Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)

Hanya Manusia Biasa (Antara Cinta Sejati Dan Cinta Terlarang)
Bukan malam pertama


__ADS_3

"Kenapa kejadiannya malah seperti ini? Haish! Aku malah merepotkan diriku sendiri." Thanit terus saja menggerutu di sepanjang perjalanan.


Pemuda itu sudah merasakan efek minuman yang tidak sengaja ia minum. Ia merasa kepalanya berdenyut, tapi ia tetap berusaha untuk fokus.


"Sebentar lagi. Tahanlah dulu wahai kepala. Sebentar lagi kita sampai di apartemen ku," ucap Thanit pada dirinya sendiri.


Sementara Karin sudah meracau tak karuan. Tubuhnya bahkan diikat oleh Thanit untuk mencegahnya agar tidak mengganggu konsentrasi mengemudinya.


Thanit sesekali melihat ke arah Karin. Melihat wajah gadis itu dan membuatnya tidak fokus mengemudi.


"Ish! Syalan! Hampir saja aku menyenggol mobil orang."


.


.


.


.


Langit yang gelap membuat Thanit leluasa untuk melakukan apapun. Tentunya hal yang masih dikatakan wajar. Thanit memapah Karin dan membawanya masuk ke kamar apartemen nya.Thanit tidak terburu-buru dan juga tidak merasa takut karena tidak ada yang mengenalinya di tempat barunya itu.


Thanit membaringkan tubuh Karin di kasurnya. Membiarkan gadis itu berguling-guling di sana. "Haah... Astaga... Ini melelahkan sekali. Betapa bodohnya diriku. Ingin menjebak orang malah aku sendiri yang susah."


Thanit duduk di sofa yang tak jauh dari ranjyang nya. Meregangkan otot-otot nya yang terasa pegal. Pemuda itu melihat Karin yang tertawa sendirian dengan mata yang terpejam.


"Hihi... Kamu lucu sekali. Dasar gadis belok."


Thanit pergi ke dapur untuk mengambil air minum, berharap rasa sakit di kepalanya bisa sedikit berkurang.


Pemuda itu kembali ke kamarnya dan melihat Karin yang sudah berbaring di lantai. Tatapan Thanit terlihat datar saat melihat Karin yang meracau dengan tubuhnya yang bergerak dengan lemas.Karin sesekali tertawa, namun juga ia sesekali menangis.


"Kenapa dia malah turun? Merepotkan saja orang ini."


Thanit menghampirinya dan berjongkok di depan Karin. Memperhatikan gadis itu dengan tatapan yang sulit untuk dimengerti.


"Aku membencimu. Aku membenci perasaanku padamu. Aku membencimu karena kamu membenciku. Karin, kamulah yang membuat ku seperti ini. Apakah suatu hari kamu bisa bertanggung jawab atas perasaan ku ini? "


Thanit terdiam sesaat sebelum menggendong tubuh Karin dan membaringkannya kembali di atas ranjyang.


Thanit membungkus tubuh Karin dengan selimut yang ada di sana. Ia membiarkan gadis itu merengek-rengek meminta untuk dilepaskan. Thanit mencoba untuk tidak peduli.


Ia segera pergi untuk mengganti pakaian nya dengan langkah gontai. Minuman yang diminumnya sudah bereaksi dan membuat keseimbangannya berkurang.

__ADS_1


Thanit segera menyelesaikan kegiatannya dan kembali ke kamar. Ia mengambil tali untuk mengikat kaki dan tangannya sendiri.


"Aku tidak ingin kamu tersakiti dengan ketidaksadaran ku. Aku tidak ingin kenormalan ku tidak bisa aku kendalikan. Bagaimana pun, aku ingin kamu tetap aman. Selamat tidur, my first love. "


Thanit membaringkan tubuhnya di samping Karin. Ia memejamkan matanya, melawan rasa sakit di kepalanya dan berusaha untuk membawa jiwanya berpindah ke alam mimpi.


Kedua orang itu sama sekali tidak tau bagaimana keadaan di acara pernikahan Roy dan Andara. Teman-teman dari kedua orang itu kini sedang kebingungan mencari keberadaan mereka.


"Tasnya Karin masih ada di sini, tapi kemana dia?" tanya Rika yang terlihat sangat khawatir.


"Tadi dia ada di sini. Aku hanya meninggalkan nya beberapa menit untuk mencari bantuan, tapi dia sudah menghilang saat aku kembali," jawab Ryan mencoba untuk menjelaskan.


Mereka bertambah kebingungan. Ryan mencoba untuk menghubungi Thanit, karena pemuda itu lah orang terakhir yang ia lihat bersama Karin. Namun ponsel Thanit sama sekali tidak bisa dihubungi. Akhirnya dia hanya bisa pasrah dan meyakinkan orang-orang di sana bahwa Karin akan baik-baik saja.


.


.


.


Hari sudah sangat malam dan pesta itu sudah selesai beberapa jam yang lalu. Kini orang-orang kembali ke kediaman masing-masing.


Roy dan Andara memilih untuk kembali ke rumah orang tua Andara. Sementara keluarga Roy bermalam di rumah mereka yang berada di Jakarta.


