
"Kamu sudah menikah?" tanya ketiga orang itu. Mereka benar-benar terlihat tidak percaya bahwa Roy sudah menikah.
Roy mengangguk sambil tersenyum dengan ramah pada mereka. Sungguh hatinya merasa senang karena telah membuat pengakuan seperti itu. Roy merasa bahagia karena orang-orang sudah mengetahui status nya sekarang.
.
.
.
Roy kembali ke dapur setelah ia banyak sekali mengobrol dengan ketiga tetangga barunya. Orang-orang itu dapat menerima Roy dengan baik sebagai tetangga mereka.
Roy tinggal di kost yang memang khusus untuk orang-orang yang sudah berkeluarga. Kost itu juga ukurannya lebih besar dari kost Putri dan kost Putra. Hanya saja fasilitas nya tidak sama dengan kedua kost itu. Kost baru itu lebih tepat dikatakan sebagai rumah dibandingkan dengan kamar kost.
Kost baru itu hanya memiliki satu lantai dengan enam pintu dan hanya lima pintu diantaranya yang berpenghuni. Kost itu juga tidak dikelilingi oleh pagar tembok, seperti kost Putri dan kost Putra.
Roy melihat sekeliling dapur mencari istrinya. Namun ia tidak menemukan gadis itu. Roy mengerutkan keningnya sejenak sebelum ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Pintu kamar mandi yang tidak ditutup membuatnya bisa melihat apa yang sedang dilakukan oleh Andara. Andara sepertinya tidak sadar kalau saat ini Roy sedang memperhatikannya. Gadis itu masih saja sibuk mencuci wajahnya yang memerah.
Roy tersenyum geli melihat ekspresi wajah Andara yang kesal setiap kali gadis itu melihat ke cermin. Roy diam saja membiarkan Andara mengomel sendirian.
"Hish! Kenapa tidak hilang juga sih?!"
Andara kembali membasuh wajahnya. Gadis itu menggosok dengan keras kedua pipinya hingga ia terlihat meringis.
Saat Andara terlihat ingin menangis, barulah Roy datang menghampirinya. "Sudah, jangan digosok terus. Nanti wajahmu luka."
Andara menatap Roy dengan sedih. "Lalu bagaimana aku bisa keluar dengan wajah seperti ini?"
"Pasti ada cara lain, sayang. Memakai salah satu alat makeup mu mungkin bisa."
Andara melongo mendengar kata sayang dari mulut Roy. Gadis itu bahkan tidak bisa menahan senyumnya. Ia tersipu malu. Untung saja saat ini wajahnya sedang merah karena pewarna, kalau tidak, pasti Roy akan melihat semburat merah di pipinya dan ia akan lebih malu.
__ADS_1
"Iya,deh. Nanti aku coba."
"Begitu kan cantik."
"Memangnya kalau tidak begitu aku jelek ya?"
'Hem...Salah lagi...'
"Tidak. Kamu selalu cantik setiap saat. Sekarang kita lanjutkan acara masak memasak kita yang terjeda tadi. Aku sudah sangat lapar."
Andara tersenyum manis. "Baiklah."
Mereka keluar dari kamar mandi setelah Roy membasuh wajahnya. Pemuda itu sama sekali tidak berusaha keras untuk menghilangkan warna merah di wajahnya. Ia hanya mencuci wajahnya sampai warna merah itu terlihat berkurang.
Kedua orang itu akhirnya memasak dengan sebenarnya. Merapikan kembali barang-barang yang mereka hamburkan. Makan bersama walaupun masing-masing hanya memakan sepotong roti dan telur ceplok.
Mereka tersenyum saat pandangan mereka bertemu. Entah apa yang membuat Andara terlihat senang. Yang pasti suasana hati Andara sedang sangat baik saat ini.
Roy pun tak kalah senang dengan keadaan itu. Apalagi setiap kali melihat senyuman manis di wajah Andara. Rasanya hatinya berbunga-bunga melihat betapa cantik istrinya itu.
"Dara, kamu terlihat semakin manis dengan wajah merah mu. Aku suka melihatnya."
"Hah? Uhuk!"
"Eh! Ini minum." Roy menyodorkan gelas berisi air putih pada Andara. Gadis itu meminumnya dengan mata yang bergerak gelisah.
Andara mengibaskan-ngibaskan tangan di depan wajahnya."Huh... Kenapa cuaca mendadak panas begini ya?"
Roy semakin tersenyum senang. "Masa? "
.
.
__ADS_1
.
Andara duduk sendirian di kamarnya. Gadis itu terus saja menggerutu karena wajah merahnya yang membuatnya ditinggalkan oleh Roy.
Roy pergi ke kost Putra untuk bertemu dengan teman-temannya. Sementara Andara tidak berani untuk keluar dari rumah karena wajah merahnya. Gadis itu terpaksa duduk sendirian di rumah untuk memakai masker wajah.
Sebenarnya Roy sudah mengajaknya, namun jelas saja Andara menolaknya karena gadis itu merasa malu.
"Sudah sore begini, kenapa Roy belum juga pulang? Pasti dia senang sekali karena bertemu dengan Thanit. Hish! Nyebelin!"
Andara mondar-mandir di kamarnya dan sesekali ia menghentakkan kakinya dengan kesal. Rasanya gadis itu ingin sekali merengek pada suaminya, namun jelas saja ia tidak mungkin untuk melakukan hal itu.
Andara memilih mandi untuk menenangkan diri dan berhubung hari juga sudah sore. Ia ingin sekali berlama-lama di sana supaya kesal di hatinya bisa berkurang.
Roy tampak senang saat ia kembali ke rumah. Pemuda itu tersenyum mengingat bagaimana sikap teman-teman kostnya. Mereka bercanda dan bersikap seolah iri padanya. Mereka juga memuji Roy karena sudah menikahi gadis seperti Andara.
Memang tidak semua temannya terlihat baik-baik saja saat ia berkunjung ke sana, namun itu tidak membuat Roy sedih. Roy seolah sudah kebal dengan bagaimana tatapan orang-orang terhadapnya.
'Terserah. Aku juga berjalan dengan kakiku sendiri. Yang aku tau, aku tidaklah merugikan mereka. Kenapa harus memikirkan nya berlebihan?'
"Aku pulang," ucap Roy saat ia membuka pintu. Namun ia tidak mendapatkan jawaban.
Roy mengerutkan keningnya karena ia tidak juga menemukan Andara di kamarnya. Namun ia merasa lega karena mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Roy duduk di kursi dapur sambil meminum segelas jus jeruk yang diambilnya dari dalam kulkas. Pemuda itu sesekali melirik pintu kamar mandi yang tak jauh dari tempatnya duduk saat ini.
Mendengar suara gemericik air membuatnya merasa aneh. Pikirannya berkelana entah kemana dan ia sulit untuk menormalkan nya.
.
.
.
__ADS_1
bersambung....