Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Senjata makan tuan


__ADS_3

Karin terdiam karena merasa lelah dengan kebingungannya. Mata gadis itu tetap tidak bisa diam. Bahkan sampai seorang pelayan menawarkan minuman padanya.


Karin yang merasa membutuhkan itu, tanpa ragu sedikitpun meminumnya sampai air di gelas itu tinggal setengah. Gadis itu baru tersadar setelahnya.


"Minuman apa ini?" tanyanya sambil melihat gelas itu dan mencari seseorang yang membawanya, namun orang itu sudah tidak berada di sana.


Karin bertambah bingung dan sekarang merasa was-was juga. Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya dan membuatnya menjerit karena terkejut.


"Rika!" pekiknya setelah melihat siapa pelakunya.


"Kamu kenapa? Kamu cari siapa sih?"


Wajah Karin terlihat serius dengan kerutan di dahinya. Gadis itu masih saja melihat ke sekeliling tempat itu dan tidak menjawab Rika.


"Karin..." Rika terlihat tidak sabar.


Karin membulatkan matanya saat ia melihat seseorang itu. Gadis itu segera melangkah untuk menghampirinya. Namun tangan Rika menghentikannya.


"Kamu cari siapa?"


Karin yang tidak ingin kehilangan jejak orang itu pun berkata, "Kakakku." Lalu ia dengan paksa melepaskan genggaman tangan Rika dan memberikan gelas yang ia genggam padanya.


"Hah? Kakak?" Rika melongo sendiri di sana sambil memegangi gelas.


"Kakak? Kakak yang mana? Bukankah kakaknya berada di rumah sakit jiwa? Apa dia membohongi ku?" Rika mengerjapkan matanya antara bingung dan juga tidak percaya.


Karin berusaha untuk berjalan dengan cepat. Ia ingin berlari kalau bisa, tapi sepatu yang dipakainya membuatnya tidak bisa melakukan hal itu. Ditambah lagi dengan banyaknya orang disana yang menghalangi jalannya.


Gadis itu berputar di tempatnya berdiri, mencari sosok yang dipanggilnya kakak. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca, merasa sedih dan juga kesal.


"Kak Yuki, aku benar-benar melihat Ryuji. Aku tidak salah lihat. Itu memang dia, tapi kenapa dia tidak pernah mengabari ku kalau dia memang berada di sini. Apa dia sudah melupakan ku?" Gadis itu bergumam sendiri sambil matanya terus mencari orang itu.


"Ryuji, tampakkan lah dirimu. Aku ada di sini. " Karin berputar perlahan di tempat tanpa ia sadari.Gadis itu terus saja mencari seseorang bernama Ryuji itu.


"Aku benci padamu, Ryuji. " Karin menitikkan air matanya, merasa sedih dan juga kesal karena tak kunjung menemukan Ryuji.


Ia berdiam diri di sana. Membiarkan kesedihan menyelimuti nya. Rasa sedih dan sakit yang sudah lama hilang di hatinya, kini muncul kembali bersamaan dengan munculnya orang itu.


Karin masih terdiam di sana saat rasa pusing menyerang kepalanya. Gadis itu sedikit terhuyung saat mencoba untuk melangkah. Perlahan ia berjalan menuju kursi yang berada di dekatnya, mengistirahatkan dirinya untuk membuat rasa pusing dan sakit di kepalanya hilang.

__ADS_1


Namun setelah lama, bukan kepulihan yang ia dapatkan. Kepalanya bertambah pening dan bahkan kini penglihatannya menjadi kabur.


'Syalan. Keadaan ini pasti bukankah sesuatu yang tidak disengaja. Pasti ini karena minuman yang diberikan oleh orang itu tadi.'


Karin merutuki dirinya sendiri karena kecerobohannya. Namun harus bagaimana sekarang? Bahkan untuk berjalan saja rasanya ia tak mampu.


'Terserahlah kalau aku pingsan di sini. Lagipula teman-temanku berada di sini dan mereka pasti mencari ku.'


Tanpa ia sadari, seorang pemuda tengah tersenyum menyeringai ke arahnya. Pemuda itu tersenyum dengan licik, merasa menang dengan keadaan yang menimpa Karin saat ini.


Pemuda itu duduk di kursi, berdekatan dengan Karin. Melihat bagaimana kondisi Karin saat ini yang tidak baik-baik saja. Pemuda itu mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Saat seseorang sudah melakukan perintahnya untuk memberikan minuman pada Karin.


"Apa kamu sudah melakukannya?"


