
Enjoy and
...°...
...°...
...°...
...°...
...°...
...°...
Hari berikutnya, Ayra sedikit telambat pulang kerumah, karena tadi kelasnya praktek, gadis itu dengan bergegas masuk kemarnya tanpa melihat suasana rumahnyanya karena saking buru buru,
Bukan apa ia takut jika waktu Azhar akan habis, gadis itu segera masuk kekamar mandi lalu membersihkan diri dan setelah selesai langsung menunaikan kewajibannya.
Beberapa menit kemudian Ayra menyelesaikan solatnya, setelah berdoa dan semacamnya, barulah nafas lega keluar dari bibirnya,
saat hendak membuka mukenanya tak sengaja mata Ayra melihat sebuah jas yang tak asing dimatanya.
Gadis itu mendekat keranjang yang telah ia gunakan selama dua bulan ini tanpa ada yang menemani, ia raih jas tersebut.
Wangi maskulin khas suaminya langsung masuk kehidung Ayra saat mengendusnya.
Deg!
Jantung Ayra berdegup kencang,tangannya bergetar,"I..ini milik Mas Adam?" gumamnya lirih.
Matanya memutar mencari cari keberadaan suaminya diseluruh ruangan namun ia tak menemukannya.
"Lalu dimana?" gumamnya lagi.
Tanpa melepas mukenanya yang masih membalut tubuhnya Ayra menganggkat roknya dengan langkah cepat gadis itu keluar kamar menuruni anak tangga dengan tergesa gesa.
Ia harus memastikan sesuatu jika itu memang suaminya maka digarasi pasti ada mobilnya.
"Nyonya..ada apa? Kenapa anda berlari? Itu bahaya Nyonya?" seru Rossa salah satu pelayan yang sangat baik dengannya.
Gadis itu tadinya ingin memanggilnya untuk bertanya malam ini menu apa yang akan pelayan masak, dan biasa Nyonya itu juga akan ikut andil dalam memasak.
Ayra tak menjawab ia masih berlari ketujuannya,
Tiba digarasi kembali jantung Ayra bedegup kencang.
"Itu..be..benar mobil Mas Adam!" ucapnya menutup mulut.
Tak menunggu lagi Ayra kembali berlari masuk kedalam rumah, Rossa yang masih mengejarnyapun ikut kembali masuk.
Gadis yang berusia 22 tahun itu meneriaki Nyonyanya agar tak berlari dengan menggunakan munkenah, bagaimana jika Nyonyanya menginjka rok mukena itu tiba tiba lalu terjatuh dan melukai kulitnya yang mulus itu?
__ADS_1
Haaiiss...membayangkannya saja Rossa ngeri sendiri.
Melihat Nyonya mereka yang berlari seperti itu dan mendengar suara lantang Rossa, semua pelayan yang sedang bekerjapun ikut melihat apa yang terjadi.
Suara besar milik Rossa juga terdengar hingga keruang kerja milik Adam, pria itu menghentikan kegiatannya.
"Apa yang terjadi diluar?" tanyanya pada seorang pria paruh baya yang menjadi kelapa pengurus mension ini.
"Saya juga kurang tahu Tuan!" sahut pria yang bernama Budi.
Karena penasaran Adam beranjak dari kursinya, ia melangkah hendak membuka pintu ruangannya saat beraamaan pula seaeorang membukanya dari luar.
"Aya?"
"Mas Adam?"
Adam sedikit terkejut dengan kedatangan Ayra yang tiba tiba, pasalnya saat dirinya tadi pagi tiba ia tak melihat keberadaan istrinya.
Dan kata para bodyguard rumah jika gadis itu pagi tadi kebutik, lalu siang hari baru kekampusnya.
Dan saat ini ia melihat Ayra, gadis yang telah menjadi istrinya berdiri didepan wajahnya setelah ia tak melihat selama dua bulan.
Ayra yang melihat sosok suami yang sudah ia rindukan selama dua bulanpun tak dapat membendung rasa senangnya, rasa bahagia yang tiba tiba, rasa ingin menghamburkan dirinya kedalam pelukan sang suami.
Namun ia takut, takut jika suaminya marah padanya.
Tiba tiba butir air benir lolos diwajah mulusnya yang masih terbalut mukenah,
dengan pelan gadis itu menghapus air matanya, ia memberikan senyum terbaik untuk suaminya.
gadis itu meraih tangan suaminya lalu dicium takzim.
Tidak papa jika ia tak bisa memeluk suaminya, yang penting saat ini bisa melihat dan dekat dengan Adam sudah membuatnya bahagia.
Saat tangannya hendak melepas tangan Adam, tiba tiba Adam menarik tangan itu hingga membuat Ayra tertarik kedepan dan masuk kedalam pelukannya.
Ayra terkejut tiba tiba Adam memeluknya, apakah berarti ia diizinkan untuk membalas pelukan suaminya kan?
