
Andara menjalani aktivitasnya dengan lemas. Gadis itu seolah tidak bersemangat untuk melakukan hal apapun. Selama di kampusnya, dia selalu saja terlihat murung. Bahkan dia seperti ingin memarahi semua orang yang tidak sengaja berpapasan dengannya, itu berarti hampir semua orang.
Brak!!
Andara menaruh dengan keras tasnya di meja. Temannya yang duduk tak jauh dari sana sampai terkejut dengan apa yang dilakukan olehnya. Mereka bertanya dan juga menegurnya.Tapi Andara seolah tidak peduli, gadis itu tetap saja cemberut.
Suara notifikasi pesan yang masuk ke ponselnya membuat Andara mau tidak mau melihat benda yang ia simpan di tasnya itu. Gadis itu dengan malas melihat ponsel yang untungnya tidak rusak saat tas itu dibantingnya.
Kedua alis Andara mengkerut saat melihat pesan dari Roy. 'Aku ada di kantin, kemarilah.'
Andara mendengus. "Seenaknya saja dia memerintahku. Memangnya dia siapa?" Namun gadis itu tetap bangkit menuju kantin.
.
.
.
Andara mengedarkan pandangannya saat ia sampai di kantin. Gadis itu mencari keberadaan Roy di antara banyaknya orang yang duduk di sana.
Andara mengerutkan keningnya saat melihat Roy yang sepertinya sedang diganggu oleh beberapa mahasiswa di sana. Roy yang diam saja membuat orang-orang itu kesal dan mendorong bahu Roy sampai pemuda itu jatuh dari kursi yang didudukinya.Andara melihat itu dengan kesal sambil berjalan menghampiri mereka.
Beberapa mahasiswa itu tertawa dan diikuti oleh beberapa orang yang lainnya. Mereka terlihat tidak peduli sama sekali dengan keadaan Roy. Roy mencoba untuk duduk kembali tanpa memperdulikan mereka, namun salah satu dari mereka hendak mendorongnya lagi. Tapi tangan Andara segera menghentikan apa yang akan dilakukan oleh orang itu.
Andara menghempaskan tangan seseorang yang ingin mendorong Roy. Tatapan heran orang-orang disana tidak dipedulikan oleh gadis itu. Andara menatap mereka dengan tajam dan mengusir mereka dengan bengisnya.
"Pergi lu semua!"
"Lu kenapa ikut campur? Ini bukan urusan lu."
"Bukan urusan kalian juga gue ikut campur atau nggak. Yang pasti, kalo kalian ataupun siapa aja gangguin dia, abis kalian semua!"
Orang-orang di kantin melihat apa yang mereka lakukan. Orang-orang itu berbisik-bisik dan keheranan dengan apa yang dilakukan oleh Andara.
Salah satu dari mahasiswa yang mengganggu Roy tampak tidak setuju dan tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh Andara. Pemuda bertubuh tinggi dan gagah itu menatap Andara dengan lekat. "Apa hubungannya lu sama dia? "
__ADS_1
Andara menatapnya dengan malas. "Dia pacar gue."
Seketika suasana di kantin menjadi riuh. Mereka seperti mendengar kabar berita yang begitu besar. Bagaimana tidak, seorang Andara yang menjadi pujaan banyak orang memiliki hubungan dengan orang seperti Roy? Tentu saja kabar itu membuat seluruh kantin menjadi ramai.
"Udaaahh!! Berisik lu semua! Mending kalian pergi dari sini!"
Tapi pemuda itu masih saja diam di tempatnya. Orang-orang di sana sudah tidak seramai tadi.
"Lu kalo mau belain orang ya jangan berlebihan juga. Gue tau lu cuma mau nolongin dia aja. Gak mungkin kan kalo lu pacaran sama orang kayak dia." Pemuda itu menatap Andara dengan gundah. Terlihat sekali bahwa pemuda itu menyukai Andara.
Tapi Andara sama sekali tidak peduli dengan pemuda itu. "Ngapain gue bohong? Emang kenapa kalo gue pacaran sama dia? Masalah buat lo? Daripada gue pacaran sama orang kayak kalian, alangkah jauh lebih baik kalo gue pacaran sama Roy." Andara tersenyum mengejek ke arah mereka.
Akhirnya pemuda itu pergi dengan amarah yang terlihat sekali di wajahnya. Teman-temannya segera pergi mengikutinya. Suasana kantin menjadi seperti semula, tapi tatapan orang-orang di sana seolah tak bisa beralih dari Andara dan Roy.