"Sudah, Tuan. Gadis itu sudah meminumnya. Tapi sepertinya dia tidak menghabiskannya."


"Tidak masalah. Yang penting sudah ada yang masuk ke kerongkongan nya, itu sudah cukup." Pemuda itu tersenyum dan memberikan beberapa lembar uang pada orang itu.


Pemuda itu adalah Thanit. Ya, Thanit. Seseorang yang menjadi saingan berat untuk Karin.


Thanit memegangi gelas berisi minuman yang sama dengan yang diminum oleh Karin tadi. "Mungkin kalau aku memberikannya lagi padamu, akan lebih cepat pula reaksinya." Thanit menggoyangkan gelas itu hingga air di dalamnya berputar perlahan.


"Sebentar lagi akan ada pertunjukan yang menarik di sini. Dan kamu tidak akan menyadarinya, Karin. Kamu akan dianggap pengacau oleh orang-orang dan itu artinya kamu kalah dari aku yang masih bisa tenang."


Meminum air itu hingga beberapa tegukan sambil tersenyum membayangkan kemenangan nya.


"Oh? Kenapa malah aku sendiri yang meminumnya?" tanyanya setelah tersadar dengan mata melotot dan wajah terkejutnya.


Thanit melihat gelas itu dengan ekspresi wajah yang menggelikan. Ia menelan ludahnya, menyadari akan sesuatu yang mungkin saja terjadi.


"Syalan! Kalau begini, bisa-bisa aku yang kalah."


Thanit terlihat kesal dengan kejadian itu. Tak lama, Ryan datang menghampirinya dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal.


"Ternyata kamu ada di sini?"


"Memangnya aku mau pergi kemana?" tanya Thanit dengan wajah kesalnya. Ia merasa kesal namun tidak tau harus melampiaskan nya pada siapa.


"Kami kira, kamu pulang terlebih dahulu dan meninggalkan kami." Thanit hanya berdecak dan melihat sekeliling dengan malas.

__ADS_1


Ryan menghela nafas panjang dan berniat untuk duduk di samping Thanit, namun ia segera mengurungkan nya saat melihat gadis yang ia kenal, duduk dengan kepala yang tertunduk dan tangan yang memijat kepala dengan asal.


"Ada apa dengan Karin? " tanyanya khawatir dan langsung menghampiri gadis itu.


"Eh!" Thanit ingin menghentikan nya namun sudah terlambat.


Ryan menepuk bahu Karin dan membuat gadis itu mengangkat kepalanya dengan tatapan yang sayu. Karin sama sekali tidak melihat dengan jelas siapa yang menepuk bahunya.


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Apa?" tanya Karin dengan suara yang serak.


"Apa yang terjadi padamu?"


Karin tidak begitu jelas mendengarnya, namun ia mengatakan bagaimana perasaannya saat ini. "Kepalaku pusing sekali. Tolong aku. Aku bahkan tidak bisa melihat dengan jelas."


Ryan yang terlihat bertambah khawatir, berusaha untuk menenangkan nya. "Kamu tunggulah dulu di sini. Aku akan meminta bantuan." Lalu Ryan bergegas pergi tanpa menunggu jawaban dari Karin.


Thanit menjadi gelisah. Pemuda itu bingung harus berbuat apa.


"Kalau begini caranya, bisa-bisa aku ketahuan. Lebih baik aku membawanya pergi. Lagipula, sebentar lagi minuman itu akan bereaksi juga padaku."


Thanit segera membawa Karin pergi. Merangkulnya dan menuntun gadis itu untuk berjalan.


Thanit terlihat gugup saat langkah Karin tidak seimbang dan membuat mereka berjalan dengan lambat."Cepatlah. Aku tidak ingin ada orang yang mengenalku melihat ku bersamamu," ucap Thanit seolah Karin mendengarnya.


Thanit berjalan menunduk saat ia berpapasan dengan beberapa orang. Saat ia melihat tidak ada orang di sekitarnya, Thanit cepat-cepat menggendong tubuh Karin dan memasukkan nya ke dalam mobil.


"Fyuh... Akhirnya..." Thanit terlihat lega dan ia segera mengemudikan mobilnya.


.


.


Ryan sampai di kursi yang sempat diduduki oleh Karin tadi. Ia datang bersama beberapa orang. Namun mereka tampak kebingungan karena orang yang dimaksud tidak berada di sana.


"Kemana perginya dia? Dan juga, Thanit tidak berada di sini. Apakah mereka pergi bersama? Tapi mereka pergi kemana?" monolog nya dengan lirih.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2