Hanya Sebatas istri kedua

Hanya Sebatas istri kedua
Bab 6 Pertemuan pertama bersama Sarmila


__ADS_3

"Kamu lagi butuh duit? aku punya solusinya untuk semua masalah mu" kata Sarmila sambil menyilangkan kedua tangan nya di depan dada. Dengan sombongnya dia berbicara seperti itu, di hadapan Saskia.


"Maaf aku tidak membutuhkan uang mu! simpan saja" kata Saskia sambil pergi berlalu meninggalkan Sarmila.


Mereka sudah berada di depan, dan kembali bersama Yoga.


"Lebih baik kalian pulang, aku belum bisa menerima nya. Lagian sebentar lagi akan mulai bekerja! " kata Saskia dengan nada bicara yang lembut, ia lagi tidak ingin membicarakan hal lain. Pikiran nya fokus terhadap sang ibu yang sedang membutuhkan pengobatan sedangkan dirinya tidak memiliki uang dengan jumlah yang sangat banyak, sebab setia bulan uang hasil kerja nya selalu di kirim ke kampung.


"Kenapa seperti itu? bukan nya kemarin kamu bilang, meminta Sarmila yang datang ke sini tetapi mengapa belum ada keputusan?" tanya Yoga, sambil menatap Saskia.


"Aku menyuruhnya datang ke sini, agar dia tahu bahwa suaminya tidak setia! "


"Tapi,Kia... "


"Berikan dia waktu, mungkin belum siap dengan semua ini. Kita tunggu beberapa hari lagi" kata Sarmila sambil menatap lekat sang suami.


Setelah berbicara seperti itu Saskia pergi ke belakang untuk meninggal sepasang suami istri, yang menurut nya tidak waras. Ia merasa aneh ko mau seorang istri melamar perempuan lain untuk suaminya, memang dunia ini sudah gila atau orang yang berada di dunia lebih gila.


Yoga yang belum mendapatkan jawaban dari Saskia merasa putus asa, mengapa jadi seperti ini. Ia pikir Saskia akan dengan mudah menerima lamaran dari istri pertama nya, tetapi kenapa malah menghindar.


"Apa Saskia tidak memiliki perasaan yang sama dengan ku selama ini, ternyata dia hanya menjadi pendengar saja. Tapi kenapa dengan ku begitu tenang dan nyaman saat bersama nya... beda lagi saat bersama Sarmila, panas rasanya saat dekat dengan nya" batin Yoga.

__ADS_1


"Ya sudah kita pulang saja! tapi tunggu sebentar aku mau bicara sebentar dengan Saskia" kata Sarmila.


Dia langsung bangkit dari duduknya langsung pergi menemui Saskia.


Setelah berada di dekat Sarmila yang sedang meracik kopi pesan pelanggan, untung saja kafe ini milik Ali sahabat dari Yoga jadi ada kebebasan untuk mendekati para pelayanan di kafe ini termasuk mengganggu yang lagi bekerja.


"Pikirkan lagi perkataan ku yang tadi! jika kamu membutuhkannya silakan hubungi nomor ini! " kata Sarmila sambil meletakkan kartu nama di dekat Saskia. Dan setelah itu ia pergi meninggalkan Saskia yang masih berdiri sambil bekerja.


Setelah kepergian Sarmila, Saskia pun mengusap wajahnya dengan kasar. Kenapa ia harus terlibat dengan Yoga dan juga Sarmila, sungguh ia tidak nyaman dengan keadaan seperti ini.


"Kia... itu istrinya Pak Yoga ya? ngapain dia datang ke tempat ini menemui kamu? " tanya Rara, ia kepo sekali dengan kedatangan Yoga beserta istrinya.


"Dia melamar ku" jawab Saskia dengan nada bicara yang santai.


"Nggak tahu, aku masih belum memikirkan hal itu. Sekarang lagi puyeng mikirin uang untuk biaya operasi ibu, sedangkan bekerja di sini saja belum lama. Nggak mungkin juga meminjam uang terhadap bos dengan jumlah banyak" kata Saskia dengan raut wajah yang sedu.


