Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Keluargaku (POV Karin)


__ADS_3

Namaku adalah Minatozaki Karin, anak dari seorang pria asli Jepang dan seorang perempuan asli Indonesia. Beberapa orang yang terlahir sebagai anak blasteran mungkin akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri, tapi aku yakin tidak sedikit juga yang menyesalinya, seperti aku.


Kedua orang tuaku menikah dengan berbagai hambatan. Orang tua mereka tidak menyetujui pernikahan mereka karena selain mereka memiliki perbedaan keyakinan, keluarga orang tuaku juga adalah orang yang rasis.


Tapi kedua orang tuaku tetap menikah dan akhirnya melahirkan kami. Tiga anak malang yang harus menerima konsekuensi atas perbuatan egois mereka.


Bukan tanpa alasan aku mengatakan hal demikian, tapi kenyataan yang kami alami membuat kami berpikir seperti itu, terkhusus adalah aku. Anak bungsu dari tiga bersaudara yang malah tidak mendapatkan perhatian sama sekali dari kedua orang tuaku.


Semua sikap tidak peduli mereka saat aku masih sangat kecil, terekam dengan jelas di kepalaku. Aku yang saat itu masih kecil, tidak mengerti dengan sikap mereka. Yang aku tau adalah, kedua kakakku sangat menyayangi ku.


Aku dulu bahkan tidak tau bahwa kedua orang tua itu adalah ayah dan ibu ku. Menyedihkan bukan? Tapi aku sama sekali tidak merasa sedih saat itu karena aku belum mengerti.


Kalau bisa, aku berharap selamanya tetap tidak mengerti dengan keadaan yang sebenarnya. Karena aku pasti tidak akan merasakan sakit hati ini. Namun keadaan tidak bisa selamanya seperti itu. Usiaku yang bertambah besar membuatku tetap harus menerima kenyataan itu. Menerima kenyataan bahwa aku mengerti dengan apa yang terjadi.


Sejak aku kecil, aku sudah terbiasa dengan pertengkaran mereka. Setiap kali mereka bertemu, pasti akan ada pertengkaran pula di situ. Tidak ada kehangatan yang datang dari kedua orang tua ku. Mereka sama sekali tidak pernah bertanya apakah aku baik-baik saja. Jangankan untuk bertanya, melihatku sekalipun sepertinya mereka enggan.


Saat aku kecil mungkin aku menangis karena melihat mereka seperti itu. Tapi setelah aku bisa mengerti, aku sama sekali tidak peduli dengan pertengkaran mereka. Aku muak melihat mereka seperti itu.


Kalau mereka sudah merasa tidak cocok, kenapa mereka tidak berpisah? Seperti itulah pikiran ku saat itu. Lagipula,apa yang ingin mereka pertahankan? Anak?


Bukankah selama ini mereka sama sekali tidak peduli pada kami? Bahkan kehadiran kami pun seolah tidak dianggap. Lalu untuk apa mereka bertahan?

__ADS_1


Sering kali aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku bukan anak kandung mereka? Kenapa mereka sama sekali tidak pernah melihat ke arah ku? Kalau mereka tidak menginginkan ku, kenapa mereka membiarkan aku hadir di tengah-tengah perseteruan mereka?


Sejujurnya aku sedih, aku marah. Namun aku tidak tau apa yang bisa aku lakukan. Aku tidak bisa memungkiri bahwa aku sebenarnya membutuhkan perhatian dari mereka. Walau bagaimanapun aku menutupinya dengan sikap tidak peduli ku, tapi hatiku berkata lain. Aku ingin bahagia bersama mereka.


Hingga dalam sikap diam ku aku berusaha. Walaupun aku tidak mengatakannya tapi aku ingin membuat mereka bangga dan bisa sebentar saja melihat ke arah ku.


