Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Menunggu kabar (hanya sebatas teman)


__ADS_3

Oma Claudy memilih untuk tidur karena cucunya malah melamun. Wanita itu tampak sedikit kesal melihat sikap cucunya. Sungguh tidak sopan bukan, saat ada orang tua mengajak mengobrol malah yang diajak ngobrol mendiamkan dengan sengaja. Seperti itulah pikiran Oma Claudy saat ini. Jadi daripada dia marah, lebih baik dia tidur saja.


Sedangkan orang yang membuat Oma Claudy kesal, ia saat ini sedang menengok kesana-kemari dengan tampang tak merasa bersalahnya. Ia benar-benar seperti orang yang hilang ingatan.


"Oma tadi ingin apa? Ingin aku memiliki anak? Dan anak itu hasil hubungan ku dengan Roy? Hah?! Tidak mungkin kan kalau aku menjalani pernikahanku sampai sejauh itu? Ya Tuhan..." Andara hanya bisa mengeluh dalam hati.


"Tapi pantaskah aku menyebut Tuhan sedangkan kelakuanku seperti ini? Lalu bagaimana pula reaksi keluarga ku saat tau apa yang terjadi padaku dan Karin? Apakah akan seperti Oma Idina juga? Aku tidak ingin keluarga ku meninggalkan ku dalam kemarahan." Lagi-lagi Andara hanya bisa mengeluh dan bertanya sendiri dalam hati.


Gadis itu menatap wajah neneknya yang sedang tertidur. "Aku juga tidak ingin mengecewakan Oma ku. Aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku. Bagaimana kalau kondisi Oma memburuk karena kelakuanku? Seperti Roy. Tapi bagaimana dengan Karin?"


Pikiran Andara terus berkecamuk. Gadis itu seolah sedang berdebat dengan pikirannya sendiri. Perasaan takut dan bersalah perlahan mulai menyerang hatinya. Ia tidak sanggup membayangkan bagaimana reaksi kelurganya saat mengetahui semuanya. Apakah ia sanggup untuk menghadapinya?


.


.


.


Andara terlihat kelelahan sekali saat ia dan keluarganya sampai di rumah. Padahal kedua orang tuanya bahkan juga Oma Claudy tampak biasa saja. Mereka bahkan sampai heran melihat Andara yang seperti itu.


Sintya memberikan saran pada anaknya karena kasihan melihat Andara yang tampak lemas. "Istirahat lah dulu. Nanti malam kembali ke kostnya juga gak pa-pa, kan?"


"Gak pa-pa,Mi. Sebentar lagi aku kembali ke sana, biar aku istirahat di sana saja. Sekalian aku langsung tidur lama-lama. Daripada aku sedang enak istirahat di sini tapi masih harus memikirkan untuk kembali ke sana."


"Ya sudah, terserah kamu saja."


Andara segera naik ke kamarnya yang berada di lantai dua. Gadis itu seolah bertemu dengan teman lama saat berada di depan pintu kamarnya. Ia membuka pintu kamar itu dan langsung berlari ke arah kasurnya.


Brukk!


Andara melompat ke atas kasur. "Haahh... Nyamaaan.. sekali. Aku merindukanmu kasurku." Namun tak lama ia malah terlelap. Melupakan niatnya yang akan segera kembali ke kost.


.


.


"Non Dara, bangun. Ini sudah malam. Non Dara belum makan,kan?" tanya seorang perempuan yang menjadi ART di rumah Dara. Perempuan bernama Rahmi itu mengguncangkan tubuh Andara dengan keras karena gadis itu tak kunjung bangun.


"Eunghh... Bentar, Bi. Aku masih ngantuk," jawabnya dengan suara serak dan mata yang masih terpejam.


"Tapi ini sudah jam delapan malam, Non."


Satu detik


Dua detik

__ADS_1


Tiga detik


"Apa?!"


Tubuh Andara seketika duduk dengan tegap. Matanya membola dan terlihat menyeramkan. Apalagi dengan penampilan yang sangat berantakan.


Bi Rahmi merasa terkejut namun juga ingin tertawa melihat tingkah gadis itu. Ia Berusaha menahan tawanya karena takut menyinggung perasaan Nona mudanya itu.


"Iya,Non. Ini sudah jam delapan malam."


"Iiih... Bibi kenapa gak bangunin aku dari tadi?" Andara jelas terlihat kesal sekali.


"Maaf,Non. Tapi Bibi sudah lebih dari sepuluh kali bolak-balik ke kamar ini dan membangunkan Non Dara, tapi ya seperti yang Non tau." Bi Rahmi merasa tak enak hati dan menunduk.


Andara hanya duduk dengan lemas. Rasanya ia ingin sekali mengamuk dan melempar selimut yang menempel di tubuhnya seperti anak kecil. Tapi ia urungkan karena selain merasa itu memalukan,juga ini adalah kesalahannya sendiri.


