Hanya Sebatas istri kedua

Hanya Sebatas istri kedua
Bab 40


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat, hari-hari yang di lalui seperti biasa.


Dua bulan telah berlalu, setelah kejadian itu. Saskia tidak mau berbicara lagi dengan Sarmila, meskipun sering bertemu di rumah karena mereka tinggal satu atap. Sulit juga untuk menghindari Sarmila, entah mengapa akhir-akhir ini Sarmila sering mengurung diri di kamar. Bahkan sekarang Sarmila terlihat sangat tidak terurus, seperti orang yang stres dengan keadaan.


Yoga jarang pulang ke rumah, entah apa yang di lakukan nya di luar. Bahkan untuk tidur bersama Saskia saja sekarang tidak lagi, meskipun ada di rumah. Yoga menyendiri di ruang kerja, Saskia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin ini semua berawal dari masalah nya bersama Sarmila, Yoga belum bisa berdamai dengan keadaan.


Pagi hari biasanya Saskia selalu menyiapkan semua keperluan suaminya, entah mengapa hari ini ia tidak kuasa hanya sekedar untuk bangun. Kepalanya pusing mual dan lemas, jangan kan untuk melakukan aktivasi seperti biasa hanya untuk bangun dan pergi ke kamar mandi saja ia tidak kuasa. Perempuan ini memilih tetap berada di atas tempat tidur dengan tubuh di balut dengan selimut, ia juga tidak suka dengan sinar matahari yang masuk ke dalam kamar melalui celah jendela. Makannya gordang tetap di biarkan tertutup agar terhindar dari sinar matahari pagi. Bagi Saskia sinar itu yang sudah membuat nya mual, meskipun tubuhnya lemah akan tetapi jika ingin muntah ia tetap pergi ke toilet.


Terdengar pintu kamar terbuka, Saskia tidak memperdulikan itu semua. Ia terus berada di bawah selimut dengan mata terpejam.


"Kia... mengapa belum ada sarapan, sebentar lagi aku berangkat" kata Yoga sambil berganti pakaian, ia baru pulang pagi. Ini kebiasaan baru Yoga, jarang pulang dan selalu mempunyai alasan untuk berada di luar rumah.


Perempuan itu tidak menjawab apapun, Saskia masih saja asik di bawah selimut. Bayinya yang berbicara itu adalah sebuah syair lagu yang membuat tidur semakin pulas.


"Kia... aku sedang bicara sama kamu, jangan diam saja! " kata Yoga sambil menyibak selimut yang membalut tubuh sang istri.

__ADS_1


"Apaan sih, Mas... aku masih mau tidur, aku mual dan muntah terus tubuh ku rasa nya lemas" kata Saskia dengan nada bicara yang pelan, sungguh ia tidak kuasa walaupun hanya sekedar untuk berbicara.


"Apa kamu sakit? mengapa diam saja, bukan nya pergi ke dokter" kata Yoga sambil duduk di sisi tempat tidur sambil menatap wajah sang istri yang masih memejamkan mata.


"Aku hanya mual, mungkin ini masuk angin. Jika mau berangkat kerja minta bibi saja sarapan nya, aku nggak bisa nyiapin itu semua. Minta maaf ya " ucap Saskia, tapi ia enggan membuka matanya.


"Bangun lah, bagaimana nggak pusing kalau kamu tidur terus. Aku nggak mau sarapan jika harus di siapkan oleh pelayan, di sini kamu itu istri ku. Sudah menjadi kewajiban mu menyiapkan semuanya" kata Yoga tanpa mau tahu keadaan Saskia pada saat ini.


Akhirnya Saskia pun terpaksa bangun dan turun dari atas tempat tidur lalu berjalan perlahan untuk segera pergi ke dapur. Untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang istri yaitu menyiapkan semua keperluan suaminya, termasuk dalam keadaan sakit pun perempuan jangan mengeluh. Karena ada tangung jawab yang sangat besar untuknya.


