Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Aku tidak menyesal


__ADS_3

Kejadian di kantin membuat orang-orang yang berpapasan dengan Roy memiliki pandangan lain terhadap pemuda itu. Roy merasa sedikit lega walaupun ia juga merasa risih dengan tatapan orang-orang itu. Karena walaupun mereka terlihat diam saja, sebenarnya mereka juga merasa kesal pada Roy. Hal itu terlihat pula dari tatapan mereka.


Sebagian dari mereka masih saja tidak percaya dengan hubungan Roy dan Andara. Mereka menganggap bahwa Andara hanya ingin menolong Roy saja. Namun juga tidak sedikit dari mereka yang benar-benar percaya sampai menggosipkan mereka di belakang.


Bahkan tak sedikit juga yang membicarakan Andara dan Roy di depan pemuda itu. Sampai membuat telinga Roy terasa panas akibat perkataan mereka yang menyinggung pemuda itu. Bukan hanya laki-laki saja yang seolah tidak setuju dengan hubungan Roy dan Andara, namun perempuan juga.


Walaupun Roy merasa terganggu, tapi ia bisa merasa lega. Setidaknya untuk saat ini orang-orang itu tidak berani mengganggunya, walaupun ia duduk sendirian di kantin. Keberadaan dan status Andara benar-benar berpengaruh di dalam lingkungan kampus itu.


Roy tidak ingin membayangkan bagaimana kelanjutannya esok. Ia tidak sanggup membayangkan bahwa mungkin saja dirinya akan terkena masalah yang jauh lebih serius. Ia akan pikirkan bagaimana harus menjalani hari esok agar tidak terlalu mengganggu kondisinya.


Roy duduk sendirian di kantin, padahal ia tidak memiliki jadwal apapun hari ini. Ia hanya ingin duduk di sana sambil menunggu Andara dan juga ia ingin menghindari bertemu dengan Thanit. Padahal biasanya Roy selalu datang ke Dealer milik Thanit setiap ia tidak ada kegiatan. Ia selalu menghabiskan waktu bersama Thanit.


Tapi saat ini, rasanya Roy benar-benar ingin menghindari Thanit. Ia selalu saja terbayang akan kemarahan neneknya jika berhadapan dengan Thanit. Ia belum bisa merasa lega. Karena walaupun Thanit berarti baginya, tapi neneknya jauh lebih berarti dalam hidupnya.


.


.


.


Waktu menunjukkan pukul tiga sore, Roy yang menunggu Andara beberapa waktu yang lalu,kini bisa merasa lega karena bisa bersama dengan gadis itu.


Roy dan Andara duduk bersama di kantin sebelum mereka pulang. Kegiatan mereka tak luput dari perhatian beberapa orang yang berada di sana. Orang-orang itu tidak lagi terlihat kesal dan tidak juga membicarakan Roy. Mungkin mereka segan karena adanya Andara di sana.


Roy dan Andara bergegas pulang karena mereka juga sudah tidak memiliki kegiatan di kampus. Mereka berjalan berdua menuju kost. Mereka berjalan bersama sambil mengobrol.


Entah kenapa sikap Andara berbeda sekali dengan saat pagi hari. Gadis itu tampak lebih ceria walaupun cuaca di sore itu masih terbilang panas. Padahal kegiatannya di kampus juga cukup menguras tenaga nya.


"Kenapa kamu mengatakan kalau aku adalah pacarmu? " tanya Roy dengan polosnya saat mereka berjalan bersama.


Andara menghentikan langkahnya sejenak dan melihat ke arah Roy dengan tatapan yang aneh,lalu gadis itu melanjutkan langkahnya sambil menjawab pertanyaan Roy. "Hubungan kita bahkan lebih dari itu."

__ADS_1


Roy menunduk sambil berjalan. Pikirannya berkelana karena mendengar pernyataan Andara yang memang benar adanya. Tapi ekspresi gadis itu saat mengucapkannya membuat Roy tidak mengerti.


"Kamu keberatan?" tanya Andara yang menyadari sikap diamnya Roy.


Roy tersenyum menatapnya. "Ehm...Sepertinya tidak. Hanya saja, apakah tidak akan berdampak pada kehidupan kita nanti? Seperti orang-orang di kampus contohnya. "


"Kamu takut?" Roy berdiam diri, merasa bingung harus menjawab apa. Bahwa sebenarnya yang Roy lebih khawatirkan adalah kehidupan Andara nanti.


