
"Aku menyayangi mu, maka dari itu aku ingin kamu menjadi lebih baik. Kamu lebih dewasa dari ku dan aku yakin kamu bisa melalui semua ini dan juga bahagia dengan jalan yang kita pilih ini."
Karin menatapnya sendu sambil terisak. "Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan,kamu sudah tau itu."
Andara tersenyum walaupun dengan berderai air mata. Gadis itu mencoba untuk kuat menghadapi Karin yang tampak rapuh itu.
"Kebahagiaan yang kita rasakan adalah sesuatu yang semu. Kita sama-sama tau kalau hubungan ini tidak akan berhasil. Kita tidak pernah merasakan ketenangan dan terus dihantui oleh rasa bersalah. Aku ingin bertaubat, Karin. Aku sejujurnya takut berada dalam jalan ini. Rasa bahagia karena hubungan ini selalu didampingi oleh rasa bersalah ku. Maafkan aku, Karin."
Karin akhirnya berusaha untuk tersenyum walaupun raut wajahnya masih terlihat sedih. Gadis itu menghapus sendiri air mata yang tidak berhenti mengalir sejak tadi.
Karin menghirup udara dan menghembuskan nafasnya secara perlahan. Ia mencoba untuk tenang. Kata-kata Andara memang benar. Ia ingin bisa menerima hal itu karena ia adalah manusia yang masih bisa untuk berpikir.
Andara terdiam menatapnya. Ia tau bahwa Karin sedang berusaha untuk menenangkan diri saat ini. Ia pun merasa lega karena akhirnya hati Karin bisa terbuka dan menerima semuanya, untuk saat ini. Tapi ia harap, Karin bisa seterusnya menerima dan sadar akan hubungan mereka yang salah, selama ini.
"Maafkan aku karena membawamu ke jalan yang sama denganku. Aku akan mencoba untuk menerima semuanya walaupun ini tidak akan mudah dan cepat. Aku tidak akan mengganggumu sebagai pasangan lagi. Tapi aku harap, kita tidak menjadi musuh setelah terjadinya semua ini."
Andara tertegun sejenak. Dalam hati ia merasa ragu dengan perubahan sikap Karin yang begitu cepat, tapi ia menepis pikiran buruknya karena ia tau kalau hati manusia bisa berubah-ubah. Setidaknya, untuk saat ini keadaannya bisa dikendalikan.
"Aku tidak akan pernah memusuhi mu. Kamu adalah salah satu orang yang berarti bagiku. Kamu akan selalu ada di hatiku walaupun tidak sebagai pasangan ku lagi."
Karin tersenyum mendengar jawabannya. Ia mencoba untuk tegar karena percuma saja kalau ia memaksakan semuanya. Itu tidak akan pernah berhasil.
Sejujurnya, Karin merasa tersentak dengan kata taubat dari mulut Andara. Hatinya tiba-tiba merasa seperti tertimpa sesuatu. Sesak dan sakit tapi bukan karena penolakan dari Andara. Karin merasa bersalah pada dirinya sendiri.
Akhirnya kedua gadis itu terlihat lebih tenang dan memutuskan untuk kembali bersama yang lainnya.
Karin dan Andara berjalan berdampingan dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan. Pikiran kedua gadis itu berkelana dan seolah beradu antara kebenaran dan kesalahan.
Karin menyerah bukan karena ia merasa tidak mungkin untuk melanjutkan hubungan itu, tapi juga dengan perasaan bersalahnya yang kini seperti menghantam dirinya secara perlahan.
Kedua gadis itu disambut dengan tatapan heran oleh Rika yang baru saja datang. Gadis itu menghampiri kedua sahabatnya dengan kening yang mengkerut dan dengan perasaan yang khawatir.
__ADS_1
"Ada apa dengan kalian? Kenapa mata kalian sembab?" tanyanya lirih untuk mencegah orang lain mendengar hal yang mungkin saja tidak dikehendaki oleh kedua sahabatnya itu.
Andara dan Karin saling menatap dan tersenyum. Kemudian Karin mendekatinya tanpa menjawab pertanyaannya tadi. "Kenapa kamu baru datang?"
Rika semakin terlihat bingung. Kerutan di dahinya semakin bertambah. "Apakah aku tidak dikehendaki untuk mendengar masalah kalian?" tanyanya dengan tatapan curiga.
