Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Berbakat


__ADS_3

Kejadian beberapa saat yang lalu membuat sikap Andara berubah. Gadis itu terlihat canggung saat Roy dengan santainya memandangi wajahnya.


Roy seolah memiliki harapan baru. Sejujurnya pemuda itu ingin sekali menampakkan senyumannya, namun ia rasa itu pasti akan membuat sikap Andara lebih canggung lagi terhadapnya.


Roy menatapi dengan leluasa wajah gadis yang saat ini sedang memoleskan make up pada wajahnya. Me-makeover wajah Roy seolah menjadi keinginan gadis itu sejak awal.


Namun kejadian yang tidak terduga membuat suasana diantara mereka menjadi canggung. Andara sebisa mungkin untuk tidak menatap mata suaminya. Gadis itu benar-benar gugup. Apalagi ia tau kalau saat ini Roy sedang memandangi wajahnya dengan lekat.


'Huhu... Kenapa juga aku melakukan hal itu? Apa yang aku pikirkan tadi? Pasti saat ini dia sedang berpikiran buruk terhadapku. Ya Tuhan... Aku benar-benar malu.'


Andara rasanya ingin menangis saking malunya. Ia seperti ingin merengek sambil menggulingkan-gulingkan tubuhnya, andai saja Roy tidak ada di sana.


'Aku sungguh tidak mengerti kenapa aku melakukan hal itu. Dan kenapa aku menyukainya?'


"Selesai," ucap Andara dengan lirih saat wajah Roy sudah benar-benar berubah.


Pemuda itu tampak cantik walaupun tidak mirip dengan Andara seperti yang gadis itu katakan.


Roy melihat pantulan wajahnya di cermin, sementara Andara menyibukkan dirinya dengan merapikan kembali alat makeup nya.


Roy tampak kagum dengan hasil karya Andara. Pemuda itu refleks menarik sudut bibirnya karena merasa takjub dengan keahlian yang dimiliki oleh Andara.


Walaupun ia tidak bisa menepis perasaan aneh ketika melihat pantulan wajahnya di cermin. Padahal dulu ia sempat menginginkan memiliki wajah yang cantik seperti itu. Namun kenapa sekarang perasaannya berbeda?


'Apakah aku sudah kembali menjadi laki-laki normal? Melihat wajahku yang cantik ini, kenapa perasaanku tidak seperti dulu? Padahal aku dulu menginginkannya.'


Roy melirik Andara tanpa gadis itu ketahui. Ia tersenyum penuh arti melihat gadis yang berstatus sebagai istrinya itu. 'Apakah ini pertanda dia juga menginginkan pernikahan ini berjalan dengan semestinya? Apa sekarang aku bisa berharap lebih? '


Pemuda itu terus saja tersenyum dengan cermin sebagai penutup sebagian wajahnya agar Andara tidak melihat apa yang ia lakukan.


'Ingin rasanya aku mengatakan bahwa, bibirmu benar-benar manis. Namun tidak mungkin kan kalau aku mengatakan itu? Apa kamu bisa menjawab, kenapa aku tidak merasa terganggu dengan perbuatan mu dan bahkan menerimanya dengan senang? Bisakah dikatakan kalau aku mulai menyukaimu sebagai istriku? Ya Tuhan... Mudahkanlah jalanku untuk berubah. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk hubungan rumah tangga ku ini.'


Roy tertegun sambil tersenyum. 'Rumah tangga? Kenapa itu baru terdengar manis saat ini? Dan aku sudah menjadi seorang suami. Kenapa rasanya berbeda mengingat hal itu sekarang?'


Roy tak bisa menahan senyumannya namun hanya berani untuk membatin. Pemuda itu tidak berani untuk mengungkapkan semuanya. Ia tidak ingin mengecewakan dan juga tak ingin merasa kecewa. Ia ingin berusaha untuk berubah dulu dengan sebaik-baiknya. Bersama Andara di sampingnya.

__ADS_1


Mereka berdua duduk di kasur tanpa saling berdekatan. Sebenarnya Andara yang memilih untuk memberi jarak di antara mereka. Terlihat sekali bahwa Andara merasa sangat canggung. Berbagai perasaan seolah bercampur aduk dalam hatinya.


"Ini bagus. Kamu benar-benar berbakat dalam mengubah penampilan seseorang," ucap Roy sambil melihat cermin, mencoba untuk mencairkan suasana yang canggung itu.


Andara tersenyum tipis dan meliriknya sekilas untuk merespon. "Hem... ya, terima kasih."


"Tapi, apakah rambutku dibiarkan begini saja?" Tanya Roy apa adanya lalu menatap Andara yang kebetulan sedang menatapnya juga.


