
(Ekhem... Ada sedikit penghangat ruangan di sini. Kalau merasa kurang nyaman bisa diskip yaπ tapi tetap dilike oke ππ€ππββοΈπββοΈπββοΈ)
"Itu...Itu karena aku melihat Karin dari sini tadi."
Andara tertawa dengan wajah sedihnya. "Hah... Hanya karena melihat Karin kamu langsung bersikap seperti ini? Apa aku harus percaya? Lalu bagaimana dengan ku yang melihat mu seperti itu? Bagaimana dengan ku yang melihat keadaan mu sekarang ini? Lihat bagaimana pakaian mu sekarang. Bagaimana kamu bisa marah padaku hanya karena itu? Kamu pasti marah karena tidak ingin melihat ku seperti ini."
"Tidak,Dara. "
"Aku memang terlalu percaya diri melakukan hal ini di depan mu. Aku mengira dan berharap kamu akan melihatku. Tapi ternyata aku salah. "
"Kamu sama sekali tidak salah,Dara."
"Aku terlalu banyak berharap. Aku salah faham dengan semua sikap baikmu." Andara tersenyum dengan sendu. "Aku sangat percaya diri ketika kamu memperhatikan ku. Aku kira kamu menyukainya,tapi...hiks..."
Andara menunduk lagi dan menangis. "Kamu sudah mendengar semua ini. Tidak ada yang aku tutupi. Maaf kalau kamu tidak nyaman dengan semua ini. Aku akan mencoba untuk bersikap seperti dulu. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan semua ini."
Andara mengedarkan pandangannya ke sembarang arah dengan senyuman sedihnya. Ia sama sekali tidak memperhatikan bagaimana tatapan Roy saat ini.
Andara tertawa pelan masih dengan tatapan sedihnya."Hahah...Ini memalukan sekali. Maaf, aku akan memperbaiki penampilan ku dulu. Aku tau kamu pasti tidak nyaman melihatnya," ucap Andara dan hendak berdiri.
Namun kedua tangan Roy menempel di lengannya membuatnya menghentikan niatnya. Kedua tangan pemuda itu memegangi dengan erat lengan Andara sehingga membuat gadis itu menatapnya dengan heran. Andara mengira Roy masih saja marah padanya.
"Lepaskan. Atau aku akan menangis lagi karena kamu muak melihat ku."
"Tidak dan kamu jangan menangis lagi. Lagipula kapan aku pernah merasa muak melihatmu?"
"Jangan menghiburku sementara kenyataannya kamu tidak ingin melihat ku seperti ini."
"Aku suka melihat mu seperti ini."
"Berhentilah berbohong. Lepaskan aku."
"Tidak."
"Kamu sama sekali tidak menyukai-"
Ucapan gadis itu terpotong saat b*b*rnya di tutupi oleh b***r suaminya. Kedua mata gadis itu membulat karena terkejut.
Roy menyudahi itu dan sedikit menjauhkan wajahnya. Pemuda itu sedikit tersenyum lalu tatapan nya berubah saat melihat bagaimana ekspresi wajah Andara saat ini.
"Aku menyukainya. Aku suka melihatnya dan aku menyukai mu," ucap Roy sambil berusaha untuk menahan diri karena melihat wajah Andara yang seolah menggodanya.
__ADS_1
"Jangan menghiburku. Jangan memaksakan dirimu hanya karena kamu kasihan padaku. Aku faham bagaimana perasaan mu. "
"Aku sama sekali tidak merasa terpaksa."
"Aku bilang, jangan menghiburku. Hiks...Aku bisa melupakan semua ini sama seperti aku melupakan masa lalu ku. Jadi jangan berpura-pura lagi."
Andara melepaskan diri dari genggaman Roy dengan paksa. Gadis itu berusaha untuk tidak menangis lagi. Andara berdiri dan berbalik hendak meninggalkan Roy. Namun pemuda itu segera menghentikannya.
Sebuah kecupan mendarat di b***r Andara saat Roy berhasil membuat tubuhnya berbalik ke arahnya. Pemuda itu menatap wajah Andara sambil menangkup kedua pipi gadis itu.
"Sudah kubilang aku tidak merasa terpaksa. Kenapa kamu tidak ingin mendengarnya?"
"Tapi-"
Roy menghentikan kata-kata Andara dengan b***rnya. Roy bahkan tidak hanya mengecupnya namun juga me****t dengan lembut b***r Andara. Pemuda itu seolah ingin meyakinkan istrinya bahwa ia tidak berbohong.
Roy kembali menatap Andara yang dalam pandangannya sangat menggoda. Detak jantung yang cepat dan nafas memburu dari keduanya seolah mendukung tentang sesuatu.
"Dara..." panggil Roy lirih dengan suara seraknya.
"Ya?" Andara melihat Roy dengan tatapan sayu.
"Aku ingin membuktikan semuanya sekarang. Aku ingin kamu tau bahwa aku tidaklah berbohong."
