Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Akhirnya memutuskan


__ADS_3

Rika terlihat khawatir saat ia sampai di kamar. Gadis itu terus saja melihat ke arah pintu. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada kedua sahabatnya. "Aku bingung. Jika mereka baik-baik saja nanti, aku takut mereka melakukan hal yang tidak benar lagi. Tapi kalau mereka tidak baik-baik saja nanti, apakah yang akan terjadi? "


Rika berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Ia benar-benar tidak ingin terjadi sesuatu yang membuat persahabatan mereka menjadi renggang. Tapi ia juga tak ingin kalau kedua sahabatnya seperti itu terus.


Sebenarnya, Rika sudah tau dan menyadari dengan hubungan Andara dan Karin yang tidak seperti dulu. Hanya saja dia memilih untuk diam. Dia ingin membiarkan semuanya mengalir dengan sendirinya. Yang bisa ia lakukan hanyalah mendukung apa yang Andara lakukan tanpa disadari oleh kedua sahabatnya itu.


"Ya Tuhan... Aku harus bagaimana? Jika aku terlalu mencampuri urusan mereka, jelas mereka tidak akan menerima hal itu dengan baik. Dan kemungkinan salah satu dari mereka malah akan bertambah parah."


Sementara itu, Andara merasa sedikit tegang dengan sikap dingin Karin. Tidak biasanya gadis itu bersikap demikian. "Kamu ingin aku jujur tentang hal apa? "


"Tentang sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Aku tidak suka dibohongi, apapun alasannya."


Andara tampak berpikir dengan mata yang bergerak dengan gelisah. "Aku tidak mengerti, Karin. Memangnya apa yang aku sembunyikan darimu?"


Karin sudah nampak jengah dengan sikap Andara. Gadis itu menghela nafas untuk mengontrol emosinya. "Kamu lebih tau tentang hal itu. Sebaiknya kamu jujur. Ada hubungan apa sebenarnya kamu dengan Roy?!" Suara gadis itu meninggi disertai dengan tatapan yang tajam.


Andara terkejut dengan bentakan Karin. Sebenarnya Karin tidak berniat untuk membentak Andara, namun sikap Andara membuatnya tidak sengaja meloloskan bentakan itu. Sebenarnya ia juga tidak ingin langsung menanyakan tentang hal itu.


Suara Karin yang tinggi sampai ke telinga Rika yang berada di kamar. Gadis itu benar-benar khawatir pada kedua sahabatnya. Masalah besar apa yang membuat Karin terdengar semarah itu? Pikirnya.


Andara menundukkan kepalanya dengan degup jantung yang kencang. Nyalinya untuk menghadapi Karin kalau sampai hal ini terjadi, hilang entah kemana. Keberaniannya yang ia pupuk seolah menguap begitu saja melihat tatapan kemarahan di wajah Karin.


"Apa kamu berniat untuk mengkhianati ku? Apa ini balasanmu setelah aku menjagamu selama bertahun-tahun? " Karin tersenyum sinis dengan tatapan datarnya.


"Kalau kamu ingin pergi, katakan padaku. Apa kurang jelas kamu memahami tentang perkataanku dulu?" Andara masih saja terdiam menunduk.


"Aku sudah katakan padamu bahwa aku tidak ingin dikhianati. Kalau kamu sudah tidak bisa bertahan denganku, pergilah. Jangan menusukku dari belakang. Jangan berpura-pura baik. Percuma tubuhmu ada di sini tapi hatimu berada di tempat lain."


"Maafkan aku, Karin," ucap Andara lirih disertai dengan suara tangisannya.


"Maaf untuk apa? Apa kamu benar-benar sudah melakukan hal itu?" Kini Karin merasa gelisah. Hatinya sebenarnya belum siap untuk mendengar tentang kenyataan yang sebenarnya.

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud untuk mengkhianati mu."


Karin sudah mengira akan kemana arah pembicaraannya Andara. Tatapan kemarahannya berubah dan berganti dengan kegelisahan.


"Apa kamu benar-benar mempunyai hubungan dengan Roy?" Hati Karin merasa sakit membayangkan kalau itu benar-benar terjadi.


"Aku bisa menjelaskannya padamu."


"Kenapa? Kenapa kamu mengkhianati ku, Dara? " Karin tampak hancur padahal Andara belum menjelaskan apapun.


Gadis itu menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas ke sofa. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. ' Dan pada kenyataannya aku tidaklah setegar itu. Aku tidak bisa mengikhlaskan apa yang terjadi. Hatiku sakit.'


Dan Karin menangis dengan tatapan yang menyedihkan. Andara menatapnya dengan iba, tapi ia harus mengatakannya sekarang. Lagipula ini sudahlah terlanjur. Lebih baik sekalian saja dari pada ia harus membuat Karin menangis lagi. Ini sudah saatnya bagi mereka untuk berubah.


