
Kegiatan mengobrol tiga orang perempuan itu harus terhenti saat Roy dengan senyuman manisnya menghampiri Andara.
Laki-laki itu duduk di samping Andara dan menyelipkan rambut wanita itu ke belakang telinga.
Tatapan dan perbuatannya sungguh terlihat sangat manis. Apalagi Andara membalasnya tak kalah romantis.
Sungguh pemandangan yang membuat dua orang gadis di hadapan mereka menjadi salah tingkah. Kedua gadis itu seolah hanya menjadi obat nyamuk bagi mereka.
"Aku punya sesuatu untuk mu, " ucap Roy masih dengan senyumnya.
"Apa itu? "
"Aku ingin menjadikannya sebagai kejutan untuk mu. Kalau aku bilang sekarang, maka bukan kejutan namanya. "
Mereka saling melempar senyum dengan tatapan yang manis. Melupakan keberadaan dua orang gadis yang semakin terlihat kikuk melihat mereka.
"Ekhem! Dara, Roy. Kayaknya kita duluan deh. Aku mau ke cafe. Ini udah sore juga. " Karin berpamitan pada Andara dan Roy sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Rika terlihat lega dan ikut berpamitan pada mereka. Tentu saja itu membuat Roy senang. Karena sebenarnya Roy memang ingin Karin pergi dari sana.
"Apa sih kejutannya? Kamu sengaja ya bikin mereka pergi. " Tuding Andara walaupun dengan senyuman.
Roy tidak menjawabnya. Laki-laki itu segera menuntun istrinya menuju dapur.
Andara tidak merasa heran sama sekali. Wanita itu menunggu dengan sabar dan senang. Mengira-ngira apakah yang akan diberikan oleh suaminya padanya.
"Duduklah dulu, " ucap Roy sambil mendudukkan Andara di kursi.
Kemudian Roy menarik kursi lainnya dan duduk berhadapan dengan Andara.
"Apa? Aku udah sabar loh nungguin nya. "
Roy mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah kotak kecil berwarna merah ia tunjukkan pada Andara.
"Apa ini? " tanya Andara dengan senyuman yang tidak bisa ia tahan.
"Hadiah yang cantik untuk istriu yang cantik. Aku harap kamu menyukainya. "
Roy mengeluarkan sebuah kalung yang cantik dari dalam kotak itu. Membuat senyum Andara kian melebar.
Roy menyimpan kotak itu dan berdiri di samping Andara untuk memasangkan kalung itu di lehernya.
Ia turunkan syal yang melilit leher istrinya. Menyibakkan rambut Andara dan membuatnya melihat dengan jelas hasil karyanya semalam.
Ia tersenyum melihat tanda itu. Lagi-lagi ia seakan merasa tak percaya karena bisa melakukan itu.
'Hasil karya yang indah bukan? ' tanyanya dalam hati sambil tersenyum membayangkan Karin yang melihat itu tadi.
__ADS_1
"Roy? " Andara merasa heran karena Roy tak kunjung memasangkan kalung itu.
Roy segera tersadar. "Maaf. Aku hanya merasa kagum dengan hasil karya ku. "
Andara yang menyadarinya pun merasa malu. "Ish, kamu ini. "
Roy terkekeh dan segera memasangkan kalung itu. Kemudian ia berputar untuk melihat bagaimana penampilan istrinya.
"Sangat cantik, " puji nya dengan senyuman. Ia jelas terpesona dengan wajah istrinya yang tersenyum manis.
"Bagaimana? Apa kamu menyukainya? "
Andara menunduk sambil tersenyum. Ia menyentuh kalung itu dengan perasaan bahagianya.
Kemudian Andara menatap Roy sambil tersenyum."Aku menyukainya. Ini sangat cantik. Terima kasih. "
"Hanya terima kasih? "
"Lalu? Apa aku harus membayarnya? " Senyum di wajah Andara lenyap membayangkan kalau Roy memang menginginkan bayaran.