"Gue gak suka ya kalian ikut campur urusan gue. Awas aja kalo kalian nguping, gue colok ntar telinga kalian!"
Seketika orang-orang di sana tidak ada yang berani melihat ke arahnya. Mereka semua kembali pada kesibukan masing-masing.
Andara berbalik menatap Roy yang sedari tadi terdiam menatapnya. Roy menatap Andara tanpa ekspresi. Andara menjadi semakin kesal dan mendudukkan tubuhnya dengan sedikit keras ke kursi yang berada di depan Roy.
Gadis itu terdiam sambil melipat kedua tangannya di dada. Andara sama sekali tidak melihat ke arah Roy.
Tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya membuat Andara melihat dengan kesal ke arah Roy. "Terus kenapa sekarang lu cuma diem? Lu nyuruh gue kesini cuma buat ngeliatin muka datar lu?" Roy masih saja diam.
"Ish! Lu nyebelin tau gak? " Andara terlihat ingin menangis.
"Terus aja lu diem. Gak usah jawab gue. Gue khawatir juga lu gak usah peduli. Terserah lu mau ngapain! Gue bukan siapa-siapa lu juga, kan?" Dan akhirnya Andara menitikkan air matanya.
Gadis itu menangis pelan sambil menutupi wajahnya menggunakan tas. Perlahan, tas yang ia pegang diturunkan oleh seseorang.
Roy mengusap air mata di pipi gadis itu. Andara terisak sambil menatap wajah Roy. "Maaf," ucap Roy lirih.
Tapi Andara malah terlihat semakin ingin menangis. Roy menjadi semakin tidak tega. Sungguh dia diam bukan karena sengaja, tapi ia tidak menyangka kalau Andara akan membelanya dan mengatakan hal demikian.
"Lu jahat tau gak? Lu seenaknya aja gak kasih gue kabar. Emang ya gue bukan apa-apa lu, tapi gue khawatir tau gak? " Andara mengusap air matanya sendiri, tapi air itu masih saja mengalir.
__ADS_1
Roy tertegun sejenak, sungguh ia juga tidak menyangka Andara bisa sekhawatir itu padanya. Bahkan sepertinya tangisannya bukan karena hal yang baru saja terjadi, tapi karena kekhawatiran gadis itu terhadapnya.
"Aku cuma ingin memberimu kejutan."
Andara cemberut dengan menggemaskannya. "Kejutan apaan? Kalo tadi pagi kita gak ketemu, emang lu mau kasih tau gue kalo lu udah pulang?" Tanya Andara dengan suara isak tangisnya yang masih tersisa.
"Tentu saja. Aku sebenarnya sudah merencanakan ini, tapi malah Thanit dan Karin membuat keributan tadi pagi. Itu sungguh diluar dugaan ku."
"Lu bohong."
Roy tersenyum. Tidak menyangka bahwa sikap Andara ternyata bisa seperti ini. Selama ini dia mengenal Andara adalah seorang gadis cantik yang ramah.Sama sekali tidak pernah ia sangka Andara bisa segalak itu pada orang lain dan bersikap seperti sekarang ini.
"Aku tidak bohong. Aku minta maaf karena membuatku khawatir. Tapi aku baik-baik saja. Jangan mengira aku tidak menganggap mu siapa-siapa."
"Heuh! Ya udah deh,gue maafin." Andara masih terlihat kesal.
"Terus itu mata kamu kenapa?" tanyanya yang sudah mengubah nada dan gaya bicaranya.
"Ini karena aku terkena angin malam kemarin. Aku datang ke kost saat orang-orang sudah akan tidur."
Andara memicingkan matanya tidak percaya. "Kamu bohong kan? Kamu habis nangis? Kamu selama di sana nangis terus kan?"
Roy tertawa pelan. "Tidak. Aku tidak bohong,kok." Andara masih saja terlihat tidak percaya.
Sementara itu, orang-orang di sana tampak berbisik-bisik saat Roy dan Andara sibuk mengobrol. Walaupun mereka tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Andara dan Roy, tapi mereka tetap mengira hubungan Roy dan Andara seperti yang gadis itu katakan.
"Kayaknya beneran deh Andara pacaran sama Roy. Tapi kok dia mau ya pacaran sama cowok melambai kayak gitu? Kalo gue sih ogah. Bisa apa coba cowok kayak gitu?"
"Iya, gue juga gak mau."
"Iiihh amit-amit deh..."
.
.
__ADS_1
.
bersambung...