Setelah sampai di dapur, Saskia langsung mengambil bahan masakan. Lalu ia bersiap untuk memasak, akan tetapi rasa mual itu semakin kuat, ketika mencium aroma bumbu dapur. Langsung mengeluarkan isi perutnya padahal belum makan apapun, pelayan yang melihat itu langsung mendekat ke arah Saskia dan membantu perempuan itu untuk berjalan dan duduk di salah satu kursi yang ada di dapur.


Saskia menggelengkan kepala, lalu ia berusaha untuk berdiri dan menyelesaikan apa yang akan di masak untuk sarapan sang suami. Akan tetapi sebelum sampai di depan meja yang tersedia bahan masakan itu ia merasa gelap dan memangil pelayan, untung saja pelayan itu sigap sehingga Saskia jatuh ke dalam pelukan nya.


Betapa terkejutnya saat melihat keadaan Saskia sudah tidak sadarkan diri, pelayan itu merasa panik dan segera memanggil pelayan yang lain juga untuk membantu dirinya dan memangil Yoga.

__ADS_1


Setelah beberapa saat Yoga datang, dan langsung mengendong istrinya untuk segera di bawa masuk ke dalam kamar. Saskia langsung di baringkan di atas tempat tidur, akan tetapi Yoga bingung harus berbuat apa. Yang dia ingat hanya satu yaitu sang Mama, Yoga langsung mengambil ponsel nya dan segera menghubungi nya. Panggilan pun sudah terhubung, dan sang Mama langsung menjawabnya.


"Ada apa menelpon pagi-pagi seperti ini? " tanya sang Mama di balik telepon nya.


"Ma... Saskia pingsan, aku harus bagaimana ini! " kata Yoga panik, sungguh ia tidak tahu harus berbuat apa.


"Hai anak bodoh, istri mu pingsan malah telpon ke mari. Bukan langsung di bawa ke rumah sakit atau menghubungi dokter, Cepat bawa dia ke rumah sakit jangan sampai telat! " kata Sang Mama dengan nada bicara yang judes, memang aneh yang di lakukan Yoga.


Setelah mendengar perkataan sang Mama Yoga baru ingat terhadap pasilitas kesehatan, dan ia langsung mengakhiri sambungan telepon nya. Dan meminta pelayan untuk memangil sopir dan pergi ke rumah sakit membawa Saskia.


Yoga langsung mengendong Saskia, untuk segera di bawa ke tempat pelayanan kesehatan. Perempuan ini belum juga sadarkan diri, setelah beberapa saat Yoga sudah sampai di halaman rumah dan kendaraan sudah siap berangkat. Ia langsung membawa istrinya untuk masuk ke dalam kendaraan dan memerintahkan sopir untuk segera jalan.


Yoga membaringkan istri dan paha dia di jadikan alas untuk kepala sang istri, ia merasa bersalah dengan kejadian pagi ini. Andaikan ia tidak meminta sarapan dan membiarkan istrinya tidur pasti hal ini tidak akan terjadi.


"Kia maafkan aku, ini semua kesalahan ku... andaikan tadi tidak meminta sarapan pasti tidak akan terjadi hal seperti ini" ucap Yoga sambil mengelus kepala sang istri dengan lembut. Ia menatap wajah perempuan yang belum sedekahkan diri. Terlihat dengan jelas sangat pucat dan lebih tirus, perempuan yang sekarang ada di hadapan nya ternyata lebih kurus.

__ADS_1


Kamu sekarang terlihat lebih kurus, apakah perlakuan ku selama ini sangat menyakitkan bagimu. Semua ini aku lakukan demi melampiaskan amarahku untuk Sarmila, dan aku sejujurnya tidak ingin menyakiti kamu tapi entah mengapa saat berada di rumah kedamaian hatiku tidak ada. Rasanya ingin marah dan melampiaskan nya terhadap mu, makanya sekarang jarang di rumah itu semua untuk menghindari agar aku tidak berkata kasar dan menyakiti perasaan mu. Dan ternyata tindakan ku telah melukai hatimu.


Yoga terus membatin sambil menatap lekat wajah sang istri yang belum sadarkan diri, ia genggam tangan itu agar istrinya merasakan akan kehadiran diri nya dan cepat sadar.


__ADS_2