
Roy terdiam walaupun sesekali masih terdengar sisa tangisan di bibirnya. Pemuda itu tampak berpikir sambil melihat makam neneknya.
"Tidak seperti ini caranya kalau kamu merasa menyesal atas kepergiannya. Ada banyak hal yang lebih baik daripada harus menyiksa dirimu sendiri. "
Perlahan, tangan Andara terulur dan menyentuh bahu Roy. Pemuda itu tidak meresponnya. Tatapannya masih tertuju pada makam itu. "Benarkah yang kamu katakan?"
Andara tersenyum karena menyadari Roy mau mendengarkan sarannya. "Tentu saja. Berjalanlah bersamaku. Aku akan menemanimu untuk melewati masa sulitmu ini. Aku tidak akan meninggalkan mu, Roy. Jangan sungkan untuk menjadikanku sebagai sandaran mu."
Roy menatapnya dengan sendu. Terlihat sekali bahwa pemuda itu terharu dengan ucapan Andara. Andara tersenyum dan ikut duduk di samping Roy. Gadis itu menepuk-nepuk bahu Roy pelan. Berharap pemuda itu bisa merasakan kepedulian yang Andara berikan terhadap nya.
Roy menangis lagi. Menangis terisak dengan keras. Pemuda itu seolah ingin melepaskan beban yang begitu berat di hatinya. Andara yang memang tidak tega jika melihat orang lain menangis, ia akhirnya ikut menangis bersama Roy.
Andara membuang payung yang dipegangnya dan menarik Roy kedalam pelukannya, berharap apa yang ia lakukan bisa membuat pemuda itu lebih kuat. Roy tidak menolak apa yang Andara lakukan. Pemuda itu seolah memang membutuhkan seseorang untuk dijadikannya sebagai sandaran.
Andara menepuk-nepuk punggung Roy untuk lebih menguatkan pemuda itu."Jangan terlalu larut dalam kesedihanmu. Berbagilah dengan ku agar perasaanmu lebih baik. Keluarkanlah segala beban di hatimu. Aku siap mendengarkan apa pun yang menjadi keluh kesahmu."
Roy terisak di bahu Andara. "Terima kasih. Terima kasih karena kamu mau mengerti bagaimana perasaan ku. Terima kasih karena kamu mau menjadi sandaran untukku."
Andara tersenyum dan semakin mempererat pelukannya. Mengusap-usap punggung Roy untuk membuatnya lebih tenang. "Aku berjanji akan selalu menemanimu. Aku akan berusaha untuk menjadi teman yang baik untukmu. Walaupun aku tidak bisa seperti Oma Idina, namun jangan membuatmu menjadi sungkan padaku. Katakanlah apapun yang ingin kamu katakan. Aku akan berusaha untuk menjadi pendengar terbaikmu."
Roy hanya terdiam dalam pelukannya. Walaupun ia percaya dengan apa yang dikatakan Andara, tapi ia juga sadar bahwa keadaan belum tentu bisa seperti yang Andara katakan. Tapi untuk saat ini, dia mencoba untuk tidak mengingat akan hal itu. Roy membutuhkan perhatian seperti yang Andara berikan. Ia sangat bersyukur karena Andara mau menjadi sandaran untuknya, walaupun ia tau itu hanya untuk sesaat, sebelum akhirnya mereka berpisah dan kembali ke kehidupan mereka masing-masing di Jakarta.
.
.
.
Akhirnya Roy mau untuk pulang bersama Andara. Walaupun mereka hanya berdua di area pemakaman, namun sebenarnya masih ada seorang supir dan dua orang bodyguard yang menunggu mereka di luar area itu.
Roy dan Andara keluar dari sana dengan pakaian yang basah kuyup. Mereka tampak kedinginan karena cukup lama berdiam diri tanpa perlindungan payung. Supir segera membawa mereka kembali ke rumah Tuan Scott.
Mereka sampai di rumah itu disambut dengan tatapan senang dan juga heran keluarganya. Namun Roy tampak tidak peduli dengan tatapan keluarganya terhadapnya. Pemuda itu segera naik ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Orang tua Andara bertanya banyak hal padanya, namun gadis itu hanya mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan meminta orang tuanya untuk tidak terlalu menghawatirkan dirinya.
__ADS_1
Andara pun segera naik ke kamar Roy yang menjadi kamarnya juga saat ini. Gadis itu mencari pakaian ganti sambil menunggu Roy keluar dari kamar mandi. Roy yang tidak tau kalau Andara ada di kamar itu, merasa terkejut sebab dirinya hanya mengenakan handuk yang tidak menutupi bagian atas tubuhnya.
Refleks Roy menutupi bagian dadanya dengan ekspresi yang menurut Andara sangat aneh. Andara tidak memperdulikannya dan hanya mengedikkan bahu lalu segera masuk ke dalam kamar mandi. Andara sudah sangat kedinginan.
Roy mengerjapkan matanya antara terkejut dan malu dengan sikapnya sendiri. Pemuda itu segera tersadar dari lamunannya saat mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Roy segera pergi dari tempatnya berdiri dan secepat mungkin memakai pakaian sebelum Andara keluar dari kamar mandi.
