Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Kalian tidak tau


__ADS_3

"Gak usah marah juga lah. Kita itu cuma kasian aja sama kamu. Masa cewek secantik kamu nikahnya sama cowok kayak Roy. Berasa gak adil tau gak. Cari yang keren dikit kek. Di kampus kan banyak cowok tajir, ganteng, baik hati dan juga yang pasti, gak melambai kayak Roy." Mereka terlihat tidak sabaran.


Perkataan mereka membuat Andara menjadi semakin geram. "Ekhem! Gini ya, adil dan nggak nya, pantes dan nggak nya, apa hubungannya dengan kalian? Kalo pun kami benar-benar punya hubungan, itu adalah urusan kami. Yang jelas, Roy itu laki-laki. Kalian gak tau apa-apa, gak usah terlalu menyudutkan kami. Kalau salah satu dari kami memilih jalan yang salah gara-gara ucapan kalian, apa kalian mau bertanggung jawab?"


Andara tersenyum miring melihat mereka yang tidak bisa menjawab. "Walaupun kita dan mereka saling bersaing, tapi untuk urusan pribadi, sepertinya itu tidak bisa digabungkan. Persaingan yang kita lakukan selama ini semata-mata hanya untuk sekedar permainan. Hal yang serius tidak bisa disamakan dengan itu."


"Kita gak ada masalah sekarang dengan persaingan itu. Kita tuh cuma ngerasa gak terima aja kalo kamu punya hubungan sama dia. Bukan kita mau menyudutkan kalian, cuma ya kamu sendiri tau lah Roy itu seperti apa."


Andara mendekati mereka dan berucap dengan lirih."Jadi kalian mau menanggung dosa atas sikap tidak menerima kalian? Sikap kalian bisa membuat seseorang terjerumus ke dalam jalan yang salah dan kalian bisa mendapatkan bagian dari dosanya juga. Itu yang kalian mau?"


Mereka menunduk dan terdiam. Sebenarnya bukan seperti ini tujuan mereka. Kenapa malah sikap dan perkataan Andara membuat mereka bungkam?


Mereka kesal namun tatapan Andara membuat mereka segan untuk melanjutkan pendapat mereka.


"Lagipula, memangnya kenapa kalau Roy menjadi suamiku? Bukannya dia juga laki-laki? Kalian kan tidak tau seperti apa sifat aslinya Roy."


Mereka saling menatap dengan bingung, lalu menatap Andara dengan ekspresi bertanya. Apa maksud dari perkataan gadis itu?


Andara mencondongkan tubuhnya ke dekat mereka. "Kalian tau tidak? Lelaki gemulai itu bisa menjadi perkasa dan juga mendominasi sesuatu dengan lincah. Hihi... Bahkan kelincahannya bisa mengalahkan kita sebagai perempuan."


Dan orang-orang itu hanya melongo dengan penuturan Andara. Mereka kurang lebih tau dengan maksud dari perkataan gadis itu. Tapi kenapa dia mengucapkannya tanpa terlihat malu sedikitpun?


Mereka sampai tak tau harus berucap apa, sementara Andara tertawa sendirian dan membuatnya menjadi terlihat aneh.


"Mm...ekhem.." Andara berdehem lalu memperbaiki ekspresinya setelah sadar bahwa ucapannya berdampak pada teman-temannya. Gadis itu jadi merasa malu sendiri.


"Ah sudahlah." Andara berlalu begitu saja dari hadapan mereka. Sejujurnya gadis itu tidak tau kenapa ia bisa mengatakan hal demikian dengan santainya. Mungkin karena ia terlalu kesal dengan perkataan mereka. Walaupun kehidupannya sebenarnya bisa membuat mereka bertambah menggunjingkan nya.


Andara berjalan menuju kamar kostnya. Tapi semakin ia berjalan masuk, semakin ia merasa malu karena ucapannya sendiri.


.


.


.

__ADS_1


Andara keluar dari kamar kostnya setelah hari sudah sangat sore. Gadis itu menengok ke sana kemari untuk melihat teman-temannya yang tadi siang mencibir nya.


Ia menghembuskan nafas lega karena mereka tidak terlihat berada di luar. Akhirnya gadis itu melangkahkan kakinya keluar dari kamar kostnya.


Ia berniat untuk bertemu dengan Roy di tempat mereka biasa nongkrong. Gadis itu terlihat senang saat melihat pesan dari Roy yang mengatakan bahwa pemuda itu sudah menunggunya di depan gerbang. Andara nampaknya lupa kalau pertemuan mereka di depan kost bisa menimbulkan banyak masalah.


