Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Sebagai teman


__ADS_3

"Aku tau kamu merasa bersalah,tapi kamu jangan menyiksa dirimu sendiri. Kalau kamu merasa bersalah, lakukanlah sesuatu yang membuat Oma Idina tidak kecewa. Kamu pasti tau apa saja yang ia inginkan. Aku sebagai temanmu tidak ingin memaksa. Tapi kalau pikiran dan kesehatan mu terganggu karena hal itu, sebaiknya lakukan saja. Selama itu adalah hal yang baik. Tapi tidak mungkin kan kalau Oma mu menginginkan sesuatu yang buruk terjadi padamu?"


Roy terdiam sebelum menjawab, "Tentu saja, Oma ku menginginkan hal yang terbaik untuk ku. "


"Aku hanya bisa menyarankan, selama itu tidak membebanimu, apa salahnya untuk dicoba. Iya, kan?"


Roy menatap wajah Andara. Dalam hatinya ia ingin tertawa. "Apakah reaksinya akan sama kalau ia mengetahui sesuatu yang diinginkan oleh Oma ada hubungannya dengan dia? " Roy hanya bisa berucap dalam hati. Tak ingin mengubah sesuatu yang belum tentu bisa untuk diubah.


"Yah... Baiklah. Tidak ada salahnya memang untuk mencoba itu. Terima kasih karena kamu selalu bisa untuk menghibur dan memberiku saran. Aku tidak tau bagaimana jadinya jika tidak ada kamu disini."


Andara tertawa pelan. "Ucapanmu terlalu berlebihan. Lagipula kamu disini punya keluarga. Mereka pasti akan bersedia untuk menemanimu. Kamu juga cobalah untuk tidak terlalu menutup diri, mereka itu keluarga mu. Sebelum sesuatu yang tidak kamu inginkan terjadi pada mereka, aku sarankan kamu memberi mereka kesempatan untuk lebih dekat dengan mu. Aku yakin mereka juga menyayangimu. Hanya saja mereka tidak pandai untuk menunjukkan nya padamu."


Roy membuang nafas panjang dan menatap lurus ke depan. Tatapannya seolah tidak setuju dengan hal itu. "Haahhh... Entahlah. Aku tidak tau. Aku tidak mengerti dengan apa yang tidak terlihat. Yang aku fahami adalah hal yang selalu terlihat olehku."


Andara terdiam, bingung harus mengatakan apa lagi pada Roy. Sementara dia sendiri tidak tau apa yang sudah terjadi pada Roy dan keluarganya. Roy yang menyadari perubahan ekspresi Andara, menepuk pelan bahu gadis itu.


"Mikirin apa?"


Andara yang sedikit melamun merasa terkejut. "Eh? Tidak ada."


"Tidak usah terlalu memikirkan bagaimana hubungan ku dengan keluarga ku. Aku sudah terbiasa seperti ini. Kamu pikirkanlah hubungan mu dengan keluargamu. Apalagi Oma Claudy sudah sangat renta. Bahagiakanlah mereka sebelum kamu tidak bisa melakukan hal itu. Ingat, penyesalan itu adanya belakangan. "


Andara tersenyum walaupun merasa sedikit aneh mendengar ucapan Roy. "Tentu saja aku akan membahagiakan mereka. Lagipula hubungan ku dengan keluarga ku baik-baik saja. Kamu tidak mendoakan agar Omaku cepat meninggal bukan?" Andara memicingkan matanya.


Roy tampak gemas dengan pemikiran gadis itu. "Tentu saja tidak. Kamu ini bagaimana? Bukannya barusan kamu sendiri yang bilang, sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan? Kita tidak tau apa yang akan terjadi di hari berikutnya,kan? "


Andara berdecak. "Hem.... Baiklah. Aku terima alasanmu, karena itu memang benar."


"Kalau begitu cepatlah pergi. Orang tuamu pasti sudah menunggu."

__ADS_1


"Kamu mengusirku?" tanya Andara dengan ekspresi tak percaya.


"Terserahlah kalau kamu masih ingin tinggal. Aku tidak ingin berdebat."


Andara memanyunkan bibirnya. "Baiklah. Aku pergi dulu. Kamu jaga dirimu baik-baik sampai hari dimana kita bertemu lagi. Jangan berbuat yang macam-macam. Aku tidak ingin menjadi janda sedangkan tidak ada yang tau kalau aku sudah menikah."


Roy seakan tersedak ludahnya sendiri dan tertawa. "Janda?Aku malah lupa kalau kamu adalah istriku." Andara semakin cemberut.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan bunuh diri karena terlalu depresi."


"Haah... Baiklah. Aku pergi."