.
.
.
Malam semakin larut namun Tuan Scott masih belum bisa untuk memejamkan matanya. Pria itu masih terus memikirkan ibunya. Memikirkan apakah yang sebenarnya terjadi beberapa saat sebelum ibunya meninggal.
Tuan Scott terus saja menatap layar laptopnya. Melihat kejadian siang tadi di kamar ibunya. "Sebenarnya apa yang dilihat oleh ibu di ponsel Clarence? Aku rasa, hal itulah yang menyebabkan kondisi ibu menjadi tidak terkendali."
Pria itu menatap wajah istrinya yang sudah terlelap, wajah yang terlihat kemerahan karena istrinya terlalu banyak menangis. Tuan Scott sangat bersyukur karena istrinya begitu menyayangi Oma Idina.
"Aku bahkan tidak memiliki banyak waktu bersama ibuku, tidak sepertimu. Terima kasih karena kamu telah menyayangi ibuku dengan tulus."
Tuan Scott menengadah ke atas. Mengingat kejadian pagi hari tadi saat dirinya akan berangkat bekerja. "Pantas saja aku merasa enggan untuk meninggalkan ibuku, ternyata ini adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. Tapi setidaknya, aku bisa menuruti keinginannya. Dan juga, pagi hari tadi adalah suapan dan pelukan terakhir dari ibuku. Oh Tuhan... Sesungguhnya aku belum bisa mengikhlaskan kepergian nya."
.
.
.
Roy terlihat gelisah. Tubuh pemuda yang sedang tertidur itu bergerak kesana-kemari dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Bibirnya terus bergumam seolah meminta tolong. Air mata mengalir dari matanya yang masih terpejam.
Roy menangis dalam tidurnya. Walaupun tangisannya lirih,tapi mampu membangunkan seorang gadis yang tidur di sampingnya. Apalagi Roy membuat pergerakan yang mengganggu tidur gadis itu.
"Roy, ada apa?" tanya Andara dengan suara seraknya. Namun ia tidak mendapatkan jawaban.
"Roy..." Andara memanggil Roy sambil mengguncangkan tubuh pemuda itu.
__ADS_1
Andara kebingungan melihat Roy yang masih saja menangis walaupun matanya jelas-jelas terpejam. Gadis itu dengan sabarnya menepuk-nepuk punggung dan mengusap-usap rambut Roy seperti sedang menidurkan bayi. Tapi bukannya berhenti, tangisan Roy malah semakin menjadi.
"Hei, bangunlah. Ada apa?" Andara yang tampak khawatir mengguncangkan tubuh Roy lebih keras.
Roy membuka matanya perlahan dengan tangisan yang masih bertahan di bibirnya.Pemuda itu menatap Andara dengan tatapan sendu. "Aku bermimpi buruk." Roy tampaknya berusaha sekali untuk meredakan tangisannya.
Kening Andara mengkerut mendengar ucapan Roy. "Seburuk apa sampai membuatnya seperti ini?" tanyanya dalam hati.
"Tenanglah, ada aku disini. Jangan takut. "
Roy tidak menjawabnya tapi terlihat jelas sekali di wajahnya bahwa pemuda itu masih merasa ketakutan. Andara menggeser posisi tidurnya menjadi lebih dekat dengan Roy.
"Aku akan melindungimu," ucapnya dengan senyuman. Tatapannya seolah ingin meyakinkan Roy dengan ucapannya.
Andara memeluk Roy karena pemuda itu masih saja diam. Membiarkan tangannya menjadi bantal untuk pemuda itu. Roy sedikit terkejut sebelum mendengar ucapan dari Andara. "Tidurlah lagi. Aku akan berada disini untuk menjagamu. Anggaplah aku seperti Oma Idina, walaupun jelas aku tidak bisa menggantikannya. "
Roy menghirup nafas panjang dan mulai menutup kembali matanya. Sebenarnya dia merasa sedikit canggung berada dalam pelukan Andara, apalagi bibir pemuda itu hanya berjarak beberapa senti saja dari leher Andara.
Namun Roy memang membutuhkan seseorang untuk bisa menenangkannya, dan ternyata Andara bisa melakukan itu.
Andara tersenyum karena merasa usahanya tidak sia-sia. Walaupun dia merasa kurang nyaman dengan posisi itu, tapi untuk menenangkan Roy, ia mencoba untuk rileks.
"Jika kamu ketakutan dengan mimpi buruk mu lagi, peluklah aku semaumu yang penting kamu bisa tenang. Jangan sungkan. Kita sudah menjadi teman sekarang. "
Roy mengangguk dalam pelukannya. "Terima kasih. Tapi... "
"Kenapa? "
"Kenapa aku seperti berada di posisi perempuan sementara kamu seperti laki-laki yang melindungi ku? "
Andara terkekeh. "Bukan, tapi kamu seperti seorang anak dan aku menjadi ibunya. "
.
.
__ADS_1
.
bersambung....