Andara berjalan dengan santainya sambil tersenyum. Tampak tidak memiliki beban apapun. Namun langkahnya terhenti saat Karin memanggilnya dari belakang. Gadis itu pun menoleh dengan perasaan heran.


"Ada apa? Apa kamu mau pesan sesuatu?"


"Tidak. Sepertinya aku tidak jadi untuk istirahat sekarang. Aku akan pergi ke Cafe. Mari kita berangkat bersama."


Andara tampak kebingungan. Dia tidak mungkin menolak permintaan Karin, tapi ia bingung dengan Roy yang berada di depan sana.


"Ayo," ajak Karin yang malah sudah berjalan mendahului Andara.


Andara mau tidak mau akhirnya berjalan mengikuti Karin. Ia yang terlihat kebingungan tidak menyadari tatapan teman-temannya yang saat ini sedang melihat ke arahnya dengan tatapan kesal.


"Kamu kenapa sih? Kok malah melamun?" tanya Karin yang menyadari Andara berjalan dengan lambat.


Andara segera menghampirinya tanpa bisa menormalkan ekspresi wajahnya. Gadis itu masih saja terlihat bingung.


Kedua gadis itu langsung bertemu dengan seseorang yang berdiam diri di depan gerbang. Tatapan mereka bertemu dengan seorang pemuda yang terlihat... Sedih?


Karin yang melihat pemuda itu berdiam diri, ia jadi merasa heran. "Kamu ngapain diam disitu?"


Pemuda itu tidak menjawab dan malah menatap wajah Andara lalu melihat tangan Karin dan Andara yang saling bertautan. Andara terlihat tak enak hati.


"Ck! Orang ditanya juga. Pacarmu minggat ya? Bengong aja." Lalu Karin melangkah pergi tanpa ingin memperdulikan lagi pemuda itu.


Andara melihat ke arah Roy sebelum ia pergi bersama Karin. Andara benar-benar merasa tidak nyaman dengan tatapan sedih suaminya. Tapi, ia tidak bisa melakukan apa-apa sekarang.


Andara berjalan menunduk dengan tangannya yang masih digenggam oleh Karin. Sementara Karin berjalan dengan santainya sambil melihat ke kanan dan kiri jalan.


Tap

__ADS_1


Tap


Tap


Suara langkah kaki seseorang yang terdengar seperti berlari membuat Andara dan Karin menengok ke belakang. Karin merasa bertambah heran karena Roy berlari menghampiri mereka.


Pemuda itu mengatur nafasnya sebelum berucap, "Kalian mau kemana?" tanyanya tanpa terlihat sungkan padahal ia tidak akrab sama sekali dengan Karin.


Karin menautkan kedua alisnya. "Aku mau ke Cafe. Memangnya kenapa? Kok tumben sekali kamu mau dekat dengan kami? Gak takut kalau nanti pacarmu marah?"


"Tidak masalah. Aku hanya ingin berjalan-jalan. Lalu kamu mau kemana, Dara?"


Andara mengerjap seolah terkejut. Ia tampak berpikir sebelum menjawab, "Aku mau ke Cafe juga. " Jawabannya membuat Karin menatapnya bingung. Karena gadis itu berpamitan pergi ke suatu tempat pada Karin.


"Apa aku boleh ikut?"


Karin bertambah heran dan mulai kesal pada pemuda itu. Namun respon Andara yang terlihat antusias menghentikannya untuk memarahi Roy.


"Tentu saja boleh. Karin, biarkan dia ikut kita ya? Menurutku tidak ada masalah kalau dia berjalan bersama kita."


"Hah? " Karin tertawa pelan, terlihat tidak percaya dengan ucapan Andara. "Terserah sajalah. Tapi awas kalau kamu membuat ulah dengan berjalan bersama kami."


Roy tersenyum senang. "Terima kasih. Aku berjanji tidak akan membuat ulah." Dan pemuda itu tersenyum penuh arti pada Andara.


Mereka bertiga akhirnya berjalan bersama menuju Cafe. Sesekali, Roy dan Andara saling melempar senyum dengan tatapan yang manis. Sementara Karin tetap sibuk melihat sekeliling jalan.


Ketiga orang itu sampai di Cafe tanpa terlihat kelelahan sedikitpun. Andara langsung mempersilahkan Roy untuk memilih tempat duduk. Pemuda itu tersenyum dan melihat ke sekeliling Cafe.


"Aku akan duduk di sana," ucap pemuda itu lalu berjalan menuju meja yang ia maksud. Tatapan Andara menyertainya sampai ia duduk dengan tenang di kursinya.


Sementara itu, Karin merasa ada yang aneh dengan sikap Andara. Gadis itu tampak tidak senang karena Andara bersikap baik pada Roy.


.


.

__ADS_1


.


bersambung...


__ADS_2