Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Menggoda suami


__ADS_3

Perlakuan Roy pada Andara membuat perempuan itu mencebik melihatnya. Perempuan itu semakin terlihat tidak senang dan sikapnya bertambah keterlaluan.


"Haloo...Roy, kalo kamu mau akting, jangan di depan kami. Kamu pikir perlakuan mu pada Dara bisa membuat kami percaya? " Perempuan itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Akting? Untuk apa aku berbohong padamu? Aku memang menyayanginya. Dia istriku dan aku sangat mencintai dia. Apa yang salah?"


"Hahah... Tidak usah berpura-pura, Roy. Kamu pikir kami tidak tau bagaimana kehidupan mu selama ini? Kami sangat tau bahwa kamu tidak seperti laki-laki pada umumnya."


"Lalu apa masalahnya? Bagaimana sikapku selama ini, apakah itu merugikan mu? Aku ingin memberitahukan sesuatu hal padamu. Mungkin kamu tidak tau kalau aku ini adalah laki-laki. Aku laki-laki secara jiwa dan raga. Aku bisa melakukan hal sewajarnya pada istriku karena aku juga punya batang."


Perempuan itu terdiam dengan ekspresi wajah yang menakutkan. Dia seperti orang yang ingin mengamuk.


"Oh...Atau kamu tidak tau? Maaf,ya. Aku lupa kalau kamu belum menikah. Mungkin karena itu kamu tidak tau bagaimana hubungan dalam pernikahan. Makanya, cepatlah menikah dan kamu akan merasakan hal seperti kami. Kamu juga akan mengerti bahwa hubungan dalam rumah tangga juga mempunyai privasi. Kami tidak harus memberitahukan semuanya pada kalian bukan? "


Roy tersenyum mengejek ke arah perempuan itu. Hatinya sungguh merasa puas melihat perempuan itu tidak bisa menjawab. Andara melihat perempuan itu dan Roy secara bergantian. Ia tidak menyangka Roy akan berkata demikian.


"Sayang, sebaiknya kita pulang saja. Lagipula ada mereka yang akan menjaga toko. Udara di sini sangat tidak baik untuk kesehatan mu."


Roy memapah Andara seolah istrinya itu tidak bisa berjalan. Roy memperlakukan istrinya seolah Dara sedang mengandung. Roy juga tak lupa untuk terus tersenyum pada istrinya.


Mereka akhirnya pergi meninggalkan orang-orang di sana yang masih memiliki berbagai pertanyaan dalam benaknya.


.


.


.


"Haah... " Roy menghela nafas panjang sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.


"Dara,apa kamu baik-baik saja?" tanyanya pada Andara yang senantiasa melihatnya sejak tadi.


Andara mengangguk. "Iya, terima kasih karena sudah membelaku."


Roy tersenyum menatapnya dan terlihat senang. Pemuda itu melihat lurus ke depan dengan tatapan bahagianya.


"Kamu terlihat senang sekali," ucap Andara seraya duduk di samping Roy.


Roy menatapnya sekilas lalu kembali melihat ke depan. "Aku senang karena aku bisa membungkam mereka. Apakah yang aku lakukan tadi itu keren?" Tanya Roy lalu menatap Andara dengan tatapan berbinar.


"E-Iya. Kamu keren." Andara memaksakan senyumnya.


"Maaf ya karena tadi aku berbohong seperti itu. Aku tidak suka melihat mereka mengganggu mu."

__ADS_1


"Bohong?" Tanya Andara dengan lirih. Pertanyaan itu seolah ditujukan untuk dirinya sendiri.


Ada rasa sesak yang tiba-tiba ia rasakan. Perasaan itu sungguh sulit untuk ia gambarkan. Pikiran dan perasaannya semakin berkecamuk. Apalagi saat ia mengingat perkataan perempuan itu tadi.


'Laki-laki yang menyimpang itu sulit untuk disembuhkan.'


Kata-kata itu terus terngiang di telinganya. Membuat ia semakin merasa putus asa. Apalagi mengingat bagaimana hubungan pernikahannya selama ini.


'Mungkinkah dia baik padaku hanya karena menganggap ku sebagai teman hidupnya? Selama ini, Roy tidak pernah berusaha untuk mendekatiku seperti suami pada umumnya. Aku kira dia juga bisa dengan mudah berubah seperti ku, tapi sepertinya aku salah. Roy sepertinya lebih parah dari aku sehingga membuatnya sulit untuk berubah.'


Andara menghembuskan nafas panjang dengan lemas. Semua itu tak luput dari perhatian Roy. Roy menjadi bingung sendiri dengan sikap diam istrinya.


"Hei, ada apa? Kamu tidak terlihat baik-baik saja."


Andara menatap wajah Roy yang tampak khawatir. Tatapannya yang lekat membuat Roy menjadi salah tingkah.


"Apakah aku keterlaluan?" Andara tidak menjawabnya dan hanya menggeleng.


