
"Kalian mau pada kemana?" tanya salah satu dari mereka.
"Aku mau ke rumah orang tua ku," jawab Andara sambil tersenyum.
"Oh... Hati-hati,ya."
"Iya, makasih."
"Kamu kesana sama siapa?"
"Sebentar lagi supir ku datang. Aku mau pamit sama ibu kost dulu."
Teman-temannya mempersilahkan Andara untuk berpamitan pada ibu kost. Andara ke sana ditemani oleh Karin.
"Barusan Roy juga pergi loh," ucap salah satu dari mereka pada Rika.
Rika menatap mereka dengan hati yang sedikit penasaran. "Pergi ke mana?"
"Gak tau. Barusan dari dalam mobil keluar cowok yang tampilannya rapi banget. Terus orang itu kayaknya sopan banget sama Roy."
"Oh... "
"Kamu tau itu siapa?"
Rika mengedikkan bahunya. "Mana aku tau. Aku tau aja dari kalian."
Teman-temannya hanya berdecak dan tak lama Andara dan Karin keluar dari rumah ibu kost. Mereka berjalan menghampiri teman-temannya tapi Andara mengganti tujuan langkahnya saat ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan gerbang kost Putri.
"Supir ku udah datang. Aku pergi dulu,ya. "
"Iya." Mereka tersenyum dan menatap kepergian Andara.
Andara berjalan meninggalkan teman-temannya ditemani oleh Karin dan Rika. Mereka mengantarkan nya sampai ke depan gerbang. Supir membukakan pintu mobil namun Andara tidak langsung masuk. Gadis itu berbalik dan menatap wajah Karin dengan lekat.
"Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik disini. Aku pasti segera kembali."
"Pergilah. Dan yang seharusnya menjaga diri baik-baik adalah kamu. Walaupun kamu disana bersama keluarga mu. Lagipula, kamu cuma pulang ke rumah orang tua mu yang jaraknya cuma satu jam perjalanan dari sini. "
Andara hanya tertawa kecil. "Ya, benar juga. " Lalu ditatapnya wajah Rika yang melihat interaksi mereka berdua. "Aku pergi dulu ya, Rika. Aku titip Karin sama kamu. Laporin aku kalau dia macam-macam."
Rika tersenyum dan mendekatinya. "Siap. Kamu hati-hati ya."
Karin dan Rika memeluk Andara secara bergantian, hanya pelukan persahabatan. Kemudian Andara masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya pada Karin dan Rika.
Mobil itu pun melaju meninggalkan area kost Putri. Meninggalkan orang-orang disana yang masih menatap kepergian mobil itu hingga jauh. Meninggalkan nya dan membuat semuanya menjadi awal yang baru.
.
.
.
"Kenapa kamu sendiri yang menjemput ku?" Roy memulai obrolan saat dirasa suasana di dalam mobil terasa begitu sunyi. Memulai obrolan tanpa nada angkuh sedikitpun, seperti biasanya.
"Tuan Scott yang memerintahkan saya untuk melakukan nya, Tuan Muda," jawab orang yang merupakan asisten dari ayahnya Roy itu dengan datar tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
"Oh. Lalu dimana dia sekarang?"
"Beliau sedang ada urusan."
"Memangnya kapan dia tidak ada urusan?"
"Anda pasti sudah tau sendiri jawabannya."
Roy hanya membuang nafas nya seolah dirinya lelah. Pemuda itu menyandarkan tubuhnya ke kursi dan melihat ke arah luar. Memandang suasana kota yang ramai di sore hari itu.
__ADS_1
"Apakah Oma benar-benar sakit?" tanya Roy tanpa mengalihkan pandangannya.
"Iya. Beliau bahkan sudah tidak bisa bangun. Beliau hanya terbaring di tempat tidur."
Roy menatap lawan bicara nya dengan tatapan yang kurang percaya. "Aku harap kamu tidak berbohong."
"Sama sekali tidak, Tuan Muda. Bahkan sudah lebih dari tiga bulan ini Nyonya berada di sana untuk menemaninya."
Kini raut wajah Roy menjadi terlihat khawatir. "Apakah benar-benar parah? Lalu kenapa kalian tidak segera menghubungi ku dan menyuruhku untuk pulang?"
"Anda sendiri memiliki kegiatan yang mungkin saja tidak bisa diganggu."
"Itu bukan alasan untuk kalian tidak mengabari ku. " Tatapan Roy menjadi terlihat tidak bersahabat.
"Nyonya besar juga melarang kami untuk melakukan itu, Tuan Muda."
"Tapi kenapa?"
"Saya tidak tau, Tuan Muda."
Dan Roy akhirnya menyandarkan tubuhnya dengan kasar ke kursi. Membuang nafasnya kasar dengan wajah yang tampak kesal.
"Lalu bagaimana dengan Daddy? Apakah dia tidak ikut merawat Oma?"