"Bukankah kalau ada yang merasa terganggu, harusnya itu adalah aku? Kenapa kamu takut? Kamu lupa? Kamulah yang sudah membuat ku terikat dalam pernikahan ini."


Roy menunduk sebelum menatap dengan lekat wajah Andara. "Apa kamu menyesal?"


"Tidak. Aku sama sekali tidak menyesal." Andara terlihat jujur saat mengucapkan itu.


"Kenapa? Bukankah pernikahan ini sudah merenggut sebagian kebahagiaan dari hidupmu? Bukankah pernikahan ini juga sudah memberikan batasan untuk hubungan mu dan Karin? "


"Aku tau dan sadar akan semua itu, tapi aku sendiri tidak tau kenapa aku merasa tidak menyesal. Apakah karena hubungan kita tidak seperti pasangan pengantin pada umumnya?"


"Aku tidak tau. Kenapa bertanya begitu padaku? Bukankah kamu lebih tau bagaimana perasaanmu?"


"Oh. Kalau itu bisa jadi. Tapi apakah kita akan selamanya seperti ini?"


Mereka saling menatap dengan ekspresi wajah yang sama. Wajah kebingungan dua orang itu terlihat lucu. "Aku tidak tau."


"Kamu bilang kita akan pikirkan sambil menjalaninya? Lalu, apakah kamu sudah memiliki rencana?"


Andara mengalihkan pandangannya dari Roy. Gadis itu tiba-tiba merasa sedih. "Aku belum memikirkan tentang hal itu, maaf."


Roy tersenyum dan menepuk-nepuk pelan bahu gadis di sampingnya. "Tidak masalah. Seharusnya yang memikirkan semuanya adalah aku. Maaf kalau aku membuat mu terbebani. Tidak usah memikirkan dulu tentang hal itu." Andara mengangguk.


"Lalu, apakah kamu sendiri sudah memiliki rencana?"

__ADS_1


Roy menunduk dengan sedih. Andara yang melihat itu mengartikan bahwa Roy merasa sedih karena tidak kunjung mendapatkan ide untuk lepas dari pernikahan mereka. Tapi sebenarnya Roy sedih karena hal yang lain.


'Salahkah kalau aku berharap pernikahan ini akan berjalan selamanya? Apakah salah kalau aku meminta dia mendampingiku yang seperti ini untuk selamanya? Aku ingin berubah. Walaupun perubahan ini sangat sulit bagiku. Karena sejujurnya, perasaanku pada Thanit masih belum bisa aku hilangkan.' Roy hanya bisa bertanya dalam hati. Tidak berani untuk mengatakan semuanya pada Andara.


"Hei, kenapa malah melamun? Jangan terlalu dipikirkan dulu kalau kamu merasa ini sangat berat. Aku tidak keberatan dengan hal ini."


Andara tersenyum saat Roy menatapnya. "Kita jalani saja dulu,ya? Suatu hari jika kamu memiliki sebuah rencana, jangan sungkan untuk mengatakannya padaku. Kamu ingat kan? Kita adalah teman sekarang."


Roy terharu dengan sikap Andara yang berusaha untuk menghiburnya, walaupun ia sendiri tau bahwa gadis itu juga merasa sedih dan bingung karena hal ini.


.


.


.


Rika yang melihat perubahan sikap Andara merasa heran. Pasalnya gadis yang lebih muda darinya itu terlihat murung saat baru saja kembali. Tapi sekarang, sepertinya tidak seperti itu. Apakah memang Andara merasa kelelahan saja, ataukah ada hal lain yang membuat Andara terlihat ceria kembali?


"Kamu kenapa sih? Dari pulang kuliah tadi kok kayaknya senyum-senyum terus?" tanya Rika yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Aku gak pa-pa. Aku biasa kok seperti ini."


"Iya memang biasa seperti ini, tapi kan saat kamu kembali ke kost, kamu kayaknya sedih terus. Nah, sekarang kok kayaknya beda?"


Andara terdiam sejenak. "Masa sih? Perasaan aku biasa aja kok."


"Biasa apanya? Jelas beda banget. "


.


.

__ADS_1


.


bersambung...


__ADS_2