"Coba saja, bicara sama Pak Ali. Siapa tahu dia lagi berbaik hati dan mau meminjamkan uang terhadap kamu, memangnya butuh uang berapa untuk biaya pengobatan ibu mu? "


"Nanti aku coba setelah selesai bekerja"


Akhirnya percakapan mereka selesai sampai di situ, dan bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing.

__ADS_1


Waktu bergulir begitu cepat, waktu kerja sudah selesai saat mereka semua untuk pulang dan menyudahi aktivitas di hari ini. Di saat semuanya pulang, Saskia masih bingung. Apakah benar dia harus meminjam uang terhadap Ali atau tidak, hatinya sangat ragu untuk mendapatkan pinjaman dari bos nya. Sebab jumlah uang yang di butuhkan sangat lah banyak.


Di saat yang lain sudah pulang semuanya, tetapi Saskia masih duduk di kursi depan menunggu Ali pulang. Sebab sang bos selalu pulang terakhir dari karyawan nya.


"Kia... kenapa masih di sini? ku kira kamu sudah pulang dari tadi" kata Ali yang berdiri di samping Saskia, yang sudah siap untuk pulang dan bertemu anak dan istri.


"Maaf, saya lagi menunggu Bapak"


"Kenapa harus menunggu Saya, kan biasanya juga langsung pulang. Apa ada sesuatu yang ingin di sampaikan? " tanya Ali.


"Sebelum nya, saya minta maaf. Bukan bermaksud apa-apa, saya lagi butuh uang untuk biaya operasi ibu di kampung. Jika Bapak berkenan saya ingin meminjamkannya, nanti bayarnya di potong saja dari gaji saya tiap bulan"


"Memang ibu mu sakit apa? dan berapa uang yang kamu butuhkan?" tanya Ali.


"Jantung dan untuk biaya operasi sekitar 50 juta, dan saya tidak memiliki uang untuk biaya itu" kata Saskia sambil menatap lurus ke depan, sungguh ia merasa sangat frustasi dengan keadaan seperti ini.


"Jika uang sebanyak itu, aku tidak punya. Kamu sendiri juga tahu, pendapatan di sini seperti apa. Sudah bisa membayar kalian juga udah syukur, semenjak COVID keadaan kafe ini sangat memprihatinkan. Omset penjualan menurun pesat, sekarang baru mulai berbenah lagi dan untuk uang sebanyak itu aku nggak punya. Coba kamu bilang sama Yoga, uang dia kan nggak bakal habis tujuh turun. Dengan mudah bagi dia hanya mengeluarkan uang sebanyak itu"


"Ya, sudah... terimakasih banyak ya, Pak"


Setelah pembicaraan itu, Ali pulang dan juga Saskia pulang. Tetapi gadis itu masih terus berfikir bagaimana ia harus mendapatkan uang sebanyak itu dengan waktu yang singkat, sedangkan dia di kota belum banyak mengenal orang. Ia terus berjalan kaki untuk sampai di rumah, ia tidak perduli dengan hujan yang mulai turun. Bahkan hujan semakin deras tetapi Saskia malah tidak memperdulikan itu semua, ia bahkan bisa menangis dengan puas di bawah guyuran air hujan. Hingga sampai di rumah sewa miliknya, ia sudah basah kuyup.

__ADS_1


Setelah sampai di rumah ia langsung pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuh nya lalu berganti pakaian, rasa lelah setelah seharian bekerja di tambah lagi beban pikiran yang ada. Lengkap sudah yang di rasakan Saskia pada saat ini, di saat ia merebaknya tubuh nya dan notifikasi pesan terdengar.


"Kia bagai mana? apakah kamu sudah mendapatkan uang nya, ibu mu harus segera mendapatkan pertolongan. Waktunya sudah tidak banyak, jika lambat akibatnya bisa patal dan kamu pasti menyesal seumur hidup " isi pesan yang di kirim sang Bibi, seketika kepala Saskia semakin berat. Sungguh tidak sanggup lagi untuk berfikir


__ADS_2