
Saskia memaksa Bibi untuk memberi tahu di mana sang ibu, tetapi ia sudah bisa menebak saat Bibi hanya diam dan setelah itu meminta maaf. Seketika kaki sarah tidak mampu lagi untuk menopang bobot tubuhnya hingga ambruk di lantai. Saskia tidak kuasa menahan kesedihan kehilangan orang tua yang di perjuangkan nya, ia rela menjual harga diri demi pengobatan sang ibu. Tetapi pengorbanan nya sia-sia, Setelah puas menangis ia mengusap air mata nya dengan perlahan.
"Bi, di mana ibu sekarang... biarkan aku melihat nya untuk yang terakhir kali" ucap Saskia dengan bibir bergetar, Bibi tidak menjawab ia hanya menunjuk ke arah ruangan yang bertuliskan di depan nya Ruang Zenajah.
Dengan perlahan Saskia menggerakkan kakinya untuk berjalan dan menuju ruangan tersebut, setelah beberapa saat akhirnya ia sampai di depan pintu lalu mendorong nya dengan perlahan. Saskia melihat ke sekeliling dan ternyata di ruang tersebut hanya ada satu brankar yang ada isinya, ia sudah yakin bahwa itu adalah sang ibu yang sangat di rindukan nya. Ia rela melakukan apapun untuk kesembuhan nya, tapi takdir Tuhan berkata lain.
Saskia dengan perlahan mendekati sang ibu, lalu membuka kain penutup yang menutup seluruh tubuh nya. Terlihat dengan jelas wajah yang pucat namun bibirnya tersenyum seolah mengajak tersenyum kepada Saskia, ia tak kuasa menahan tangis. Tetapi sekuat tenaga ia tahan air mata itu agar tidak keluar di hadapan sang ibu.
"Bu... aku datang membawa uang banyak untuk biaya pengobatan ibu, tahu nggak uang itu dari mana? aku rela menjadi istri ke dua dari orang kaya demi uang. Agar ibu bisa sembuh, tapi kenapa ibu tega meninggalkan aku pergi...padahal tunggu sebentar saja, terus uang sebanyak itu untuk apa? jika ibu sudah pergi bahkan rasanya aku juga ingin ikut pergi bersama ibu menyusul ayah dan kita bahagia bersama di sana" kata Saskia sambil menyeka air matanya, ia berusaha untuk kuat di hadapan sang ibu.
Yoga masuk ke dalam ruangan di mana Saskia sedang berbicara di samping sang ibu, walau bagaimana pun saat ini ia sudah menjadi suami dari Saskia. Yaitu menantu dari ibunya Saskia.
Setelah sampai di dalam Yoga meraih bahu Saskia lalu di bawa ke pelukan nya, saat ini Saskia hanya pasrah menerima perlakuan dari Yoga. Pikiran nya sangat kacau.
__ADS_1
"Sabar... ini ujian untuk mu, kita semua akan mati hanya saja waktu dan tempatnya kita belum tahu, dan penyebab kematian nya apa... kamu masih beruntung masih bisa melihat wajah ibumu dan bisa memilih adan di makam kan di mana? agar tiap hari atau minggu masih bisa mengunjungi nya. Bahkan tidak banyak orang yang beruntung seperti mu, mereka kehilangan orang yang sangat di cintai tanpa melihat jenazah nya dan kuburan nya. Mereka hanya bisa menatap lautan yang luas, sebab mereka berfikir Bahwa orang yang sangat mereka cintai meninggal di telan lautan. Kamu ingatkan kan di saat kecelakaan pesawat? seluruh anggota keluarga mereka menangis hanya ingin melihat keluarga nya untuk yang terakhir kali meskipun itu dalam bentuk sudah tidak bernyawa, tapi apa yang mereka dapatkan! tidak ada kan, kamu masih beruntung di bandingkan dengan mereka" kata Yoga sambil mengelus pundak sang istri, Saskia pun nyaman rasanya.
