
Yoga langsung keluar dari ruangan nya, ia akan segera pergi ke kota tujuan tapi sebelum itu harus pergi ke rumah terlebih dahulu.
Yoga keluar dari gedung perkantoran itu melalui lift, setelah berada di lantai bawah ia langsung menuju kendaraan yang akan mengantarkan nya. Yoga segera pulang, sebelum berangkat ke kota tujuan ia ingin memberitahu Saskia terlebih dahulu. Yoga juga berencana akan membawa istri keduanya pergi ke pulau tersebut, mungkin dengan membawa Saskia ke tempat itu bisa mengobati rasa kecewa di dalam hatinya yang di akibat kan oleh istri pertama yang sangat di cintai.
Yoga langsung masuk ke dalam kendaraannya koma dengan perlahan yang wajib injak gas, lalu mobil yang ia tumpang yg keluar dari are perkantoran.
Waktu bergulir begitu cepat, kendaraan sudah berhasil mengantarkan Yoga ke rumah yang di tuju yaitu tempat tinggal Saskia. Setelah terparkir dengan sempurna, ia langsung turun lalu melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa.
Sampai di dalam rumah berapa terkejutnya Saskia melihat sang suami kembali ke rumah padahal baru beberapa jam saja.
"Mas... Kenapa sudah pulang? ini kan belum waktunya" tanya Saskia sambil menatap lekat wajah sang suami.
"Kita akan pergi ke luar kota, segera bersiap mungkin butuh waktu beberapa hari di sana. Bawa barang yang menurut mu penting untuk di gunakan selama di sana! " kata Yoga dengan raut wajah yang datar, sebetulnya ia tidak ada rencana untuk pergi ke manapun mengajak Saskia. Gara-gara semua kegiatan Sarmila bersama pria lain sudah berhasil membuat Yoga sangat frustasi, akhirnya ia berniat mencari tahu melakukan sang istri lewat orang kepercayaan nya.
"Kenapa nggak bilang dari pagi, kan bisa menyiapkan semuanya. Ini tiba-tiba sekali, memang nya ada apa? " tanya Saskia dengan heran, kenapa secara mendadak seperti ini.
"Anggap saja ini kejutan untuk mu, lagian selama kita menikah belum pergi ke mana pun" Yoga berdusta, agar tak menimbulkan kecurigaan bahwa sebenarnya mereka pergi ke sana bukan untuk bersenang-senang.
"Bener ini kejutan untuk ku? aku fikir nggak perduli sama sekali dengan ku, ternyata sudah menyiapkan ini semua. Terimakasih banyak yah Mas" kata Saskia dengan raut wajah di penuhi kebahagiaan.
"Maafkan aku Kia, terpaksa aku lakukan ini agar mengetahui kebenaran yang ada" kata Yoga dalam batin.
"Kalau begitu aku bersiap terlebih dahulu, tapi di sini nggak ada pakaian mu. Hanya ada beberapa itu pun yang biasa di gunakan ke kantor" ucap Saskia sambil menatap lekat wajah sang suami.
"Nggak perlu memikirkan aku, lagian di sana juga banyak yang jual kita beli saja. Kamu juga bawa seperlunya saja, kalau ada kekurangan nya bisa nyari di sana! "
__ADS_1
"Owh iya, kita berangkat jam berapa? " tanya Saskia.
"Tunggu informasi dari Sanco dulu, ini belum ada kabar" jawab Yoga.
"Eh, Mas... Itu Sanco nama orang atau minyak goreng? " tanya Saskia sambil tertawa kecil.
"Kalau itu jenis minyak goreng mana bisa jadi kepercayaan ku di kantor" jawab Yoga dengan raut wajahnya yang datar.
"Maaf hanya bercanda, mau ku buatkan kopi dulu atau apa? " tanya sang istri yang selalu memperlakukan Yoga bagaikan seorang raja.
"Boleh lah, kepala ku pusing banget ini! " kata Yoga sambil memijit pelipisnya.
"Tunggu sebentar, ku buatkan dulu" kata Saskia sambil meninggalkan sang suami yang sedang bersandar di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Apa baik-baik saja? "
"Hmmm" jawab Yoga
Tanpa meminta ijin terlebih dahulu Saskia langsung memijat kepala Yoga, mungkin dengan melakukan hal ini rasa sakit yang di alami suaminya sedikit ringan.
"Kenapa sentuhan nya begitu menenangkan, beda lagi dengan Sarmila. Padahal sudah lama kita menikah tetapi belum pernah melakukan ini" kata Yoga dalam batin.
