Hanya Sebatas istri kedua

Hanya Sebatas istri kedua
Bab 34 Sarmila bunuh diri.


__ADS_3

Saskia berjalan dengan cepat langsung menuju Sarmila, di mana perempuan itu sudah bersimbah darah.


Betapa terkejutnya Saskia saat melihat keadaan Sarmila sudah tidak berdaya, dengan keadaannya yang sangat panik dan takut melihat Sarmila seperti itu.


Saskia berteriak memanggil orang yang ada di rumah ini, setelah beberapa saat para pelayan pun datang menghampiri Saskia.


Mereka semu sangat terkejutnya ketika melihat Sarmila sudah tidak berdaya, Saskia masih masih tidak percaya dengan keadaan yang dilihatnya pada saat ini.


Ia juga tidak berani untuk menyentuh tubuh Sarmila, sebelum ada orang yang melihatnya Saskia gemeteran memeluk tubuhnya sendiri sambil membulatkan matanya melihat keadaan Sarmila pada saat ini.


Saking paniknya ia sampai lupa memerintahkan orang untuk segera memanggil ambulans dan membawa Sarmila ke rumah sakit.


"Coba kamu cek terlebih dahulu Apakah masih ada nafasnya atau tidak!" perintah Sarmila terhadap seorang pelayan yang sedang berdiri di hadapan Saskia pada saat ini, pelayan itu juga tidak berani untuk menyentuh tubuh Sarmila.


" Saya takut Nyonya" jawab pelayan itu sambil mundur beberapa langkah.


"Saya juga takut" kata Saskia dengan nada bicara sambil gemetaran.


"Terus kita mesti bagaimana?" tanya pelayan itu.


"Kalau kamu takut coba kamu panggil sopir Secepatnya, atau petugas keamanan yang sedang berjaga! " perintah Saskia terhadap salah satu pelayan yang ada di sana.


Setelah beberapa saat pelayan itu pergi meninggalkan Saskia di dalam kamar yang masih berdiri di temani beberapa pelayan lainnya, tanpa berani menyentuh tubuh Sarmila.


Akhirnya sopir dan penjaga rumah pun datang ke tempat ini, lalu Saskia memberikan perintah dua orang itu untuk segera membawa Sarmila ke rumah sakit.


Dua laki-laki itu langsung membopong tubuh Sarmila, lalu dimasukkannya ke dalam kendaraan yang akan membawanya ke rumah sakit.


Jika harus menunggu ambulans datang itu bisa saja terlambat, Saskia mengambil tasnya terlebih dahulu ke dalam kamar.


Setelah beberapa saat ia sudah kembali lalu ia juga ikut bersama sopir dan satu pelayan untuk mengantarkan Sarmila ke rumah sakit.


Pak sopir mengajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, sebab Ia juga khawatir dengan keadaan Sarmila pada saat ini, takut Nyonya besarnya itu tidak bisa diselamatkan.


Terlalu banyak darah yang dikeluarkan oleh perempuan ini, akan tetapi detak jantungnya masih berfungsi hanya saja dalam keadaan tidak sadar.


Perjalanan yang mereka tempuh tidak terlalu jauh, akhirnya sudah sampai di depan klinik kesehatan. Pak sopir langsung turun, lalu menggendong tubuh Sarmila untuk segera dibawa ke ruang Unit gawat darurat akhirnya sudah berada di dalam ruangan.


Lalu ada beberapa perawat yang menghampirinya dan langsung mengecek keadaan Sarmila, di sisi lain Saskia diharuskan daftar terlebih dahulu ke bagian administrasi, yang menunggu Saskia saat ini adalah Pelayan yang ikut bersama mereka.

__ADS_1


Setelah dicek melalui alat-alat kesehatan yang tersedia di rumah sakit oleh tenaga ahli, akhirnya Sarmila pun dinyatakan masih hidup dan hanya saja membutuhkan pendonor darah diakibatkan banyak darah yang keluar dari tubuhnya.


Kehilangan banyak darah itu yang mengakibatkannya menjadi lemas dan tidak sadarkan diri.


Lalu perawat tersebut pun menjahit luka di bagian tangan Sarmila Untuk menghentikan pendarahan, mereka semua sangat heran dengan seorang perempuan yang nekat melakukan hal ini. Sarmila dengan nekat memotong urat nadinya sendiri untuk mengakhiri masalahnya, padahal bunuh diri bukanlah solusi yang tepat untuk menghindari semua masalah.


Padahal dengan cara bunuh diri ia telah menambah masalah, yang tadinya dia sehat akhirnya sakit dan bisa merepotkan banyak orang.


Waktu bergulir Sarmila juga sudah mendapatkan penanganan dari pihak medis, hanya saja perempuan itu belum sadarkan diri.


Saskia menunggu di depan ruangan Unit gawat darurat beserta salah satu pelayan yang ikut bersamanya.


Sedangkan Pak sopir sudah pulang kembali ke rumah mereka, Saskia juga sudah menghubungi Yoga.


Saskia menghubungi sang suami untuk memberi tahu keadaan Sarmila pada saat ini.


Akan tetapi laki-laki itu tidak merespon apapun, bahkan Yoga berkata terhadap Saskia jangan pernah menghiraukan Sarmila.


