Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Kejadian di pagi hari


__ADS_3

"Ini orang kenapa sih? Lupa minum obat kalik ya?" Rika berkomentar sambil melihat Thanit yang mengoceh tak karuan. Karin masih saja merengut. Sementara Andara, gadis itu juga melihat ke arah yang sama dengan mereka, namun yang dilihat oleh gadis itu adalah orang yang duduk di samping Thanit.


Kapan dia kembali ke sini? Kenapa dia tidak mengabari ku? Andara hanya bisa bertanya dalam hati.


Gadis itu terlihat tidak senang melihat orang yang ditunggunya kini sudah duduk bersama dengan Thanit, walaupun memang sudah biasa seperti itu. Tapi tetap saja Andara merasa kesal.


Sementara Roy hanya bisa menunduk setelah melihat bagaimana wajah tidak senangnya Andara. Padahal awalnya ia tersenyum saat melihat gadis itu.


"Eh sini Lo turun kalo berani! Cemen lu ngoceh sambil ngumpet di situ." Rika berteriak karena tidak tahan dengan ocehan Thanit.


"Idih! Siapa elu nyuruh-nyuruh gue? Urusan gue bukan sama lu. Temen lu kenapa tuh kok jadi patung? Hahaha..."


Thanit terus tertawa dan mengejek Karin, sampai tidak sadar kalau posisi nya duduk kini sudah berpindah ke tempat Roy. Sementara Roy sudah duduk di kursi pengemudi.


"Sini lu perawan tua! Kalah lu kan dari gue. Lihat nih mobil gue, keren kan? Lu gak punya mobil kayak gini. Apaan tuh pangkat jadi bos tapi beli mobil aja gak mampu." Thanit mengoceh seolah menantang Karin sambil menepuk-nepuk pintu mobilnya.


Karin berjalan menghampirinya dan tanpa aba-aba gadis itu hendak melemparkan tasnya ke wajah Thanit. Tapi Thanit dengan sigap menangkap tas itu. "Jiahaha... Marah dia. Sadar lu ya kalo kalah? Dasar perawan tua."


"Sini lo turun kalo berani. Jangan ngoceh sambil sembunyi! Dasar bujang lapuk! Iiihhh..." Karin menarik kerah baju Thanit sampai pemuda tercekik.


Rika dan Andara segera menghentikan apa yang dilakukan oleh Karin. "Eh udah, jangan main kekerasan begini dong. Lu mau ditegur warga?" Dan Karin dengan berat hati melepaskan tangannya dari baju Thanit.


Thanit terbatuk-batuk dengan wajah yang memerah. Pemuda itu tampak marah sekali. "Gila lu ya, lu mau bunuh gue?"


"Gak nyesel juga gue kalo bunuh lo. Orang kayak lu mending hilang aja ditelan bumi."


"Yang ada lu yang nelen gue."


"Sini kalo berani! Turun Lo! Biar gue telen sekalian."


"Ooh.. lu nantangin gue?!"


"Iya! Gue tantang lu. Kenapa? Takut? "


Thanit hendak turun dari mobilnya namun Roy sudah mengunci pintu mobil itu dan segera melajukannya tanpa berkata apapun. Thanit mengomel sambil melihat ke arah ketiga gadis itu.


"Awas lu ya, urusan kita belum selesai," teriak Thanit dengan mobilnya yang sudah menjauh.


Karin dengan kesalnya menendang udara seolah seseorang yang membuatnya kesal berada di sana. "Ish! Syalan tu orang. Pagi-pagi udah bikin gue emosi aja. Dia kira gue gak punya mobil apa? Gue juga punya. Lagian mobil begitu doang gue juga mampu kalo pun harus beli sepuluh. Sekalian Dealer nya gue beli." Karin menghembuskan nafasnya dengan keras.Rika menepuk-nepuk pundaknya agar ia tenang.

__ADS_1


Tak lama kemudian, ada beberapa warga datang kesana dan bertanya pada mereka tentang keributan yang ditimbulkan oleh Karin dan Thanit.


"Em... Maaf, Pak. Ini tadi cuma ada salah faham aja kok. Maaf mengganggu," jelas Rika yang merasa malu dan tak enak hati. Sementara salah satu si pembuat keributan tampak tidak peduli sama sekali. Gadis itu masih saja terlihat kesal.


Mereka pun akhirnya pergi setelah menjelaskan kepada orang-orang itu. Melanjutkan perjalanan seperti tidak terjadi apa-apa.


.


.


.


Karin menghentikan langkahnya saat ia melihat sebuah mobil berhenti di pinggir jalan. Gadis yang awalnya asyik mengobrol itu menjadi terlihat licik.


"Itu bukannya mobil si lapuk?" tanyanya pada kedua temannya.


"Eh iya. Itu mobilnya Thanit. Tapi kenapa berhenti di situ? " Rika juga terlihat heran.


Karin tersenyum jail. "Samperin yuk!" Ajaknya pada kedua temannya.


"Eh! Mau ngapain?" Rika dan Andara tampak tidak setuju.


"Udah, kalian ikut aja."


Thanit yang terlihat mengeluh membuat Karin semakin semangat untuk mendatanginya.


