
"Iya. Andara adalah anak yang baik. Karena kebaikannya jugalah kami merasa bangga padanya. Karena kebaikannya juga Oma nya sangat bahagia saat ini."
Karin menatap Sintya dengan tatapan datar. Merasa ucapan wanita itu seolah menjurus ke arah hubungan nya dengan Andara. Sintya pun tak kalah datar menatapnya. Seolah ia sedang berhadapan dengan musuhnya.
"Mami, Andara mau ke sana dulu. Ada teman-teman Dara yang memanggil."
"Iya, silahkan." Sintya mengalihkan tatapannya dari Karin.
"Karin, aku pergi dulu sebentar. Kamu mengobrol lah dulu dengan Mami ku. "
Karin mengangguk dan melihat Andara yang menghampiri beberapa temannya yang memang terlihat menunggunya.
Sebenarnya Andara merasa tidak nyaman dengan tatapan dan ucapan ibunya. Ia ingin menghindar dulu namun tidak memiliki alasan untuk pergi. Kebetulan sekali teman-temannya memanggilnya, jadi ia bisa pergi walaupun sebentar.
'Maafkan aku yang malah meninggalkan mu, Karin. Mungkin Mamiku ingin mengatakan sesuatu dulu padamu. Tapi aku tidak sanggup untuk mendengar sesuatu yang mungkin saja ingin ia katakan.'
Andara pun berbincang bersama teman-temannya. Karin masih saja melihat ke arahnya, begitu juga Sintya. Kurang lebih Sintya tau apa arti dari tatapannya itu.
"Apakah menurutmu Andara bisa menjadi istri yang baik?" tanya Sintya tiba-tiba.Spontan Karin menatapnya, seolah meminta jawaban dari ucapannya itu.
Sintya tidak terlalu memperdulikan bagaimana ekspresi wajah Karin saat ini. Wanita itu dengan santainya mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Tante berikan ini langsung padamu karena menurut Tante, kamu adalah salah satu orang terdekatnya Andara."
Kedua alis Karin mengkerut ketika melihat sebuah kertas yang terlipat itu. Tanpa ia baca, ia sudah bisa mengira apa isi dari kertas itu karena melihat foto dua orang yang ia kenal terpampang jelas di sana.
Jantungnya berdegup kencang. Perasaannya tidak bisa ia kendalikan membayangkan sesuatu yang mungkin saja terjadi.
"Tante harap kamu bisa datang. Tante minta maaf atas nama Andara karena dia telah mendahului mu. Tapi, Tante harap juga kamu bisa segera menyusulnya." Sintya tersenyum tanpa peduli bagaimana ekspresi wajah Karin saat ini.
Sesungguhnya wanita itu pun tidak tega menyakiti hati gadis di hadapannya ini. Namun ia tidak ingin mengasihani Karin karena hubungan terlarangnya dengan anaknya. Ia ingin bukan hanya anaknya saja yang sadar, tapi juga dengan gadis di hadapannya ini.
Karin menunduk. Tidak terasa air mata jatuh melewati pipi mulusnya. Meninggalkan jejak yang membuat wajahnya semakin terlihat menyedihkan.
Sintya melihat Karin dengan sedih, namun ia berusaha untuk tidak menenangkan gadis itu. Karena pasti Karin akan mengetahui bahwa ia tau tentang hubungan mereka.
"Karin..."
__ADS_1
Karin tersadar mendengar namanya dipanggil. Cepat-cepat ia menghapus air matanya dan kembali menatap Sintya dengan senyuman yang ia paksakan.
"Ya, Tante?"
"Tante sangat bahagia dengan semua ini. Tante sangat berterima kasih karena Tuhan telah memberikan kami kebahagiaan ini."
Karin tersenyum dengan tatapan sedih yang tidak bisa ia sembunyikan. Sintya menepuk-nepuk bahunya pelan. "Datanglah. Kami akan meresmikan pernikahan Andara. Itu semua tidak akan lengkap kalau kamu tidak datang ke sana, karena kamu adalah sahabat dekatnya Andara."
Karin terdiam. Gadis itu berusaha mencerna ucapan Sintya yang malah membuatnya tidak bisa berpikir.
"Meresmikan pernikahan?" tanya Karin memastikan.
"Iya. Semua orang berhak tau dengan hubungan mereka. Mereka juga berhak bahagia. Kalau orang-orang tetap tidak tau jika mereka sudah menikah, orang-orang pasti akan berpikiran negatif melihat kedekatan mereka. "
Dan jawaban itu cukup untuk menjawab semuanya. Tentang bagaimana sikap Andara setelah pulang dari Surabaya dan juga beberapa hal lainnya. Tentang Andara yang ternyata malah sudah menikah dengan Roy, bukan lagi bertunangan.