"Iiiihhh... Jadi males kan buat pergi." Gadis itu hanya bisa cemberut.


"Ya sudah, Non. Bibi turun dulu. Non Dara segera turun dan makan,ya? Mami sama Oma udah tungguin Non Dara dari tadi."


"Iya,Bi," jawab Andara dengan lemas.


Gadis itu malah membaringkan tubuhnya kembali. Andara terlihat tidak bersemangat sama sekali. Tapi ia harus pergi ke kostnya hari ini juga.


"Aaaa... Kenapa sih malah ketiduran?"


Pemuda itu menghembuskan nafas panjang. "Haah... Seharusnya aku tidak mempermasalahkan hal seperti ini karena hal seperti ini sudah pasti terjadi. Tapi kenapa perasaanku tidak bisa menerima ini? "


Pemuda itu menatap layar ponselnya yang gelap. "Kenapa kamu tidak mengabari ku? Kamu baik-baik saja,kan? Atau kamu sudah melupakan temanmu yang lemah ini?"


.


.


Andara yang masih nyaman dengan posisi berbaring nya tiba-tiba teringat sesuatu."Ya ampun, aku belum mengabari Roy. Mungkin dia menunggu kabar dari ku." Andara mencari ponselnya untuk menghubungi Roy.


Pemuda yang duduk sendirian itu hendak pergi ke kamarnya. Ia sudah menunggu selama lebih dari enam jam hanya untuk mendengar kabar dari istrinya. Namun ia malah merasa kecewa karena orang yang ia tunggu sama sekali belum mengabari nya.


Ia juga sudah berusaha untuk mengabari orang itu, namun tidak ada hasilnya. Padahal perjalanan dari Surabaya ke Jakarta naik pesawat tidak akan selama itu kan?


"Sudahlah. Sepertinya dia juga sama saja. Padahal aku sudah menghubungi nya tapi dia juga tidak merespon."


Ia berdiri dan saat berjalan beberapa langkah, ponsel yang ia genggam akhirnya berbunyi. Pemuda itu merasa terkejut dan juga senang. Orang yang ia tunggu akhirnya menghubunginya juga.


"Halo, Roy," sapa dengan ceria gadis di seberang sana.

__ADS_1


Senyuman Roy tampak mengembang. "Halo. " Namun ia mencoba untuk biasa saja.


"Ada apa dengan suaramu ini? Kenapa kedengarannya kamu tidak senang?" Andara mengerutkan keningnya karena heran.


"Aku baik-baik saja. Kamu sudah sampai?" tanya Roy basa-basi, padahal dia sudah tau kalau perjalanannya tak mungkin selama itu.


"Aku sudah sampai dari sore tadi, tapi aku langsung ketiduran saat bertemu dengan kasurku." Andara tertawa cekikikan sendiri.


Roy tersenyum karena merasa gadis itu sangat lucu. "Oh."


"Kenapa lagi-lagi nada bicara mu kedengarannya tidak enak,sih? Kamu lapar?"


Lah?


"Suaraku begini bukan karena aku kelaparan." Roy tampak tak percaya.


Andara lagi-lagi tertawa. "Haha... Maaf. Aku kira kamu kelaparan. Jangan telat makan,ya? Jangan terlalu berpikiran yang tidak-tidak. Segeralah datang agar kita bisa bermain bersama." Andara tampak tulus saat mengucapkan itu.


Roy merasa tersentuh dengan perhatian yang diberikan oleh Andara. Merasa tidak banyak yang memperhatikannya walaupun hanya seperti itu.


"Iya. Terima kasih karena sudah mengingatkan. Kamu juga jangan lupa makan."


"Aku baru bangun tidur. Aku melewatkan waktu makan malam."


"Jam segini bangun tidur, lalu kamu mau tidur lagi jam berapa?"


"Aku gampang saja kalau masalah tidur. Saat kepalaku menyentuh bantal, maka saat itu juga bisa dipastikan kalau aku sudah terlelap."


Roy rasanya ingin sekali tertawa. "Baiklah. "


"Ya sudah, aku mau turun dulu. Orang tuaku sudah menungguku dari tadi. Lagipula aku harus kembali ke kost. Aku tidak ingin terburu-buru besok pagi."


"Ya. Baik-baik lah. Sampai jumpa di kost."


"Sampai jumpa."


Telepon pun terputus dan saat itulah Andara menyadari sesuatu. "Eh? Sampai jumpa di kost? Memangnya kapan dia mau kembali?"


Roy tersenyum sambil terus menatap layar ponselnya yang sudah berubah gelap. Pemuda itu seolah melihat sesuatu yang menarik di sana.


"Ternyata kamu memang orang yang baik. Aku senang bisa berkesempatan menjadi temanmu. Semoga saja saat kita bertemu nanti sikapmu tetap sama. Semoga kamu tidak merasa malu memiliki teman seperti aku."


.


.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2