Mungkin itu adalah hanya sebuah drama yang diciptakan oleh Sarmila, untuk mendapatkan perhatian dari orang-orang yang ada di sekitarnya.


Bahkan Yoga sudah tidak peduli mau hidup atau mati, Sarmila baginya tidak berpengaruh apapun meskipun Saskia sudah berkata dengan nada bicara yang sangat lembut sambil membujuk suaminya untuk datang ke rumah sakit. Yoga tetap Teguh dengan pendiriannya ia tidak mau datang ke rumah sakit untuk saat ini, sebab Ia sedang berada di kantor dan banyak pekerjaan itulah alasan yang diberikan oleh hingga terhadap Saskia.


Saskia juga tidak percaya begitu saja, jika memang Yoga sayang terhadap istrinya sudah pasti laki-laki itu langsung datang dan menemui istrinya Mungkin saja rasa sakit yang dirasakan oleh Yoga begitu dalam.


Saskia diam sejenak dan ingat dengan sangat ibu mertua.


Lalu Saskia memberanikan diri untuk menghubungi ibu mertua nya.


Saskia mengambil ponselnya lalu mengusap layar dan menghubungi Ibu mertuanya.


Pangilan telepon sudah tersambung, Saskia diam sejenak.


"Hallo, Ma.... ini Kia, mau memberi tahu bahwa mbak Sarmila sekarang berada di rumah sakit" kata Saskia melalui sambungan telepon nya.


"Apa...Sarmila sakit" jawab sang mertua di sebrang sana.


"Iya,Ma..Mas Yoga masih di kantor, mungkin sore baru ke sini"


"Baiklah,tunggu di sana! Mama akan segera datang"

__ADS_1


Akhirnya sambungan telepon sudah berakhir, dengan berjanji Ibu mertuanya akan segera datang ke rumah sakit ini.


Lalu Saskia menyimpan kembali ponselnya setelah menghubungi Ibu mertuanya itu, ia terus duduk di depan ruangan unit gawat darurat tersebut sebab Sarmila belum dipindah ke ruang rawat.


"Jika Nyonya merasa capek atau lelah, lebih baik pulang saja. Biarkan yang menunggu Nyonya Sarmila saya saja" kata pelayan yang ikut bersama Saskia ke rumah sakit.


"Saya tidak apa-apa, hanya saja saya merasa mual dan pusing Entah kenapa. Apakah ini diakibatkan karena masuk angin atau banyak mencium bau darah sehingga membuatku mual "kata Saskia.


" Apakah Nyonya Butuh sesuatu biar saya mencarikannya"kata pelayan tersebut.


" Tidak perlu saya tidak butuh apa-apa, sebelum melihat Mbak Sarmila siuman saya belum bisa tenang "jawab Saskia dengan raut wajah yang sangat tegang.


Ia sangat khawatir dengan keadaan Sarmila pada saat ini.


Waktu bergulir begitu cepat 1 jam telah berlalu, akhirnya setelah lama menunggu sang ibu mertua pun sudah datang bersama sang bibi.


" Apakah kamu baik-baik saja? "tanya sang ibu mertua terhadap Saskia.


" Iya, aku baik-baik saja" jawab Saskia sambil tersenyum menatap lengkap wajah mertuanya tersebut.


Sedangkan sang Bibi yang melihat interaksi antara mertua dan menantu itu menatapnya dengan sinis terhadap Saskia.


"Yang sakit itu Sarmila Mengapa yang ditanya dia, ini pasti gara-gara perempuan tidak tahu malu dan pelakor Ini "kata Sang Bibi dengan nada bicara penuh penekanan dengan sorot mata yang sangat tajam.


" kamu itu kalau bicara dijaga, sebelum tahu akar permasalahannya dari mana Jangan Pernah Berkata sembarangan " kata mertuanya Sarmila terhadap adik dari suaminya tersebut.


Walau ibunya Yoga tidak suka ketika anaknya menikah lagi, akan tetapi jika sudah terjadi mau tidak mau ia juga harus menerima Saskia menjadi menantunya seperti ia menerima Sarmila.


Adik dari suaminya itu belum bisa menerima kenyataan bahwa Yoga memiliki dua istri.


Mungkin saja sang Bibi tidak suka dengan Saskia, akibat dia juga dikhianati oleh suaminya di masa lalu.


Setelah kejadian itu mereka bercerai dan suaminya memilih istri kedua, makanya ia sangat dendam dan membenci Saskia.


Karena ia juga merasa direbut suaminya oleh orang lain, makanya is sangat membenci Saskia.


" Memang perempuan itu biang masalah, kalau saja dia tidak hadir di dalam kehidupan Yoga Maka Sarmila tidak akan menderita seperti ini "


Mertua Saskia juga mengusap bahu menantunya agar, ia memberi isyarat untuk tidak menghiraukan perkataan sang Bibi.

__ADS_1


Anggap saja itu sebuah angin lewat.


Saskia jujur merasa sakit hati dengan semua perkataan sang Bibi, akan tetapi ia kembali lagi berfikir positif. Mungkin ini hanya sebuah luapan kekesalan dirinya terhadap keadaan di masa lalu, akhirnya Saskia yang menjadi sasaran nya.


__ADS_2