Karin terdiam dan sama sekali tidak memperhatikan Sintya yang bicara. Gadis itu tidak tau bagaimana keadaan disekitarnya. Yang ada di pikirannya saat ini adalah hal tentang Andara dan semua kenyataannya.
'Ternyata dia bahkan sudah menikah. Hah! Aku benar-benar menyedihkan. Dan sialnya aku masih merasa sedih saat ini.'
Karin masih saja tidak sadar, bahkan sampai Sintya sudah berlalu pergi meninggalkan nya. Kesadaran gadis itu seolah hilang meninggalkan raga yang mematung di sana.
"Karin..."
Karin mengerjap setelah ia samar-samar mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Karin terdiam melihat wajah orang itu.
"Kamu..."
"Kenapa kamu melamun di sini?"
Tatapan Karin berubah tajam. Dengan kasar ia menarik tangan orang itu dan membawanya menjauh dari sana.
"Ada apa, Karin?" Orang itu kebingungan tapi ia tetap menurut ketika Karin membawanya pergi.Karin tidak menjawabnya dan masih saja terus berjalan.
Mereka berhenti di depan sebuah kamar mandi perempuan. Keadaan di sana yang sepi membuat Karin tidak segan berucap pada orang yang dibawanya.
"Ternyata kamu sudah menikah?" tanya Karin seolah tak percaya. Orang itu terdiam tanpa menatapnya.
__ADS_1
"Jawab aku, Dara! Kenapa malah sejauh ini kamu membohongi ku? Kenapa kamu tega sekali, Dara?" Karin tak kuasa menahan tangisannya.
Andara menatapnya dengan sendu. Gadis itu pun ikut menangis seperti Karin. "Maafkan aku, Karin. Aku sama sekali tidak berniat untuk membohongi mu. Aku tidak ingin membuat mu lebih sakit hati karena mendengar kebenaran ini. "
"Kamu bohong! Kamu memang sudah berniat untuk melupakan ku. Kamu sudah memiliki rencana ini sejak lama. Buktinya kamu malah sudah menikah dan menyembunyikan nya dariku."
"Lalu apa yang bisa aku lakukan? Jika aku mengatakan semuanya pun, apa perbedaannya? Kita tetap tidak bisa untuk bersama. Aku tidak bisa untuk melawan orang tuaku. Aku tidak mampu, Karin."
Kedua gadis itu menangis. Tidak peduli pula jika ada orang lain yang mendengar nya, jika ada.
Namun tanpa mereka ketahui, sebenarnya ada seorang pemuda yang sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan. Melihat interaksi kedua gadis itu, membuat perasaan pemuda itu bergejolak.
Andara tidak bisa lagi untuk tetap diam dengan sikap Karin. Ia tidak bisa membiarkan Karin terus menerus seperti itu. Karin harus bisa menerimanya bagaimana pun keadaan nya.
Ia tidak menyangka kalau sikap Karin akan seperti ini. Ia kira, Karin sudah bisa menerima semuanya dan tegar seperti saat ia mengatakan tentang perjodohan nya pada Karin. Namun ternyata perasaannya belumlah sepenuhnya berubah.
Andara menangkup kedua pipi Karin yang basah dengan air mata. Gadis itu melihat ke arah mata Karin dengan lembut.
"Dengarkan aku, Karin. Aku memang menyayangi mu, tapi perasaan ku ini tidak mungkin untuk aku lanjutkan lagi. Aku mohon kamu untuk mengerti. Sampai kapanpun, kita tidak bisa untuk bersama. Marilah kita jalani kehidupan kita sebagai perempuan yang normal. Aku yakin kamu bisa."
Karin menatapnya dan masih saja menangis. "Kamu bisa mengatakan semua ini karena keadaan mu berbeda dengan ku. Aku tidak bisa setenang kamu dan menerima semuanya begitu saja. Bahkan aku tidak yakin kalau kamu benar-benar menyayangi ku."
Andara menghapus air mata yang mengalir di pipi Karin. Sikap Andara jelas terlihat lebih tenang dan seolah dirinya menjadi seperti Karin. Karin yang biasanya tenang malah terus saja menangis.
Andara mendekatkan tubuhnya pada Karin. Ia dengan lembut mengusap pipi gadis itu. Posisinya membuat seorang pemuda yang melihat mereka menjadi lebih tidak tenang.
Posisi mereka lebih terlihat seperti dua orang yang sedang berci**man karena pemuda itu berada tidak jauh dari belakang mereka.
'Apakah sebenarnya kamu hanya berpura-pura menerima pernikahan ini demi keluarga mu? Apakah sebenarnya kamu merasa tersiksa dengan pernikahan ini? Kenapa rasanya sakit, Dara? Kenapa hatiku merasa sakit membayangkan kalau itu memang benar.'
.
.
.
bersambung...
__ADS_1