terlihat sedih. Perempuan di sampingnya hanya menatapnya datar.


"Andai saja, kita masih seperti dulu. Tapi itu mustahil. Aku tidak bisa mengembalikan keadaan seperti dulu. Aku hanya bisa mengenang dan membayangkan semuanya. Aku memang berharap keadaan kita kembali seperti dulu, tapi rasanya harapanku mustahil untuk terwujud. " Karin yang menatap lurus ke depan, merasa terkejut karena perempuan di sampingnya menggenggam tangannya.


Karin menatap tangan itu dan wajah kakaknya secara bergantian. Sebuah senyuman terbit di wajah Karin. "Kakak... "


Perempuan itu tersenyum walaupun terlihat sedikit menakutkan."Semuanya akan kembali. Yang hidup pasti kembali. Tapi tidak dengan yang mati. Kita bisa asalkan mereka masih hidup. Tapi tidak denganku. Dia sudah mati. Hiks... Dia sudah mati. Dia tidak bisa kembali. " Tiba-tiba perempuan itu mulai menangis.


"Dia sudah mati. Siapa yang bisa mengembalikan nya?! Siapa?! Kembalikan dia padaku! Kembalikan anakku! " Perempuan itu menangis histeris sambil mengacak-acak tempat tidurnya. Karin hanya bisa menangis tanpa suara saat para perawat datang dan menenangkan kakaknya.


"Kenapa harus seperti ini? Apapun yang aku katakan, kenapa selalu berujung seperti ini? Kapan kakakku bisa sembuh? " Batin Karin menangis.


.


.


.


"Oma... Makan siang dulu, ya? " ucap Roy sambil menyodorkan sendok berisi bubur pada neneknya. Oma Idina tersenyum dan langsung melahap bubur itu.


Roy menyuapi neneknya dengan sabar sambil bercerita tentang banyak hal. Oma Idina tampak senang dengan perhatian yang diberikan oleh cucunya. Kasih sayang Roy padanya memang tak perlu diragukan lagi.


"Nah... Ini suapan terkahir. " Roy membersihkan mulut neneknya setelah semua bubur itu habis.


"Oma, Clarence mau ke kamar mandi dulu, ya? "


"Iya, nak. "


"Oma mau ditemenin suster? "


"Gak perlu. Oma tunggu kamu aja. " Roy tersenyum lalu pergi meninggalkan neneknya.


Beberapa menit berlalu, namun Roy belum juga keluar dari kamar mandi. Oma Idina tampak bosan karena hanya berdiam diri. Ponsel milik Roy yang sudah beberapa kali berdering membuat Oma Idina terganggu.


Wanita itu sedikit bersusah payah untuk mengambil benda itu dari atas nakas. Matanya memicing setelah melihat layar ponsel itu. Matanya melihat dengan jelas bahwa nama si pemanggil bertuliskan 'My Lovely T'. Namun siapakah orang itu? Bukankah cucunya tidak memiliki kekasih?

__ADS_1


Jantungnya berdegup dengan kencang membayangkan hal yang mungkin saja telah terjadi. Mengingat kabar yang tak sengaja ia dengar dari anaknya membuat pikirannya menjadi semakin kalut.


Ponsel itu berhenti berdering, namun tak lama ada sebuah pesan suara masuk disertai beberapa pesan gambar setelahnya. Tangan Oma Idina bergetar kala mencoba membuka pesan itu. Entah kenapa ponsel cucunya tidak terkunci, membuat ia bisa dengan mudahnya membuka pesan itu.


'Hai, babe. Lagi apa? Aku kangen.' mungkin pertanyaan itu tidak akan mengganggu andai saja suara si pengirim benar pada posisi nya.


Namun hal itu membuat hati Oma Idina sakit karena suara yang terdengar dari sana adalah suara seorang laki-laki. Pikirannya tentang kabar dari anaknya membenarkan semua itu walaupun hatinya ingin menolak. Bagaimana mungkin cucunya benar-benar memiliki hubungan seperti itu?


Tubuh Oma Idina semakin bergetar. Wanita itu menahan rasa marah dan sedihnya. Mencoba menguatkan diri untuk menyaksikan hal yang mungkin saja lebih buruk dari itu.


Tangannya yang bergetar berusaha ia kendalikan untuk membuka pesan gambar itu. Jantungnya merasa sakit saat melihat seorang pemuda tengah tersenyum ke arah kamera dengan bertelanjang dada.


Awalnya Oma Idina mencoba untuk tidak percaya, namun setelah melihat foto pemuda itu bersama cucunya, Oma Idina akhirnya mengakui bahwa hubungan antara pemuda itu dan cucunya memang terjadi.


Dadanya sesak, sangat sesak. Oma Idina merasa telah gagal menjadi nenek yang baik. Oma Idina merasa telah gagal dalam mendidik cucunya. Hatinya sangat sakit. Kenapa bisa cucunya memiliki hubungan seperti itu? Apalagi terlihat sekali bahwa cucunya tampak bahagia ketika bersama pemuda itu.


