Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Kehilangan


__ADS_3

Sreett


Sebuah pisau dengan cepatnya menggores jari tangan Diana hingga berdarah. Seketika, pisau itu terlepas dari tangan nya. Diana sedikit meringis karena rasa perih yang ditinggalkan. Namun dirinya malah jadi merasa tidak tenang.


"Kamu baik-baik saja? " tanya Sintya tampak khawatir karena melihat Diana yang tertegun.


"Aku baik-baik saja, tapi kenapa perasaanku tidak enak begini?"


"Mungkin karena tanganmu sakit. Biar kuobati dulu lukamu."


Tatapan Diana menjadi terlihat lebih gelisah. "Tidak. Aku harus pergi melihat Clarence dan Oma nya. Pikiran ku mendadak jadi tidak tenang."


Walaupun tidak mengerti, tapi Sintya hanya bisa menurutinya. Karena merasa penasaran, Sintya pun mengikuti langkah Diana yang berjalan meninggalkan dapur menuju kamar Oma Idina yang cukup jauh dari sana.


Langkah Diana tampak tergesa-gesa. Perasaannya menjadi lebih tidak tenang. Wanita itu menjadi panik saat mendengar teriakan putranya dari dalam kamar mertuanya.


Braakk!!


Pintu kamar itu didorong nya dengan keras sampai daun pintunya membentur dinding. Tatapan Diana terpaku sejenak pada Roy yang memeluk Oma Idina. Wanita itu melangkahkan kakinya perlahan mendekati anaknya yang menangis tersedu.


"Clarence, apa yang terjadi pada Oma mu?" tanyanya, padahal ia sudah tau bagaimana kenyataannya. Pikirannya seolah menolak untuk percaya pada apa yang dilihatnya.


Roy tidak menjawabnya. Pemuda itu bahkan tidak mampu untuk mengangkat kepalanya. Kesedihannya membuat ia tak bisa melakukan apa-apa.


Diana mulai menangis. Tubuhnya bergetar dan ia ikut memeluk mertuanya yang sudah tidak bernyawa.


"Mamaa..."


.


.


"Ada apa, Scott? Aku perhatikan, kamu sepertinya gelisah sekali. Apa yang membuatmu tidak tenang?" tanya Tuan Guzov saat mereka sedang mengadakan makan siang bersama klien.


"Aku tidak tau. Pikiran dan perasaan ku dari tadi tidak tenang."


Lalu Tuan Scott mencoba menghubungi istrinya, namun panggilannya tidak mendapatkan jawaban. Ia mencoba untuk menghubungi semua orang yang ada di rumah nya, namun hal itu pun sama saja.


"Ada apa dengan orang-orang di rumah? " Dia semakin tidak tenang.

__ADS_1


Tuan Guzov mencoba menghubungi istri dan anaknya, namun ia juga tidak mendapatkan jawaban. Tuan Scott berpamitan pada orang-orang di sana karena saking khawatirnya. Padahal hal seperti itu tidak pernah ia lakukan. Ia melupakan bahwa rumah itu memiliki cctv yang terhubung ke laptopnya.


Tuan Scott tetap berada di sana bersama Ryuu untuk menemani kliennya. Walaupun ia juga ingin ikut pulang karena penasaran dengan apa yang terjadi. Tapi ia tak mungkin meninggalkan orang-orang itu di sana.


Beberapa saat kemudian, Tuan Guzov dikejutkan dengan ponselnya yang berbunyi. Segera ia merogoh benda itu dari dalam kantung celananya. Ia segera menjawab panggilan dari orang yang ternyata adalah istrinya.


"Pi, bisakah kalian pulang? Oma Idina...." Suara istrinya bergetar dan tampaknya tidak mampu untuk melanjutkan ucapannya.


"Scott sudah dalam perjalanan pulang. Memangnya Oma Idina kenapa?"


"Oma Idina... Dia meninggal..." Tak ada lagi yang terdengar selain suara tangisan orang-orang di sana.


Tuan Guzov tampak terkejut. Pria itu sejenak terpaku sebelum akhirnya disadarkan oleh salah satu kliennya. "Tuan Guzov, ada apa?"


Tuan Guzov menceritakan apa yang terjadi. Mereka turut berdukacita dan mengerti kalaupun Tuan Guzov harus menyudahi pertemuan dengan mereka. Ryuu yang turut terkejut segera mengikuti Tuan Guzov untuk pulang ke rumah Oma Idina setelah berpamitan pada orang-orang itu.


.


.


.


Tapi Tuan Scott tidak memperdulikan dirinya yang tidak disambut. Perasaannya mengatakan bahwa ada hal yang tidak beres telah terjadi di rumah itu. Dengan tidak sabar, Tuan Scott melangkahkan kakinya di dalam rumah itu.


Berjalan di ruang tamu yang luas namun tak ada juga satupun manusia di sana. Tuan Scott berjalan lagi hingga ia mendengar kebisingan dari arah kamar ibunya. Langkahnya semakin ia percepat, seolah berlomba dengan detakan jantungnya.


