HANYA SEKEDAR PENGGANTI

HANYA SEKEDAR PENGGANTI
HSPTI-18


__ADS_3

Enjoy and



...°...


...°...


...°...


...°...


...°...


...°...


...°...


"Apa dijodohin?? nggak!!" gadis itu menggeleng ribut.


Saat ini gadis itu sedang makan malam bersama keluarnya, Zelona tak menyangka jika ia akan mendengar perkataan konyol dari Daddy nya, "Lona nggak mau, Mom Dad, Lona nggak mau, Lona nggak mau dijodohin!" ucap gadis berteriak, menolak hal tersebut.


"ZELONA!!!" bentak sang Daddy, gadis itu terdiam.


"Daddy ngak mau tahu,kamu harus menerima perjodohan ini, dia pria baik baik, dan dia juga berasal dari keluarga baik baik!" jelas Daddynya.


Zelona menatap, Mommy nya dengan tatapan memohon,"Mom???" lirihnya menatap sang ibu.


"Sayang ini demi kebaikanmu juga nak!"


Mendengar jawaban sang Mommy, membuat mata gadis itu berkaca kaca, gadis itu beranjak dari duduknya, Zelona tak mau menerima perjodohan ini, dirinya mencintai orang lakin, jika ia menerima lalu bagaimana dengan Zion?


"Kalian egois, kalian selalu nentuin kehidupan Lona sesuka hati kalian,ini soal pernikahan Mom Dad, , Lona ngak mau nikah sama orang yang nggak Lona cinta, bahkan Lona nggak kenal siapa orang nya,Mom Dad, Lona udah besar, So pleas...Lona bisa cari suami sendiri, Lona bukan lagi anak kecil yang selalu harus nurutin keinginan kalian, LONA NGAK MAU!!"


Plak!!!


Sebuah tamparan kuat mendarat dipipi mulus Zelona, Diandra sang Mommy terkejut dengan mata yang melotot tak percaya, bahwa suaminya akan menampar putri mereka.


Bahkan Mars, sang Daddy pun ikut terkejut atas apa yang telah ia lakukan,


Tangannya bergetar menatap tak percaya tangan yang menampar putri satu satunya itu.


Zelona shok dengan apa yang Daddy nya lakukan,seumur umur baru kali ini sang Daddy menamparnya.


Tangannya memegang pipinya yang berdenyut, sakit, bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar saking kuatnya tamparan sang Daddy,


"Daddy nampar Lona?" gumamnya lirih.


"Sa..sayang!" ucapnya gemetar.


Zelona menatap wajah Mars, air mata gadis itu merembas membasahi wajah cantiknya,


Mars dan Diandra kaget kala melihat darah itu"Sa..sayang maa..maafin Daddy...Da-"


"Daddy jahat, DADDY JAHAT, LONA BENCI DADDY!!!!" teriak gadis itu lalu lari dari sana menuju kamarnya.


Mars terduduk ditempatnya, apa yang telah ia lakukan?


Dia telah menyakiti putri kecilnya


"Mars, kamu keterlaluan!" ujar Diandra menatap datar suaminya lalu ikut pergi dari sana.


Mars semakin frustasi, tadi Diandra memanggilnya dengan nama itu menandakan jika sang istri sedang marah padanya.


"Apa yang kamu lakukan Mars!!" gumamnya lirih sambil mengusak rambutnya kasar.

__ADS_1


...°°°°°°...


Pagi ini, Ayra memiliki jadwal makul siang hari, jadi pagi ini ia akan ke butiknya bersama Zelona untuk memilih baju yang akan mereka kenakan diacara pesta ulang tahun kampus,


Dan itu nanti malam.


Untuk ketiga kalinya Ayra menelpon Zelona, namun gadis itu masih belum menjawabnya.


"Apa dia lupa jika hari ini kita akan ke butik?" gumamnya menatap layar ponsel.


Sekali lagi Ayra mencoba menelponya dan lagi lagi hanya suara operator yang terdengar, dan akhirnya Ayra memilih untuk pergi duluan, Ayra juga tak lupa mengirim gadis itu pesan.


Sedangkan Zelona, gadis itu baru saja bangun,


Ia meraih ponselnya karena mendengar suara bisinh dari benda tersebut.


Dan betapa kangetnya dia saat melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dan sebuah pesan dari Ayra.


"Akh..sial gue lupa ada janji sama Ayra!" gamamnya, lalu dengan kasar ia menyibak selimutnya lalu segera menuju kamar mandi.


Dikamar mandi gadis itu menggerutu, ini semua gara gara semalam karena terlalu lama menangis, ia tak menyangka jika akan sesakit itu tamparan Daddynya.


Setelah selesai semuanya, Zelona langsung keluar kamarnya dan menuruni tangga dan langsung menuju depan rumah.


"Sayang kamu mau kemana?"


Zelona menghentikan langkahnya, ia menoleh kebelakang, disofa ruang tamu disana ada Daddy nya yang sedang membaca koran.


Karena masih kesal dengan Daddynya itu tanpa menjawab Zelona kembali melangkahkan kakinya.


Mars yang melihat putrinya masih marahpun menghela nafas sedih.


"Kamu harus meminta maaf padanya!" seru Diandra yang kembali dari dapur, wanita satu anak itu membawakan nampan berisi dua gelas berisikan teh dan kopi panas dengan sepiring kecil kue kering dan sepiring besar potongan bermacam buah buahan lalu duduk disamping suaminya.