Gadis itu terlihat gelagapan saat mendengar pertanyaan Roy. Ditambah lagi dengan tatapan pemuda itu yang entah kenapa sekarang mengganggu kesehatan jantungnya.


"Ah! Itu... Akan aku ambilkan sesuatu untukmu."


Kemudian Andara berjalan menghampiri lemari besarnya. Andara tampak salah tingkah saat ia tak kunjung menemukan apa yang dicarinya. Gadis itu seolah ingin menjerit. 'Haaa... Kenapa keadaan tidak mendukung ku? Kemana perginya rambut palsu itu?'


Andara yang tak kunjung menemukan apa yang dicarinya membuat Roy menjadi heran. Pemuda itu akhirnya menghampiri Andara untuk membantu gadis itu.


Namun apa yang dilakukannya malah membuat Andara semakin salah tingkah, hingga membuat gadis itu tidak sengaja menjatuhkan beberapa barang dari dalam lemarinya.


"Aah! Kenapa malah terhambur begini sih?"


"Ini yang kamu cari?" tanya Roy sambil menunjukkan dua benda yang dicari oleh Andara.


Gadis itu melongo melihatnya. "Dari mana itu berasal? Kenapa aku tidak melihatnya tadi?"


"Kamu tidak melihatnya karena kamu tidak fokus." Roy tertawa lalu berjalan menuju kasur setelah semua barang itu sudah kembali ke tempatnya.


Roy memakai rambut palsu itu dan semakin terlihat cantik. Namun sikap Andara masih saja sama. Entah beberapa kali Roy sudah mengajaknya bicara, namun sikapnya tidak berubah.


'Haah... Kenapa malah begini sih? Aku juga kenapa tidak bisa mengajaknya untuk santai? Aku harus bagaimana?'


Roy yang terlihat bingung akhirnya mendapatkan sebuah ide. Pemuda itu dengan luwesnya berjalan di depan Andara seperti seorang model. Andara sampai terheran-heran melihatnya.


"Lihat aku, Dara. Aku cantik bukan? Oh, mungkin kalau aku memakai sepatu mu yang tinggi itu, aku akan semakin terlihat cantik." Roy menunjuk sepasang sepatu yang tersimpan di samping lemari besar tadi, dan sepertinya sepatu itu masih baru.


Andara mengikuti arah telunjuknya dan mengambil sepatu itu tanpa terlihat keberatan sedikitpun. Gadis itu menatap datar ke arah Roy saat pemuda itu berusaha untuk memakai sepatu.

__ADS_1


"Ah! Ini sulit, tapi aku bisa." Roy terlihat anggun dan membuat tatapan Andara berubah.


"Aku ingin mengabadikan momen ini. Bisakah kita berpose berdua?" Roy tampak tidak sungkan walaupun Andara sudah menatapnya dengan tatapan yang aneh.


"Mmm...Boleh. "


Roy mencoba berjalan seperti model lagi namun tingkahnya malah membuat Andara tertawa terbahak-bahak. Gadis itu sungguh tidak bisa menahan tawanya saat Roy berjalan melenggak-lenggok seperti itu. Dan Roy akhirnya tersenyum lega. Setidaknya sikap Andara sudah kembali.


Mereka berfoto bersama dengan berbagai pose. Tingkah Roy yang seperti perempuan membuat Andara sedikit demi sedikit mengubah sikapnya. Gadis itu merasa Roy tidaklah marah seperti yang ia kira.


Namun karena kata maafnya yang tidak mendapatkan jawaban, membuat Andara berpikir kesitu. Lalu dengan tatapan pemuda itu tadi. Tapi Andara merasa sepertinya sekarang Roy tidak mempermasalahkan hal itu. Andara hanya perlu menjaga sikapnya pada lelaki di sampingnya walaupun ia berstatus sebagai istrinya.


.


.


.


Menjelang sore hari, Andara dan Roy baru saja turun untuk berkumpul bersama keluarga. Mereka terlihat akrab seperti biasanya.


Penampilan kedua orang itu yang terlihat lebih segar dari saat mereka naik, membuat pikiran keluarga Andara kemana-mana.


Bagaimana tidak, penampilan Roy terlihat lebih segar dengan rambut yang masih basah dan tatapan mata mereka berdua menambah pikiran keluarga Andara ke arah sana.


Padahal Roy tampak seperti itu karena ia dikerjai habis-habisan oleh Andara. Rambutnya ditempeli beberapa aksesoris dan mereka bermain game dengan aturan yang kalah harus mau wajahnya dibaluri bedak.


Roy yang kalah mau tidak mau harus menerima hukuman itu. Walaupun harus seperti ini jadinya.


.


.


..


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2