Tanpa ragu Ayra langsung membalas pelukan Adam, memeluk erat tubuh tegap nan tinggi itu.
Adam memejamkan kedua matanya merasakan hangatnya pelukan gadis ini, saat ini entaj jantung siapa yang bedegup begitu kencang.
Pak Budi yang melihat itupun memberi kode pada para bawahannya yang lain agar menjauh dari sana dan membiarkan sepasang suami istri yang sudah berpisah selama dua bulan itu menghabiskan wwaktu bersama.
Adam kembali mengeratkan pelukannya, kini ia yakin jika dirinya akan membuka hati untuk gadis yang telah menjadi istrinya ini.
"Maaf!" ucap Adam lirih.
Ayra masih dapat mendengarnya,"Maaf karena sudah mengabaikanmu selama ini,Maaf dan mari kita mulai dari awal!" lanjut Adam msambil mengecup pucuk kepala Ayra.
Mendengar itu tiba tiba tubuh Ayra bergetar, tangis yang sedari ia tahan tumpah, akhirnya doa yang selama ini ia minta terkabul juga, kini ia diterima oleh suaminya sendiri.
"Apakah kamu bersedia Aya?" tanya Adam lagi karena tak mendapat jawaban darinya.
__ADS_1
Dengan cepat Ayra mengangguk dalam dekapan sang suami,gadis itu mendongak manatap wajah suaminya yang juga sedang menatapnya dengan tatapa lembut,"Iya Mas, Aya mau sangat mau, karna itulah yang selama ini Aya inginkan, terimaksih karena sudah mau menerima Aya Mas!" ujar Ayra sungguh sungguh.
Melihat ketulusan Ayra, Adam baru menyadari jika ternyata gadis dalam pelukannya sangatlah cantik, pastas saja teman temannya mengatakan jika dirinya sangat beruntung.
Adam menanggkup kedua pipi Ayra, menghapus sisa sisa air mata diwajah istrinya dengan lembut,"Justru aku yang harus berterimakasih padamu karena selama ini kamu sudah bersabar dengan sikapku, terimakasih Aya, aku janji mulai hari dan detik ini aku akan memberimu kebahagiaan" jelas Adam, tak lupa ia memberikan kecupan dikedua mata Ayra yang terpejam.
Keduanya larut dalam melepas kerinduan yang selama dua bulan mereka tahan, hingga menjelang malam.
...°°°°°°...
Ayra PoV
Pagi ini aku bangun dengan perasaan yang bahagia, semalam aku telah resmi menjadi istri yang sesungguhnya.
Aku melihat kesampingku dimana biasanya disana kosong, namun kali ini berbeda karena disana ada seseorang yang semalam telah menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami yang sempurna.
Ya..disana Mas Adam masih terlelap dalam selimut tebal milik kami, karena tak tega membangunkannya aku pun memutuskan bangun lebih dulu.
Dengan perlahan aku melangkah kemar mandi, setelah membersihkan tubuhku aku keluar dengan baju lengkap lalu langsung menunaikan kewajibanku sebagai ummat islam.
setelah selesai aku langsung keluar kamar menuju dapur, disana ternyata sudah ada beberapa pelayan salah satunya Rossa.
"Assalamu'alaikum selamat pagi semuanya!" sapaku.
"Wa'alaikumsallam, selamat pagi Nyonya!" jawab mereka serempak dengan senyum ramah.
Setelahnya aku pun ikut membatu mereka, tepat pukul tujuh pagi semua masakan selesai akupun langsung menuju kamar untuk kembali memberihkan diri lagi karena pagi ini aku ada makul pagi.
"Eh..Mas udah bangun?" ujarku saat melihat Mas Adam sudah terlihat rapi dengan baju yang tadi ku siapkan.
Mas Adam tersenyum kearahku,"Iya, pagi ini kamu ada makul pagikan?" tanyanya sambil mendekat kearahku.
"Eh..dari mana Mas tahu?"
"Itu!!" tunjuknya dengan dagu kemeja belajarku.
Ah iya aku hampir saja lupa jika disana aku menempel jadwal kuliahku, aku tersenyum malu.
"Segerah bersiap, Mas tunggu diruang makan!" ucapnya aku mengangguk.
Saat hendak melangkah menuju kamar mandi Mas Adam menahan lenganku.
"Kenapa Mas?" tanyaku.
Mas Adam tak menjawab namun...
Cup!
"Morning kiss!"Mas Adam tersenyum lalu keluar kamar, meninggalkanku yang masih mematung karena tiba tiba mendapat ciuman tersebut.
Dengan wajah merona aku segera masuk kemar mandi, aku tak ingin membuatnya menunggu lama.
'Ya Allah, jangan enggkau ambil lagi kebahagiaan ini, hamba tak membutuhkan apa apa lagi selain hidup bersama suami hamba dalam kebahagiaan!'
__ADS_1
Bersambung....