Tanpa terlihat malu pula cucunya melakukan hal yang sama. Mereka bahkan saling memeluk tanpa mengenakan baju mereka. Sungguh Oma Idina sangat marah.


Roy keluar dari kamar mandi dan sangat terkejut saat melihat neneknya yang menggenggam erat ponsel miliknya. Apalagi raut wajah neneknya yang tidak bisa dikatakan baik.


Oma Idina tidak meresponnya. Tatapan matanya yang tajam masih tertuju pada ponsel milik Roy yang ada di hadapannya.


Jantung Roy berdegup kencang karena merasa takut. Apakah yang sudah dilihat neneknya sampai membuatnya terlihat marah begitu?


"Oma, ada apa? Apakah ada seseorang yang menghubungiku?"


"Lebih dari sekedar menghubungi," jawab Oma Idina dengan lirih.


"Maksud Oma?" Roy hanya berdiri karena merasa takut untuk mendekati neneknya.


"Sejak kapan kamu seperti ini? Sejak kapan kamu menjalin hubungan terlarang dengan pemuda itu? Hah?! Jawab Oma?! " tanya Oma Idina dengan lantang walaupun dengan air mata yang sudah berjatuhan. Oma Idina menaruh ponsel itu dan menatap wajah Roy.


Roy faham apa yang sudah terjadi. Pemuda itu ingin mengelak walaupun ia tau itu tidak akan ada gunanya. "Oma, apa maksud Oma? Oma pasti salah faham."


Oma Idina menatapnya tajam. "Salah faham katamu? Kamu masih berusaha mengelak sementara bukti ini sudah berada di tangan Oma? Oma sangat kecewa padamu! Oma merasa sudah gagal dalam mendidikmu. " Oma Idina benar-benar menangis.

__ADS_1


Roy datang mendekat untuk menenangkan nya. Namun tangan Roy yang menyentuh tangannya ditepis dengan kasar oleh Oma Idina. "Jangan anggap aku sebagai nenekmu kalau kamu masih seperti ini. Kamu sudah memberikan mala petaka pada kami tanpa kami ketahui. Apa kamu tidak sadar? Kamu bahagia seperti itu? Kamu senang sudah menyakiti hati Oma?"


Roy hanya bisa menangis sambil menunduk. "Maafkan Clarence, Oma. Tapi semua ini bukanlah karena Oma tidak mendidikku dengan baik."


Oma Idina berusaha menahan rasa sakit di dadanya untuk menghadapi cucunya itu, namun semakin lama ia tidak mampu. Rasa sakit yang menyerangnya membuatnya akhirnya meringis tanpa bisa dicegah.


Oma Idina memegangi dadanya dengan nafas yang sesak. Roy terlihat panik dan berusaha untuk menenangkan nya. Pikirannya yang kalut membuat ia tak bisa berpikir dengan baik.


Roy hendak memanggil bantuan, namun tangan Oma Idina yang memegang tangannya dengan kuat membuat Roy tak bisa pergi. "Oma, Clarence harus meminta bantuan. Clarence tidak bisa membiarkan Oma seperti ini."


"Berjanjilah pada Oma, berjanjilah untuk berubah. Berjanjilah kamu tetap bertahan dengan pernikahan mu. Berjanjilah pada Oma, Clarence. Berjanjilah untuk membuat Oma bangga. "


"Iya, Oma. Tapi lepaskan dulu tangan Clarence. Clarence harus segera meminta bantuan."


Namun bukannya melepaskan tangannya, malah tangan itu semakin erat memegangi tangan Roy, bahkan membuat pemuda itu meringis kesakitan.


Roy berusaha menarik tangan neneknya tapi ia tak bisa. Oma Idina tampak tidak sadar saat melakukan itu, bahkan tatapannya kini membuat Roy semakin panik dan ketakutan.


"Oma, bertahanlah. Clarence akan segera meminta bantuan."


Roy berteriak meminta bantuan, berharap orang-orang yang berada diluar ruangan itu bisa mendengar teriakannya. Namun usahanya sia-sia karena tidak ada satupun orang yang masuk ke sana


Pikiran Roy sudah tidak bisa tenang. Ditengah usahanya,ia melihat neneknya yang menegang. Pegangan tangan nya juga semakin kuat sehingga membuat tangan Roy membiru. Namun rasa panik dan khawatir membuat Roy tak bisa merasakan sakit itu.


Namun tak lama setelah itu,seiring dengan pegangan Oma Idina yang mengendur, mata renta itupun semakin tertutup. Roy terpaku sebelum akhirnya berteriak dengan keras.


"Omaaa!!!"


Namun tak ada respon sama sekali dari orang yang dipanggilnya. Sekuat apapun Roy mengguncangkan tubuh neneknya, namun tubuh itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.


.


.


.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2