HANYA SEKEDAR PENGGANTI

HANYA SEKEDAR PENGGANTI
HSPTI-10


__ADS_3

Enjoy and



...°...


...°...


...°...


...°...


...°...


...°...


Tepat pukul lima sore, setelah menyelesaikan solat, Ayra segera pulang, kali ini dia diantar oleh Tika.


"Makasih ya Tik, udah bikin kamu repot" ucap Ayra.


"Ngak papa kok mbak, haiiiss aku ngak nyanka,kalau mbak udah nikah malah ngak ngundang lagi!" seru Tika mengerucutkan bibirnya.


Ayra terkekeh,"Iya deh Mbak minta maaf, kan tadi udah mbak jelasin sama kamu!" jawab Ayra mengusak rambut panjang gadis itu.


"Yaudah mbak masuk dulu ya, hati hati dijalan!" Tika mengangguk, lalu gadis itu langsung pergi dari sana.


Melihat kepergian Tika, Ayra langsung menuju rumahnya, saat membuka pintu rumah bersamaan dengan Adam yang hendak keluar.


"Assalamu'alaikum Mas!" gadis itu meraih tangan Adam lalu menciumnya.


"Baru ingat rumah hah? Kau tahu jam berapa sekarang?" sarkas Adam, wajah pria itu sangat datar.


Ayra menelan salivanya,"Emm maaf Mas, tadi pulang dari toko buku Aya mampir kebutik sebentar, tadi mau kasih tahu Mas, tapi Aya ngak punya nomor Mas Adam" ujarnya lirih diakhir kalimat.


Gadis itu menunduk, tangannya memilih ujung jilbabnya,Adam menghela nafas kasar,"Mana ponselmu?" tanyanya.


Ayra menyerahkan ponselnya pada Adam, pria itu langsung saja memasukkan nomornya, tak berapa lama suara ponsel Adam berbunyi.


"Aku tak melarangmu pergi kemanapun, tapi tolong ingat jika kamu sudah memiliki suami, tak pastan seorang wanita yang sudah bersuami pulang selarut ini!" kata Adam tegas sambil menyerahkan ponsel gadis itu.


Ayra hanya diam sambil menerima ponselnya,


Malam hari, setelah selesai makan, Adam terlihat sibuk dengan laptopnya diatas kasur, sedangkan Ayra setelah solat insya gadis itu membereskan barang barang miliknya.


Gadis itu juga masih menggunakan baju gamaisnya, ia takut jika Adam merasa tak nyaman seperti tadi pagi.


Sesekali Adam melirik istrinya yang terlihat masih sibuk.

__ADS_1


"Ayra!" panggilnya.


Gadis itu menoleh,"Iya Mas" Ayra bangun lalu duduk ditepi ranjang tepat disamping kaki Adam.


"Mulai besok kamu kuliah?" tanya pria itu.


Ayra mengangguk, Adam meletakkan laptopnya kesamping,lalu pria itu mambuka nakas samping mengambil sesuatu disana.


"Ini!" Ayra menatap benda persegi kecil berwarna hitam yang diberikan suaminya,gadis itu hanya menatapnya dengan bingung.


"Ini sebagai bentuk tanggung jawabku padamu, Ambil ini dan gunakan sesukamu, sandinya tanggal pernikhana kita" ucap Adam menjelaskan.


Ayra masih bergeming,ia bingung haruskah ia mengambilnya?


Tiba tiba perkataan para pelayan itu kembali berputar dikepalanya,"Ngak Mas, gak papa, Mas simpan aja" jawab gadis itu dengan wajah yang sendu.


Adam menatap wajah istrinya,"Ambil Ay, aku gak mau nanti Abi pikir kalau aku tidak menafkahimu, meskipun pernikahan ini bukan kehendak ku, tapi kamu tetap tanggung jawabku, jadi Ambil ini karna selain ini aku tak bisa memberimu lebih, dan aku berharap kamu tidak meminta lebih dari ini padaku" tukas Adam menatap datar wajah Ayra yang menunduk.


Ayra merasakan dadanya sesak saat mendengar itu,ia paham dengan perkataan suaminya tersebut,


Ayra meraih kartu tersebut.


"Mas??" panggilnya.


Adam mendongak menatap kedua bola mata milik Ayra.


'Bolehkah aku mencintaimu?'


Ayra menggeleng,Adam mengerutkan alisnya lalu gadis itu masuk keruang ganti setelah memasukkan kartunya kedalam dompetnya.


Beberapa menit kemudian gadis itu keluar menggunakan piama tidur lengan dan celana panjang, tak lupa juga kerudungnya.


Gadis itu menaiki kasur lalu merebahkan dirinya disamping Adam, malam ini untuk pertama kalinya mereka tidur bersama dan diranjang yang sama karena selama hampir dua minggu mereka menikah Adam tak pernah tidur bersamanya.