Langkahnya terhenti tepat di depan kamar ibunya. Pemandangan yang memilukan menyambut kedatangannya di ruangan itu. Tubuhnya seolah kaku. Ia hanya berdiam diri di ambang pintu dengan tatapan yang kosong.


"Ibu..." Satu kata itu yang ingin ia ucapkan namun tidak juga keluar dari mulutnya. Mulutnya seolah terkunci. Tubuhnya seolah dipaku di sana dan membuat ia tak bisa bergerak.


Pemandangan di ruangan itu sungguh membuatnya sakit. Melihat anak dan istrinya memeluk tubuh renta Oma Idina yang sudah tidak bernyawa. Perlahan, air mata pun luruh di pipinya. Membuat ia sedikit demi sedikit bisa tersadar dari rasa sakit yang tak berbentuk.


"Buuu!!!" Teriaknya lalu berlari ke arah ibunya.


Tuan Scott memeluk tubuh ibunya sambil menangis meraung-raung. Ia sungguh belum siap untuk kehilangan ibunya. Ia merasa tidak rela ibunya pergi meninggalkannya.


"Ya Tuhan, aku benar-benar tidak rela Ibuku pergi. Aku bahkan belum bisa membahagiakan dia. Kenapa secepat ini Engkau mengambilnya? " Batin Tuan Scott menjerit.


.

__ADS_1


.


.


Tetesan air dari langit disertai suara gemuruh di atas sana tidak membuat seorang pemuda berniat pergi dari tempat duduknya saat ini. Walaupun langit siang sudah berubah menjadi malam, laki-laki itu masih saja setia berdiam diri di sana.


Tatapannya tak pernah lepas dari gundukan tanah basah di hadapannya. Tanah tempat neneknya dua jam yang lalu diistirahatkan. Tanah yang menjadi tempat tinggal terakhir neneknya mulai saat ini dan seterusnya.


Air mata lagi dan lagi keluar dari matanya, tak berhenti walaupun mata pemuda itu sudah sangat bengkak. Rasa sedihnya seolah tidak berujung. Rasa penyesalan dan juga marah pada dirinya sendiri membuat ia merasa dirinya tak bisa untuk dimaafkan.


"Roy, bangkitlah. Pulanglah bersamaku. Ini sudah mulai malam. Cuaca yang dingin ini bisa membuatmu sakit," ucap Andara berusaha membujuk suaminya untuk pulang. Walaupun ia sendiri tidak yakin kata-katanya akan didengar.


Gadis itu dengan sabarnya menunggu Roy sambil memegangi payung sejak mereka datang tadi. Ia tidak membiarkan tubuh Roy dijatuhi tetesan air hujan.


"Aku masih ingin di sini. Aku ingin menemani Oma ku. Kamu pulanglah, tinggalkan aku sendiri."


"Aku tidak akan kemana-mana tanpamu, Roy. "


Roy hanya menangis. Pemuda itu bersimpuh di hadapan makam neneknya. Sesekali, ia menciumi batu nisan yang menancap di sana. Pemuda itu benar-benar tidak berniat untuk meninggalkan tempat itu.


Orang tua dan kedua kakaknya sudah membujuknya sejak tadi, namun pemuda itu malah menulikan telinganya. Tidak peduli bagaimana pun mereka membujuknya untuk pulang.


Kedua orang tua dan juga kakak-kakaknya sama kehilangan nya seperti dia, namun mereka masih bisa mengendalikan diri dan mencoba untuk saling menguatkan. Berbeda dengan Roy yang seolah menolak untuk menerima kenyataan itu.


"Aku tidak akan pergi, Dara. Pergilah! Aku ingin terus di sini dan menemani Oma."


Andara menghela nafas panjang dengan air mata yang berderai. "Aku mengerti bagaimana sakitnya hatimu, tapi bukan seperti ini caranya kamu bersikap. Kamu malah akan semakin membuat Oma Idina kecewa. Kamu harus bisa menerima kenyataan ini walaupun sulit."


Roy tampak marah. "Kamu tidak mengerti. Kamu tidak berada di posisi ku. Bagaimana kamu bisa mengerti sementara kamu tidak mengalami hal yang sama dengan ku?"


"Kamu salah kalau menganggap ku tidak mengerti bagaimana perasaan mu. Aku juga pernah kehilangan. Aku juga pernah berada di posisi mu. Aku tau bagaimana rasanya dan bagaimana sulitnya untuk aku merima semua itu. Tapi aku berusaha untuk bangkit. Aku tidak ingin membuat orang yang meninggalkan ku kecewa dengan keterpurukan ku. Aku ingin membuatnya tetap bangga padaku walaupun ia tidak bisa lagi menjadi saksi atas keberhasilan ku. Maka dari itu, janganlah seperti ini, Roy. Hidupmu terlalu berharga untuk kamu abaikan. Jangan membuat perjuangan Oma mu menjadi sia-sia dengan keadaan kamu yang seperti ini. Bangkitlah dan jalani hidupmu seperti saat Oma Idina masih ada."


.


.


.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2