
Di tempat pernikahan Yoga sudah sampai di sana dan Sarmila juga, tetapi Saskia belum terlihat. Penghulu yang akan menikah kan mereka sudah hadir, dan beberapa saksi sudah ada tinggal menunggu pengantin perempuan nya.
"Di mana Saskia? " tanya Sarmila terhadap orang kepercayaan nya.
"Tunggu sebentar saya akan panggilkan! " kata orang tersebut sambil bangun dari duduknya lalu berjalan perlahan untuk segera memanggil Saskia.
Setelah beberapa saat mereka menunggu, akhirnya Saskia muncul dengan mengenakan kebaya putih yang sederhana tampak di balut dengan make-up yang natural, membuat kecantikan perempuan itu semakin terpancar. Yoga yang melihat kedatangan Saskia semakin terpesona, ternyata dia jauh lebih cantik dari Sarmila. Selama ini Yoga tidak pernah melihat Saskia menggunakan riasan wajah, sehingga kali ini tampak lebih pangling.
Saskia sudah duduk di samping Yoga dan akad nikah akan segera di mulai, hati Saskia sudah tidak karuan.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk menjadikan Saskia sah di menjadi istri dari Yoga dengan mahar satu buah rumah dan uang sesuai yang di minta Saskia, sengaja Sarmila melakukan ini agar Yoga tidak curiga dengan perjanjian yang di sepakati antara dirinya dan Saskia. Uang mahar lah yang akan di gunakan Saskia untuk pengobatan sang ibu.
Apakah ini awal dari kebahagiaan ku atau penderitaan, menikah dengan mendadak tanpa ada tamu undangan. Bahkan orang tua pun tidak ada yang mengetahui, pernikahan macam apa ini. Kalau bukan karena ibu, nggak mungkin melakukan ini.
Saskia terus membatin saat acara berlangsung, walau bagaimana pun sekarang status nya sudah menjadi istri ke dua dari Yoga. Lebih tepatnya perempuan yang di bayar oleh istri pertama untuk mencetak anak sesuai yang di inginkan oleh Sarmila, mengerikan sekali nasib Saskia.
Setelah semuanya selesai sebab acara berlangsung tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, satu jam telah berlalu. Saskia ingin segera pulang ke kampung untuk melihat keberadaan sang ibu sekaligus menyerahkan uang untuk pengobatan nya.
"Boleh kah saya pulang terlebih dahulu? " tanya Saskia sambil menatap Sarmila.
"Kamu mau pulang keama? sekarang sudah menjadi istri dari mas Yoga jadi kaku harus pulang bersama nya" kata Sarmila sambil menatap wajah Yoga yang terlihat biasa saja, sebetulnya Yoga pun kaget dengan keadaan ini. Niatnya hanya ingin menggertak Sarmila agar mau mengandung dan melahirkan anaknya, tapi nyatanya dia sendiri yang terjebak dalam pernikahan ini.
"Baiklah kalau begitu mari kita pulang, saya sudah tidak ada waktu lagi. Mau pulang ke kampung untuk segera menemui ibu dia sekarang lagi sakit, kalau nggak. Mas Yoga pulang ke rumah mbak Mila saja, aku mau langsung pergi soalnya! " kata Saskia, ia sudah di kejar waktu jadi tidak ada lagi untuk basa-basi yang tidak penting menurutnya.
Sarmila memerintahkan sopir untuk mengantarkan Saskia sampai di kampung halaman, sebab tidak mungkin Yoga yang pergi mengantarkan Saskia sebab banyak sekali pekerjaan yang harus di selesai, begitu fikir sarmila tapi nyatanya beda dengan pemikiran nya.
"Saya saja yang akan mengantarkan dia, lagipula sudah menjadi kewajiban ku untuk menjaga keselamatan nya" kata Yoga.
Entah kenapa seketika hati Saskia menghangat saat ada orang yang akan menjaga nya mulai saat ini, Sarmila menguatkan hatinya untuk tidak cemburu. Iya sangat yakin bahwa Yoga sangat mencintai nya, buktinya meskipun tidak ingin hamil Yoga tetap tidak meninggalkan nya.
__ADS_1
Akhirnya Yoga mengantarkan Saskia untuk pulang dan Sarmila pulang bersama sang sopir.
Selama di perjalanan Saskia dan Yoga mereka hanya diam, tidak ada percakapan seperti biasa yang sering mereka lakukan. Mereka larut dengan pikiran masing-masing, Saskia pikiran nya sudah berada di kampung memikirkan sang ibu.