Andara masuk ke kamarnya terlebih dahulu. Menyibukkan diri dengan ponselnya dan mengobrol bersama teman-temannya lewat aplikasi hijau.


Sebenarnya gadis itu hanya berusaha untuk menyibukkan diri. Dirinya merasa gugup bukan main saat ini. Padahal ini bukanlah malam pertama baginya, tapi entah kenapa rasanya hari ini berbeda.


Roy melangkahkan kakinya perlahan menuju kamar istrinya. Ia hanya berdiam diri sendirian di ruang tamu. Ia mencoba menenangkan pikirannya akan bayang-bayang Karin bersama istrinya, lebih tepatnya perasaan Andara saat ini.


Roy seperti merasa putus asa dengan kehidupan yang akan dihadapinya bersama Andara. Pemuda itu terus berpikir bahwa dirinya akan kalah.


Roy perlahan membuka pintu kamar Andara. Ia mengedarkan pandangannya sesaat sebelum menemukan istrinya yang sedang menunduk sambil bermain ponsel di samping ranjyangnya.


Roy menghela nafas panjang melihatnya. Ia mencoba menguatkan perasaan untuk menghadapi Andara.


Andara semakin gugup saat Roy berjalan perlahan dan mendekatinya. Tangannya tiba-tiba merasa gemetaran dan berkeringat. Ia mengeratkan genggaman pada ponselnya tanpa ia sadari. Matanya bergerak dengan gelisah dan ia sudah tidak lagi fokus pada aplikasi hijau itu.


Dug deg dug deg dug deg


Suara detakkan jantung Andara terdengar begitu kuat, membuat gadis itu merasa semakin gugup dan malu dengan pemuda yang berstatus sebagai suaminya itu.


"Apa kamu tidak merasa dingin duduk di lantai? Naiklah sebelum kamu masuk angin," perintah Roy pada Andara dengan intonasi yang terdengar datar di telinga Andara.

__ADS_1


"Baik." Andara menurutinya sambil menunduk.


Roy terdiam di posisi nya saat melihat Andara naik ke atas ranjyangnya. Pemuda itu bahkan sampai tidak berkedip saat melihat Andara. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Roy merasakan ada sesuatu yang aneh.


"Apa kamu tidak ingin tidur?" tanya Andara saat melihat Roy yang masih saja berdiri di samping ranjyangnya.


Roy naik ke atas ranjyang itu tanpa menjawab. Pergerakan Roy tak luput dari perhatian Andara. Bahkan Andara seolah tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Roy. Mata gadis itu terus mengikuti setiap pergerakan Roy, sampai Roy berbaring di samping nya.


Mereka saling menatap dalam diam. Tak ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka, seolah tatapan mereka sudah mewakili semua itu.


"Roy..."


"Ya?"


Hening.


"Ada apa?" tanya Roy dengan suara yang sedikit serak, membuat pertahanan Andara semakin terganggu.


Gadis itu memalingkan wajahnya dari Roy dan mengerjapkan matanya sambil melihat ke arah yang tidak tentu. Roy masih menatapnya dengan sabar.


Roy memperhatikan setiap inci wajah Andara. Melihat leher jenjang gadis itu yang bergerak karena sesuatu yang meluncur di dalamnya. Pemuda itu terdiam dengan tatapan yang sulit untuk dimengerti dan mulut yang sedikit terbuka.


'Dulu aku menginginkan memiliki sesuatu yang ada padanya, tapi sekarang aku sudah memilikinya walaupun dengan artian yang berbeda. Sesuatu yang tidak ada pada tubuhku tapi aku bisa menyentuhnya. Benarkan? '


Roy tersadar dari lamunannya yang menurut kesadarannya, itu sudah melebihi batas. Walaupun sebenarnya normal kalau ia memiliki pikiran seperti itu, tapi ia belum bisa membayangkan itu begitu jauh.


"Dara, apa yang ingin kamu katakan?" Akhirnya Roy bertanya untuk mengalihkan pikirannya.


Dara terdiam sesaat sebelum menatapnya dan tersenyum. "Oma Idina pasti bahagia dengan semua ini. Pernikahan ini adalah impiannya,kan? Keluarga ku juga sangat bahagia, aku ingin berterima kasih padamu karena semua kejadian ini. Aku tidak tau apakah mereka bisa sebahagia ini tanpa adanya kejadian ini."


Roy menatapnya tanpa ekspresi. "Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. "


Andara masih tersenyum menatapnya. "Aku rasa, setelah ini kamu tidak akan lagi bermimpi buruk. Salah tidak kalau aku berpikir begitu karena mengira Oma Idina sudah tenang di sana? "


Tatapan Roy kini berubah datar. Mengingat kejadian demi kejadian yang mereka lalui. 'Mungkin saja selama ini dia hanya ingin menghibur dan menenangkan ku. Aku yang terlalu berlebihan menilai semua perlakuan baiknya padaku. '


.


.


.


bersambung...

__ADS_1


(part ini mungkin sedikit membingungkan, tapi saya harap cerita di part ini bisa sedikit membuka teka-teki dalam kehidupan keempat orang itu)


__ADS_2