"Lalu kenapa?"


Andara terdiam sebentar seperti sedang berpikir. "Tidak ada. Tapi sepertinya aku harus mengubah satu hal."


"Apa itu?"


Andara lagi-lagi tidak menjawabnya dan malah tersenyum. Sungguh sikapnya membuat Roy bingung.


Tiba-tiba senyuman yang lebih seperti seringaian muncul di wajah Andara. Roy sedikit takut melihat ekspresi wajah Andara saat ini.


"Kamu yakin kalau kamu baik-baik saja?"


"Aku sangat baik."


.


..


.


Malam ini tidak seperti biasanya bagi Roy. Malam yang biasanya tenang dan damai, berubah menjadi malam yang membuatnya gugup setengah mati.


Roy seperti seorang anak kecil yang melakukan kesalahan. Ia seolah ingin bersembunyi dari seseorang yang kini sedang santainya duduk manis di depannya.


"Ehmm...Dara, apa kamu tidak merasa kedinginan memakai baju seperti itu?" tanya Roy dengan polosnya. Tapi ia juga berusaha untuk menenangkan dirinya hingga tidak sadar kalau ia menelan ludahnya karena melihat Andara.

__ADS_1


Andara yang sedang menonton televisi, menoleh ke arahnya dengan ekspresi wajah yang dibuat imut. "Hum? Dingin? Sama sekali tidak."


Andara tersenyum kemudian kembali menonton televisi. Dalam hatinya sungguh ia juga merasa malu. Tapi demi tercapainya tujuan keluarga harmonis, Andara berusaha melupakan rasa malunya itu.


"Oh, tidak dingin ya? "


"He'em. Apa kamu merasa kedinginan makanya bertanya begitu?" Andara mendekatkan tubuhnya pada Roy setelah mengucapkan itu.


Roy semakin terlihat gugup. "Aah, tidak juga. Aku bertanya begitu karena tidak biasanya kamu hanya memakai kaus dan celana sependek itu."


"Ooh... Begitu."


"Iya."


"Aku hanya ingin melakukan kebiasaan lamaku. Dulu bahkan aku memakai pakaian yang lebih pendek dari ini. Ehm... Seperti, B**."


"Hah? Uhuk!" Roy tersedak ludahnya sendiri dan ia berlari ke dapur.


Andara bengong sendirian di sana. 'Oh.. Astaga...Apa aku harus berbohong begitu juga untuk memancing dia? Ini memalukan sekali.' Andara menutup wajahnya sendiri yang sudah memerah.


Andara akhirnya pergi ke kamar dan berbaring di atas ranjyang. Gadis itu sengaja membelakangi pintu agar tidak melihat Roy saat pemuda itu masuk.


Lama Andara berbaring di sana, akhirnya Roy masuk juga dengan rambut yang berantakan dan wajah yang basah. Sepertinya pemuda itu mencuci wajahnya berkali-kali.


Roy terlihat bingung namun juga tegang saat melihat Andara yang berbaring di sana. Roy terdiam di dekat pintu dan melihat tubuh Andara yang membelakanginya. Ia merasa ada sesuatu yang bergejolak lagi dalam dirinya.


Roy menutup pintu dan menguncinya dengan perlahan, takut kalau Andara akan terbangun. Padahal sebenarnya gadis itu juga sedang deg-degan berada di sana dengan keadaan seperti itu.


Roy tampak ragu untuk ikut berbaring. Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berbaring juga di samping Andara. Ia sengaja memberi jarak antara tubuhnya dan Andara. Pemuda itu tidak berani mendekati Andara.


Roy melihat ke langit-langit kamar tapi sesekali ia juga melirik ke arah Andara yang masih saja membelakanginya. Roy berulang kali mengatur nafasnya agar ia tenang. Tapi apa yang dilakukan oleh Andara sungguh membuatnya frustasi.


Andara berbalik menghadap ke arahnya dengan mata yang terpejam dan melenguh dengan lirih. Suara yang keluar dari mulutnya membuat Roy semakin terlihat gelisah.


"Astaga... Kenapa kamu terus memancingku? Apakah kamu tidak tau kalau aku kesulitan untuk menenangkan dia. Aku takut kalau aku tidak sejantan itu untuk menghadapi mu," keluh Roy dengan lirih.


Ucapannya membuat Andara mengerutkan keningnya sejenak tapi kemudian gadis itu tersenyum dalam hati. Ia sungguh merasa senang sekaligus malu mendengar ucapan Roy.


Andara dengan nakalnya menaruh tangannya di atas dada Roy, membuat jantung pemuda itu berdetak lebih kencang. Andara menarik Roy seolah pemuda itu adalah guling. Andara memeluknya dengan erat bahkan kakinya mengunci tubuh Roy.


'Ya Tuhan... Kuatkan lah aku...' jerit Roy dalam hati.


.

__ADS_1


.


bersambung...


__ADS_2