"Apa kamu bersedia?" tanya Roy memastikan karena Andara masih saja terdiam.
Roy tersenyum dengan tatapan berkabut saat melihat Andara yang mengangguk. Tatapannya tak bisa lepas dari wajah Andara. Pemuda itu merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Tidak pada siapapun selain Andara.
Roy mengangkat tubuh Andara yang sebenarnya sama besarnya dengan dirinya. Pemuda bertubuh kurus itu seolah mendapatkan tambahan kekuatan saat mengangkatnya.
Andara yang terkejut hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada Roy. Ia memang mengharapkan itu, tapi rasanya ia masih saja merasa sangat malu.
Roy membaringkan tubuh Andara dengan hati-hati di atas ranjyang. Andara rasanya tidak berani untuk menatap wajah Roy saat ini. Ditambah lagi pemuda itu melepaskan baju robek yang dikenakannya tadi. Membuat Andara merasa sangat malu ketika melihat tubuh yang kurus itu.
"Izinkan aku untuk mendatangimu dan aku harap kamu menerimaku," ucap Roy lirih seraya mendekati Andara.
Gadis itu hanya mampu mengangguk. Tubuhnya kian memanas saja rasanya. Apalagi detakkan jantungnya sungguh tidak bisa ia kontrol. Gadis itu semakin malu saat mendengar detakkan itu juga dari balik dada Roy.
Andara memejamkan matanya saat b***r Roy dengan halusnya menelusuri lehernya. Tubuhnya meremang karena perbuatan suaminya itu. Satu d*****n lolos dari bibirnya membuatnya seketika membuka matanya dan melihat Roy yang sedang menatapnya.
Kedua orang itu sama-sama terdiam. Andara merasa takut karena tatapan Roy itu. Gadis itu berpikir apakah Roy merasa tidak nyaman sekarang? Tapi pikirannya langsung lenyap saat tangan Roy tanpa aba-aba menarik kain yang melilit tubuhnya. Membuat Andara merasa gugup bukan main.
__ADS_1
Roy kembali menelusuri tubuh istrinya dengan tangan dan b***rnya.Pemuda itu seolah tidak ingin melewatkan bagian manapun. Andara lagi-lagi meloloskan suara itu, membuat Roy kian bersemangat untuk meneruskannya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu di depan sana awalnya tidak mengganggu aktivitas kedua orang itu. Namun mereka berhenti dan saling memandang saat mendengar suara ketukan disertai suara seseorang yang memanggil Andara.
Roy sangat tau suara siapa itu. Pemuda itu berdecak kesal tanpa ingin menyudahi sesuatu yang bahkan belum ia mulai.
"Dara, apa kamu ada di rumah? Kenapa tidak menjawab? Apa kamu sedang tidur?" Panggil seorang perempuan di depan sana.
Andara melihat Roy yang tampak kesal dengan nafasnya yang masih memburu. Tatapannya sendiri jelas memperlihatkan bahwa gadis itu juga tidak ingin diganggu saat ini.
Roy menatapi Andara dan kembali lagi pada kegiatannya tadi. Pemuda itu tidak ingin menundanya dan akhirnya ia segera mendatangi Andara, dengan perlahan. Mengabaikan panggilan orang di depan sana.
Sebuah suara yang lolos dari bibir keduanya membuat suasana kian memanas. Kedua orang itu bahkan sudah tidak peduli lagi dengan bagaimana kondisi di sekitarnya. Mereka terus saja meloloskan suara itu tanpa sadar.
Sementara di depan sana, dua orang gadis saling memandang dengan tatapan yang kosong. Suara dari dalam sana jelas saja terdengar sampai ke telinga mereka.
Ekspresi keduanya sungguh membuat orang lain akan tertawa ketika melihatnya. Mereka jelas terkejut. Namun rasa malunya itu lebih mendominasi dan membuat wajah mereka memerah.
"Astaga, ini memalukan sekali. Ayo kita pulang, Rika. Sepertinya kita datang bukan dalam waktu yang tepat."
Rika dan Karin yang niatnya ingin mengajak Andara ke kost mereka, harus menerima kejutan itu. Kejutan yang membuat ekspresi wajah mereka terlihat konyol.
Karin dan Rika tampak menarik ke samping bibir mereka dengan hidung yang mekar. Mereka rasanya ingin tertawa saja. Kedua gadis itu akhirnya pergi dari sana sambil berlari kecil.
Rasanya itu... Sulit untuk dijelaskan. Yang jelas mereka merasa sangat malu.
"Ini bahkan belum Maghrib, tapi mereka sudah bekerja keras saja. Ya ampun. Ampunilah aku Tuhan. Aku sama sekali tidak berniat untuk mendengar semua itu," ucap Rika dengan ekspresi memelas tapi sebuah tawa keluar dari mulutnya.
Karin menepuk lengannya dengan keras dan mereka tertawa bersama. "Ih, malu banget tau gak."
.
.
.
bersambung...
bonus Roy dan Daraπ€
__ADS_1