Karin tersenyum dan menepuk-nepuk bahunya. "Kami baik-baik saja. Sangat baik sehingga kami ingin berterima kasih padamu."
"Apa maksudnya?"
"Terima kasih karena telah mengingatkan kami. Terima kasih karena telah menjadi sahabat yang baik untuk kami. Sepertinya, aku tidak pernah mendapatkan sahabat sebaik dirimu selama ini."
Rika tampak tidak mengerti dan menatap Andara yang malah hanya tersenyum padanya. Ia jujur bingung dengan kata baik-baik saja yang diucapkan oleh Karin. Baik-baik saja nya ke arah mana dulu? Pikirnya.
Karin merangkulnya dan diikuti oleh Andara. Kedua gadis itu menghimpit tubuh Rika yang masih kebingungan. Mereka tampak bahagia, walaupun sebenarnya perasaan sedih masih dirasakan oleh Karin, tapi ia dapat menutupi semua itu dengan senyumannya.
"Apakah kamu masih ingat dengan kata-kata mu yang menyimpulkan bahwa Tuhan memiliki rencana untuk manusia."
Rika menghentikan kata-katanya dan menatap wajah Andara dan Karin secara bergantian. "Apakah maksud kalian..."
Karin mengangguk dan tersenyum. "Sepertinya ini adalah rencana Tuhan untuk kami. Tuhan mempunyai kuasa untuk mengubah jalan hidup kami. Dan semoga Tuhan juga mempermudah semua ini setelah kami menyadari ini."
"Apa maksud kalian, kalian sudah..." Karin mengangguk saat Rika tidak melanjutkan ucapannya.
Ketiga gadis itu akhirnya saling memeluk dengan perasaan yang haru, khususnya Rika. Rika sangat bahagia menyadari jika kedua sahabatnya telah sadar dan berusaha untuk menerima hal ini.
'Terima kasih ya Allah... Kedua sahabatku telah kembali ke jalannya. Walaupun aku merasa ini sangat cepat, tapi aku percaya bahwa Engkau memiliki kuasa untuk semua ini. Tidak ada yang tidak mungkin bagiMu.'
Rika menangis dengan perasaan haru. Gadis itu bahkan tidak sanggup untuk bicara bahkan saat mereka dilihat dan dihampiri oleh beberapa orang. Rika hanya bisa tersenyum sambil terus mengeluarkan air mata.
.
__ADS_1
.
.
.
Suasana di kost Putri sedikit berbeda dari biasanya. Apalagi di dalam kamar terluas di sana. Karin dan Rika lebih banyak diam walaupun mereka terlihat baik-baik saja.
Rika tertegun sambil terus menatapi kertas undangan yang sama dengan yang diberikan oleh Sintya pada Karin. Gadis itu tidak menyangka bahwa hubungan Andara dan Roy ternyata sudah sejauh ini.
Rika sesekali melihat ke arah Karin yang terlihat tenang. Rika merasa was-was, takut kalau emosi Karin akan tidak terkontrol lagi.
Suasana seperti itu juga terjadi di kamar terluas di kost Putra. Dua orang pemuda yang duduk di sofa tampak berpikir sambil melihat kertas undangan yang sama.
Ryan dan Joko jelas terkejut dengan kiriman undangan itu. Kedua pemuda itu terdiam dengan pikiran yang berbeda.
'Apakah selama ini aku salah mengira tentang hubungan Roy dan Thanit? Mungkin aku salah kalau mengira Roy bukan laki-laki normal. Tapi hal ini benar-benar menjadi sebuah kejutan.' batin Ryan.
Sementara Joko lebih ke merasa kecewa karena gadis pujaan hatinya kini akan segera menikah dengan Roy, pemuda gemulai yang sudah dianggap nya sebagai adik.
'Anak ini ternyata diam-diam berbahaya juga. Aku kira dia tidak mungkin berani untuk memiliki hubungan dengan seorang gadis, mengingat bagaimana sikapnya selama ini. Tapi kenyataannya dia jantan juga rupanya. Memang tidak boleh meremehkan seseorang bagaimana pun keadaan orang itu.' batin Joko.
Tapi Joko tidak merasa marah sama sekali. Pemuda itu hanya merasa lemas saja menyadari kenyataan itu. Lagipula, dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Andara. Ia hanya mengagumi gadis itu. Dan lagi, jodoh tidak ada yang bisa mengira bagaimana dan dari mana itu datangnya.
.
.
.
bersambung...
__ADS_1