Waktu bergulir begitu cepat, hari ini proses pemakaman ibu dari Saskia. Semua di urus oleh sang Bibi, Yoga tidak pernah jauh dari Saskia. Sebab laki-laki itu sangat tahu bagaimana rasanya menjadi Saskia pada saat ini, ia hanya berusaha agar perempuan itu tidak larut dalam kesedihan nya. Sang Bibi belum bertanya soal laki-laki yang bersama Saskia, sebab menurutnya saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya hal seperti itu.
Saskia masih duduk dan menatap gundukan tanah yang berada di hadapan nya, ia enggan untuk bangkit dan meninggalkan sang ibu yang sudah berada di dalam tanah. Di saat semua orang sudah pulang, hanya tinggal Saskia dan Yoga yang berada di pemakaman. Setelah cukup lama dan Yoga rasa harus membawa pulang sang istri, ia juga takut terjadi sesuatu dengan Saskia sebab dari semalam tidak ada yang di makan nya. Bagaimana kalau Saskia sampai sakit.
"Ayok kita pulang, biarkan ibu tenang... sekarang dia sudah tidak sakit lagi, mungkin sekarang sudah bertemu dengan Ayah atau bahkan sedang tersenyum menatap putri kebanggaan nya yang sangat menyayangi kedua orang tuanya, kamu anak yang hebat pasti mereka bangga mempunyai kamu" bujuk Yoga terhadap Saskia, ia tidak ingin hal yang tidak di inginkan terjadi kepada istrinya. Kalau Saskia sakit siapa yang akan merawatnya nanti.
Akhirnya Saskia mengikuti sang suami untuk segera pulang, mereka akan kembali ke rumah sang Bibi. Sebab selama ini ibu Saskia tinggal bersama nya, rumah peninggalan ayahnya sudah di jual. Oleh karena itu Bibi yang baik bersedia merawat dan menampungnya, Saskia sangat berhutang budi terhadap Bi Marni.
Yoga duduk di samping Saskia lalu mengulurkan tangannya yang berisi makanan.
"Makan dulu... nanti sakit! " kata Yoga sambil memberi isyarat agar Saskia membuka mulutnya, untuk pertama kalinya Yoga melakukan hal seperti ini terhadap seorang perempuan. Bahkan terhadap Sarmila saja ia belum pernah melakukan ini, dengan perlahan Saskia membuka mulutnya dan menerima perlakuan Yoga yang seperti ini.
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua makan bersama dengan tangan Yoga yang menyuapi Saskia, entah mengapa perempuan itu selalu diam mendapatkan perlakuan dari Yoga.
Waktu bergulir begitu cepat, suasana rumah sudah semakin tenang dan hati Saskia juga sudah sedikit lega. Saatnya ia memberikan penjelasan terhadap sang Bibi statusnya pada saat ini, dan betapa terkejutnya saat dia bilang bahwa Yoga itu suaminya yang baru saja menikah tadi malam.
"Kalian menikah dengan cara seperti itu, jangan bilang kalian di gerebek pak RT lalu di nikahin paksa" kata sang Bibi yang meminta penjelasan lebih dari keponakan nya itu.
"Nggak seperti itu ceritanya, Bi... aku nggak mungkin mempermalukan keluarga"
"Baguslah kalau begitu, kamu bisa menjaga kehormatan sebagai perempuan... Terus setelah ini mau kembali ke kota atau tinggal di sini? " tanya sang Bibi.
"Mulai saat ini, Saskia sudah menjadi istri saya dan dia akan kembali ke kota dan tinggal bersama" Yoga yang menjawab pertanyaan sang Bibi untuk Saskia.
"Kalau begitu saya titip dia, jangan pernah menyakiti nya karena kami tidak pernah menyakiti nya! " pesan sang Bibi.
__ADS_1
"Saya janji akan menjadi suami yang baik dan berusaha membahagiakan nya"