Kepala Yoga sudah sedikit ringan, akhirnya Saskia meninggal sang suami untuk berkemas terlebih dahulu. Sebab dalam waktu satu jam, Sanco akan menjemput mereka untuk segera pergi ke tempat tujuan. Karena penerbangan mereka akan di lakukan jam tiga sore, ada sisa waktu satu jam bagi Saskia untuk mempersiapkan semuanya. Sedangkan Yoga di gunakan untuk beristirahat, sebab laki-laki itu terlihat sangat lelah. Berkat sentuhan yang di lakukan oleh Saskia akhirnya ia bisa istirahat dengan tenang.
Waktu yang mereka jadikan telah tiba, Sanco sudah datang menjemput mereka. Yoga juga sudah terlihat lebih segar tidak seperti tadi pagi, terlihat sangat kusut dan wajah nya keliatan lelah. Berkat keahlian Saskia akhirnya Yoga menjadi lebih fresh dan mulai bersemangat lagi, sejenak ia melupakan Sarmila.
__ADS_1
Yoga beserta istrinya sudah berada di dalam kendaraan, mereka sudah siap untuk menuju bandara. Tempat nya tidak terlalu jauh dari rumah Saskia, sebab perumahan yang di tempatinya di pusat kota sehingga memudahkan akses untuk pergi ke mana pun.
Yoga telah memberi peringatan terhadap asisten nya, agar tidak membahas Sarmila di depan Sakia. Biar ini menjadi rahasia mereka berdua, jika Saskia tahu mungkin tidak akan pernah mau ikut ke tempat ini. Selama di perjalanan pun tidak ada yang berbicara sedikit pun, Yoga dan Saskia sibuk dengan fikiran masing-masing. Bagi Saskia ini pengalaman pertama nya pergi ke luar kota dengan menggunakan pesawat, ia sedikit gugup dan takut.
Kendaraan yang mereka tumpangi sudah sampai di bandara, Sanco membantu Saskia untuk mengeluarkan koper nya dan segera masuk ke dalam sebab penerbangan akan segera berlangsung. Dengan langkah kaki yang cepat Yoga dan Saskia langsung bergegas, setelah sampai beberapa saat dan melewati beberapa prosedur yang harus di lakukan. Keduanya sudah berada di dalam pesawat, wajah Saskia terlihat sangat pucat sekali.
"Apa yang terjadi? " tanya Yoga sambil menatap wajah sang istri yang di penuhi keringat dingin.
"Aku takut! " kata Saskia menunduk dan tangan nya meremas ujung kemeja yang di kenakannya.
"Kenapa harus takut, kan ada aku bersama mu! Apakah ini pengalaman pertama mu naik pesawat? " tanya Yoga sambil tersenyum tipis, ia berusaha meyakinkan istrinya agar tidak usah takut bahwa semua ini akan baik-baik saja.
"Iya" jawab Sakia sambil mengangguk.
Lalu Yoga meraih tangan Saskia lalu di pegang nya dengan erat "Jangan khawatir aku selalu bersama mu, kita akan baik-baik saja" kata Yoga meyakinkan sang istri.
Seketika hati Saskia menghangat, serasa di lindungi oleh laki-laki yang sekarang status sebagai suami. Meskipun Yoga belum sepenuhnya menjadi suami yang di harapkan perempuan pada umumnya, bagi Saskia ini sudah lebih dari cukup.
Setelah cukup lama pesawat pun sudah siap berangkat dan membawa mereka terbang ke tempat tujuan, mungkin butuh waktu satu jam untuk sampai di kota yang mereka tuju.
"Jika masih takut, pejamkan mata mu. Anggap saja kita sekarang lagi berada di rumah dan hendak tidur! " kata Yoga terhadap sang istri.
"Baiklah aku akan mencoba nya" jawab Saskia berusaha memejamkan mata nya, sambil memegang erat tangan suaminya.
Yoga menatap lekat perempuan yang ada di samping nya, terlihat wajah ketulusan tanpa ada kepura-puraan. Gadis Desa dengan segala kesederhanaan nya, telah membawa mereka ke sebuah perkirakan tanpa rencana. Niat awal Yoga yang jahat terhadap Saskia, perlahan rasa itu mulai hadir untuk perempuan seperti Saskia. Yoga melengkung kan bibir nya, ia tersenyum sambil menatap wajah sang istri yang terlihat sangat pucat. Dalam hati Yoga merasa kagum dengan perempuan yang ada di sampingan, terlihat dengan jelas wajah polos tanpa ada ke kepura-puraan.
__ADS_1