Hanya Sebatas istri kedua

Hanya Sebatas istri kedua
Bab 19 Pura-pura tidak mengenal


__ADS_3

"Coba liat itu! " kata Saskia sambil menunjuk ke arah di mana orang tersebut sedang menikmati makan bersama, terlihat sekali sangat bahagia.


Seketika Yoga mengalihkan pandangan nya ke arah di mana Saskia menunjuk nya, hawa panas mulai menguasai amarah nya. Akan tetapi ia juga tidak mau gegabah mengambil tindakan, Yoga menarik nafas lalu membuangnya dengan perlahan. Laki-laki itu menetralkan perasaan nya, lalu tersenyum sambil menatap wajah Saskia.


"Mungkin hanya mirip, yuk kita segera ke kamar aku sudah lelah" Dusta Yoga, sebetulnya ia gerah melihat kelakuan istri pertama nya. Bisa saja ia langsung melabrak perempuan itu akan tetapi kali ini ia akan bermain cantik agar bisa membunuh tanpa harus menyentuh. Itu yang ada di hati Yoga.


"Owhh begitu ya" jawab Saskia heran, padahal jelas itu adalah Sarmila. Sangat heran itu pikir nya, masa ada seorang suami tidak kenal istrinya.


Setelah mendengar jawaban seperti itu, Saskia diam saja ia tidak mau berbicara lebih lanjut. Ia berusaha untuk menepis apa yang di liatnya pada saat ini, bisa jadi ini hanya mirip saja.


Mereka berdua melangkahkan kakinya untuk segera menuju kamar yang akan mereka tempati, semuanya sudah di urus oleh Sanco. Yoga dan Saskia hanya tinggal menempati. Setelah beberapa saat akhirnya mereka sudah sampai di depan kamar yang di tuju. Di sana sang sopir sudah menunggu nya, bersama seorang pria yang di tugaskan oleh Sanco untuk melayani dan mempersiapkan kebutuhan suami istri selama berada di kota ini.


Yoga masuk terlebih dahulu ke dalam kamar lalu di ikuti oleh Saskia, dan barang bawaan mereka juga ikut di masukan. Setelah menyimpan barang dan berpesan orang suruhan Sanco pergi meninggalkan sepasang suami istri itu.


"Sial, kenapa Sanco menyiapkan paket bulan madu seperti ini. Memangnya siapa yang mau, minta di pecat seperti nya asisten sialan" batin Yoga saat melihat seluruh kamar yang penuh dengan bunga dan lambang hati di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Woww, bagus sekali... kamu yang menyiapkan ini semua. Nggak nyangka ternyata romantis juga ya" kata Saskia sambil menatap seluruh ruangan yang di penuhi kelopak bunga dan lilin terapi.


"Hmmm" jawab Yoga desa singkat, padahal dalam hatinya ia sangat mual dengan penampilan kamar yang seperti itu.


"Terimakasih banyak ya, Mas... " kata Saskia sambil duduk di tepi ranjang dan menatap lekat wajah sang suami yang terlihat datar, bahkan saat Saskia bicara saja tidak menatap nya sedikit pun. Yoga fokus dengan ponsel nya, entah apa yang liat nya. Akan tetapi Saskia juga tidak mau ambil pusing, ia merasa sangat bahagia dan di cintai dengan perlakuan seperti ini.


"Iya" jawab Yoga singkat.


Saskia dengan antusias melihat ke sekeliling ruangan, perempuan ini seperti baru pertama kalinya masuk ke kamar hotel. Dan pandangan nya tertuju pada salah satu sofa yang ada di sudut kamar.


"Mas... ini sofa ko bentuk nya seperti perosotan anak PAUD yah, kan kita belum punya anak mau di pakai untuk siapa. Kalau duduk di sini hanya must untuk satu orang, jadi ini untuk apa? " tanya Saskia sambil mengusap benda tersebut, ia baru pertama kali melihat nya.


