
Sarmila menatap lekat wajah suaminya yang berubah menjadi dingin, biasanya laki-laki ini selalu menyambut hangat kedatangan nya. Mengapa kali ini seolah tidak perduli akan kehadiran nya di rumah ini, padahal sebelum berangkat hubungan keduanya baik-baik saja.
"Sayang, ada apa dengan kamu? apakah baik-baik saja? " tanya Sarmila sambil terus mendekatkan tubuh nya terhadap Yoga, akan tetapi laki-laki itu malah mundur.
"Aku baik-baik saja bahkan sangat baik, tidak perlu khwatir. Istirahat saja, mungkin liburan kali ini sangat menguras tenaga kamu. Di sana kan kamu berlatih menunggang kuda, dan bermain pedang" sarkas Yoga.
Seketika Sarmila mengerutkan kening nya. "Kuda, pedagang... aku tidak bermain itu semua. Bahkan kamu tahu sendiri aku nggak suka dengan hal-hal yang ekstrem seperti itu" jawab Sarmila, ia belum tahu arah pembicaraan sang suami ke mana.
"Owhh begitu ya... silakan istirahat, aku mau melanjutkan pekerjaan yang belum selesai" kata Yoga.
"Ok, aku ke kamar dulu" ucap Sarmila, sambil melangkahkan kakinya untuk segera menuju ke kamar utama di rumah ini. Akan tetapi Yoga menghentikan nya.
"Eh tunggu dulu, kamar mu bukan di sana tapi di sebelah sana? " kata Yoga sambil menunjuk ke arah kamar tamu.
Seketika Sarmila kaget dengan perkataan suaminya.
"Maksud kamu apa? sejak kapan aku pindah ke kamar itu, dan selama kita menikah tidak pernah tidur di kamar lain" jawab Sarmila.
"Apa masih kurang jelas? mulai sekarang kamar yang akan kamu tempati di sana, dan posisi kamu di rumah ini hanya numpang terhadap Saskia, karena rumah ini telah menjadi milik nya. Suka atau tidak itu bukan urusan saya! " kata Yoga dengan nada bicara penuh penekanan.
"Jangan bercanda sayang, ini tidak mungkin" kata Sarmila, ia tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh suaminya.
__ADS_1
"Kenapa tidak mungkin? "
"Bukan kah selama ini kamu sangat mencintai ku, jadi pasti ini bohong kan! " Sarmila mulai panik.
"Aku sangat sayang sama kamu, bahkan sampai buta mata dan hatiku sehingga tidak bisa melihat keburukan di dalam diri kamu. Selama ini aku sangat percaya dengan semua perkataan mu, bahkan dulu aku rela menentang keluarga ku demi menikah dengan dirimu. Aku pikir kamu adalah berlian, nyatanya hanya sebuah batu kali yang tidak ada harga nya. Selama ini aku tidak pernah mendengarkan siapa pun, bahwa kamu seorang perempuan yang tidak ada harga dirinya" kata Yoga, mulai mengeluarkan apa yang ada di hatinya.
"Kamu itu ngomong apa sih, aku nggak ngerti. Apa masalah nya? " tanya Sarmila lagi, ia belum mampu mencerna dari semua perkataan Yoga.
"Justru ini semua masalah nya di mulai dari kamu! " kata Yoga sambil menunjuk wajah Sarmila dengan sorot mata tajam.
Saskia yang memperhatikan interaksi antara suami istri itu sangat takut, apalagi Yoga mulai tidak bisa mengendalikan amarahnya.
"Aku semakin tidak mengerti, baru saja pulang di sambut dengan keadaan seperti ini. Kalau tahu bakal seperti ini lebih baik nggak usah pulang sekalian" kata Saskia, ia juga mulai terpancing emosi nya.
