
...°...
...°...
...°...
...°...
...°...
...°...
...°...
Ayra POV
"Saya terima nikah dan kawinnya Ayra Feroza Laakia binti Mustafa Sahad Laakia dengan mas kawin tersebut Tuunaaai.."
"Bagaimana para saksi? sah..??" ucap seorang penghulu setelah mungucapkan akad nikah.
"Saaaaaahhhhhh......." jawab para tamu yang menghadiri pernikahan yang seharusnya bukan milikku.
Air mataku jatuh saat kata Sah terucap dari bibir para saksi, seharusnya hari ini adalah hari pernikahan kakak ku namun takdir berkata lain, kakakku mengalami kecelakaan tunggal dan disini aku menjadi pengantin pengganti.
Hari ini aku telah sah menjadi seorang istri yang akan melayani suaminya seumur hidup, Hah..?? seumur hidup?? Haha...itupun jika pernikahan ini sampai akhir usiaku, karna aku yakin dia menikahiku hanya karena atas paksaan orang tuanya.
Sungguh di sayangkan aku tidak bisa memilih jodohku sendiri, bahkan aku tak menyangka jika pria yang seharusnya menjadi kakak iparku malah menjadi suamiku sendiri.
Aku sungguh merasa bersalah, disaat kakakku diluar sana berjuang antara hidup dan mati disini aku malah menikah dengan calon suaminya, bukankah aku adik yang kejam?
Aku bahkan tak fokus dengan apa yang pak penghulu katakan, namun aku tersentak saat dia meraih tangganku, ku tatap wajahnya.
Deg!
Dengan jarak sedekat ini aku baru menyadarinya jika pria yang telah menjadi suamiku ini sangatlah tampan.
"Apa yang kau lakukan? Kemarikan tanganmu" ujar pelan mas Adam.
Ah aku kembali tersadar saat mendengar suara beratnya, dengan gugup aku menyodorkan tanganku kearahnya, lalu ia meraih tanganku dan dipengangnya.
Jantungku berdegup kencang saat tangan besar itu bersentuhan dengan kulitku, jujur ini pertama kali aku disentuh laki laki selain Abi dan kedua kakak laki lakiku.
Rasanya hangat, setelah cincin itu terpasang dijari manisku, kini giliranku yang memasang cincin dijari manis miliknya.
Suara tepuk tangan kembali terdengar,"Baiklah sekarang Ayo suaminya mencium dahi istrinya" ucap pak penghulu mengarahkan.
Aku kembali gugup saat wajah Mas Adam mendekat kewajahku hingga..
__ADS_1
Bibir dingin miliknya melekat sempurna di dahiku,kututup kedua mataku merasakan sensai yang sama sekali belum pernah kurasakan
'Ya Allah inikah rasanya dicium suami sendiri?'
Tiba tiba banyangan wajah kakak melintas dipikranku, membuatku mengakhiri moment ini, aku sungguh merasa sangat bersalah.
'Kakak maafkan Aya!'
Acarapun terus berlanjut, hingga pada akhirnya selesai dan para tamu yang hanya tinggal beberapa orang sedangkan yang lain telah pergi sebelum acara ini dimulai pun sudah membukarkan dirinya masing masing.
Aku melihat Mas Adam yang hanya diam sepanjang acara, aku tahu dia pasti juga merasa bersalah disaat wanita yang seharusnya menjadi istrinya yang saat ini entah hidup atau mati dilaut sana dia disini malah menikah denganku.
Aku tahu ini bukan keinginan kami berdua,tapi seolah takdir sudah menentukan semua sekenarionya.
Aku membawa suamiku kedalam kamar untuk istirahat, setelah mendapatkan izin dari kedua keluarga kami.
Dengan perlahan kami menaiki tangga, hingga tiba diatas Mas Adam menghentikan langkahnya tepat didepan pintu kamar kak Zizzah.
"Aku akan tidur dikamarnya untuk malam ini"
Tanpa menunggu jawabanku, Mas Adam langsung masuk kedalam kamar sang kakak, aku hanya bisa menghela nafas pasrah.
Aku tahu, dia pasti sangat terpukul, aku pun memilih masuk kedalam kamarku sendiri.
Setelah membersihkan diri, aku langsung menunaikan solat maggrib setelah azan berkumandang.
"Ya Allah, jika ini takdir yang enggkau pilih, maka kuatkan hamba untuk menjalaninya, hamba tahu untuk saat ini hatinya masih milik kakak hamba, namun jika memang engkau menakdirkan dia untuk hamba maka hamba mohon bukakanlah hati nya suatu hari nanti untuk bisa menerima hamba sebagai istrinya, Amin Amin yarobbal'alamin"
...°°°°°°°...
Sedangkan dikamar Azizzah, Adam duduk diteli ranjang, ia memandang kesegala arah sudut kamar yang berwarna putih itu warna kesukaan gadis itu.