"Ini bukanlah keinginanku. Aku juga tidak mengira akan seperti ini kejadiannya." Andara mencoba untuk menjelaskannya dengan tenang.


Karin meliriknya lalu mengalihkan pandangannya ke meja di depannya. "Apa maksudmu bukan keinginanmu? Jelas-jelas kamu terlihat senang," tanya Karin dingin dengan tatapan sedihnya.


"Lalu?" Karin tampak tidak senang.


Andara membuang nafasnya panjang dan mencoba setenang mungkin untuk menjelaskannya pada Karin.


"Kejadian di Surabaya tidak pernah aku duga sebelumnya. Aku tidak pernah mengira akan berada dalam keadaan seperti itu. Saat itu aku tidak bisa untuk memilih selain pilihan yang diajukan oleh keluarga ku. Karena keinginan itu adalah keinginan seseorang yang berada dalam ambang kematian. " Mata Andara tampak berkaca-kaca mengingat kejadian itu.


Gadis itu berhenti sejenak lalu mengambil udara sebanyak-banyaknya dan membuangnya perlahan sebelum melanjutkan ceritanya lagi. "Posisi kami sangatlah sulit. Sedangkan setau mereka aku tidak memiliki hubungan dengan siapapun. Aku tidak mungkin mengatakan pada mereka tentang hubungan kita yang sebenarnya. Walaupun aku juga sangat bingung harus bagaimana menghadapinya setelah itu, tapi keadaan yang ada di hadapanku membuatku tidak bisa untuk menolak. Sehingga aku menerima permintaan mereka untuk dijodohkan."


"Dan orang itu adalah Roy? Kenapa harus dia? Apakah ceritamu ini bisa dipercaya?"


Andara terdiam sejenak sebelum menjawab, "Karena sahabat Oma ku yang meninggal itu adalah neneknya Roy."


Kedua gadis itu saling berpandangan dengan tatapan seolah sedang berperang. Andara bergelut dengan pikirannya sendiri begitupun dengan Karin.

__ADS_1


"Jadi, apa sebenarnya selama ini kalian sudah saling mengenal?" tanya Karin setelah terdiam beberapa saat. Gadis itu terlihat bertambah tidak senang.


"Sama sekali tidak. Aku mengatakan yang sejujurnya tentang kejadian yang tidak terduga ini. "


Karin tersenyum sinis. "Hah! Sungguh kejadian yang mengejutkan. Bagaimana bisa semuanya ini terjadi? Dan kamu, kamu bahkan tidak memikirkan ku dan tega mengkhianati ku demi mereka."


Andara merasa kurang senang dengan ucapan Karin walaupun ia tau gadis itu mengucapkannya karena merasa kecewa."Mereka yang kamu maksud adalah keluargaku, Karin."


Karin mengalihkan pandangannya dan menangis. "Ya. Pada akhirnya hal seperti ini terjadi juga. Kamu akan lebih memilih keluarga mu daripada aku. Tapi aku tidak bisa menerimanya, Dara. Apa kamu tau bagaimana perasaan ku sekarang ini? Kamu tau bagaimana kehidupanku yang membuatku kecewa. Aku menyandarkan diri ku padamu tapi kamu akhirnya meninggalkan ku juga? Aku tidak percaya ini. Aku tidak bisa menerima nya."


Karin akhirnya menumpahkan segala kesedihan nya dan membuatnya tampak rapuh, tidak seperti Karin yang biasanya kuat. Bahu gadis itu bergetar karena saking kuatnya ia menangis, mencoba untuk menahan suara tangisannya agar tidak keluar dengan keras.


Andara tampak sangat sedih melihat bagaimana keadaan Karin saat ini. Gadis itu menghampiri Karin dan berusaha untuk menenangkan nya sambil memeluknya.


"Maafkan aku, Karin. Aku sungguh tidak berniat untuk menyakitimu. Aku tau bagaimana perasaanmu saat ini, tapi aku sendiri tidak mampu untuk menghadapi keluarga ku dengan hubungan kita."


Karin tidak menjawabnya dan masih saja menangis. Gadis itu tidak menolak juga dengan pelukan Andara.


"Maafkan aku kalau aku egois. Maafkan aku, Karin. Aku juga sebenarnya sangat menyayangimu. Tapi keadaan kita tidaklah tepat. Hubungan kita tidak bisa untuk dilanjutkan."


Dan


Duarrr


Pernyataan Andara seolah seperti bencana yang menimpa Karin. Gadis itu tidak bisa lagi menahan tangisannya. Pernyataan Andara sungguh membuatnya benar-benar hancur. Gadis itu bahkan tidak sanggup untuk menatap wajah Andara. Tidak sanggup pula untuk mengganti posisinya yang memeluk erat Andara.


.


.


.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2