"Tuan Scott memiliki urusan yang sangat penting sehingga dia menyerahkan tanggung jawab itu pada Nyonya Diana. "
"Sangat penting kah sampai dia tidak bisa merawat ibunya sendiri? Padahal dia tau keadaan ibunya sudah seperti itu."
"Saya tidak bisa menjelaskan nya tapi itu adalah urusan yang sangat penting. Ini juga demi Anda, Tuan Muda."
Roy tersenyum sinis. "Selalu aku yang menjadi alasan atas kesibukan mereka."
"Dan ini juga demi Nyonya Besar. Hasil dari urusan penting ini bisa menyembuhkan beliau. Lagipula Tuan Scott bukan seorang dokter."
"Beristirahat lah, Tuan Muda. Perjalanan kita masih jauh."
.
.
.
"Mami!!" pekik seorang gadis sambil merentangkan kedua tangannya saat gadis itu turun dari mobil.
"Sayang..." Seorang wanita paruh baya menyambut nya dengan bahagia. Mereka saling memeluk melepas rindu setelah beberapa bulan tidak bertemu.
"Mami sehat kan?"
"Seperti yang kamu lihat. Kamu sendiri bagaimana?"
"Aku akan selalu sehat jika bertemu dengan Mami."
Wanita paruh baya itu mencubit gemas pipi putrinya. "Kamu ini bisa saja."
"Papi mana, Mi? Dara kangen juga sama Papi."
"Maaf , sayang. Papi kamu lagi ada urusan. Jadi dia tidak bisa menyambut kedatangan mu."
Gadis yang tak lain adalah Andara itu memajukan bibirnya dengan gemas. Ibunya segera membujuknya agar gadis itu tidak bersedih. "Tapi kita juga akan menemuinya nanti." Andara masih saja terlihat tidak senang.
"Mami sebenarnya mau mengajak kamu pergi."
Setika raut wajah Andara berubah menjadi antusias. "Pergi ke mana, Mi? "
"Tapi kamu pasti lelah. Kamu kan baru sampai."
__ADS_1
"Mami jangan buat aku penasaran dong. Dari kost ke sini gak sampe dua jam loh, Mi. Ini lama karena tadi macet aja."
"Jadi kamu gak pa-pa kalau kita pergi sekarang?"
"Aku siap. "
"Kita akan pergi ke Surabaya."
Andara menautkan kedua alisnya. "Surabaya?"
"Iya. Mami udah beli tiket pesawat menuju ke sana."
"Wah... Ternyata Mami udah rencanain ini ya? Aku mau kok pergi sekarang."
Wanita itu tersenyum sambil mengelus rambut putrinya dengan sayang. Lalu mereka masuk ke rumah dan tak lama keluar lagi dengan menenteng tas berukuran kecil.
.
.
.
"Sebenarnya siapa yang akan kita temui di sana, Mi?" tanya Andara saat mereka sudah berada di pesawat.
"Oma."
"Oma? Oma ada di Surabaya? Sejak kapan? Bukannya Oma ikut Aunty Tanaya ke Rusia? Kapan dia kembali ke Indonesia?"
Wanita itu tersenyum mendengar pertanyaan beruntun dari putrinya. "Kamu jadi cerewet begini? "
"Mami..."
"Sahabat lama Oma tinggal di Surabaya. Saat ini beliau sedang sakit. Oma datang menjenguknya bahkan sudah disana sejak beberapa hari yang lalu. Mungkin kamu akan ingat saat bertemu dengan mereka nanti."
"Aku pernah bertemu dengan sahabat lama Oma?"
"Tentu saja. Saat kamu masih kecil, Oma dan sahabat lama nya sering bertemu. Sahabat lama Oma membawa cucunya setiap kali bertemu. Kamu dan cucu nya selalu akur bermain bersama. Kamu tidak ingat?"
"Tidak. Mungkin karena kejadian itu sudah belasan tahun berlalu. Oh ya, siapa nama cucunya?"
"Namanya adalah Clarence. Dia juga kuliah di Jakarta,loh."
"Oh ya? Wah... Aku jadi semakin penasaran. Kayak apa ya dia sekarang? Apa dia masih ingat sama aku? Dia sekarang ada di Surabaya juga kan, Mi?"
"Mami kurang tau kalau masalah itu. Yang Mami tau dia kuliah di Jakarta."
"Oh..."
Tak jauh dari tempat duduk mereka di sana, seorang pemuda duduk dengan mata yang terpejam. Matanya terpejam namun telinga nya masih mendengar dengan jelas percakapan beberapa orang yang duduk berdekatan dengannya. Apapun yang dikatakan oleh orang lain, pemuda itu enggan untuk membuka matanya.
"Oma... Clarence pulang..." batinnya.
.
.
bersambung...
.
.
.
salam dari Yuya 😘😘
__ADS_1