
Keesokan harinya, Yoga terbangun dari tidurnya.
Ia mengerjapkan mata, merasa tidak nyaman dengan cahaya yang masuk melalui celah jendela.
Ia membuka matanya dengan perlahan, lalu menyibak selimut dan bangun. Betapa terkejutnya ia ketika sadar bahwa tubuhnya tidak mengenakan pakaian selai pun.
"Astaga... apa yang terjadi tadi malam, ahh kenapa bisa seperti ini. Ini lagi ada bercak darah,apa mungkin tadi malam aku melakukan nya bersama Saskia, tapi enak juga sih bisa tersalurkan" ucap Yoga dalam batin, sambil tersenyum tipis. Lalu ia melihat ke sampingnya sudah tidak ada orang. Akan tetapi ada seorang perempuan yang meringkuk di atas sofa yang ada di pojok ruangan tersebut.
Yoga berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi tadi malam, semakin mengingat. Kepalanya terasa sakit, yang ia ingat semalam itu hanya merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa, akan tetapi ia juga tidak begitu jelas apa yang dilakukannya malam tadi.
Yoga perlahan turun sambil meraih pakaiannya yang tergeletak di lantai, lalu berjalan perlahan mendekat ke arah Saskia.
Laki-laki itu menatap lekat wajah Saskia yang masih terpejam, terlihat sekali mata perempuan itu sembab. Pandangan Yoga terfokus pada leher sang istri yang tidak tertutup rambut atau selimut, terdapat beberapa bercak merah di bagian leher.
Yoga pun berpikir apa yang dilakukannya tadi malam, sehingga mengakibatkan Sakia seperti habis menangis, terlihat sekali dari mata sebabnya.
Ia mengusap rambut Saskia, setelah cukup lama menatap wajah sang istri dan ia pun mulai merasa bersalah terhadap perempuan yang telah Ia nikahinya.
Meskipun Yoga belum tahu apa yang dilakukannya tadi malam bersama perempuan itu, aka tetapi sudah bisa di simpulkan bawa tanda kepemilikan itu ulah dari kerakusan nya.
Ia terus berfikir apakah memang itu perbuatan nya sudah mengakibatkan sang istri sakit hati atau seperti apa.
Ia akan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, lalu ia bertanya terhadap Saskia apa yang terjadi tadi malam, sebab Ia tidak bisa mengingatnya sama sekali yang ia ingat hanyalah sebuah rasa tetapi tidak ingat apapun itu.
Setelah Yoga pergi ke kamar mandi Saskia membuka matanya, sedari tadi juga perempuan ini sebetulnya tidak tidur. Hanya saja berpura-pura rasa tidur, di sekujur tubuhnya sangat terasa sakit, apalagi di bagian inti miliknya itu sangat mengganggu aktivitasnya. Bahkan hanya untuk ke kamar mandi saja ia males sebab rasa ngilu mulai terasa jika di pakai berjalan.
__ADS_1
Waktu bergulir begitu cepat, Yoga sudah selesai dengan aktivitasnya. Akan tetapi Saskia masih berpura-pura tidur, itu semua untuk menghindari berbicara dengan Yoga. Saskia masih enggan bicara apapun dengan Yoga, sebab menurut nya kelakuan Yoga sudah berhasil membuat hatinya sangat hancur. Ketika di perlakuan dengan kasar oleh pria itu,
Yoga sudah rapi dan telah berganti pakaian, laki-laki itu terus mondar-mandir di dalam kamar.
Ia tidak berani untuk membangunkan perempuan yang ada di kamar bersama dirinya, Iya juga takut dengan perkataan Saskia nantinya setelah dirasa cukup lama. Akan tetapi Saskia tidak juga terbangun dari tidurnya, terpaksa Yoga mendekat ke arah sang istri
" Kia apa mau tidur saja seharian di dalam kamar? kita kan di sini mau liburan jalan-jalan yuk, kita mencari udara segar!" ajak Yoga terhadap Saskia, akan tetapi perempuan itu tidak merespon apapun yang dikatakan oleh sang suami. Terlihat dengan jelas air mata mengalir dari ujung mata yang terpejam, Yoga merasa heran kenapa orang tidur bisa mengeluarkan air mata. Apakah perempuan ini hanya berpura-pura tidur untuk menghindarinya atau memang ini sedang bermimpi atau berada dalam kesedihan.
"Seperti habis menangis, matanya juga sembab. Apa aku sudah menyakiti nya... Ahhh persetan dengan perasaan perempuan, di dunia ini tidak ada seorang perempuan pun yang baik apalagi hati yang tulus mencintai. Mereka hanya sedang bermain peran untuk menjerat mangsa" batin Yoga, ia teringat kembali dengan pengkhianatan yang di lakukan oleh Sarmila.
Setelah itu, ia pergi keluar kamar dan pergi meninggalkan Saskia sendirian.
Ketika Yoga sudah keluar, Saskia juga terbangun. Lalu berjalan perlahan untuk pergi ke kamar mandi, sebab ia sudah tidak tahan untuk segera membuang sesuatu. Ia perlahan melangkahkan kakinya, terasa perih di bagian inti. Mungkin ini karena mereka melakukan nya pertama kali makannya seperti ini.