Bahkan saat dirumah orang tua Ayra, pria itu lebih memilih tidur dikamar Azizzah.


Ayra tidur membelakangi Adam, gadis itu menarik selimutnya lalu memejamkan matanya, tak perlu waktu lama gadis itu tertidur.


Tanpa Ayra sadari, sejak tadi Adam memperhatikan gerak geriknya,"Apa dia tidak panas tidur menggunkaan itu?" gumam Adam.


Adam menggedikkan bahunya acuh kemudian melanjutkan kerjanya.


...°°°°°°...


Suara kicauwan burung menggangu tidur sepasang suami istri yang masih bergelut dibawah selimut tebal tersebut.


Ayra mengerjabkan kedua matanya, namun ada yang aneh, perutnya terasa berat,dengan perlahan Ayra membuka matanya, dan hal pertama kali yang dirinya lihat adalah dada bidang seseorang.

__ADS_1


Gadis itu terkejut hampir saja berteriak,saat dirinya sedang berada dalam pelukan seseorang.


gadis itu mendongak,"Mas Adam!" gumamnya lirih.


Sejenak Ayra tertengun melihat wajah tampan sang suami,gadis itu menyusuri setiap lekuk wajah Adam, begitu sempurna,sejenak gadis itu berharap jika sang suami mencintainya ia pasti akan menjadi wanita yang sangat berutung, tapi sayang, ia hanya bisa memiliki raganya namun tidak dengan hatinya.


"Mas, aku tahu kamu tidak menginginkan pernikahan ini, tapi tidakkah kamu memberiku kesempatan untuk memasuki hatimu?" lirihnya, tangannya bergerak hendak menyentuh wajah sang suami.


"Tidak!"


Deg!


Tangan Ayra melayang diudara, saat mendengar suara berat itu.


Kedua mata abu milik Adam terbuka, menghunus tajam kedua mata miliknya,"Tidak Ay,kita memang sudah menikah dan mungki kamu memang memiliki status istriku dan juga raga ku, tapi tidak dengan hatiku,kamu tahu betul siapa pemilik hati ini,dia seseorang yang tak akan pernah tergantikan,jadi jangan pernah berharap aku akan mencintaimu karena kamu..."


Adam bangun dari tidurnya, pria itu melangkah menuju pintu kamar, sejenak ia berhenti, tanpa menoleh berkata..


"Karena kamu hanya sebatas pengganti!"


Brakk!


Suara dentuman keras pintu ditutup membuat Ayra menutup matanya, perkataan diakhir kalimat Adam menjadi tamparan keras baginya, seakan Adam mengatakan posisinya yang sebenarnya.


Ayra meremat seprai,hatinya sakit saat kata kata itu keluar dari mulut suaminya sendiri, ia sadar jika dirinya hanya sebatas pengganti, tapi salahkah dirinya jika mengharapkan cinta pria itu?


Tak berapa lama terdengar suara isakan tangis dibalik bantal tersebut.


'Apa yang kamu harapkan Ay? ingat kamu hanya istri pengganti baginya!'


Sedangkan Adam setelah keluar dari kamarnya, disinilah pria itu berada, ditaman belakang dekat kolam renang.


Pria itu meraup wajanya, ia sadar jika kata katanya barusan menyakiti hati istrinya, tapi apa yang harus ia buat?


ia tak mau gadis itu menaruh hati padanya,karena jika itu memang terjadi maka gadis itu akan semakin tersakiti karena sampai kapanpun dia tak akan bisa membalas perasaan gadis itu.


"Maaf, karena aku masih sangat mencintai kakakmu,maafkan aku Ayra!"


Hampir sepuluh menit Adam disana, lalu ia kembali masuk kedalam, saat menaiki tangga, tak sengaja ia berpaspasan dengan Ayra, gadis itu telah rapi, sepertinya dia akan kempus.


"Aya pamit, Assalamu'alaikum!" setelah mencium tangan Adam tanpa menoleh lagi Ayra langsung keluar rumah.


Adam menatap kepergian Ayra, gadis itu bahkan tak melihat wajahnya,walaupun begitu sekilas Adam bisa melihat mata Ayra yang sedikit bengkak dan hidung yang memerah meski ditutupi bedak.


Pria itu menghela nafas gusar, pria itu mencoba agar tak peduli dengan istrinya,


Adam bergegas masuk kemar, pagi ini pria itu ada meeting jadi ia harus segera kekantor.

__ADS_1


Saat masuk kamar, tanpa sengaja ia melihat diatas kasur sudah ada baju untuknya bekerja, ia yaki jika itu disiapkan Ayra.


Bersambung....


__ADS_2