Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Mencoba untuk tegar


__ADS_3

Karin seolah menjadi orang lain. Ia tidak lagi terlihat tegar dan dewasa seperti biasanya. Kini Andara lah yang seolah menjadi sepertinya. Andara memeluknya sambil mengelus rambut nya.Kebiasaan yang sering dilakukan oleh Karin saat Andara sedih.


Rika keluar dari kamar dengan langkah pelan. Kedua alisnya saling bertautan dengan pikiran yang was-was. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada kedua sahabatnya.


Namun pikiran dan perasaannya berubah saat ia melihat Andara yang menenangkan Karin. Berbagai pikiran melintas di kepalanya, namun ia mencoba untuk berpikir positif.


Andara yang merasa ia sedang diperhatikan pun menoleh pada Rika yang berdiri mematung. Andara tersenyum dengan tatapan seolah ia sudah melepaskan semua beban yang ia pikul. Andara menganggukkan kepalanya pada Rika yang masih tampak mencerna keadaan itu.


.


.


.


Karin berdiam diri sambil melihat Rika yang sedang menunaikan ibadah di pagi hari. Gadis itu menunggu dengan sabar sampai Rika selesai dan merapikan kembali barang-barang nya.


Rika heran melihat Karin yang sudah sangat rapi. Padahal biasanya ia melihat gadis itu bersiap setelah matahari mulai terbit.


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau pergi. Apa kamu lupa?" Nada suara Karin terdengar lemah.


"Ini bahkan belum jam lima pagi. Apa tidak sebaiknya menunggu hari sedikit lebih terang. Bisa sambil menunggu Andara bangun juga."


Tatapan Karin yang sendu membuat Rika ikut sedih. Gadis itu menghampiri Karin yang malah melamun.


"Aku tidak bisa menunggunya. Lebih baik aku pergi sekarang. Aku tidak ingin menangis lagi."


Rika mengusap-usap bahu Karin untuk menguatkan gadis itu. Tapi ia sendiri bingung harus bicara apa.


"Tolong jaga dia,ya. Bagaimana pun dia masih menjadi bagian dari hidupku. Walaupun dia kini sudah bukan menjadi milikku," ucap Karin lirih dengan senyuman dan tatapan yang sayu.


Rika mengangguk dan tersenyum. "Aku akan menjaganya dengan baik. Dia juga adalah sahabat ku. Kamu tenang saja."


"Terima kasih."


Rika mengangguk lagi. Ia tau bagaimana perasaan Karin saat ini, namun ia tidak bisa menenangkan nya dengan kata-kata yang mungkin saja malah membuat Karin semakin sedih. Jadi lebih baik Rika diam.


Karin menggeret koper yang sudah disiapkannya sejak tadi. Gadis itu melihat ke arah kamar yang terdapat Andara yang masih tertidur. Karin menghirup udara dan menghembuskan nya perlahan untuk membantunya lebih tenang.


"Aku pergi," ucapnya lalu berjalan menuju pintu dan meninggalkan kamar kostnya.


Rika mengantarkan Karin sampai ke depan kost. Karin juga berpamitan pada ibu kost dan wanita paruh baya itu mengantarkan nya sampai ke depan gerbang. Rika melihat kepergian gadis itu dengan tatapan yang sedih.


.

__ADS_1


.


.


"Mana Karin?" tanya Andara yang baru saja terbangun, padahal jam sudah menunjukkan pukul enam lewat dua puluh.


Rika yang sedang sibuk merapikan alat-alat memasak pun menoleh padanya. "Dia sudah pergi," jawabnya lirih. Seperti takut untuk mengucapkan itu.


Andara terdiam dengan tatapan yang tidak Rika mengerti. Gadis itu tidak tampak sedih ataupun senang. "Oh," responnya lalu dia pergi ke kamar mandi.


Rika membuang nafas panjang dan terlihat sedih. 'Apakah pertemanan kami akan berakhir? Aku memang ingin hubungan mereka berakhir, tapi bukan berarti aku menginginkan mereka tidak lagi menjadi sahabat. Tapi, mereka juga pasti sulit untuk menghadapi situasi ini. Haaah....'


Rika dan Andara sarapan dalam diam. Suasana di ruangan itu hening tidak seperti biasanya. Tidak ada canda tawa sebelum dan setelah mereka sarapan. Sikap Andara yang hanya terdiam membuat Rika bingung untuk memulai percakapan.


Akhirnya mereka berpisah karena Andara harus pergi terlebih dahulu. Meninggalkan Rika yang tampak sedih seorang diri.


'Tak apa,Rika. Ini semua demi kebaikan mereka juga. Mereka pasti bisa menyesuaikan diri dengan keadaan ini, suatu hari nanti.'