Ritual Saskia di kamar mandi sudah selesai, ia berniat untuk pulang terlebih dahulu. Kecewa mungkin itu yang di rasakan oleh Saskia pada saat ini, ia rapikan kembali barang-barang miliknya.
"Mau pergi ke mana kamu?" tanya Yoga dengan sorot mata tajam.
"Bukan urusan mu! " jawab Saskia judes.
"Apa kamu bilang! bukan urusan ku, status mu itu istri ku jadi ke mana pun kau pergi harus mendapatkan ijin dariku" ucap Yoga dengan rahang mengeras.
"Apa kamu bilang, istri... hmmm. Istri ke dua yang kau jadikan pelampiasan amarah mu, sehingga kau memperlakukan ku dengan kasar tanpa ampun. Bahkan saat kau merebut paksa ke pe ra waan ku, sambil menyebut namanya. Perempuan mana yang tidak merasa sakit, saat di perlakuan seperti itu oleh suaminya. Pernah kah berfikir, bahwa kamu itu suamiku harusnya bisa menjaga dan membuat ku bahagia. Nyatanya apa, hanya rasa sakit yang kamu ciptakan untuk ku" kata Saskia dengan nada bicara yang tinggi, ia mengatakan itu sambil bergetar tubuhnya menahan amarah.
"Owhh, jadi sekarang kamu sudah berani berbicara dengan meninggi kan suara di hadapan ku, berarti selama ini kamu hanya pura-pura baik dan perhatian untuk mendapatkan simpati dari ku. Dasar semua perencanaan munafik" kata Yoga dengan nada bicara lebih tinggi.
__ADS_1
Airmata Saskia sudah mengalir deras, ia sudah tidak bisa lagi menahan kesedihan.
"Jaga bicara mu! jangan pernah menyamakan ku dengan perempuan lain"
"Kamu tidak sama dengan mereka, jika memang kamu seorang istri yang baik bukan hanya pura-pura. Lakukan peran mu sebagai istri, aku butuh kepuasan di atas ranjang. Maka lakukan lah sekarang! " kata Yoga sambil mendekat ke arah Saskia, dan perempuan itu mundur hingga terpentok di dinding kamar. Tanpa basa-basi Yoga langsung ******* bibir Saskia dengan kasar, perempuan itu hingga kehabisan nafas. Yoga terus melakukan nya, sambil tangan nya membuka kancing kemeja yang di kenakan sang istri. Di bawah sana sudah mulai tegang pertanda ingin segera masuk gua, akan tetapi laki-laki itu masih terus menjelajahi leher hingga ke area bukit kembar.
Saskia ingin berteriak dan dan berontak akan tetapi hatinya, merasakan kenikmatan yang sulit di artikan.
Yoga membawa Saskia ke atas Sofa, yang tadi malam di petanya kan oleh sang istri. Kedua nya sudah tidak tertutup sehelai benang pun, pasrah itu yang di lakukan nya pada saat ini. Sebab semakin Saskia berontak, maka perlakuan kasar dari Yoga yang di terimanya.
"Tadi malam kamu bertanya fungsi dari benda ini, sekarang aku ajarkan cara mengunakan nya" kata Yoga terhadap Saskia yang sudah berada di atas b
sofa itu.
"Jangan lakukan itu lagi, sakit" lirih Saskia, ia sungguh tidak bisa jika tongkat sakti itu masuk kembali.
"Sakit itu ketika baru pertama kali, jika sudah sering maka kamu akan kecanduan"
Saskia menggelengkan kepala sambil berurai air mata, sungguh tragis sekali nasib nya.
Yoga sudah berada di atas tubuh Sakia, laki-laki itu sudah membuat ancang-ancang untuk segera memacu kuda dan membawa masuk pusaka milik nya dan mendapatkan penyatuan agar segera keluar larva dari dalam gua, sehingga puncak kenikmatan yang di dapatkan akibat pergulatan nya bersama sang istri. Ia sudah mulai melakukan nya, dengan kasar sehingga Saskia menjerit kesakitan "tolong hentikan mas... sakit" teriak Saskia sambil mencengkram kuat tangan sang suami.
"Terus lah berteriak, suara mu membuat ku bersemangat untuk memacu senjata lebih kencang" jawab Yoga dengan penuh semangat.
Semakin lama gerakan yang di berikan oleh Yoga, Saskia pun mulai menikmati nya.
__ADS_1
Yoga merasakan kenikmatan yang luar biasa, bahkan ia tidak merasakan hal seperti ini saat bersama Sarmila. Setelah cukup lama Yoga menunggang kuda dengan pacuan yang sangat ganas, akhirnya puncak kenikmatan pun sudah tiba. Laki-laki itu merasa sangat puas dengan percintaan sepihak nya.
"Terimakasih, lain kali jangan seperti pohon pisang seperti ini. Agresif lah jadi perempuan biar suaminya betah di rumah dan nggak jajan di luar" kata Yoga sambil menarik pusakanya.