Hanya Sebatas istri kedua

Hanya Sebatas istri kedua
Bab 44


__ADS_3

Meskipun di selimuti rasa takut, Saskia menyiapkan bubur tersebut ke dalam mulutnya. Sebab ia sangat yakin bahwa tidak akan pernah melakukan itu terhadap nya, apalagi jika ingat perjanjian itu. Akan tetapi Saskia tidak akan pernah mau menyerahkan bayinya kepada Sarmila, memang benar perjanjian itu ada. Dalam hati Saskia apa ia harus berbicara terhadap Yoga tentang isi perjanjian yang ia buat bersama Sarmila, akan tetapi ia sangat takut jika Sarmila melukainya.


"Mengapa kamu diam saja, takut aku kasih racun. Itu nggak akan terjadi, cepat habiskan itu semua. Dan satu hal yang perlu di ingat jangan pernah beritahu Mas Yoga tentang perjanjian itu! kalau berani melanggar nya, kamu akan terima akibatnya. Mungkin kamu fikir sekarang aku sudah tidak punya kekuatan di rumah ini, tapi jangan salah siapa aku... jika beritahu orang tua ku tentang keadaan pada saat ini pasti dia akan melakukan apapun untuk ku, camkan itu! " ancam Sarmila.


Saskia yang mendengar nya merasa takut, memang benar Sarmila bukan lah seperti dirinya yang tidak memiliki apapun. Yang dia punya saat ini hanya Yoga dan mertua nya, ia merasa bingung harus berbuat apa.


Di saat mereka masih berada di dapur dan menikmati bubur yang di sajikan oleh Sarmila, datang sang mertua dengan senyuman mengembangkan di bibir nya. Ia sangat bahagia bisa menemani menantunya dalam keadaan hamil, sebab itu yang ia tunggu sejak lama.


"Sedang apa kalian di sini, eh ini Mama bawa rujak" kata Sang Mama sambil meletakkan nya di atas meja.


"Terimakasih banyak, Ma... ini lagi makan bubur buatan mbak Sarmila, mau coba! enak lo, Ma... " kata Saskia sambil tersenyum menatap wajah sang mertua.


"Oh iya, Ma.. kalau mau aku ambilkan! " kata Sarmila.


"Nggak perlu, lagian Mama masih kenyang. Itu rujak makan lah... " kata sang Mertua mempersilahkan Sarmila untuk menikmati nya.


"Untuk Saskia saja, dia kan lagi hamil... Maaf, Ma... aku belum bisa memberikan mu cucu" kata Sarmila dengan menunjukkan wajah sedih dan polosnya di hadapan ibu mertua nya.

__ADS_1


"Nggak perlu minta Maaf toh tidak ada yang salah di sini, mungkin belum di kasih kepercayaan saja"


"Bagaimana mau hamil, Mas Yoga saja tidak pernah tidur di kamarnya. Jika dia hamil perlu di pertanyakan itu anak siapa" kata Saskia dalam batin.


Percakapan di antara mertua dan menantu itu sudah cukup lama, terlihat seperti akur dan tidak ada masalah di antara istri pertama dan kedua.


Akhirnya sang Mama mengajak menantunya untuk pergi ke ruang tengah, sebab sudah terlalu lama berada di dapur.


Ketika sudah berada di ruang tengah, sang Mertua mengajak Saskia untuk mencari-cari perlengkapan bayi lewat toko online. Sarmila hanya diam saja, seperti tidak di anggap kehadiran nya di tempat ini. Ia sangat marah dan jengkel, akan tetapi sebisa mungkin ia menahan nya, agar citra dia tetap baik di hadapan sang mertua.


Sudah cukup lama dan merasa jengah juga, dan pada akhirnya Sarmila pun berpamitan untuk pergi ke dalam kamarnya dengan alasan mengantuk. Padahal ia merasa sangat marah ketika ia di abaikan oleh dua orang yang sibuk berbelanja lewat toko online itu, sedangkan dirinya sudah tidak memiliki uang untuk berbelanja seperti dulu lagi.


"Iya, silakan " jawab sang mertua dan Saskia tidak menjawab apapun, hanya diam saja sambil menatap kepergian Sarmila ke kamarnya.


Setelah kepergia Sarmila, tinggal lah dua orang yang sedang bahagia bersama belanja. Semua keperluan bayi, padahal usia kandungan nya saja baru beberapa minggu, tapi ibu mertua sudah mempersiapkan semua nya.


...****************...

__ADS_1


Di tempat lain, di sebuah gedung yang sangat tinggi. Seorang pria dewasa dengan setumpuk berkas berada di hadapan nya, karena beberapa hari ia tidak datang ke kantor. Dan numpuk lah pekerjaan ini, sudah waktunya istirahat akan tetapi Yoga mengabaikan itu semua. Ia ingin segera selesai dan pulang menemui istrinya di rumah, sekarang ia tidak nyaman rasanya jika jauh dari sang istri. Padahal sebelum nya Yoga mengabaikan Saskia, dan setelah mengetahui bahwa Saskia sedang mengandung maka semua berubah dalam sekejap. Yang awalnya tidak perduli, berubah menjadi sangat posesif dan perhatian yang sangat luar biasa. Untuk saat ini Saskia benar di ratukan oleh Yoga di rumah nya.


Di saat Yoga masih Fokus dengan semua pekerjaan nya, tiba-tiba pintu ruangan di ketuk. Yoga mempersilakan orang tersebut untuk masuk, dan ternyata itu sekretaris nya.


"Maaf, Tuan ada hal yang sangat penting untuk kita bicarakan. Mungkin perlu meeting dadakan untuk menanggulangi ini semua" kata Sekretaris, memberi tahu Yoga bahwa ada masalah di perusahaan.


"Memangnya ada hal penting apa, sehingga harus mengadakan meeting dadakan? " Yoga bertanya terhadap sekretaris nya.


"Bilang nya pembangunan gedung yang sekarang sedang di kerjakan mengalami kendala soal pembayaran, dan para pekerja mogok untuk kerja. Dan mereka juga yang menjual lahannya untuk kita, sebagian dari mereka belum menerima pelunasan"


Sontak Yoga sangat kaget mendengar pernyataan ini, bukan kah ini sudah selesai pembayaran sebelum gedung mulai di bangun. Ada masalah apakah ini, sehingga bisa seperti ini.


"Baiklah kita, meeting tiga puluh menit lagi kumpulkan mereka yang berhubungan dengan semua masalah ini, ada-ada saja" jawab Yoga.


Ia merasa sangat pusing dengan keadaan seperti ini, padahal ini sudah selesai. Mengapa ada pekerja yang tidak di bayar dan pembayaran lahan juga masih mangkrak, siapkah yang bertanggung jawab di balik ini semua.


Yoga duduk menyandarkan punggung sambil memijat pelipis, yang terasa pusing sekali kepalanya.

__ADS_1


Sungguh ia benar mengalami kerugian sangat besar jika ini benar terjadi, dan harus di usut tuntas masalah ini. Yoga juga berfikir bagaimana mencari solusi dari ini semua, baru juga pemulihan dan akan stabil setelah pandemi yang mengakibatkan semua aktivitas kantor berhenti sejenak. Dan mengapa saat ini harus ada masalah lagi, sungguh tidak bisa di bayangkan ke depan nya seperti apa.


Waktu bergulir begitu cepat.


__ADS_2