.


.


.


Andara beraktivitas seperti biasanya. Tidak terlihat sedikitpun di wajah nya kalau dia sedang memiliki masalah. Gadis itu bisa menyembunyikan kegundahan hatinya dari teman-temannya.


.


.


.


Karin melamun di sepanjang perjalanan menuju kota tujuannya. Gadis itu terus saja melihat ke arah jalanan yang ramai, namun bukan pemandangan itu yang ada di kepalanya.


Tatapannya terlihat sangat sedih dan bibirnya sesekali bergetar walaupun tidak sampai membuatnya menangis. Di matanya seolah hanya ada kenangan tentang dirinya dan Andara.


'Aku sudah mengira hal seperti ini akan terjadi, mengingat tidak mungkin orang tua Andara merelakan anaknya berada dalam hubungan seperti ini. Tapi aku tidak mengira kalau dia sendiri yang memutuskan hubungan ini. Apalagi dia tidak terlihat menderita sedikitpun dengan perpisahan ini. Seolah aku tidak berarti apa-apa lagi baginya.'


Tatapan Karin benar-benar sendu, hingga membuat pengendara mobil yang membawanya ikut bersedih. Tapi orang itu tidak berani untuk bertanya pada Karin. Karena Karin tidak merespon apapun yang diucapkannya saat mereka bertemu. Karin hanya menunjukkan kemana mereka harus pergi.


.


.


.

__ADS_1


Karin mencoba menjalani hari-harinya dengan tenang, walaupun ia tidak bisa memungkiri bahwa dirinya masih merasa sedih. Tapi ia usahakan agar dirinya tidak terlalu larut dalam kesedihannya.


Banyaknya kegiatan di tempat ia tinggal saat ini membuatnya sedikit demi sedikit melupakan kesedihannya. Walaupun hal itu akan mengganggunya lagi saat ia sendiri, tapi ia tetap berusaha.


.


.


.


Karin duduk termenung saat ia sedikit santai dari pekerjaannya. Beberapa orang yang berlalu lalang di hadapan nya tidak membuatnya terganggu. Gadis itu masih saja sibuk dengan pikirannya.


Hingga saat ada sepasang suami istri yang datang dan memanggilnya, membuatnya terkejut dan tersadar dari lamunannya. Gadis itu awalnya mengerjap bingung, kenapa ada orang tua yang mengenalnya di sini dan menyapanya tanpa segan?


Karin melihat dua orang itu dengan alis yang bertaut. Lama kelamaan ia pun teringat dengan kedua orang itu. Ia segera menghampiri mereka dan menyalami kedua orang itu.Sepasang suami istri itu tersenyum ramah dengan sikap Karin.


"Apa kabar, Om, Tante? Aku kira tadi siapa." Karin berucap dengan tersenyum ramah.


"Alhamdulillah, kami sehat. Sudah lama kita tidak bertemu, pantas saja kalau kamu sudah lupa sama kami," ucap seorang perempuan yang kira-kira berusia lima puluh tahun.


Karin tersenyum dan mengajak mereka untuk duduk di tempat duduknya tadi. Gadis itu berbisik pada seseorang yang bersimpangan dengannya. Meminta orang itu untuk membawakan sesuatu ke mejanya. Orang itu mengangguk dan berlalu pergi.


"Om sama Tante kok ada di sini?" tanya Karin setelah mereka duduk.


"Harusnya kami yang bertanya, kenapa kamu ada di sini? Bukankah kamu memiliki usaha di Jakarta?"


"Ini adalah restoran peninggalan Mama saya, Om." Jawab Karin ramah dan tidak terlihat terganggu sedikitpun dengan pertanyaan kedua orang itu.


"Oohh, seperti itu. Kami tidak tau kalau ini adalah restoran punya Mama kamu."


"Iya. Ini restoran pertama yang dibangun oleh Mama. Saya memang jarang sekali datang kemari. Hanya datang kalau ada urusan yang benar-benar penting saja. Om sama Tante kok di sini?" tanya Karin lagi, mengingatkan kedua orang itu dengan pertanyaan nya yang belum dijawab tadi.


"Bandung adalah kota kelahiran Tante. Kami datang ke sini untuk berkunjung ke rumah keluarga kami."


"Ooh..." Karin mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kamu sehat-sehat saja kan?" tanya perempuan itu dengan tatapan yang menurut Karin sedikit aneh.


"Iya, Tante. Saya sehat. Sangat sehat malahan." Gadis itu tertawa pelan dan mengundang senyum pula pada kedua orang yang berada di hadapannya.


"Kamu masih tinggal di dekat kostnya Thanit kan?"


.


.

__ADS_1


.


bersambung...


__ADS_2