Mata Adam menangkap beberapa pigura diatas nakas dekat ranjang, pria itu meraih salah satunya, dimana didalam pigura itu terdapat dirinya dan gadis itu saat mereka mendaki.
Adam tersenyum getir kala mengingat begitu banyak kenangan yang telah mereka lewati bersama, pria itu memeluk pigura tersebut dan tanpa sadar air bening yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
"Kenapa Za? Kenapa kamu ninggalin aku sendirian? Apa yang harus kulakukan tanpa kamu Za? Aku ngak bisa hidup tanpa kamu, hiks..hiks.."
"Kenapa kamu tega ninggalin aku dan membuatku harus menikahi adikmu Za? Aku bahkan baru beberapa hari mengenal gadis itu, aku tak menyukainya, lalu kenapa? KENAPA??"
Untuk pertama kali pria itu menangis segugukan hingga tanpa sadar tertidur.
Sedangkan diluar sana Ayra yang tadi bermaksud hendak mengajak suaminya untuk makan malam mengurungkan niatnya saat mendengar semua perkataan sang suami.
Ayra mengerti jika saat ini pria itu butuh waktu sendiri,
Karena tak ingin menggangu gadis itu memilih turun sendiri.
"Loh sayang, kok sendiri Adam mana?" tanya Mama Anita saat melihat menantunya hanya turun seorang diri tanpa sang putra.
__ADS_1
"Mas Adam tidur Mah, mungkin kelelahan jadi ngak Aya bangunin" jawab gadis itu tersenyum.
"Yasudah duduklah, Mama sama Ummi mu sudah menhiapkan makan malam"
Ayra dan yang lain langsung duduk ditempat masing masing,"Abi bagaimana kabar tentang Kakak?" tanga Ayra tiba tiba.
Semua orang menghentikan aktifitasnya,"Apakah kita harus baik baik saja saat keadaan Kakak diluar sana belum tahu bagaimana?" tanya gadis itu, tiba tiba suara tangis suaminya berdengung ditelinganya, tanpa perintah air bening itu kembali jatuh diwajah mulusnya.
Ummi Salma yang mendengar itupun ikut kembali menangis,"Yang dikatakan Aya benar, seharusnya kita mencari tahu keadaan Azizzah, bukannya malah makan dengan tenang seperti ini..hiks..hiks.." Abi Taffa mengelus punggung sang istri.
Ia pun tak tahu harus berbuat apa, tapi ia percaya dengan orang suruhan menantunya itu.
"Tenanglah, orang orang suruhan suami Aya sedang mencarinya"ujar Abi Taffa lembut.
Mama Anita duduk disamping Ayra,"Sayang sabar ya, Mama yakin orang orang itu pasti sedang beruhasa" wanita itu membawa menantunya itu kedalam pelukannya.
'Iya semoga saja begitu!'
Ayra membalas pelukan Mama mertuanya.
Keesokan harinya, Ayra sedang memeriksa beberapa laporan dilaptop yang dikirimkan Tika kemarin yang belum sempat ia periksa, gadis itu duduk berselonjoran di atas tempat tidurnya saat tiba tiba Adam masuk kedalam kamar, gadis itu terkejut dengan kedatangannya yang tiba tiba.
"Mas Adam?" serunya duduk dengan benar, nampaknya Adam baru bangun, bahkan matanya masih bengkak akibat menangis semalam.
Pria itu tak menjawab, Adam bahkan tak melirik sama sekali pada sang istri, pria itu memilih mengambil bajunya yang ada didalam koper kecil miliknya dan saat hendak mengambil handuk benda itu tidak ada didalam koper tersebut.
Tanpa berkata apapun Adam langsung masuk kedalam kamar mandi, Ayra yang melihat suaminya tak meminta bantuan padanya hanya bisa pasrah lalu ia mengambil handuk bersih didalam lemari.
Tok! Tok! Tok!
"Mas, handuknya Aya letak didekat pintu ya, jika Mas butuh sesuatu Aya ada diluar" serunya sedikit keras.
Tak ada jawaban, hanya suara gemericik air yang terdengar.
Tak berapa lama Adam membuka pintu kamar mandi ia menyembulkan setengah badannya, kamar terlihat sepi.
'Apa gadis itu keluar? Bagauslah!'
Adam melihat handuk didekat pintu itu dan tanpa berkata apa apa Adam meraihnya dan membalut tubuh bagian bawahnya lalu keluar.
Bertepatan dengan itu pintu kamar dibuka dadi luar dan itu Ayra, saat gadis itu mendongak matanya melotot saat melihat Adam yang bertelanjang dada.
Dengan gerakan cepat gadis itu kembali menutup pintu kamar dengan cukup keras.
Dhuumm!
Adam yang tak menyadari kedatangan Ayra pun terkejut kala pintu itu ditutup.
"Apa itu barusan?" ujarnya menatap pintu kamar dengan bingung.
__ADS_1
Bersambung......