Saat di perjalanan ponsel nya berdering dan ia langsung menjawab panggilan tersebut.
"Iya, Bi... apakah ibu baik-baik saja kan? " tanya Saskia terhadap sang penelepon yang ada di sebrang sana.
"Kia, bagaimana kamu sudah mendapatkan uang itu? ibu mu kritis harus segera di operasi sekarang juga kalau tidak! "
Sambungan telepon terputus secara tiba-tiba.
"Halo, Bi... apa yang terjadi? "
"Bi... apa mendengar ku? "
Tetap saja tidak ada jawaban dari sebrang sana, Yoga yang mendengar percakapan itu. Dengan penuh keyakinan ia menyentuh tangan Saskia, tujuan nya ingin menguatkan perempuan itu bahwa sekarang ia tidak sendiri.
"Kontrakan saja dulu, ganti baju dan peralatan yang akan di bawa masih di sana"
Yoga mengarahkan perjalanan mereka untuk segera ke kontrakan milik Saskia, setelah beberapa saat akhirnya sudah sampai.
"Tunggu di sini, aku akan mengambil barang sebentar kamu nggak perlu ikut! " kata Saskia sambil keluar dari dalam kendaraan tersebut.
Setelah Sarmila keluar, Yoga menghubi seseorang untuk segera menemuinya pada saat ini. Ia sangat membutuhkan sopir untuk mengantarkan mereka ke kampung halaman Saskia, Yoga tidak sanggup jika harus mengemudi dalam waktu yang cukup lama. Sedangkan untuk sampai di kampung tempat tinggal Saskia butuh waktu sekitar lima jam.
Saskia telah kembali tetapi perempuan itu tidak membawa apapun hanya berganti pakaian.
"Kenapa tidak membawa apapun, bukan kah tadi mau mengambil barang? " tanya Yoga.
__ADS_1
"Ini sudah"
"Hanya itu? " Yoga heran dengan apa yang di ambil oleh Saskia dan ternyata hanya sebuah tas kecil entah apa isinya.
"Memang nya harus membawa apa? toh saya tidak punya apapun bahkan harga diri pun sudah di jual! " kata Saskia dengan nada bicara penuh penekan.
"Tunggu sebentar! Sopir yang akan mengantarkan kita belum sampai mungkin sebentar lagi"
Saskia tidak menjawab, ia menyandarkan tubuh nya. Lelah rasanya, itu yang di rasakan Saskia pada saat ini.
Dengan penuh hadapan ia membawa uang untuk kesembuhan sang ibu, meskipun mendapatkan uang dengan cara seperti ini.
Setelah cukup lama mereka menunggu akhirnya orang yang di tunggu datang juga.
"Maaf, Tuan saya terlambat! " kata sopir tersebut sambil meminta izin untuk segera masuk dan melanjutkan perjalanan mereka.
Kendaraan bergerak dengan perlahan membelah keramaian kota. Suasana malam yang begitu mencekam, hanya ada sinar lampu yang menghiasi sepanjang perjalanan. Tidak ada sinar bulan atau bintang pada malam ini.
Selama di perjalanan rasa ngantuk mulai menguasai diri Saskia sebab terlalu lelah baginya, mungkin pengaruh obat tidur yang di konsumsi waktu siang belum sepenuhnya hilang. Dengan mudahnya is tertidur dengan pulas dan bersandar di bahu Yoga, meskipun itu tidak di sengaja. Tetapi Yoga dengan senang hati, meskipun pegal rasanya.
Waktu bergulir begitu cepat, mereka sudah sampai di rumah sakit yang di tuju. Setelah sampai di sana Saskia langsung berlari menuju ruangan di sang ibu di rawat, dari kejauhan telah terlihat sang bibi sedang duduk di kursi depan ruangan sambil menunduk.
Saskia langsung berlari menuju sang Bibi
"Bi... ibu di mana? apakah dia baik-baik saja kan, ayo katakan di mana ibu? " tanya Saskia sambil mengguncang kan tubuh sang Bibi tetapi tidak ada jawaban sedikit pun, ia hanya berderai air mata. Lalu memeluk Saskia dengan erat.
"Katakan Bi... jangan seperti ini, ibu di mana? " kata Saskia sambil melepaskan pelukan.
"Maafkan Bibi, Kia..tidak bisa menjaga ibu mu... "
__ADS_1
"Maksud Bibi... a-apa? "