Aku berusaha untuk menjadi anak yang baik dan pintar. Aku berusaha keras untuk mendapatkan perhatian dari mereka tanpa terlihat. Aku ingin memberikan bukti pada mereka. Aku tidak ingin merengek-rengek meminta kasih sayang mereka, karena aku yakin itu tidak ada gunanya.


Aku menjadi anak yang berprestasi sejak aku masuk ke bangku sekolah dasar. Aku bisa tersenyum dengan hasil kerja kerasku yang akhirnya bisa membuat ibuku sedikit melihat ke arah ku.


Aku senang karena dia ternyata masih bisa meluangkan waktu untuk hadir beberapa kali di sekolah ku. Tapi, saat aku masuk ke sekolah tingkat pertama, aku mulai kehilangan lagi sedikit perhatiannya itu.


Aku memiliki saingan yang aku anggap berat. Tidak hanya prestasinya yang membuat ku terganggu, tapi juga dengan kehidupan keluarganya yang membuat ku sangat bersedih hingga aku tidak tau bagaimana aku menggambarkan perasaan ku saat melihatnya.


Aku terus bersaing dengannya hingga kami sama-sama masuk ke SMA yang sama. Persaingan kami bahkan lebih kuat dari saat kami masih SMP. Aku tidak pernah memberikan nya kesempatan untuk menang. Yang ada di pikiran ku adalah orang tuaku walaupun mereka tidak peduli akan hal itu.


Aku terus bersaing dengannya dalam berbagai hal, tidak peduli bagaimana keadaan diriku dan kesehatan ku, aku tetap tidak ingin mengalah darinya.


Hingga persaingan itu rasanya sudah melewati batas saat ia mengirim surat dengan isi ujaran kebencian padaku. Aku tidak tau apa maksud ia melakukan hal itu. Tapi semua itu membuatku membencinya. Sangat membencinya.


Aku akhirnya menunjukkan sikap permusuhan ku secara langsung padanya. Tidak peduli bagaimana ekspresi wajah nya saat itu. Bukankah dia yang memulai? Kenapa dia terlihat bingung?

__ADS_1


Aku merasa lega karena setelah kami lulus, kami tidak lagi menimba ilmu di tempat yang sama. Aku merasa beban di hidupku sedikit berkurang saat tidak perlu lagi bersaing dengannya.


Alam beberapa waktu, aku merasa hidupku lebih baik walaupun sikap kedua orang tua ku masih sama.


Aku beruntung karena memiliki dua kakak yang sangat menyayangi ku. Saat itu juga aku sadar dengan kesibukan mereka terhadap pelajaran selama ini. Pasti kedua kakakku juga mengalami hal yang sama dengan ku. Hanya saja mereka terlihat lebih tegar dariku.


Dan lagi, setidaknya mereka pernah mendapatkan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuaku saat mereka masih kecil. Itu terlihat dari beberapa foto yang tersimpan di kamar mereka, tidak seperti aku yang sama sekali tidak memiliki kenangan manis bersama ayah dan ibu ku.


Tapi aku tidak merasa dendam. Aku berpikir, yang harus aku lakukan sekarang adalah membuat diriku bahagia dengan cara yang baik. Karena sampai kapanpun, sikap kedua orang tua ku tidak bisa untuk berubah.


Untuk sesaat,aku merasakan kebahagiaan dalam hatiku. Bisa melihat kakakku menikah dan melihatnya bahagia sungguh membuat hatiku menghangat.


Aku juga berteman baik dengan beberapa teman SMA ku dan beberapa adik kelas ku. Kami masih sering berkumpul walaupun tidak lagi belajar di tempat yang sama.


Ada satu adik kelas ku yang sangat dekat dengan ku. Namanya adalah Icha. Dia dua tahun lebih muda dariku. Dia sering datang ke rumahku untuk belajar. Anak itu sering sekali meminta bantuan ku untuk mengajarinya. Aku selalu senang membantunya karena dia adalah anak yang baik.


Namun...


.


.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2