Andara mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Roy sebelum dia pergi. Namun apa yang dilakukan oleh Roy malah membuatnya terpaku.


Pemuda itu malah memeluknya dengan erat. Menepuk-nepuk bahu Andara dengan pelan. "Selamat tinggal. Aku pasti akan merindukan pelukanmu. Aku tidak tau apakah aku bisa tidur nyenyak lagi setelah bermimpi buruk tanpa kamu di sampingku. Tapi jangan khawatir, aku akan berusaha untuk membuat diriku baik-baik saja. Kamu harus tetap pergi dan jaga dirimu baik-baik."


Andara terdiam beberapa saat dengan posisi tangannya yang masih seperti semula. Kemudian gadis itu tersadar dan menepuk-nepuk punggung Roy sambil tersenyum. "Kita akan bertemu lagi,kan? Kenapa ucapanmu seperti itu? Aku akan berusaha untuk menenangkan mu dari mimpi burukmu walaupun aku tidak bersamamu."


"Baiklah, terima kasih. Ayo sekarang kita turun. Kasihan orang tuamu kalau terlalu lama menunggu."


Mereka mengurai pelukannya dan saling tersenyum. Berjalan keluar dari kamar itu menuju ruang tamu yang terdapat beberapa orang disana.


Keluarga Andara dan Roy tampak tersenyum senang saat melihat mereka turun bersama dan terlihat akrab. Mereka sebenarnya tidak pernah menyangka Roy dan Andara bisa sedekat ini dalam waktu yang singkat. Tapi mereka jelas bersyukur dengan keadaan itu.


Roy mengantarkan keluarga Andara sampai ke depan gerbang. "Maaf, aku tidak bisa mengantarmu sampai ke bandara. "


"Tidak masalah. Lagipula aku tidak sendirian," ucap Andara sambil masuk ke dalam mobil.


Roy tersenyum sambil memegangi pintu mobil. "Pergilah. Jaga dirimu dan Oma Claudy baik-baik. "

__ADS_1


"Baiklah. Kamu berpesan seperti itu terus dari tadi. Aku harap kamu juga menjaga dirimu dengan baik. Ingat ya, aku tidak ingin menjadi janda secepat itu." Andara berbisik-bisik di akhir ucapannya. Roy hanya tersenyum lalu membiarkan mobil yang ditumpangi oleh Andara pergi meninggalkan rumahnya.


Pemuda itu masih disana padahal mobil yang ditumpangi istrinya sudah tidak terlihat sama sekali. Ekspresi wajah pemuda itu berubah-ubah. Seperti bukan Roy yang biasanya.


.


.


.


Andara duduk bersebelahan dengan Oma Claudy di pesawat. Sementara Tuan Guzov duduk bersama istrinya di depan kursi yang mereka duduki. Andara banyak sekali mengobrol dengan nenek tersayangnya itu.


"Oma senang, kamu ternyata bisa seakur itu dengan suamimu. Padahal kamu menikah dengannya karena permintaan keluarga. Oma tau kamu merasa terpaksa. Oma minta maaf atas itu.Tapi Oma sangat berterima kasih,kamu sudah mengabulkan keinginan Oma Idina. Entah apa jadinya kalau keinginannya tidak terpenuhi. Mungkin dia akan pergi dengan jiwa yang tidak tenang dan kami yang ditinggalkan pun akan merasa sangat bersalah."


Andara mengusap punggung tangan Oma Claudy karena wanita itu terlihat sedih sekali. "Oma... Jangan terlalu bersedih walaupun perasaan sedih itu diwajarkan. Keinginan Oma dan Oma Idina sudah terwujud. Kami bahkan sangat akur. Oma tenang saja,ya. Sekarang Oma juga jangan terlalu menghawatirkan aku. Aku kan sudah punya suami." Terlihat sekali bahwa Andara berusaha untuk menghibur neneknya.


"Terima kasih, sayang. Oma bahagia dengan pernikahanmu. Oma hanya masih merasa sedih karena ditinggalkan oleh sahabat Oma. "


Oma Claudy menghela nafas panjang. "Oma ingin sekali bisa menemanimu sampai kalian memiliki keturunan. Setelah itu, kalaupun Oma pergi, Oma akan merasa tenang. Kamu sudah memiliki keluarga yang utuh. Ada anak dan suamimu yang akan menjaga mu."


Wajah Andara berubah datar. "Hah?" Mendadak otaknya sulit untuk berpikir.


"Kenapa, sayang?" Oma Claudy jelas bingung dengan sikap cucunya. Tapi Andara tidak merespon ucapannya. Gadis itu masih saja terlihat seperti orang yang kehilangan ingatannya.


.


.


.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2