"Halo halo... Napa nih? Haha... Mobilnya mogok ya?"


Thanit terlihat jengkel dengan kedatangan Karin dan teman-temannya. "Lu ngapain kesini? Jalan masih luas noh. Gak ada kerjaan banget lu lewat sini."


"Ada kok. Kerjaan gue tuh ya, ngerusuhin orang kayak lo. Gue suka deh kalo ngajak lo ribut, persis banget kan kita?" Karin tersenyum tanpa merasa bersalah, membuat Thanit semakin kesal.


"Ngaku juga lu kalo jadi tukang rusuh. "


Karin mengibaskan rambutnya ke belakang. "Hah... Tenang, cuma lu aja kok yang paling pengen gue ajak rusuh. Lu tau gak? Sampai kapanpun, lu gak mungkin bisa nyaingin gue. Mobil bobrok lu ini gak ada apa-apanya tau gak. " Karin berucap dengan sombongnya sambil menepuk-nepuk dengan keras kap mobil Thanit.


Thanit diam saja dengan wajah yang kesal. Karin menjadi semakin merasa menang. "Ko diem? Merasa kalah ya? Hahahaha... Gue tuh bisa aja kalo cuma bawa mobil modelan kayak begini. Sekalian Dealer lu gue beli. Emang lu mampu kayak gue? Hah?"


Rika dan Andara menjadi tidak nyaman dengan perilaku Karin. Walaupun mereka tau Karin hanya sombong terhadap Thanit saja. Karin tidak pernah seperti itu pada orang lain.

__ADS_1


"Mana nyali lu tadi? Kok diem aja sih lu?" Kini Karin yang terlihat kesal karena Thanit hanya diam saja.


"Walaupun gue gak sekaya lu, tapi gue masih lebih bahagia dari lu. Emang lu bisa sebahagia gue? "


Thanit tersenyum penuh kemenangan karena melihat Karin yang tidak bisa menjawabnya. "Gak bisa kan lu sebahagia gue? Buat apa kan harta melimpah tapi hidup lu gak bahagia? Dan gue gak kayak lo. Gue selalu bahagia. Gue punya keluarga yang utuh, gak kayak lu."


Brukk!!


Karin menubruk tubuh Thanit dengan keras, membuat pemuda itu tersungkur ke tanah. "Lu berani main kasar sama gue?! Emang lu bisa lawan gue, hah?!" Thanit berdiri di depan Karin dengan wajah garangnya.


"Gue gak takut sama lu! Lu pikir lu siapa berani-beraninya menilai keluarga gue?"


"Emang itu kenyataannya kan? Anak dari keluarga broken home kayak lu gak pernah bahagia." Thanit tersenyum sinis. Tubuhnya perlahan mendekati Karin tanpa ia sadari.


Karin mendongak menatapnya dengan tajam. "Gue bahagia atau nggak, emang lu tau? Lu tau nya cuma ngehujat gue doang. Gue jauh lebih bahagia dari lu."


Tubuh mereka semakin berdekatan dan menempel, namun mereka masih saja tidak sadar.


"Jelas aja gue tau. Lu pengen kan punya keluarga yang bahagia seperti keluarga gue? Tapi sayangnya lu gak pernah mendapatkan itu. Kasian banget sih lu."


"Gue gak butuh belas kasihan dari lu!"


"Gue gak kasian kok, gue malah bertepuk tangan atas penderitaan lu."


Mereka berdua saling melihat dengan tatapan permusuhan. Tatapan mata keduanya seolah mengkilat-kilat karena saking marahnya mereka. Tubuh mereka sama-sama maju seolah ingin saling menjatuhkan. Bahkan mereka tidak berhenti walaupun tubuh mereka sudah sangat menempel dan saling bergesekan.


Tiga orang yang melihat mereka seperti itu seolah menjadi penonton setia. Mereka terlihat bingung dengan cara bertengkar nya dua orang yang berbeda gender itu. Bagi mereka, kedua orang itu tak ayal nya dua ekor kucing jantan yang saling berhadapan untuk bertarung. Tatapan mata keduanya mengingatkan mereka akan hal itu.


Rika merasa kedua orang itu sangat aneh. Bagaimana bisa dua orang yang berbeda gender bertengkar dengan cara seperti itu? Mereka berdua bahkan terlihat juga seperti sepasang kekasih yang saling berpelukan karena saking dekatnya tubuh mereka.


Karin menarik kerah baju Thanit dan membuat pemuda itu hampir menciumnya. Thanit mencengkeram dagu Karin untuk menahan tarikan gadis itu dan juga untuk membalas perlakuannya. Tatapan mereka masih saja sama.


Rika menjadi semakin tak habis pikir dengan tingkah mereka berdua. "Kalian ini bertengkar atau apa sih? Gak sadar apa muka udah saling mau nempel gitu? Dilihat orang juga dikiranya kalian ini lagi mencoba untuk cyiuman tau."


Seketika keduanya tersadar dengan posisi tubuh mereka yang memang seperti yang diucapkan oleh Rika. Tidak adanya jarak dari mereka membuat mereka merasa lega saat saling menjauh. Mereka seperti habis menahan nafas.


.


.

__ADS_1


.


bersambung...


__ADS_2