"Apa maksud kamu mengusir ku, apa ini semua karena j4l4ang itu sudah berhasil menghasut mu"
"Jaga bicara mu, dia lebih terhormat di bandingkan dengan dirimu. Liat dirimu baik-baik apa masih pantas di sebut istri, setelah menghabiskan waktu bersama pria lain. Rela meninggalkan suaminya demi bersenang-senang bersama b4jing4n itu, apa aku selemah itu sehingga kamu tidak puas. Sampai kamu mencari kepuasan diluar sana" ucap Yoga dengan nada bicara penuh emosi.
Sarmila sudah mulai faham arah pembicaraan sang suami akhirnya mulai melemah, ia sadar bahwa posisi nya saat ini sedang tidak aman.
"Sayang kamu mendapatkan informasi darimana, dan itu semua tidak benar. Mungkin orang itu iri dengan kebahagiaan kita" kata Sarmila dengan nada bicara lembut dan ekspresi wajah yang sedih.
__ADS_1
"Tidak perlu tahu aku tahu darimana yang jelas kamu sudah berkhianat, dan menodai pernikahan ini!. Pantas saja kamu tidak ingin mengandung anak dariku ternyata kamu seperti itu"
"Itu semua tidak benar" Sarmila berusaha untuk menyangkal nya.
"Apa perlu aku kasih bukti, bahwa semua yang aku katakan itu benar adanya"
"Coba saja tunjukkan, aku tidak merasa mengkhianati mu. Cinta ku hanya untuk mu, bahkan jika saat ini kamu meminta ku untuk berhenti bekerja maka aku akan melakukan itu" kata Sarmila dengan raut wajah sedih nya.
"Tidak perlu berhenti bekerja atau peduli kan aku lagi, Ayok sekarang ikut aku! " kata Yoga sambil menarik paksa Sarmila tanpa belas kasihan, Sejujurnya Yoga ingin mencekik perempuan yang sekarang muncul di hadapan nya. Ia berusaha untuk mengendalikan amarah nya.
Setelah beberapa saat mereka sudah sampai di sebuah ruangan dan Yoga langsung menghempaskan tubuh Sarmila, sehingga perempuan itu terhuyug. Hampir saja ia terjatuh, Yoga langsung membuka laptop dan menyalakan proyektor dan terlihat dengan jelas di layar bahwa Sarmila sedang bermain dengan pria lain.
"Coba kamu perhatian video itu? apakah itu semua kepalsuan bahkan terlihat dengan jelas bahwa kamu sangat menikmati nya, saat bersama ku selalu banyak alasan. Capek lah apa lah, dengan bodohnya aku percaya semua tipu muslihat mu. Dan sekarang aku tahu alasan kamu sering menolak ku, dan ternyata dia" kata Yoga menujuk layar yang sedang menampilkan adegan panas Sarmila bersama pria lain.
Sarmila tidak bisa berkata apapun, lidahnya merasa kelu. Sungguh ia tak mampu lagi berkata, sekarang dirinya sedang berada di ambang kehancuran. Sarmila langsung berhambur dan memeluk kaki Yoga untuk memohon ampun.
"Lepaskan tangan mu! jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu itu" bentak Yoga sambil mundir agar agar tangan Sarmila lepas dari kakinya. Sarmila masih tetap memegang kaki Yoga sambil menangis dan memohon ampun, ia mengakui kesalahan nya. Akan tetapi Yoga malah menendang perempuan yang sedang memeluk kakinya, sehingga perempuan itu terjungkal.
"Tolong maafkan aku" ucap Sarmila sambil bersujud di kaki Yoga.
Sarmila terus menangis sambil memohon ampun, Yoga tetap diam tanpa berkata apapun. Sakit, hancur, atas perbuatan yang di perbuat istrinya. Rasanya masih tidak percaya jika istri yang sangat di banggakan dan ia cintai begitu tega menghancurkan hidupnya dengan cara seperti ini. Hati Yoga bagaikan di sayat pisau lalu di siram dengan cuka, bahkan ia sudah tidak mampu lagi untuk berkata apapun. Atas kesalahan yang di perbuat istrinya.
__ADS_1
"Pergi dari ruangan ini, tidak sudi saya melihat wajah kamu lagi! " bentak Yoga.