"Tentu saja. "
"Ha? Kamu bilang tadi ini hadiah untuk ku. Kenapa sekarang meminta bayaran? "
"Seharusnya sebanding kan dengan kalung cantik itu. " Roy tampak tersenyum melihat Andara yang cemberut.
"Apa aku meminta harga? "
Andara menatapnya bingung. "Lalu? "
"Aku menginginkan yang lain. "
Andara terlihat gugup dan jantungnya tiba-tiba berdegup dengan kencang. Apalagi melihat tatapan Roy yang seolah ingin melahap nya.
"E-apa itu? "
"Kemarilah." Roy mengundang Andara untuk duduk di pangkuannya.
"Kamu ini. Ini bukan di rumah. "
"Aku tidak peduli. Cepat kemari. " Roy yang tidak sabar akhirnya menarik Andara untuk duduk di pangkuannya.
Andara semakin terlihat gugup. Rona merah di wajahnya semakin membuat Roy terpesona.
"Kenapa kamu sangat cantik? " tanya Roy tanpa sadar.
"Karena aku istrimu, " jawab Andara asal sambil tersenyum dan menunduk malu.
__ADS_1
"Ah, iya. Karena kamu istri ku. "
Roy menatapi wajah Andara saat wanita itu balik menatapnya. Ia menjadi semakin gugup.
"Sudah lah, Roy. Aku tidak ingin ada yang melihat kita seperti ini. "
"Memangnya kenapa? Aku ini suamimu. Mereka pasti faham. "
Andara berdecak. Akhir-akhir ini sikap Roy memang tidak seperti dulu. Seolah laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu ingin menunjukkan pada dunia bahwa Andara hanyalah milik Roy.
"Mereka memang faham. Tapi mereka pasti terpaksa menerima karena kamu adalah pemilik toko ini. "
Roy tertawa dan memeluk dengan erat tubuh istrinya. "Aku ingin mereka tau lebih dari itu. "
Kemudian Roy mengurai pelukannya dan semakin intens melihat istrinya. Tatapan yang membuat Andara terpaku dan seketika melupakan bahwa mereka berada di dapur sebuah toko.
"Aku sangat mencintaimu, Dara. Aku tidak ingin siapapun merebutmu dari ku. Hanya aku yang boleh memilikimu. Katakan padaku bahwa aku pantas menjadi suamimu. "
Andara terdiam sejenak dengan mata yang bergerak menatapi wajah Roy.
"Tentu saja. Kamu sangat pantas menjadi suamiku. Dan aku hanya milikmu. Aku tidak ingin menjadi milik siapapun selain dirimu. "
Roy tersenyum. Matanya sedikit bergerak melihat seseorang yang mematung di ambang pintu. Seorang pemuda yang sengaja ia undang untuk melihat semua itu dengan alasan pekerjaan.
'Masih berani kamu merebut istriku? Terima ini b*engsyek.'
Pemuda itu seolah membeku saat Andara dan Roy menyatukan bibir mereka. Pikiran dan semangat nya untuk mendekati Andara sirna seketika.
Pemuda itu tersadar ternyata hubungan Roy dan Andara tidak seperti yang ia pikirkan. Mungkin saja Roy dulu seperti itu. Tapi kenyataannya sekarang kedua pasangan itu menunjukkan bahwa hubungan mereka baik-baik saja.
Tanpa menunggu lama lagi. Akhirnya pemuda yang bernama Dio itu segera pergi meninggalkan dapur tanpa suara.
Ia berjalan gontai seolah tenaganya sudah terkuras habis. Sungguh ia tidak menyangka akan melihat semua pemandangan itu.
Sementara itu di dapur. Pasangan suami istri itu semakin hilang kendali. Kedua orang itu saling merengkuh dengan keadaan seperti yang dilihat oleh pemuda tadi.
Roy tanpa sadar telah membuat istrinya berantakan. Laki-laki itu melepaskan pagutannya dan menatap Andara dengan mata yang sayu.
"Ayo kita pulang. "
.
.
.
.
__ADS_1
bersambung...