"Tentu saja sayang, aku tahu putri kita marah padaku!" jawabnya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!"


Pintu ruangannya terbuka dan menampilkan sosok Tika yang menyembulkan setengah kepalanya.


"Permisi Mbak, diluar ada teman Mbak!" ujarnya.


Ayra menghentikan kegiatannya, gadis itu beranjal dari duduknya lalu menghampiri Tika,"Dimana dia?" tanyanya.


"Teman Mbak ada dibawah!" jawab Tika.


Ayra mengangguk, lalu langsung turun kebawah,"Lona!" panggilnya.


Zelona yang berasa dipanggilpun menoleh, senyumnya mengembang sedikit karena sudut bibirnya masih sakit.


"Udah lama?" tanya Ayra.


"Enggak kok baru aja!" jawab Zelona.


Ayra merasa hari ini Zelona sedikit berbeda, gadis itu terlihat lesu namun Ayra tak berniat bertanya mungkin Zelona belum siap menceritakan padanya, karena biasa jika ada masalah gadis itu langsung bercerita.


"Nah karena ini kali pertama kamu kesini jadi aku kasih gratiss!" ujar Ayra membuat Zelona menoleh kearahnya.


Zelona mengerutkan alisnya,kemudian terkekeh,"Kok kamu malah ketawa sih Na?"


"Ya iyalah gue ketawa, gaya lo ngomong kayak nih butik punya lo aja" jawab Zelona sambil melihat lihat baju keluaran terbaru.


Yaps..dibutik ini tidak hanya menyediakan baju muslimah, disini juga menyediakan berbagai macam baju kekinian khusus wanita dari remaja hingga orang tua.

__ADS_1


"Ini memang butik ku!" jawab Ayra santai, gadis itu juga memilih milih baju untuknya.


Hah?


"Lo serius?" tanya Zelona manatap Ayra tak percaya.


"Iya, lihat tuh!" tunjuknya kesebuah logo yang menempel didinding dengan sangat indah.


"Feroza?" ucapnya menatap bingung Ayra.


"Apa hubungannya?" tanya Zelona.


Ayra menghrla nafasnya, "Nama panjangku siapa?"tanyanya.


"Ayra Feroza Laa-!" tiba tiba Zelona menyadari sesuatu ia menatap Ayra melotot, Ayra hanya tesenyum.


"Ja..jadi ini beneran butik lo?" tanya Zelona,Ayra mrngangguk.


Prok! Prok! Prok!


"Wah...gila..gue nggak nyangka ternyata lo udah jadi desainer, dan bahkan lo udah punya butik sesukses ini, gila sih!" ucap Zelona kagum.


Ayra tersenyum,"Udah ngak usah berlebihan, ayo pilih bajumu yang mana!"


Akhirnya keduanya pun memilih baju apa yang akan mereka kenakan diacara nanti malam.


...°°°°°°...


Sebuah mobil putih berhenti didepan sebuah Mall, Adam pagi ini tidak kekantor pria itu semalam diajak Zion untuk menemaninya membeli sesuatu.


Jadilah semua kerjaannya ia limpahkan pada Dev


"Dam?"


Merasa namanya dipanggil, Adam menoleh disebuah restorant Adam melihat Zion, pria itu langsung menghampirinya.


"Mau pesan dulu?" tanyanya, Adam menolak ia meminta Zion untuk segera melihat barang yang akan mereka beli.


Kedua pria itu langsung menuju kesebuah stan yang menjual perhiasan.


Zion memilih milih cincin yang akan ia beli, begitu juga dengan Adam ia juga akan membeli sebuah kalung untuk istrinya sebagai hadiah.


"Dam ini bagus ngak?" tanya Zion.


Adam melihat,"Bagus tapi lo tahu ukuran jari gadis itu?"


Zion terdiam, biasanya jari wanita itu hampir samakan,"Ah iya, loe masih ingat ukuran cincin yang dipakai Zizzah dulu?" tanya Zion.


Mendengar nama Zizzah membaut jantung Adam berdegup, sama seperti kemarin saat mereka membahasnya dikantor.


Tak mendapat jawaban, Zion menoleh kearah sampingnya, ia melihat Adam menatapnya dingin,"Eh..so..sorry,gue ngak bermaksud Dam, gue cuman mau mastiin, karena gue ingat, gue pernah liat jari gadis yang gue suka itu, kalau ngak salah ukuran jarinya sama seperti ukuran jari Zizzah" jelas Zion dengan cepat.


Adam mendengus, namun tak urung tetap memberi tahunya.


Mood Adam yang tadi bagus tiba tiba jadi buruk kala Zion menyinggung nama Azizzah, bahkan niatnya yang mau membeli kalung buat istrinya pun ia urungkan.


Kalau boleh jujur,Adam memang sudah menerima Ayra sebagai istrinya, namun jika ditanya apakah dia masih merindukan Azizzah?


Maka jawabannya, iya, dia masih sangat merindukan gadis itu, cinta pertamanya,


Bahkan dia diam diam akan menangis saat merindukan gadis itu.


Namun ia lakukan itu tidak dirumahnya, karena ia tak ingin membuat Ayra terluka.


Bersamhung....

__ADS_1


Jangan lupakan Like, komen and vote ya..


Makasih udah mau baca🥰🥰🙏🙏


__ADS_2