Seketika otak Saskia tidak bisa berfikir "Bercinta mengunakan sofa, aneh-aneh saja" kata nya dalam batin sambil menggelengkan kepala.


Waktu bergulir begitu cepat, siang telah berganti dengan malam. Yoga mengajak sang istri untuk pergi ke salah satu resto yang ada di tempat ini, kali ini Saskia hanya menggunakan kaos oblong berwarna putih dan celana jeans se lutut. Akan tetapi perempuan itu terlihat sangat cantik meskipun menggunakan pakaian sederhana, dengan rambut di gerai. Biasa Saskia selalu mengikatnya. Entah kenapa malam ini tidak ingin mengikatnya.

__ADS_1


Sepasang suami istri berjalan beriringan, setelah berada di restoran mereka berpapasan dengan seorang lelaki yang berada di photo bersama Sarmila. Jelas itu laki-laki nya, Yoga mengepalkan tangan nya. Ingin rasanya menghajar laki-laki itu hingga babak belur, akan tetapi ia berusaha untuk menahan nya.


Saskia yang melihat wajah suaminya seperti menahan amarah, ia langsung meraih tangan Yoga.


"Ada apa sih, Mas... baik-baik aja kan? " tanya Saskia.


"Nggak, yuk kita makan sudah lapar juga" kata Yoga, berusaha mengalihkan perhatian sang istri.


Mereka berdua melanjutkan langkah nya, hingga pada akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Setelah duduk mereka berdua langsung memesan menu kesukaan masing-masing, tidak butuh waktu yang lama. Makanan sudah siap di hidangkan, Saskia langsung menikmati makanan tersebut. Akan tetapi beda lagi dengan Yoga, baru ingin menyuap kan makanan ke mulut nya. Ada notifikasi pesan di ponsel nya, entah mengapa ingin sekali melihat pesan tersebut. Ia langsung mengusap layar ponsel dan memeriksa pesan itu, dan ternyata dari nomor tidak di kenal.


"Kamu masih mau dengan perempuan seperti dia" pesan dari orang yang tidak di kenalnya, di sertai dengan gambar Sarmila yang sedang bercinta dengan pria lain.


Yoga hanya bisa mengepalkan tangan dengan kuat, sorot matanya tajam. Amarah di dada sudah menguasai dirinya, akan tetapi ia juga tidak mungkin melabrak mereka di tempat umum. Secepatnya ia harus berbicara dengan Sanco, mungkin laki-laki itu nanti malam sudah datang ke kota ini. Awalnya Sanco telah mempercayakan semuanya terhadap orang-orang suruhannya yang ada di sini, akan tetapi Yoga memaksa nya untuk datang ke tempat ini. Akhirnya Sanco hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan majikan nya, ia sangat sadar bahwa hidupnya di bawah kendali Yoga.


"Katanya lapar, ko nggak di makan. Ada apa sih, Mas...dari tadi seperti ada sesuatu yang di sembunyikan. Apa karena aku hanya istri kedua nggak perlu tahu apa yang terjadi pada suaminya, apa aku salah jika bertanya apapun itu yang berhubungan dengan mu? " kata Saskia kesal, Saskia diam bukan berarti tidak memperhatikan apa yang terjadi dengan suaminya. Ia juga heran kenapa Yoga sikapnya berubah setelah berpapasan dengan pria tadi, apa mereka saingan bisnis atau apa.

__ADS_1


Seketika Yoga gugup mendengar perkataan Saskia, bagaimana nanti kalau perempuan ini ngambek dan tahu kenyataan yang sebenernya. Bahwa mereka datang ke tempat ini bukan untuk bulan madu, akan tetapi untuk mencari tahu kebenaran yang ada.


"Eh Iya, aku makan sekarang" kata Yoga, ia terpaksa menyiapkan makanan dan berusaha menelan nya. Padahal rasanya sangat susah semua makan itu untuk melewati kerongkongan, ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Padahal kenyataan nya perasaan dia seperti di himpit bongkahan batu di pundaknya.


__ADS_2